Rabu, 27 Agustus 2014

Hikmah Kutipan Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar" Bagian ke : 8 ), ~

Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia Yang Kebenarannya Sangat Diperlukan".

8: TAUBAT DAN PENGAJARAN MELALUI KATA

Tahap-tahap dan tahap-tahap perubahan spiritual telah disebut. Namun disini perlu ditegaskan bahwa setiap tingkat dicapai terutama dengan taubat. 

Bolehlah dipelajari cara bertaubat dengan orang yang mengetahui cara melakukannya dan yang telah sendirinya bertobat. 

Taubat yang nyata dan komprehensif merupakan langkah pertama di dalam perjalanan.
"(Ingatlah) tatkala orang-orang kafir itu adakan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah. Lalu Allah turunkan ketenteraman atas rasul-Nya dan atas mukmin. 

Dan Dia wajibkan mereka (ucapkan) kata menjaga keamanan (taubat) karena mereka lebih berhak dengan itu, dan memang (mereka) ahlinya, dan adalah Allah mengetahui segala sesuatu ".(Surah Fath, ayat 26).

Kondisi takutkan Allah memiliki maksud yang sama dengan kalimat "La ilaha illa Llah" - tidak ada Tuhan, tidak ada apa-apa, kecuali Allah. Bagi orang yang mengetahui ini akan ada perasaan takut kehilangan-Nya, kehilangan perhatian-Nya, cinta-Nya, ampunan-Nya; 

Dan dia takut serta malu melakukan kesalahan sedangkan Dia melihatNya, dan takut azab-Nya. Jika seseorang itu kalau tidak demikian maka dia harus mendapatkaan orang yang takut kepada Allah dan menerima kondisi rasa ketakut akan Allah itu dari orang bersangkutan.

Sumber dari mana kata itu diterima harus bersih dan suci dari segala sesuatu kecuali Allah, dan siapa yang menerimanya harus ada kemampuan untuk membedakan antara perkataan orang yang suci hatinya dengan kata orang umum. 

Penerimanya harus menyadari cara kata itu diucapkan, karena katayang bunyinya sama mungkin memiliki maksud yang jauh berbeda. 

Tidak mungkin kata yang datangnya dari sumber yang asli sama dengan kata yang berasal dari sumber lain.

Hatinya menjadi hidup bila dia menerima benih tauhid dari hati yang hidup karena benih yang demikian sangat subur, itulah benih kehidupan. Tidak ada yang tumbuh dari benih yang kering lagi ada kehidupan.Kalimah suci "La ilaha illa Llah" disebut dua kali di dalam Quran menjadi bukti.

"(Karena) ketika dikata kepada mereka" Tidak adaTuhan melainkan Allah "mereka membual. Dan mereka berkata, 'Apakah kami harus meninggalkan tuhan-tuhan kami buat (menurut) seorang penyair dan gila?"
(Surah Shaaffaat. Ayat 35 & 36).

Ini adalah kondisi umum yang baginya penampilan luar termasuk keberadaan lahiriah adalah dewa.
"Jadi Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah.Dan mintalah perlindungan bagi buah amal kamu, dan bagi mukmin dan mukminat,dan Allah mengetahui tempat usaha kamu (di siang hari) dan tempat kembali kamu(pada malam hari) ". (Surah Muhammad, ayat 19).

Firman Allah ini menjadi panduan kepada orang-orang beriman yang tulen yang takutkan Allah.
Ali ra meminta Rasulullah saw mengajarkan kepadanya cara yang mudah, paling bernilai, paling cepat pada keselamatan. Beliau menunggu Jibril memberikan jawabannya dari sumber Ilahi. 

Jibril datang dan mengajarkan beliau mengucapkan "La ilaha" sambil memusingkan mukanya yang diberkati ke kanan, dan mengucapkan "illa Llah" sambil memusingkan mukanya ke kiri, ke arah hati sucinya yang diberkati. Jibril mengulangi tiga kali;

Nabi saw mengulanginya tiga kali dan mengajarkan yang demikian kepada Ali ra dengan mengulanginya tiga kali juga. Kemudian beliau mengajarkan yang demikian kepada sahabat-sahabat beliau. Ali ra merupakan orang yang pertama bertanya dan menjadi orang yang pertama diajarkan.

Kemudian satu hari setelah kembali dari perang, Nabi saw berkata kepada pengikut-pengikut beliau, "Kita baru kembali dari peperangan yang kecil untuk menghadapi perang yang besar". Beliau merujuk kepada perjuangan dengan ego diri sendiri, keinginan yang rendah yang menjadi musuh kepada penyaksian kalimah tauhid. 

Beliau bersabda, "Musuh kamu yang paling besar ada di bawah rusuk kamu".

Cinta Ilahi tidak akan hidup sampai musuhnya, hawa nafsu badaniah kamu, mati dan meninggalkan kamu.
Awalnya kamu harus bebas dari ego kamu yang menyeret kamu kekejahatan. Kemudian kamu akan mulai memiliki suara hati yang belum lengkap,meskipun kamu masih belum sepenuhnya bebas dari dosa. 

Tapi kamu akan memiliki perasaan mengkritik diri sendiri dan itu belum cukup. Kamu harus melewati tahap tersebut ke tingkat di mana fakta yang sebenarnya dibukakan bagimu,kebenaran tentang benar dan salah. 

Kemudian kamu akan berhenti melakukan kesalahan dan akan hanya melakukan kebaikan. Dengan demikian diri kamu akanmenjadi bersih.

Di dalam melawan hawa nafsu dan menarik badan kamu, kamu harus melawan nafsu kehewanan - kerakusan, terlalu banyak tidur, pekerjaan yang sia-sia - dan menentang sifat-sifat hewan liar di dalam diri kamu - kekejian,marah, kasar dan berkelahi. 

Kemudian kamu harus usahakan membuang perangai-perangai ego yang jahat, takabur, sombong, dengki, dendam, serakah dan lain-lain penyakit tubuh dan hati kamu. Cuma orang yang melakukannya yang benar-benar bertobat dan menjadi bersih, suci murni dan murni.

"Sesungguhnya Allah kasih kepada orang yang bertobat dan memelihara kesuciannya". 
(Surah Baqarah, ayat 222).

Dalam melakukan taubat seseorang itu harus mengambilperhatian sehingga penyesalannya tidak ambigu dan tidak juga secara umum agar dia tidak jatuh ke dalam ancaman Allah: "Tidak peduli berapa banyak mereka bertobat mereka sebenarnya tidak menyesal. Taubat mereka tidak diterima ".

Ini ditujukan kepada mereka yang hanya mengucapkan kata-kata taubat tetapi tidak tahu sejauh mana dosa mereka, bahkan tidak mengambil tindakan perbaikan dan pencegahan. Itulah pertobatan yang biasa, taubat zahir yang tidak menusuk ke akar dosa. Ini adalah umpama orang yang mencoba menghilangkan rumput dengan memotong bagian di atas tanah tetapi tidak mencabut akarnya yang di dalam bumi. 

Tindakan yang demikian membantu rumput untuk tumbuh dengan lebih segar. Orang yang bertobat dengan mengetahui kesalahannya dan penyebab kesalahan itu bertekad tidak mengulanginya dan membebaskan dirinya dari kesalahan itu, mencabut akar pohon yang merusak itu. 

Cangkul yang digunakan untuk menggali akarnya, penyebab dosa-dosa, adalah pelajaran spiritual dari guru yang benar. Tanah harus dibersihkan sebelum ditanam pohon anggrek." Dan Kami memungkinkan perumpamaan kepada manusia supaya mereka memikirkannya". (Surah Hasyr, ayat 21).

"Dia-lah Penerima taubat hamba-hamba-Nya dan mengampuni dosa, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Surah Syura, ayat 25).

"Kecuali orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu Allah tukarkan kejahatan mereka dengan kebaikan karena adalah Allah itu Pengampun, Penyayang". (Surah Furqaan,ayat 70).

Ketahuilah taubat yang diterima tandanya adalah seseorang itu tidak lagi jatuh ke dalam dosa tersebut.
Ada dua jenis taubat, taubat orang dan taubat mukmin sejati. Masyarakat berharap meninggalkan kejahatan dan masuk ke kebaikan dengan cara mengingat Allah dan mengambil langkah usaha bersungguh-sungguh, meninggalkan hawa nafsunya dan kesenangan badannya dan menekankan egonya. 

Dia harusmeninggalkan ke egoannya yang ingkar terhadap aturan Allah dan masuk ke taat. Itulah taubatnya yang menyelamatkannya dari neraka dan memasukkannya ke dalam surga.

Orang mukmin sejati, hamba Allah yang asli, berada di dalam suasana yang jauh berbeda. Mereka berada pada makam makrifat yang jauh lebih tinggi dari makam orang umum yang paling baik. 

Sebenarnya bagi mereka tidak ada lagi anak tangga untuk dipanjat; mereka telah sampai ke jarak dengan Allah. Mereka telah meninggalkan kesenangan dan nikmat dunia ini dan menikmati kelezatan alam spiritual - rasa jarak dengan Allah, nikmat menyaksikan Zat-Nya dengan mata keyakinan.

Perhatian publik tertuju kepada dunia ini dan kesenangan mereka adalah merasakan nikmat materi dan eksistensi kebendaannya. Bahkan, jika keberadaan material manusia dan dunia adalah satu kesalahan begitu jugalah nikmat dan cacat yang paling baik darinya. Kata-kata yang diucapkan oleh orang arif,

"Kewujduan dirimu adalah dosa, menyebabkan segala dosa menjadi kecil jika dibandingkan dengannya". 
Orang arif selalu mengatakan bahwa kebaikan yang dilakukan oleh orang baik-baik tidak mencapai jarak dengan Allah tidak lebih dari kesalahan orang yang hampir dengan-Nya. 

Jadi, untuk mengajar kita memohon keampunan terhadap kesalahan yang tersembunyi yang kita sangkakan kebaikan, Nabi saw yang tidak pernah berdosa memohon ampunan dari Allah sebanyak seratuskali sehari. 

Allah Yang Maha Tinggi mengajarkan kepada rasul-Nya:
"Pintalah perlindungan bagi buah amal kamu dan bagi mukmin dan mukminat". (Surah Muhamamd, ayat 19).

Dia jadikan rasul-Nya yang suci murni sebagai teladan tentang cara bertaubat - dengan memohon kepada Allah agar menghilangkan ego seseorang, sifat-sifatnya dan dirinya, semuanya pada diri seseorang, mencabut keberadaan diri seseorang. Inilah taubat yang sebenarnya.

Taubat yang demikian meninggalkan segalanya kecuali Zat Allah, dan bertekad untuk kembali kepada-Nya, kembali ke jarak-Nya untuk melihat Wajah Ilahi. Nabi saw menjelaskan taubat yang demikian dengan sabda beliau, "Ada sebagian hamba-hamba Allah yang murni yang tubuh mereka berada di sini tetapi hati mereka berada di sana, di bawah arasy". 

Hati mereka berada di langit kesembilan, di bawah arasy Allah karena kesaksian suci terhadap Zat-Nya tidak mungkin terjadi pada alam bawah.

Di sini hanya pernyataan atau pengungkapan sifat suci-Nya yang dapat disaksikan, memancar ke atas cermin yang bersih milik hati yang suci. 

Umar berkata, "Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku". Hati yang suci adalah cermin di mana keindahan, kemuliaan dan kesempurnaan Allah memancar. Nama lain yang diberi kepada suasana ini adalah pembukaan (kasyaf),menyaksikan sifat-sifat Ilahi yang suci.

Untuk mendapatkan suasana tersebut, untuk membersihkan dan menyinarkan hati, perlulah kepada guru yang matang, yang di dalam keesaan dengan Allah, yang disanjung dan dimuliakan oleh semua, dahulu dan sekarang. 

Guru tersebut harus telah sampai ke makam jarak dengan Allah dan dikirim balik ke alam rendah oleh Allah untuk membimbing dan menyempurnakan mereka yang layak tetapi masih memiliki cacat.

Di dalam penurunan mereka untuk melakukan tugas tersebut wali-wali Allah harus berjalan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw dengan mengikuti teladan beliau, tetapi tugas mereka berbeda dengan tugas rasul. 

Rasul diutus untuk menyelamatkan orang banyak dan juga orang-orang yang beriman.Guru-guru tadi pula tidak dikirim untuk mengajar semua orang tetapi hanya sejumlah yang dipilih saja. Rasul-rasul diberi kebebasan dalam menjalankan tugas mereka, sementara wali-wali yang mengambil tugas sebagai guru harus mengikuti jalan rasul-rasul dan nabi-nabi.

Guru spiritual yang mengaku diri mereka merdeka, menyamaka ndirinya dengan nabi, jatuh kepada kesesatan dan kekafiran. Bila Nabi saw mengatakan sahabat-sahabat beliau yang arif adalah umpama nabi-nabi Bani Israil, beliau memaksudkan lain dari ini - karena nabi-nabi yang datang setelah Musa as semuanya mengikuti prinsip agama yang dibawa oleh Musa as Mereka tidak membawa aturan baru. 

Mereka mengikuti hukum yang sama. Seperti mereka juga orang-orang arif dari kalangan umat Nabi Muhammad saw yang bertugas membimbing sebagian dari orang-orang suci yang dipilih, mengikuti kebijaksanaan Nabi saw, tetapi menyampaikan perintah dan larangan dengan cara baru yang berbeda, terbuka dan jelas, menunjukkan kepada murid-murid mereka dengan perbuatan yang mereka kerjakan pada waktu dan kondisi yang berbeda.

 Mereka memberikan dorongan kepada murid-murid mereka dengan menunjukkan kelebihan dan keindahan prinsip-prinsip agama. Tujuan mereka adalah membantu pengikut mereka menyucikan hati yang menjadi situs untuk membena tugu makrifat.

Dalam semua itu mereka mengikuti teladan dari pengikut Rasulullah saw yang terkenal sebagai 'orang yang memakai baju bulu' yang telah meninggalkan semua kegiatan keduniaan untuk berdiri di pintu Rasulullah saw dan mendekati beliau. 

Mereka menyampaikan kabar sebagaimana mereka menerimanya secara langsung dari mulut Rasulullah saw Dalam jarak mereka dengan Rasulullah saw mereka telah sampai ke tahap di mana mereka dapat berbicara tentang rahasia israk dan mikraj Rasulullah saw sebelum beliau membuka rahasia tersebut kepada sahabat-sahabat beliau.

Wali-wali yang menjadi guru memiliki jarak yang sama dengan Nabi saw dengan Tuhannya. Amanah dan perawatan terhadap ilmu ketuhanan yang sama diberikan kepada mereka. Mereka adalah Pemegang bagian dari kenabian, dan diri batin mereka aman di bawah perawatan Rasulullah saw

Tidak semua orang yang memiliki ilmu berada di dalam kondisi tersebut. 
Melainkan hanya mereka yang sampai ke situ adalah yang lebih dekat kepada Rasulullah saw dari anak-anak dan keluarga mereka sendiri dan mereka adalah umpama anak-anak spiritual Rasulullah saw yang perhubungannya lebih erat dari hubungan darah. 

Mereka adalah pewaris nyata kepada Nabi s.a.w. Anak yang sejati memiliki zat dan rahasia ayahnya pada penampilan lahiriah dan juga pada batinnya. Nabi saw menjelaskan rahasia ini, "Ilmu khusus adalah umpama harta rahasia yang hanya mereka yang mengenal Zat Allah bisa mendapatkannya. 

Namun bila rahasia itu dibukakan orang yang memiliki kesadaran dan ikhlas tidak menafikannya".
Ilmu tersebut dimasukkan ke Nabi saw pada malam beliau mikraj kepada Tuhannya. Rahasia itu tersembunyi di dalam diri beliau di baliktiga ribu tabir hijab. 

Beliau tidak membuka rahasianya melainkan kepada sebagian pengikut beliau yang sangat dekat dengan beliau. Dan dengan melalui penyebaran dan keberkatan rahasia inilah Islam akan terus memerintah sampai ke harikiamat.

Pengetahuan batin tentang yang tersembunyi membawa seseorang ke rahasia tersebut. Sains, kesenian dan keterampilan keduniaan adalah umpama kerangka kepada pengetahuan batin. 

Mereka yang memiliki pengetahuan kerangka itu bolehlah mengharapkan satu hari nanti mereka diberi kesempatan untuk memiliki apa yang di dalam kerangka. Sebagian dari mereka yang berilmu memiliki apa yang harus dimiliki oleh seorang manusia umumnya sementara sebagian yang lain menjadi anggota dan memelihara ilmu tersebut dari hilang. 

Ada orang yang menyeru kepada Allah dengan nasihat yang baik. 
Sebagian dari mereka mengikuti sunnah Nabi saw dan dipimpin oleh Ali ra yang menjadi pintu ke gedung ilmu yang melaluinya masuklah mereka yang menerima undangan dari Allah.

"Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik". (Surah Nahl, ayat 125).

Maksud dan perkataan mereka adalah sama. Perbedaan padazahirnya hanyalah pada hal-hal detail dan cara pelaksanaannya.

Sebenarnya ada tiga makna yang tampak sebagai tiga jenis ilmu yang berbeda-dilakukan secara berbeda, tetapi diarahkan untuk yang satu sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.
 Ilmu dibagi menjadi tiga yang tidak ada seorang manusia pun dapat menanggung seluruh beban ilmu itu juga tidak berupaya mengamalkan dengan sekaliannya.

Bagian pertama ayat di atas "Serulah ke jalan Tuhan mudengan bijaksana (hikmah)",
sesuai dengan makrifat, zat dan awal ke segala sesuatu, pemiliknya harus sebagaimana Nabi saw beramal sesuai dengannya. 

Iahanya diberikan kepada pria sejati yang berani, tentara spiritual yang akan mempertahankan posisinya dan menyelamatkan ilmu tersebut.

 Nabi saw bersabda, 
"Kekuatan semangat pria sejati mampu mengguncang gunung".
Gunung disini menunjukkan keberatan hati beberapa manusia. Doa pria sejati yang menjadi tentara spiritual dimakbulkan. Bila mereka menciptakan sesuatu itu terjadi,bila mereka menginginkan sesuatu hilang maka ia pun hilang.

"Dia berikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki,dan Barangsiapa dikaruniai hikmah maka sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak". (Surah Baqarah, ayat 269).

Jenis kedua adalah ilmu zahir yang disebut Quran sebagai"seruan yang baik". Ia menjadi kulit kepada hikmah kebijaksanaan rohani. Mereka yang memilikinya menyeru kepada kebaikan, mengajarkan manusia berbuat baik dan meninggalkan larangan-Nya. 

Nabi s.a.w memuji mereka. Orang yang berilmu menyeru dengan lemah lembut dan baik hati, sementara yang jahil menyeru dengan kasar dan kemarahan.

Jenis ketiga adalah ilmu yang menyentuh kehidupan manusia didalam dunia. Ia disebut sebagai ilmu agama (syariat) yang menjadi sarang kepada hikmah kebijaksanaan (makrifat).

 Ini adalah ilmu yang dialokasikan kepada mereka yang menjadi pemerintah manusia; menjalankan keadilan atas sesama manusia; pemerintahan manusia atas sesama manusia.

 Bagian terakhir ayat Quran yang di atas tadi menceritakan tugas mereka "dan bicaralah dengan mereka dengan cara yang lebih baik". Mereka ini menjadi kenyataan kepada sifat Allah "al-Qahhar" Yang Maha Keras. Mereka berkewajiban menjaga aturandi kalangan manusia sesuai dengan hukum Tuhan, seumpama sabut melindungi tempurung dan tempurung melindungi isi.

Nabi saw menyarankan, "Biasakan dirimu berada di dalam dewan orang-orang arif, taatlah kepada pemimpin kamu yang adil. 

Allah Yang MahaTinggi menghidupkan hati dengan hikmah seperti Dia jadikan bumi yang mati hidup dengan tanaman dengan menurunkan hujan ". Beliau juga bersabda,"Hikmah adalah harta yang hilang bagi orang yang beriman, dikutipnya dimana saja ditemuinya".

Bahkan kata yang diucapkan oleh manusia biasa datangnya dari Loh Terpelihara menurut hukum Allah terhadap segala hal dari awal sampai akhir.Loh itu disimpan pada alam tinggi pada akal asbab tetapi kata diucapkan menurut makam seseorang.

Kata mereka yang telah mencapai makam makrifat adalah langsungdari alam tersebut, makam jarak dengan Allah. Di sana tidak ada perantara.

Ketahuilah bahwa semua akan kembali ke asal mereka. Hati,zat, harus dikejutkan; Dan jadikanlah hidup ini untuk mencari jalan kembali ke asalnyayang suci murni.

Dan' Ia harus mendengar seruan. 
Seseorang itu harus mencari orang-orang yang dari seruan itu muncul, melalui zahir seruan. 
Itulah guru yang sebenarnya. 

Ini adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai generasi penerus.

Baginda Nabi saw bersabda,
"Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap orang Islam lelaki dan perempuan". 
Adapun Ilmu yang merupakan tahap terakhir dari semua ilmu, iaitu adalah ilmu makrifat, ilmu yang akan membimbing seseorang kepada asalnya, kesejatiannya yang nyata (fakta).

Sedangkan Ilmu yang lain cukuplah sekedar memenuhi kebutuhannya. 
Sebab Allah menyukai mereka yang meninggalkan ambisi dan angan-angan kepada keduniawian, dan kemuliaan serta kebesarannya,hanya kepada kepentingan duniawi semata dan ini bisa mencegah seseorang kepada Allah.

"Katakanlah:" Aku tidak meminta kepadamu upah atas (menyampaikan) nya, kecuali percintaan (kepadaku) lantaran kerabat ".(Surah Syura, ayat 23).

Bismillah Alhamdulillah Yaa Sayidi Yaa Rasulullah...
Demikianlah yang dapat kusampaikan saat ini dan Insya Allah bersambung...>

Hikmah Kutipan Bagian ke 9), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia. Yang Rahasia Kebenarannya Sangat Diperlukan".


9: KEROHANIAN ISLAM DAN AHLI SUFI

Sufi adalah kata Arab - saf, yang berarti murni. Alam batin sufi dipersucikan, menjadi murni dan diterangi oleh cahaya makrifat, penyatuan dan kesatuan.

Istilah sufi dikaitkan juga dengan bidang kerohanian mereka yang selalu terhubung dengan sahabat-sahabat Rasulullah saw yang dikenal sebagai 'faksi yang memakai baju bulu'.

Saf, adalah pakaian bulu yang kasar dan menggambarkan keadaan mereka yang miskin lagi hina.

Di dalam kesempatan kehidupan dunia ini.
Mereka selalu menghemat di dalam makanan, minuman dan lain-lain.

Dalam buku 'al-Majm' ada dikatakan,
"Apa yang terjadi kepada anggota suluk yang suci adalah pakaian dan kehidupan mereka sangat sederhana dan hina".

Meskipun mereka terlihat tidak menarik secara keduniaan tetapi hikmah kebijaksanaan (makrifat) mereka ternyata pada sifat mereka yang lemah lembut dan halus, adapun yang membuat mereka menarik kepada siapapun yang mengenali mereka.

Mereka menjadi contoh kepada alam manusia.
Mereka dipandu ilmu Ilahi. Pada pandangan Tuhan mereka berada pada martabat pertama kemanusiaan.

Dalam pandangan mereka yang mencari Tuhan faksi sufi ini terlihat cantik meskipun pada zahirnya tampak buruk.

Mereka harus dikenal dan mampu mengenali, dan mereka harus dengan cara itu ya mereka harus sama satu sama yang lainnya, karena mereka semua berada pada makam keesaan dan harus nyata sebagai satu.

Dalam bahasa Arab kata tasawwuf, kerohanian Islam, terdiri dari empat huruf - 'ta', 'sin', 'wau' dan 'pa' (t, s, w, f). Huruf pertama, t, berarti taubat.

Langkah pertama yang harus diambil pada jalan ini terdiri dari dua hal, pertama syariat zahir dan kedua batin.

Taubat zahir dalam perkataan, perbuatan dan perasaan, menjaga kehidupan agar bebas dari dosa dan kesalahan dan cenderung untuk berbuat kebaikan dan ketaatan;

Selanjutnya meninggalkan keburukan dan sifat-sifat yang sekiranya akan menjadikan pertentangan, untuk mencari kesejahteraan dan kedamaian.

Taubat batin dilakukan oleh hati.
Penyucian hati dari hawa nafsu duniawi yang penuh denan huru hara dan bertekad ingin bulatkan hati untuk mencapai alam ketuhanan.

Taubat - mengawasi kesalahan dan meninggalkannya, serta menyadari kebenaran dan berjuang ke arahnya - sehingga dapat membawa seseorang itu ke langkah kedua.

Langkah kedua adalah damai dan sejahtera, safa. Huruf 's' adalah simbolnya.

Dalam tahap ini juga ada dua langkah yang perlu diambil. Pertama adalah menuju kesucian di dalam hati dan kedua menuju pusat hati.

Hati yang tenang datang dari hati yang bebas dari kesusahan, keresahan yang disebabkan oleh masalah materi semua masalah ini, diantaranya makan, minum, tidur, dan dari berkata yang sia-sia.

Dunia ini seumpama energi yang menarik bumi, menarik hati ke bawah, dan untuk membebaskan hati dari masalah tersebut hingga menyebabkan terjadi tekankan kepada hati.

Karena di sana adanya ikatan-ikatan - hawa nafsu dan keinginan, kepemilikan,tuk mencintai keluarga dan anak-anak - yang mengikat hati seni ke bumi dan mencegahnya terbang tinggi.

Adapun cara membebaskan hati, untuk menyucikannya, adalah dengan mengingat Allah.
Pada awal tingkatan ini ingatan yang terjadi secara eksternal, dengan mengulangi nama-nama Tuhan, serta selalu menyebut-menyebutnya dengan kuat-kuat sehingga kamu dan orang lain bisa mendengarnya.

Dan apabiila ingatan kepada-Nya sudah mulai tertanam maka teruslah tanamkan hingga masukan kedalam hati dan apapun yang terjadi yang ada dalam ingatanmu hanyalah ingat kepadaNya.

Dan teruslah ingatkan hal tersebut hingga benar-benar masuk ke dalam hatimu yang terdalam hingga tertanam dan diam di dalam Qolbumu apapun yang terjadi baik dalam gerak maupun diam.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang mukmin itu adalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, takutlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah menambah keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah mereka kembali". (Surah Anfaal, ayat 2).

Takut kan Allah dalam ayat tersebut berarti (Khauf ) takut dan harap,hormat dan mencintai Allah.

Dengan ingatan dan mengucapkan nama-nama Allah hingga hatimu menjadi tenang dan terjaga dari ketiduran dan kelalaian, serta menjadi suci bersih dan bersinar.

Sehingga kemudian bentuk dan rupa dari alam gaib pun menyata di dalam hati.

Nabi sawbersabda,
"Ahli ilmu zahir mendatangi dan menerkam sesuatu dengan akal pikirannya sementara ahli ilmu batin sibuk membersihkan dan memoles hati mereka".

Kesejahteraan pada pusat rahasia bagi hati diperoleh dengan membersihkan hati dari segala sesuatu dan menyiapkannya untuk menerima Zat Allah semata-mata yang memenuhi ruang hatinya bila hati sudah diperindahkan dengan kecintaan kepada Allah.

Maka alat pembersinya adalah dengan mengingat dan terus menyebut asma namaNya didalam hatimu, dengan lidah dan rahasia kalimat tauhid "La ilaha illaLlah". Dan apabila pusat hati mu sudah berada dalam suasana tenang dan damai maka tingkat kedua yang disimbolkan sebagai huruf 's' selesai.

Huruf ketiga 'w' berarti wilayah, suasana kemurnian dan keaslian pecinta-pecinta Allah dan sahabat-sahabat-Nya. Namun kondisi ini tergantung pada kesucian batin seseorang itu.

Allah menggambarkan sahabat-sahabat-Nya dengan firman-Nya:
"Ketahuilah, sesungguhnya pembantu-pembantu Allah tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak mereka bersedih hati.

Bagi merekalah kegembiraan di penghidupan dunia dan akhirat ... ". (Surah Yunus, ayat 62- 64).

Seseorang yang di dalam kesucian menyadari sepenuhnya tentang Allah, mencintai-Nya fan berhubungan dengan-Nya. Maka akibatnya dia diperelokkan dengan pribadi, akhlak dan perangai yang terbaik.

Ini adalah hadiah suci yang dikaruniakan Allah kepada mereka.

Nabi saw bersabda,
"Perhatikanlah akhlak yang mulia dan berbuatlah sesuai dengannya". Dalam tahap ini orang yang di dalam kesadarannya tersebut meninggalkan atribut keduniaannya yang sementara dan kelihatanlah dia diliputi oleh sifat-sifat Ilahi yang suci.

Dalam hadis Qudsi Allah berfirman:
"Bila Aku mencintai hamba-Ku, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, percakapannya, pegangan dan perjalanannya".

Maka dari itu hapuskanlah segalanya hal dari hati kamu dan biarkan Allah saja yang berada di sana.

"Dan katakanlah telah datang kebenaran dan telah lenyap kepalsuan karena sesungguhnya kepalsuan itu akan lenyap". (Surah BaniIsrail, ayat 81).

Bila kebenaran telah datang dan kepalsuan telah lenyap maka selesailah tingkat provinsi.

Huruf ke empat 'f' berarti fana, lenyap diri sendiri ke dalam ketiadaan. Diri yang palsu akan hancur dan hilang ketika sifat-sifat yang suci telah memasuki hati seseorang, dan apabila sifat-sifat serta kepribadian yang banyak menghambat tempatnya akan digantikan oleh satu saja iaitu sifat keesaan.

Dalam pernyataan fakta selalu hadir. Ia tidak hilang dan tidak juga berkurang. Apa yang terjadi adalah orang yang beriman menyadari dan menjadi satu dengan yang menciptakannya.

Dalam suasana yang demikian seseorang akan berada bersama dengan-Nya. Dan orang yang beriman akan memperoleh karunia-Nya;sementara manusia yang menemukan keberadaanNya dengan nyata dan menyadari akan adanya rahasiaNya yang abadi. "Semua akan binasa kecuali Wajah-Nya". (Surah Qasas, ayat 88).

Sedangkan cara untuk menyadari fakta ini adalah melalui anugerah-Nya, dan dengan kehendak-Nya. Bila kamu berbuat kebaikan semata-mata karena-Nya dan sesuai dengan kehendak-Nya maka kamu akan menjadi hampir dengan fakta-Nya, Zat-Nya.

Kemudian semua akan lenyap kecuali Yang Esa yang meridhai dan yang Dia diridhainya, sehingga bersatunya. dalam segala perbuatan yang baik laksana seorang ibu yang melahirkan bayi kebenaran;

Sehingga melakhirkan kehidupan dalam kesadaran bagi manusia yang sebenarnya.

"Kata yang baik dan perbuatan yang baik naik kepadaAllah". (Surah Fatir, ayat 10).

Jika seseorang telah berbuat sesuatu dan jika keberadaannya bukan untuk Allah saja maka dia mengadakan sekutu bagi Allah, dan dia menempatkan yang lain pada tempat Allah maka berdosalah dia dan tidak akan diampuni dan hal yang demikian itu akan merusak serta memusnahkannya, baik cepat atau lambat. Tapi apabila diri dan kepentingan dirinya fana, maka pencapaian seseorang itu akan menghantarkannya kepada peringkat bersatunya dengan Allah.

Allah menggambarkan makam tersebut:
"Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (adalah) dikebun-kebun dan (dekat) sungai-sungai. Di tempat duduk kebenaran, di sisi Raja Agung yang sangat kuat ". (Surah Qamar, ayat 54 & 55).

Tempat itu adalah tempat bagi fakta yang penting, fakta-fakta, tempat konsolidasi dan keesaan. Ini adalah tempat yang di sediakan untuk nabi-nabi, dan untuk mereka yang dikasihi oleh Allah, untuk para sahabat-Nya. Allah beserta dengan orang-orang yang benar.

Bila keberadaan telah bersatu dengan wujud yang abadi itu maka tidak lagi dapat dipandang sebagai keberadaan yang terpisah.

Bila semuai katan keduniaan ditanggalkan dan seseorang itu dalam suasana kesatuan dengan Allah, dengan izin (hakikat) IlahiNya, maka dia menerima kesucian yang abadi, dan tidak akan tercemar lagi, hingga termasuk ke dalam golongan yang telah disebutkanNya iaitu :
"Mereka itu ahli surga yang kekal di dalamnya".(Surah A'raaf, ayat 42).

Mereka adalah: "Orang-orang yang beriman dan beramal saleh".(Surah A'raaf, ayat 42).

Pokoknya: "Kami tidak memberatkan satu diri melainkan sekadar kuasanya". (Surah A'raaf, ayat 42).

Tetapi seseorang membutuhkan kesabaran yang kuat:
"Dan Allah beserta orang yang sabar". (Surah Anfaal, ayat 66).

Demikianlah untuk kali ini semoga saja bermanfaat dan Insya Allah Bersambung...>

Hikmah Kutipan Bagian ke 10 ), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab"Rahasia Dalam Rahasia-rahasia Yang Kebenarannya Sangat Diperlukan".

10: ZIKIR
Allah Yang Maha Tinggi menunjukkan jalan kepada para pencari supaya mengingat-Nya:
"Dan hendaklah kamu sebut Dia sebagaimana Dia pimpin kamu. (Surah Baqaraah, ayat198).

Ini berarti Pencipta kamu telah membawa kamu ke tingkat kesadaran dan keyakinan tertentu dan kamu hanya bisa mengingat-Nya menurut kadar kemampuan tersebut. 

Nabi saw bersabda, "Ucapan zikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa, dan itulah kalimat" La ilaha illa Llah ".

Sedangkan Dzikir itu ada berbagai tingkat zikir dan masing-masing ada caranya yang berbeda. Ada yang diucap dengan lidah secara kuat dan ada pula yang diucapkan dalam diam, iaitu di lubuk hati. 

Adapun pada tahap awal bagi seseorang ia harus menyebutkan ucapan zikirnya dengan lidahnya secara berbunyi.(zahar)

Kemudian tingkat demi tingkat zikir mengalir ke dalam diri, dan turun ke dalam hati, kemudian naik ke roh dan selanjutnya pergi semakin jauh iaitu ke bagian rahasia-rahasiaNya, dan pergi lagi ke yang lebih jauh yaitu ke bagian yang tersembunyi hingga kepada yang paling tersembunyi dari yang tersembunyi. 

Hingga sejauh mana zikir masuk ke dalam, tingkat yang dicapainya,tergantung pada sejauh mana Allah dengan kemurahan-Nya membimbing seseorang.

Sehingga DZikir yang diucapkan dengan kata menjadi kenyataan dan hatinya tidak lupa kepada Allah. 

Sedangkan Dzikir diam di dalam hati adalah gerakan perasaan. Dzikir hati adalah dengan cara merasakan di dalam hatinya tentang pernyataan tentang keperkasaan dan keelokan Allah. 

Dzikir adalah melalui pancaran cahaya suci yang dipancarkan oleh keperkasaan dan keelokan Allah. 
Dzikir pada tingkat rahasia adalah melalui antusiasme (zauk) yang diterima dari pengamatan rahasia suci itu. 

Dzikir pada bagian tersembunyi membawa seseorang ke:

"Tempat kedudukan makom yang hak, di sisi Raja Agung yang sangat kuat". (Surah Qamar,ayat 55).

Dzikir tingkat terakhir yang disebut khafi al-khafi - yang paling tersembunyi dari yang tersembunyi akan membawa seseorang ke suasana fana diri sendiri dan penyatuan dengana yang hak. 

Dalam kenyataannya tidak ada kecuali Allah yang mengetahui kondisi orang yang telah masuk ke dalam alam yang berisi semua pengetahuan, dan segala sesuatu yang mencengangkan dan semuanya ada.

"Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi".
 (Surah Ta Ha, ayat 7).

Bila seseorang telah melewati tahap zikir-zikir tersebut suasana jiwa  akan berbeda pada tampaknya roh lain lahir dalam diri seseorang. Roh ini lebih murni dan indah dari roh-roh yang lain. 

Ini adalah bayi hati, bayi fakta. Ketika dalam bentuk benih bayi ini mengajak dan menarik orang lain untuk mencari dan menemukan yang hak. 

Setelah ia lahir bayi ini mendesak orang lain agar mendapatkan Zat Allah Yang Maha Tinggi. 

Roh baru ini yang dinamakan bayi kehati dan juga benih serta kemampuannya tidak terdapat pada semua orang. Dan Itu hanya ada pada orang mukmin yang asli.

"Dia-lah yang tinggi derajat-Nya, yang memiliki arasy. Dia kirim roh dari perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki :. (Surah Mukmin, ayat 15).

Roh khusus ini dikirim dari makam Yang Maha Perkasa dan ditempatkan di dalam alam maya yang nyata di mana sifat-sifat Pencipta menyata pada penciptaan, tetapi roh ini adalah milik alam yang hak.

 Ia tidak tertarik dan tidak memperdulikan apa saja melainkan hanya pada Zat Allah. 
Baginda Nabi saw bersabda, "Dunia ini tidak disukai dan tidak dihajati oleh orang yang inginkan akhirat.

 Begitu pula sebaliknya akhirat tidak dihajati oleh orang yang senang pada dunia, dan ia tidak akan diberi kepada mereka. 

Tetapi bagi roh yang mencari Zat Allah dunia dan akhirat tidak pula menarik perhatiannya ". Dan hanya untuk yang hak. Dan orang yang memilikinya akan senantiasa mencari, dan berusaha untuk menemukannya agar selalu bersama dengan Tuhannya.

Dan apapun yang terjadi dan kamu perbuat di sini maka zahir kamu harus terus menuruti jalan yang lurus. Dan yang mungkin akan bisa menyelamatkanmu hanya dengan mengikuti dan mematuhi serta memelihara aturan dan hukum-hukum agama.

Untuk itu makanya bagi seseorang yang mahu melakukannya haruslah menyadari apakah maklumatnya sudah cukup terpenuhi atau belum iaitu pebekalan ilmunya  iatu ilmu usuludinnya, sebab jika  belum tidak menutup kemungkinan dia akan tersasar diperjalanannya

 Dan hanya dengan mengingat Allah-Lah yang akan bisa menyelamatkannya baik diwaktu siang mahupun malam, baik lahir dan juga batin.

Hingga akhirnya mereka berkelanjutan. Dan menyaksikan yang hak sedangkan mengingat Allah adalah wajib sebagaimana yang diperintahkan oleh-Nya:

"Maka hendaklah kamu ingat kepada Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil(berbaring) atas rusuk-rusuk kamu". (Surah Nisa, ayat 103).

Dan "Yang mengingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit-langit dan bumi (seraya berkata),

 'YaTuhan kami, (Sungguh) Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau'". (Surah Imraan, ayat 191).

Demikianlah yang dapat aku haturkan untuk kali ini dan Insya Allah bersambung...>

Hikmah Kutipan Bagian ke 11 ), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia Yang Kebenarannya Sangat Diperlukan".

 11: SYARAT YANG PERLUUNTUK MELAKUKAN ZIKIR

Salah satu syarat menyediakan seseorang untuk berzikir adalah berada di dalam keadaan berwudhu; cuci dan bersihkan tubuh badan dansucikan hati. 

Pada tahap awal, sehingga zikir itu efektif, perlulah disebutkuat-kuat akan kata dan ayat yang dijadikan zikir - kalimah tauhid, sifat-sifat Allah. 

Bila kata tersebut diucapkan usahakan agar kamu berada di dalam kesadaran (tidak standar). Dengan cara ini hati mendengar ucapan zikir dan diterangi oleh apa yang dizikirkan. 

Ia menerima energi dan menjadi hidup -bukan hanya hidup di dunia ini bahkan juga hidup abadi di akhirat.
"Mereka tidak akan merasa padanya kematian, hanya kematian pertama, dan Dia pelihara mereka dari azab jahanam". (Surah Dukhaan, ayat 56).

Nabi saw menceritakan bahwa kondisi orang mukmin yang mencapai yang hak melalui zikir, "Orang mukmin tidak mati. Mereka hanya meninggalkan hidup yang sementara ini dan pergi ke kehidupan abadi ".

 Dan mereka lakukan di sana apa yang mereka lakukan di dunia. Nabi saw bersabda, "Nabi-nabi dan orang-orang yang hampir dengan Allah terus beribadat di dalam kubur seperti yang mereka lakukan di dalam rumah mereka". Ibadah yang dimaksudkan itu adalah penyerahan dan merendahkan diri rohani kepada Allah bukan shalat yang lima waktu sehari. Melainkan' Tawaduk yang di dalam diri, dengan diam, adalah nilai utama yang menunjukkan iman yang sejati.

Makrifat tidak dicapai oleh manusia dengan usaha tetapi ia adalah anugerah dari Allah. Setelah dinaikkan ke makam tersebut orang arif menjadi akrab dengan rahasia-rahasia Allah. Allah membawa seseorang kepadarahasia-rahasia-Nya saat hati orang itu hidup dan sadar dengan zikir atau ingatan kepada-Nya dan jika hati yang sadar itu siap menerima yang hak. 

Nabi saw bersabda, "Mataku tidur namun hatiku jaga".
Pentingnya memperoleh makrifat dan hakikat diterangkan oleh Nabi saw, "Jika seseorang berniat belajar dan beramal menurut keinginannya itu tetapi mati sebelum mencapai tujuannya, Allah menunjuk dua orang malaikat sebagai guru yang mengajarinya ilmu dan makrifat sampai ke hari kiamat. 

Orang itu dibangkitkan dari kuburnya sebagai orang arif yang telah memperoleh fakta". Dua orang malaikat di sini menunjukkan roh Nabi Muhammad saw dan cahaya cinta yang menghubungkan insan dengan Allah. Pentingnya niat dan hajat selanjutnya diceritakan oleh Nabi saw, 

"Banyak yang berniat belajar tetapi mati ketika masih di dalam kejahilam tetapi mereka bangkit dari kubur pada hari pembalasan sebagai orang arif. Banyak ahli ilmu dibangkitkan pada hari itu dalam kondisi rusak akhlak hilang segalanya dan jahil keseluruhan ". Mereka adalah orang-orang yang bermegah dengan ilmu mereka, yang menuntut ilmu karena muslihat duniawi dan berbuat dosa. 

Mereka diberi peringatan:
"Dan (ingatlah mereka) hari yang akan dibawa orang-orang kafir ke neraka (dan dikata), 'Kami telah menghabiskan bagian kamu yang baik di dalam penghidupan dunia. Dan kamu telah bersuka-sukaan dengannya. Maka pada hari ini kamu akan dibalas dengan siksaan yang keji lantaran kamu pernah menyombongkan di dunia secara tidak benar dan lantaran kamu telah melewati batas ".
 (Surah Ahqaaf, ayat 20).

Nabi saw bersabda, 
"Setiap amal tergantung pada niat.Maksud dan tujuan orang beriman lebih baik dan bernilai pada pandangan Allah dari amalannya. 

Niat orang yang tidak beriman lebih buruk dari apa yang nyata dengan amalannya ". Niat adalah dasar praktek. Nabi saw, "Adalah baik membenahi kerja kebajikan di atas situs yang baik, dan dosa adalah perbuatan yang dibangun di atas situs yang jahat".

"Barangsiapa hendak ke taman akhirat Kami tambah untuknya pada ke tamannya, dan barangsiapa ingin ke taman dunia Kami akan memberikan kepadanya sebagian darinya, tetapi tidak ada baginya bagian akhirat". (Surah Syura, ayat 20).

Adapun Cara yang terbaik adalah menemukan guru spiritual yang akan membawa hati kamu hidup. Dan dengan itu akan menyelamatkan kamu di akhirat. Ini adalah penting; dan harus dilakukan sesegera mungkin selagi ketika masih hidup di dunia ini sebelum kembali ke kebun akhirat. 

Orang yang tidak menanam di sini ia tidak akan dapat menuai di sana. Jadi, bercocok tanamlah di dalam dunia ini dengan benih yang diperlukan untuk kesejahteraan hidup di sini dan juga di akhirat nanti.

Demikianlah sedikit bhan untuk kali ini semoga saja ada guna serta manfaatnya....
Dan Insya Aalah bersambung...> Aamiin..."Wassalam,-

Hikmah Kutipan Bagian ke 12), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau ; Kitab Rahasia Dalam Rahasia yangKebenarannya Sangat Diperlukan".

12: MENYAKSIKAN ALLAH: SAMPAI KEPADA MAKAM MELIHAT KENYATAAN ZAT YANG MAHA SUCI.

Melihat Allah ada dua jenis: Pertama melihat sifat keindahan Allah yang sempurna secara langsung di akhirat 'dan satu lagi melihatsifat-sifat ketuhanan yang dipancarkan ke atas cermin yang jernih milik hatiyang murni di dalam kehidupan ini. 

Dalam hal tersebut penyaksian terlihat sebagai pengungkapan cahaya keluar dari keindahan Allah yang sempurna dan dilihat oleh mata hati yang hakiki.
"Hati tidak menafikan apa yang dia lihat". (Surah Najmi, ayat 11).

Tentang melihat kenyataan Allah melalui perantaraan."
 Nabisaw bersabda, 
" Yang beriman adalah cermin bagi yang beriman". 
Yang beriman yang pertama, cermin dalam ayat ini, adalah hati yang beriman yang sucimurni, sementara yang beriman kedua adalah Yang Melihat bayangan-Nya di dalam cermin itu, Allah Yang Maha Tinggi. 

Siapa yang sampai ke makam melihat kenyataan sifat Allah di dalam dunia ini akan melihat Zat Allah di akhirat, tanpa rupa tanpa bentuk.

Pernyataan ini disahkan oleh Umar dengan katanya,"Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku". Ali ra berkata,"Aku tidak menyembah Allah kecuali aku melihat-Nya".

 Mereka berdua tentu telah melihat sifat-sifat Allah dalam kenyataan. 
Jika seseorang melihat cahaya matahari masuk melalui jendela dan dia berkata, "Aku melihat matahari", dia berbicara benar.

Allah memberikan gambaran yang jelas tentang kenyataan sifat-Nya:
"Allah itu nur bagi langit-langit dan bumi. Perumpamaan nur-Nya (adalah) seperti satu kurungan pelita yang di dalamnya ada pelita(sedang) pelita itu dalam satu kaca, (dan) kaca itu sebagai bintang yang seperti mutiara, yang dinyalakan (dengan minyak) dari pohon yang banyak manfaat(yaitu) zaitun yang bukan bangsa timur dan bukan bangsa barat, yang minyaknya (saja) hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api, nur atas nur, Allah pimpin kepada nur-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah mengadakan perumpamaan bagi manusia, dan Allah mengetahui segala sesuatu ". (Surah Nuur, ayat 35).

Perumpamaan dalam ayat ini adalah hati yang yakin penuh di kalangan orang yang beriman. Lampu yang menerangi bekas hati itu adalah fakta atau esensi ke hati, sementara cahaya yang dipancarkan adalah rahasia Tuhan, 'roh sultan'.

 Kaca adalah transparan dan tidak menjebak cahaya di dalamnya tetapi ia melindunginya sambil menyebarkannya karena ia umpama bintang. Sumber cahaya adalah pohon Ilahi. Pohon itu adalah makam atau suasana keesaan, menjalar dengan dahan dan akarnya, memupuk prinsip-prinsip iman, berhubung tanpa perantaraan dengan bahasa yang asli. 

Langsung, melalui bahasa yang asli itulah Nabi saw menerima pembukaan al-Quran. 
Dalam pernyataan Jibril membawa firman Tuhan hanya setelah firman tersebut diterima - ini adalah untuk kepentingan kita supaya kita bisa mendengarnya dalam bahasa manusia. 

Ini juga memperjelas siapa yang tidak percaya dan munafik dengan memberi mereka kesempatan untuk menyangkal seperti mereka tidak percaya kepada malaikat. 

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu Al-Qur'an (ini) dari sisi (Allah) yang bijaksana, yang mengetahui". (Surah Naml, ayat 6). 

Karena Nabi saw menerima pembukaan sebelum Jibril membawanya ke dia, setiap kali Jibril membawa ayat-ayat suci itu Nabi saw mendapatinya di dalam hatinya dan membacanya sebelum ayat itu diberikan. Inilah alasan bagi ayat: "Dan janganlah engkau terburu-buru dengan Quran sebelum habis diwahyukan kepadamu".
 (Surah Ta Ha, ayat 114). 

Kondisi ini menjadi jelas sewaktu Jibril menemani Nabi saw pada malam mikraj, Jibril tidak mampu untuk pergi lebih jauh dari Sidratul Muntaha. Dia berkata, "Jika aku ambil satu langkah lagi aku akan terbakar". Jibril membiarkan Nabi saw melanjutkan perjalanan seorang diri. 

Allah menggambarkan pohon zaitun yang diberkati, pohon keesaan, bukan dari timur dan bukan dari barat. Dalam lain kata itu tidak ada awal dan tidak ada kesudahan, dan cahayanya yang menjadi sumber tidak terbit dan tidak terbenam. Ia tetap pada masa lalu dan tidak ada kesudahan pada masa akan datang.

 Kedua Zat Allah dan sifat-sifat-Nya adalah kekal abadi. Kedua pernyataan Zat-Nya dan kenyataan sifat-Nya tergantung pada Zat-Nya. 

Penyembahan yang sejati hanya dapat dilakukan ketika hijab yang menutupi hati tersingkap agar cahaya abadi menyinarinya. Hanya setelah itu hati menjadi terang dengan cahaya Ilahi. Hanya setelah itu roh menyaksikan perumpamaan Ilahi itu. 

Tujuan diciptakan alam maya adalah untuk ditemukan harta rahasia itu.
 Allah berfirman melalui Rasul-Nya: 
"Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi. Aku suka dikenal lalu Aku ciptakan makhluk agar Aku dikenal". 

Ini berarti Dia dapat dikenal di dalam dunia ini melalui sifat-sifat-Nya. Tetapi untuk melihat dan mengenali Zat-Nya sendiri hanya dapat terjadi di akhirat. Di sana melihat Allah langsung sebagaimana yang Dia kehendaki dan yang melihatnya adalah mata bayi hati. 

"Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat". (Surah Qiamat, ayat 22 & 23). 
Nabi saw bersabda,

"Aku melihat Tuhanku dalam rupa jejaka tampan".
Mungkin ini adalah bayangan bayi hati.
 Bayangan adalah cermin. Ini menjadi alat untuk mengungkapkan yang ghaib. 
Hakikat Allah Yang Maha Tinggi tidak menyerupai sesuatu apakah bayangan atau bentuk. 
 Bayangan adalah cermin, bahkan yang terlihat bukanlah cermin dan bukan juga orang yang melihat ke dalam cermin. 

Pikirkan tentang itu dan cobalah memahaminya karena itu adalah fakta ke alam rahasia-rahasia. 
Tapi semuanya terjadi pada makam sifat. Pada makam Zat semua pernyataan hilang, lenyap. Orang yang di dalam makam Zat itu sendiri lenyap tetapi mereka merasakan zat itu dan tidak ada yang lain.

 Betapa jelas Nabi saw menggambarkannya, "Aku dari Allah dan yang beriman dariku". Dan Allah berfirman melalui Rasul-Nya: 

"Aku ciptakan cahaya Muhammad dari cahaya Wujud-Ku sendiri". 
Maksud Wujud Allah adalah Zat-Nya Yang Maha Suci, menyata di dalam sifat-sifat-Nya Yang Maha Penyayang. Ini dinyatakan-Nya melalui Rasul-Nya: 

"Rahmat-Ku mendahului murka-Ku". 
Rasul yang dikasihi Allah adalah cahaya kebenaran sebagaimana Allah berfirman: 
"Tidak Kami utus engkau melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam". (Surah Anbiyaa ', ayat 107). 

"Sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepada kamu beberapa banyak dari (isi Kitab) yang kamu sembunyikan, dan ia tidak ambil tahu berapa banyak. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan". (Surah Maaidah, ayat 15). 

Pentingnya utusan Allah yang dikasihi-Nya itu jelas dengan firman-Nya kepada beliau, "Jika tidak karena engkau Aku tidak ciptakan makhluk". 

Demikianlah Hikmah Kutipan, ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar" 
Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia yang Kebenarannya Sangat Diperlukan".
Dan Insya Allah bersambung...>

Hikmah Kutipan Bagian ke 13 ), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia Yang Kebenarannya Sangat Diperlukan".

13:TABIR CAHAYA DAN KEGELAPAN

Allah berfirman:
"Siapapun yang buta di dunia ini buta juga di akhirat". (Surah Bani Israil, ayat 72).

Bukan buta mata yang di kepala tetapi buta mata yang di hati yang mencegah seseorang dari melihat cahaya hari akhirat. 

Firman Allah:
"Bukan matanya yang buta tetapi hatinya yang di dalam dada". (Surah Hajj, ayat 46).

Hati menjadi buta karena adanya kelalaian, yang telah membuat seseorang lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajiban mereka, lupa pada tujuan mereka, dan janji mereka dengan Allah, ketika mereka masih berada di dalam dunia. 

Adapun sebab utama adanya kelalaian kelalaian adalah karena kejahilan terhadap fakta (kebenaran) hukum dan peraturan Tuhan. sehingga hal itu telah menyebabkan seseorang itu berlanjut berada didalam kejahilan dikarenakan adanya kegelapan total yang telah menutupi seseorang itu dari luar dengan menguasai batinnya. 

Adapun penyebab yang mendatangkan kegelapan pada batin itu adalah sifat angkuh, sombong, megah,dengki, bakhil, dendam, bohong, mengumpat, fitnah dan lain-lain sifat keji.Sifat-sifat yang keji dan sesungguhnya sifat keji itulah yang telah merendahkan ciptaan Tuhan yang sangat baik sehingga jatuh ke tingkat yang paling rendah.

Dan untuk membebaskan seseorang dari kejahatan seperti itu dia harus menyucikan hati dan jiwanya sehingga dapat mengeluarkan kegelapan itu dari dalam dirinya dan memasukan cahaya kedalam hatinya yang akan dapat memberikan sinar cahaya kepada cermin jiwanya.

Adapun sarat yang diperlukan bagi seseorang didalam Penyucian ini adalah dengan mendapatkan pengetahuan, dan ia mahu beramal serta menurut pengetahuannya itu, dengan usaha dan keberaniannya yang kuat untuk melawan ego dirinya, dan bersedia untuk menghilangkan hawa nafsyunya yang ada pada dirinya.

Dengan demikian maka seseorang akan dapat mencapai kepada ke Esaan-Nya. Selain itu juga tentunya sangat diperlukan perjuangan yang ber laku secara berkesinambungan dan terus menerus sehingga hatinya pun benar-benar menjadi semakin hidup 

Dan dengan cahaya ke Esaan-Nya, Itu maka mata batinnya yang telah suci itu akan dapat melihat hakikat dan sifat-sifat Allah yang ada disekitar dirinya. Dan pada apa yang ada di dalam hatinya.

Apabila telah sampai kearah itu maka kamu akan tahu dan ingat siapa sesungguhnya diri kamu dan siapa yang telah menciptakan kamu dan kemana kamu akan pulang. Dan apa yang kamu tuju dan apa pula sebenarnya yang kamu cari...

Apabila sudah sampai diperingkat itu maka kemudian pada diri kamu akan ada kerinduan dan keinginan untuk kembali ke rumah kediaman-Nya yang nyata, dan dengan berkat pertolonganNya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang maka Roh suci yang ada pada diri kamu pun akan menyatu bersama-Nya.

Dan apabila sifat kegelapan telah terangkat maka cahaya ilahi akan mengambil alih tempatnya dan orang yang memiliki mata rohani akan melihat. Dan dia akan mengenali apa yang dia lihat dengan cahaya nama-nama sifat Ilahiah. 

Kemudian dirinya di banjiri oleh cahaya dan berubah menjadi cahaya. Meskipun cahaya ini masih lagi hijab dan menutupi cahaya suci Zat, tetapi waktunya akan sampai bila ini juga dapat dilewatinya dan semuanya akan terangkat, sehingga yang tinggal hanya cahaya suci Zat itu sendiri.

Dan sesungguhnya hati itu memiliki dua mata, satu yang sempit dan satu lagi yang luas. 

Dengan mata yang sempit seseorang dapat melihat kenyataan sifat-sifat dan nama-nama Allah. Dan Penglihatan ini akan berlanjut sepanjang perkembangan kerohaniannya. 

Sedangkan Mata yang luas melihat hanya kepada apa yang telah terlihat oleh cahaya keesaan dan yang esa. Hanya bila seseorang sampai ke daerah jarak dengan Allah dia akan melihat, di dalam alam penghabisan bagi kenyataan Zat Allah,Yang Esa dan Mutlak.

Untuk mencapai makam-makam ini ketika masih berada di dalam dunia,di dalam kehidupan ini kamu harus membersihkan diri kamu dari sifat keduniaan, serta ego dan ke akuanmu. 

Karena jarak yang kamu tempuh dalam bepergianmu di dalam kenaikan kamu ke arah makam-makam tersebut itu tergantung pada sejauh mana kamu mengisolasi diri kamu dari hawa nafsu yang rendah dan ke egoan diri kamu. Dan ke akuanmu.

Pencapaian kamu ke tujuan yang kamu inginkan itu bukanlah seperti barang materi yang mudah sampai ke tempat kebendaan. Ia juga bukan ilmu yang membawa seseorang kepada sesuatu yang menjadi diketahui (dari tidak diketahu), juga bukan berdasarkan pada pertimbangan yang diperolehi dari apa yang dipikirkan, bukan juga khayalan yang menyatu dengan apa yang dikhayalkan. Tujuan yang kamu ingin capai adalah kesadaran tentang ketiadaan (kekosongan) kamu dari segala sesuatu kecuali Zat Allah.

 Pencapaian ini adalah perubahan suasana yang terjadi, bukan perubahan pada sesuatu yang nyata. Disana tidak ada jarak, tidak dekat atau jauh, tidak kesampaian, tidak ada ukuran, tidak ada arah, tidak ada ruang.

Dia Maha Besar, segala Puji bagi-Nya. Dia Maha Pengampun.Dia menjadi nyata dalam apa yang Dia sembunyikan dari kamu. Dia menyatakan Diri-Nya sebagaimana Dia melabuhkan tirai di antara Dia dengan kamu. Pengenalan tentang Diri-Nya yang tersembunyi di dalam ketidak mampuan kamu di dalam mengenali-Nya.

Jika ada di antara kamu yang sampai kepada cahaya yang  dijelaskan dalam catatan ini ketika kamu masih berada di dalam dunia, maka buatlah muhasabah (hisab) terhadap diri kamu, dengan buku catatan kamu tentang apa yang di praktekkan oleh kamu. 

Hanya dibawah cahayaNya kamu bisa melihat apa yang kamu sudah buat dan apa yang sedang kamu buat; buat maka dari itu hitungan kamu, apa bisa di seimbangkannya.

Atau kamu akan membaca buku catatan kamu di hadapan Tuhan kamu pada hari pembalasan. Dan sesungguhnya itu adalah akhir dari kehidupanmu. Dan kamu tidak ada kesempatan lagi untuk mengimbanginya di sana. 

Dan jika kamu melakukan itu di sini ketika kamu masih ada waktu, maka kamu akan termasuk ke dalam golongan yang diselamatkan.

Jika tidak maka azab dan siksaNya akan menjadi bagian kamu di akhirat. karena sesungguhnya kehidupan di dunia ini akan berakhir. Dan di sana ada siksaan di dalam kubur, dan ada hari pembalasan, serta ada neraka dan neraca timbangan yang akan menimbang sampai kepada dosa-dosa kamu yang paling kecil dan kebaikan apa yang paling kecil.

Kemudian ada jembatan yang lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari mata pedang, dan penghujungnya adalah taman, sementara di bawahnya adalah neraka yang penuh dengan kecelakaan, dan penderitaan, dan kesemuanya itu adalah abadi dan semua itu hanya bisa di tentukan ketika kamu masih hidu di kehidupan yang singkat ini hingga kamu berakhir.

Demikianlah untk kali ini dan semoga saja bermanfaat dan Insya Allah bersambung...>