Sabtu, 15 Januari 2011

Kajian Al Qur’an-materi-ke 8

oleh Sabari Muhammad

Kumpulan Kajian Al Qur’an - Yayasan Islam Paramartha 

Orang-orang yang Diberi Nikmat

Mereka yang Diberi Nikmat: Panduan dalam Ayat-ayat Al-Qur'an
Ucapan kita, “Saya telah beriman”, akan mengajak kita merujuk kepada QS Al-Hujurat [49]: 14, yang secara turunnya ayat mengisahkan tentang pernyataan seorang Arab Badwi, dan bagaimana Rasulullah s.a.w., memberikan jawaban—yang merupakan pembelajaran bagi kita semua—tentang duduk persoalan yang sebenarnya: bahwa (cahaya) iman itu seharusnya masuk ke dalam qalb, dan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan satu-satunya jalan bagi dianugerahkan-Nya cahaya iman itu kepada seseorang yang berserah-diri. Berdasarkan kepada materi yang telah disampaikan sebelumnya, kiranya uraian singkat berikut ini dapat melengkapi bahasan kita mengenai iman.

Jika pernyataan seperti di atas hanya sekadar kata-kata, maka ia akan sirna ketika kata-kata tersebut selesai dilisankan. Jika pernyataan tersebut hanya sampai pada nalar (fikiran) kita, maka umurnya hanya sebatas usia jasad tempat nalar ini. Apabila kita dimasukkan ke kubur, dan nalar juga hancur, sebagaimana komponen-komponen tubuh lainnya, maka ia pun kembali keasalnya. Semua yang bersifat jasadiyah akan kembali kepada sumbernya yaitu elemen-elemen pembentuknya (air, api, tanah, udara).

Kata-kata “iman” baru bermakna secara hakiki manakala menandai realitas secara cahaya, yakni dianugerahkannya oleh Allah Al-Mu’min “nur-‘iman” kedalam qalb seseorang. Iman cahaya itu diterimanya sebagai salah satu tanda bahwa orang tersebut taubat-nya benar—dan diterima Allah al-Ghafur ar-Rahim. 

Persoalan pengertian pengimanan cahaya ini, sebagaimana banyak persoalan lainnya seperti yang diperlihatkan oleh banyak istilah-istilah Qur'an’aniyyah yang kita gunakan sehari-hari (misalnya: jahil, musyrik, kafir, musibah, iman, taqwa dst.) kunci-jawabannya terdapat dalam kitab Al-Qur’an itu sendiri. 

Jadi, untuk memahami makna istilah-istilah tersebut harus dicari kembali dalam Al-Qur’an. Kemampuan nalar jasadiyah hanya akan bisa memahami Al-Qur’an dalam arti lahiriahnya saja. Untuk memahami makna tersembunyi (bathiniyyah)-nya, seseorang harus membangun-kembali instrumen jiwanya. Dan ini juga hanya akan terjadi apabila seseorang itu benar taubat-nya. Proses taubat inilah yang digambarkan alurnya dalam ayat-ayat An-Nisa [4]:64-70.

Taubat (arti dasarnya ialah “kembali”) itu suatu proses tanpa henti. Disadari atau tidak, setiap saat semua orang sedang kembali kepada Tuhan. Masalahnya lewat jalan manakah ia akan menemui Wajah Allah yang tawwabar rahiim.

Dengan mengacu kepada persaksian pertama jiwa kita di “alam alastu” (QS Al A’raf [7]: 172), yang notabene kita tidak mengingatnya sedikitpun sekarang ini, maka dalam meninjau keadaan jiwa seseorang—terutama diri kita sendiri—kiranya kita perlu lebih merenungkan pengertian dari istilah “zalim,” yang diwariskan kepada kita semua oleh Penghulu kita Adam a.s. (QS Al A’raf [7]: 23). Di sini Al-Qur'an memandu kita dengan memberikan rumusannya, yaitu tidak bertaubat (QS Al Hujurat [49]: 11). 

Sedangkan penghulu kita itu yang statusnya adalah seorang Nabi mengakui bahwa dirinya adalah seorang yang zalim—karena satu kesalahan saja—lalu bagaimanakah seyogyanya sikap kita, keturunannya, kepada Tuhan? Kiranya, timbulah kesadaran awal kita hasil dari perenungan diri yang panjang; yang diperlukan untuk modal dalam memahami makna dari “mentaati Rasul,” “menzalimi diri,” dan seterusnya dari QS An-Nisa [4]: 64.

Kepada mereka yang haqq taubatnya, Rasulullah s.aw memohonkan syafaat kepada-Nya, lalu Allah menghadapkan wajah tawwabarrahiima–Nya ke hamba tersebut. Dianugerahkannya “nur ‘iman” kepada mereka yang seperti itu taubatnya: inilah yang antara lain ditegaskan dalam QS An-Nisa [4]: 65. (Gambar-1)

Selanjutnya kita perhatikan bahwa taubat sejati adalah yang seperti dinyatakan dalam QS An-Nisaa’ [4]:66, yang artinya: “Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu’, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan.”
(Gambar-2)

Taubat sejati itu sesuatu yang jelas rumusannya. Ia berkaitan dengan penundukan “hawa-nafsu” (bunuhlah dirimu) dan pengendalian “syahwat” (keluar dari kampung halaman), seperti yang dibahas pada QS An-Nisaa’ [4]: 66.

Mengingat bahwa hakikat insan adalah nafs-nya, jelaslah bahwa “bunuh-diri” di sini sama sekali bukan jasadiah sifatnya, sedangkan “kampung-halaman” di sini adalah jasad tempat-tinggal sang-nafs itu. Jadi, nafs itu harus “mati” dari tingkatan yang lebih-rendah agar dapat bangkit kepada tingkatan yang lebih-tinggi, dan ia harus keluar dari penjara syahwat ragawinya. Perjalanan nafs itu melintas sekian alam. Pada fase alam rahim, dipersiapkan baginya wadah jasad untuk dipakainya selama dalam alam dunia.

Jadi, hanya pada alam-dunia ini saja ia menggunakan kendaraan jasad. Sejatinya, nafs maupun jasad memiliki tugas dan tanggung-jawabnya sendiri-sendiri. Hubungan yang shaleh (maksudnya tidak fasad, cacat) diantara keduanya adalah jika keduanya shaleh pula, sehingga dapat membentuk kejama’ahan dalam satu diri: nafs sebagai imam, dan jasad sebagai makmum. Keshalehan keduanya adalah sesuatu yang sangat tidak mudah dan memerlukan perjuangan yang besar, jihad al-akbar. Pada dasarnya ini dikarenakan jasad berasal dari bumi ini, dan karenanya semua yang disukainya, syahwat, berada dalam alam yang sekarang. Sementara itu, bagi nafs alam ini hanyalah merupakan persinggahan sementara yang sangat singkat belaka. 

Untuk itu keduanya memerlukan transformasi terus menerus sepanjang di alam dunia ini. Pelatihan bagi jasad agar menjadi shaleh dipandu dengan syariah lahiriah sebagaimana disunahkan oleh Rasulullah s.a.w. Sementara itu, agar menjadi shaleh, nafs perlu menempuh tazkiyatun-nafs (pensucian jiwa) untuk memohon pengampunan dan rahmat disucikan dari semua tapak dosa dan kesalahan yang telah mengotorinya. 

Aspek yang terakhir ini, sebenarnya juga diisyaratkan oleh Rasulullah s.a.w. sebagaimana dapat kita periksa dalam berbagai Hadits dan Hadits Qudsi beliau s.a.w.; dan yang seruan, arah, tahap-tahap serta apa-apa yang menandai masing-masing bagiannya dipandu dan dirumuskan dalam Al-Qur'an. Jika tazkiyatun-nafs, yakni “bunuhlah dirimu dan keluarlah dari kampung halamanmu,” kemudian dilakukan hanya oleh sebagian kecil orang, maka memang demikianlah kenyataannya di sepanjang sejarah; sebagaimana diutarakan dalam banyak ayat Al-Qur'an sendiri, “… kecuali sebagian kecil dari mereka …”. Karena sebagian besar sisanya tidak terseru oleh Al-Qur'an, yang memang, “tidak akan menyentuhnya kecuali mereka yang tersucikan” (QS Al Waqiah [56]: 79).

 Bagi mereka yang sedikit, yang sungguh-sungguh “kembali,” maka Allah Maha Pengampun Maha Rahiim menerimanya, dan menyediakan baginya “ganjaran yang agung dari sisi Kami” (QS An Nisaa’ [4]: 67). Kemudian melimpahinya dengan “iman cahaya” yang diperlukannya agar dia dapat menerima panduan Allah ke Shirath al-Mustaqiim, seperti dinyatakan oleh QS An-Nisaa’[4]: 68, “dan pasti Kami tunjuki mereka kepada Shirath al-Mustaqiim.”

 Tingkat Keimanan, Tingkat Kesucian Jiwa (Nafs) Gambar-3
QS Al-Fatihah ayat-7, menyatakan bahwa Shirath al-Mustaqiim adalah “jalan orang-orang yang diberi ni’mat.” Sekali lagi, mengingat hakikat insan adalah jiwanya, maka ni’mat di sini sama sekali bukan jasadiah sifatnya, melainkan bagi jiwa—jadi nafsaniah sifatnya. Mengenai siapa saja, serta pemeringkatan dari mereka yang diberi ni’mat inilah yang dinyatakan dalam QS An-Nisaa’ [4]: 69.

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, syuhada dan shalihiin. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Nabi, Shiddiqiin, Syuhada dan Shalihiin adalah para insan yang berada di Shirath al-Mustaqiim. Ini adalah istilah-istilah Al-Qur'an yang menunjukkan menyatakan tingkat kesucian jiwa (nafs).

Untuk dapat naik maqam (tingkat kesucian jiwa) harus melepaskan diri dari dirinya-sendiri (membunuh-diri secara nafsiah) menuju Tuhan-nya. [Hal ini dapat dikiaskan bahwa sewaktu seseorang menaiki tangga, kala berada dijenjang pertama memegang pegangan jenjang pertama. 

Untuk naik ke jenjang kedua, maka harus melepas pegangan jenjang pertama, lalu memegang pegangan pada jenjang kedua, begitu seterusnya hingga mencapai puncak. Ini sangat sulit, karena umumnya manusia selalu berpegang-erat pada sesuatu yang tengah digenggamnya. Diri kita sendiri inilah yang merupakan lawan kita yang paling besar, sebagaimana sabda sayidina Ali k.w. Karenanya, membunuh diri itu sesuatu yang, seperti pernyataan ayat di atas—tidak tidak akan dilakukan kecuali oleh sebagian kecil orang].

Pada kesempatan ini kita mulai mengkaji karakteristik dari mereka yang sungguh-sungguh Allah perjalankan di Shirah al-Mustaqiim.

• ShalihiinShalihiin didefinisikan Al-Qur’an dalam QS Al-Ankabut[29]: 9, yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) Shalihiin.”

Shalihiin = iman + amal & shaleh, dimana:
IMAN = pantulan nur-iman dari Al-Mukmin,
AMAL = yang diperintahkan Rukun Islam,
SHALEH = amal itu dikerjakan sewaktu qalbu-nya tidak-fasad

1) ImanIman adalah Cahaya yang Allah limpahkan ke qalb yang bersih dari dosa, bersihnya qalb karena hamba tersebut ditaubatkan secara haqq.
Gambar-4

Ilustrasi ini, menggambarkan proses taubat yang dilalui, untuk meraih iman:

o Tahap I, qalb masih penuh kotoran.
Pada tahap ini dilaksanakan taubat awal, lalu diberi iman-awal oleh Pemilik-Iman untuk modal-awal pembersihan. Surat ke 40 dari Al-Qur'an Allah namai Al-Mukmin, yang juga merupakan salah-satu al-Asma al-Husna, yang bermakna Pemilik Iman. Jadi tidak ada manusia yang memiliki iman kalau tidak disinarkan-Nya cahaya iman. Tidak ada manusia yang memiliki imannya sendiri, tapi hanya memantulkan Cahaya Iman al-Mukmin.
Gambar-5

o Tahap II, sebagian qalb mulai bersih.
Tahap selanjutnya dari seseorang yang mulai ditaubatkan, sewaktu ia mulai berupaya berbuat-baik dan mencoba melaksanakan petunjuk, maka sebagian qalb mulai dibersihkan. Pada tahap ini terjadi gempuran-gempuran pada orang tersebut, yang pada hakikatnya untuk meluaskan qalb. Kegelapan yang semula menghuni qalb terusir ke luar. 

Gempuran-gempuran seperti ini, secara awam diistilahkan sebagai musibah. Kaum awam menganggap konotasi musibah sebagai sesuatu yang buruk adanya. QS At-Taghabun [64]: 11, menyatakan bahwa “Tiada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah …” Maka apa saja yang dialami seseorang dalam pertaubatannya adalah karena Rahmat-Nya. QS Ali ‘Imran [3]: 191 menyatakan “…tiada dalam ciptaan sesuatu yang bathil…”. Jelaslah bahwa kehadiran musibah menjumpai seseorang itu terjadi dengan seizin-Nya. 

Dengan pernyataan ini, jelaslah kehadiran musibahpun seuatu yang Allah hadirkan—dan karenanya bermanfaat bagi diri kita—walaupun bertentangan dengan selera jasadiyah kita. Musibah juga merupakan alat untuk menguji ketaatan seorang insan kepada Rabb-nya. Seringkali mereka yang di Shirath al-Mustaqiim mencontohkan dengan adab mereka sendiri untuk berdo’a sewaktu datang musibah, yang kurang-lebih artinya: ”Berilah aku yang baik menurut-Mu dan berilah aku kekuatan untuk menerima ketetapan-Mu”. Mereka tidak mau melarikan diri dari ketetapan apapun yang datang. Al-Qur'an suci mencontohkan riwayat banyak orang suci yang memperlihatkan kesabarannya sewaktu dihampiri musibah.

o Tahap III, kepada qalb yang bersih ditebar benih iman.
Setelah qalbu bersih, maka ditebari dengan benih-benih iman, lalu disinari dengan Cahaya Iman, terjalinlah hubungan dengan Allah.
“… Dan barangsiapa yang beriman billah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke qalbunya” (QS At-Taghabun [64]: 11).

2) AmalAmal dilaksanakan dengan panduan ilmu. Amal yang paling afdal adalah ilmu mengenai Allah ta’ala. Pelaksanaan amal dilandasi oleh Rukun Islam. Perhatikan pula Hadits Qudsi mengenai amal fardhu dan nawafil yang telah dibahas sebelumnya.

 3) Shaleh
Lawannya adalah fasad yang berarti rusak. Wajah yang dihadapkan sang hamba pada khaliknya adalah qalb-nya. Jika qalb ini shaleh maka shaleh-lah keseluruhan dirinya. Jika fasad maka fasad-lah keseluruhannya.

Shalihiin adalah insan yang beriman, ada cahaya dari Ilahi yang dilimpahkan dan dipantulkan oleh qalbu yang suci. Terjalinlah jaringan komunikasi dengan Allah, turunlah petunjuk (hudan) melalui media nur-‘iman. Dengan landasan hudan itu, ia beramal. Dapat disimpulkan, bahwa “ihdinash shirath al-mustaqiiim” (QS Al-Fatihah [1]: 6), yang dimohonkan kepada-Nya minimal sebanyak 17 x sehari-semalam, adalah permohonan agar setidak-tidaknya dimasukkan menjadi golongan Shalihiin.

• SyuhadaSyuhada berada satu peringkat lebih tinggi daripada kaum Shalihiin. Syuhada yang dijelaskan dalam Al-Hadid [57]: 19, adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Peringkat ini berkaitan dengan persaksian primoridal nafs di alam alastu (QS Al A’raf [7]: 172), yaitu persoalan dipikulnya amanah QS Al [33]: 72. Inilah peringkat orang yang setidak-tidaknya:

➢ mampu menjadi saksi tentang keberadaan Allah;
➢ sudah mengetahui-kembali persaksiannya di alam-alastu;
➢ mempersaksikan al-haqq dibalik sesuatu, tidak ada sesuatupun dalam penciptaan yang bathil (QS Ali ‘Imran [3]: 191).

• ShiddiqiinShiddiqiin merupakan peringkat yang lebih tinggi daripada syuhada, didefinisikan Al-Qur’an dalam Al Hujurat [49]: 15: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah Shiddiqiin”. Shiddiqiin adalah Syuhada yang telah bekerja dengan “nur-ilmunya” di dunia ini. Bersama dengan golongan ”Nabi” kaum “Shiddiqiin” disebut kaum yang dekat “qarib” kepada Allah.

• NabiPengertian Nabi djelaskan dalam QS Al Ahzab [33]: 45 – 47, sebagai berikut:
”Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,
“dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”.
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah”.

Itulah fungsi para Nabi bagi makhluk lainnya. Semua nabi dan rasul berada dalam kepemimpinan Rasulullah Muhammad s.a.w., sebagaimana ditunjukkan dalam jama’ah mereka sewaktu shalat bersama dalam peristiwa mi’raj. Maka apa-apa yang mereka tampilkan dalam kiprah mereka sewaktu berada di dunia adalah seizin dan dalam kehendak Allah ta’ala belaka. Adanya tuduhan, sekalipun hanya didalam hati seseorang, mengenai sikap atau tindakan seorang nabi yang dipandangnya dengan negatif merupakan hambatan yang mencegahnya dimasukkan dalam golongan yang disebut dalam QS An Nisaa’ [4]: 69. Karena tidaklah mungkin seseoarang dimasukkan dalam suatu kelompok dimana ada diantara anggotanya—yang semuanya Allah angkat—yang masih buruk dalam persangkaannya.

Bershalawat kepada Nabi s.a.w, merupakan suatu usaha agar menjadi kaumnya Nabi s.a.w. Usaha untuk menghubungkan diri dengan Nabi s.a.w, dengan menjadikannya sebagai teladan, sehingga Nabi Muhammad s.a.w. yang disebut Al-Qur'an yang berjalan, berkenan memberikan syafaatnya. Dengan kata lain, bershalawat adalah suatu komitmen untuk menjadikan teladan Rasulullah s.a.w. sebagai patron atau alat cetak pembentuk karakteristik kepribadiannya. Teladan yang tertulis di dalam Al-Qur'an adalah kiprah dan jihad para nabi dan rasul dalam bertaubat dan ditransformasikan jiwanya sewaktu ditarik kepada Allah.

Semakin tinggi peringkat kesucian jiwa seseorang dalam golongan mereka yang diberi nikmat, maka rasa jiwa akan semakin halus. Karenanya, semakin halus pula tingkat dosanya. Demikian pula semakin ditarik kepada Allah, semakin besar ujian yang akan datang. Perlu disadari bahwa orang yang dicintai Allah, akan diselimuti-Nya seperti seorang ibu menyelimuti anaknya. Allah akan menyelimuti orang tersebut dengan berbagai musibah dan ujian, untuk mencegahnya dihinggapi oleh hal-hal yang tidak Allah cintai.

Gambar-1
Gambar-2
Gambar-3
Gambar-4
Gambar-5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar