Selasa, 22 Januari 2013

Sedikit Uraian Tentang Wali Allah


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim
,
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

1. Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

(QS. Al-Ikhlas [112]:1-4)

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammadin ‘abdika wa nabiyyika wa rasuulikan-nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim ...

Yaa nuuran-nuuri, Yaa mudabbiral-umuuri, balligh 'annii ruuha sayyidinaa Muhammadin wa arwaaha aali sayyidinaa Muhammadin tahiyyatan wa salaaman ...

Saudaraku, selanjutnya mari kita simak tentang Wali Allah, dan selebihnya silahkan lakukan perjalanan (suluk) menuju (wushul) kepada Allah ta’ala sebagaimana para ulama mengatakan larilah kembali kepada Allah, “Fafirruu Ilallah”



Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”

Tidak mengapa kalau belum sanggup meyakini adanya Wali Allah maupun Hadits Qudsi.

Hadits Qudsi memang diperuntukkan untuk muslim yang ahlinya, tidak semua muslim bisa sanggup untuk memahami dan meyakininya
Namun Hadits Qudsi tetaplah perkataan Rasulullah dan semua perkataan Rasulullah bukanlah berdasarkan hawa nafsu.

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”

Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa : Wali-wali Allah, Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Jadi jelas, wali bukanlah dari kalangan tertentu dengan penampilan tertentu.

Apalagi kalau sampai ada orang yang mengaku-aku sebagai wali, itu bukanlah ciri kewalian. Seorang wali Allah akan selalu menyembunyikan kedekatan dan ketaatannya kepada Tuhan. Andaipun ia mendapatkan karamah (keluar biasaan semacam mukzizat) maka ia tidak akan menceritakan dan mengumumkannya kepada orang ramai.

As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajakrkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa.

Rasulullah Saw : Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka.

 Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah saw
“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.

”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?” mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya,

dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )

Kita sebagai hamba Allah dapat mencapai derajat wali Allah yakni dengan mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin.

Cara mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin melalui pendalaman dan pengamalan Tasawuf dalam Islam. Pendalamaman dan pengamalan Tasawuf dibimbing oleh pembimbing yang disebut mursyid. Allah ta’ala lah yang menetapkan siapa dan kapan, seorang mursyid (pembimbing) mendatangi dan membimbing ”perjalanan” (suluk) kita menuju (wushul) kepada Allah ta’ala

Hal yang terpenting tanamkan dahulu niat dan keinginan untuk menuju (wushul) kepada Allah ta’ala karena sungguh Dia lah tempat kita kembali.

Mohonkanlah kepada Allah untuk dapatkan seorang mursyid yang membimbing kita menuju (wushul) kepada Allah.

Contoh permohonan,
Ya Allah, Ya Tuhan kami
Ampunilah dosa kami, bimbinglah kami dengan kasih sayangMu, menuju kepadaMu

Berhati-hati dengan orang yang mengaku sebagai mursyid ataupun wali, karena sebagai mursyid ataupun sebagai wali bukanlah melalui sebuah pengakuan seorang manusia atau diri sendiri namun pengakuan/penetapan Allah ta’ala semata dan Allah ta’ala mencintai mereka.

Seorang mursyid termasuk wali Allah, tentu menjalankan syariat Islam lengkap dengan amalan sunnah sehingga dicintai Allah, salah satu amalan sunah yang dijalankan agar dicintai Allah adalah zuhud di dunia.


Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

 “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya)

Seorang wali Allah bukan untuk disembah
Kita mengikuti dan percaya kepada Mursyid yang merupakan Wali Allah karena mereka membimbing kita untuk mentaati Allah dan RasulNya

Ciri hamba Allah yang dicintaiNya, diantaranya adalah apa yang mereka katakan adalah kebaikan, tidak berhujat, tidak berolok-olok dan tidak berkata yang tidak perlu. Langkah/jalan mereka menuju kebaikan. Apa yang mereka lihat dan dengar adalah kebaikan. Apa yang mereka perbuat adalah kebaikan

Dari Abu Huriroh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata:
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.

Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Rasulullah saw telah bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : Sesungguhnya para-wali-Ku itu dari hamba-Ku dan kesayangan-Ku dari hamba-Ku, yaitu orang-orang yang berdzikir dengan menyebut-Ku, dan Aku berdzikir dengan menyebut mereka.

Rasulullah saw telah bersabda: “Maukah kalian saya beritahu orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab: “mau wahai Rasulullah” beliau bersabda: “ yaitu orang-orang yang bila kalian melihatnya, mereka itu selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Wali Allah berbagai tingkatan, tingkat tertinggi adalah seorang hamba Allah yang terpilih menjadi kekasih Allah di setiap zaman untuk membimbing manusia agar tetap di jalan yang diridhai-Nya.

Jika Kekasih Allah itu wafat maka Allah ta’ala menggantinya dengan yang lain untuk menjalankan tugas mulia tersebut, itulah yang disebut Imamnya para Wali Allah atau Imam Zaman atau Wali Zaman.

Imam Zaman yang pernah disampaikan oleh Rasulullah adalah Imam Sayyidina Ali ra.

Rasulullah bekata: “Kedudukan Ali dengan diri saya sama dengan kedudukan Harun dengan Musa; kecuali tidak ada Nabi setelah saya!” (Shahih Muslim)

Rasulullah menyampaikan setelah wafatnya beliau maka pengganti beliau sebagai Imamnya Wali Allah atau Imam Zaman adalah Sayyidina Ali ra dan kedudukan Imam Zaman seperti Nabi, namun kita ketahui, paham dan yakini bahwa tiada Nabi setelah Rasulullah.


Dalam “Riwayat dari Sa’ad bin Abi Waqash, Aku mendengar khutbah Rasulullah saw pada hari Jumat. Ia memegang lengan Ali dan berkhutbah dengan didahului lafaz pujian kepada Allah Swt, dan memuji-Nya. Kemudin beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, aku adalah wali bagi kalian semua“.

Mereka menjawab, “Benar apa yang engkau katakan wahai Rasulullah saw“. Kemudian beliau mengangkat lengan Ali dan bersabda. “Orang ini adalah waliku, dan dialah yang akan meneruskan perjuangan agamaku. “Aku adalah wali bagi orang-orang yang mengakui/meyakini Ali sebagai wali, dan aku juga merupakan orang yang akan memerangi orang yang memeranginya”

Perhatikan (bagian di atas yang dibold/cetak tebal) bahwa Rasulullah mengatakan “Aku adalah wali bagi orang-orang yang mengakui/meyakini Ali sebagai wali” maksudnya hanya muslim yang ahlinya yang dapat mengakui/meyakini Ali sebagai wali atau imamnya para Wali Allah. Mereka adalah orang-orang yang dapat memahami/meyakini pula bahwa Rasulullah adalah imamnya para Wali Allah.

Telah terjadi fitnah, perselisihan dan kesalahpahaman umat muslim tentang pemahaman riwayat yang disampaikan Sa’ad bin Abi Waqash ataupun riwayat yang semakna, mereka memahami imamnya para Wali Allah adalah khalifah dan mengakui riwayat-riwayat seperti itu merupakan ketetapan Rasulullah untuk pengangkatan Sayyidina Ali ra sebagai khalifah. Mereka adalah saudara-saudara muslim kita yakni kaum Syiah.

Jadi apa yang diperselisihkan umat muslim bahwa Sayyidina Abu Bakar ra ataupun Sayyidina Umar ra “merebut” kepemimpinan atau khalifah dari Imam Sayyidina Ali ra atau bahkan anggapan keji bahwa Sayyidina Abu Bakar ra ataupun Sayyidina Umar ra menghianati ketetapan Rasulullah di Ghadir Khum adalah merupakan kesalahpahaman karena sesungguhnya kepemimpinan pada wilayah yang berbeda.

Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”.

Khalifah adalah kepemimpinan secara umum atau secara syariat. Sedangkan Wali adalah kepemimpinan yang secara khusus yang diketahui/diyakini oleh para ahlinya atau secara hakikat.

Rasulullah tidak pernah mewasiatkan tentang khalifah dan kita sudah ketahui khalifah pertama adalah Sayyidina Abu Bakar ra, kemudian Sayyidina Umar ra, dilanjutkan oleh Sayyidina Ustman ra dan terakhir dari para Khulafaur Rasyidin yakni Imam Sayyidina Ali ra, yang kekhalifahan bukan atas keinginan beliau namun permintaan/permohonan dari para sahabat.

Satu-satunya dari keempat Khulafaur Rasyidin yang dipanggil atau mendapat sebutan sebagai imam, hanyalah Imam Sayyidina Ali ra atau Imam Ali ra.

Ya Allah, Tuhan Kami
Kumpulkan kami di dunia dengan orang –orang yang shaleh (sholihin) dan kumpulkan kami di akhirat dengan para nabi, shiddiqiin, syuhada dan sholihin. Demikianlah bahasan kita kali ini semoga saja ada guna serta manfaatnya Aamiin...”Wassalam,-

1 komentar:

  1. Alhamdulillah ilmu yang sangat bermanfaat .
    silahkan kunjungi blog saya sekedar berbagi ilmu

    http://aburizal-akbar.blogspot.com/

    terimakasih

    BalasHapus