Jumat, 15 Februari 2013

MAHKAMAH HATI


Assalamu’laikum warohmatullahi wabarokatuh 

Bismillahir-Rahmanir-Rahim


Saudaraku..."
Bukankah kita sering diperingatkan, berani kerana benar, takut kerana salah?
Benar itu menjadi sumber keberanian. Salah itu puncak ketakutan. 
Jangan dibiarkan hidup dalam ketakutan, akibat terus menerus melakukan kesalahan. 

Bersalah menimbulkan rasa sesal. Rasa bersalah itu sangat menyiksa selagi tidak ditebus dengan maaf dan taubat. Bersalah dengan manusia pun sudah cukup meresahkan, apa lagi bersalah kepada Allah.

Mahkamah pengadilan itu ada tiga.
1.Mahkamah Di Dunia
2.Mahkamah Di Akhirat
3.Mahkamah Di Hati

Pertama : 
Mahkamah di dunia
Saksi, pendakwa dan hakimnya adalah manusia seperti kita juga. Yang tekadang, dengan kebijaksanaan dan kelicikannya, 
di mahkamah dunia ini dapat diperdayakan. 

Sebab telah sering yang bersalah justru terlepas bebas, namun sebaliknya yang benar malah justeru, jadi terhukum. sehingga, tidak ada keadilan yang muktamad dan mutlak di dunia ini.

Kedua : Mahkamah di akhirat
Yang hakimnya adalah Allah yang Maha Adil. Di sana segalanya akan dibuktikan yang benar akan terserah, kebenarannya dan yang salah pasti kalah. Walau bagaimana pun pandainya seseorang bersilat kata.

Disana tidak akan ada yang bisa berkutik kerana semua apa yang ada pada dirinya pada saat itu semua akan “hidup” untuk menjadi saksi. 

Kulit, tangan, kaki dan segala anggota badannya akan berkata.” yang kini, selalu kita jaga, kita elus dan kita belai, namun pada saatnya nanti semua itu akan mendakwa kita di alam mahsyar. 

Di sanalah nanti semua keadilan yang hakiki akan di tegakkan .

Ketiga: Mahkamah hati
Saksi, sebagai pendakwa dan hakimnya adalah hati kita sendiri. Hati kecil yang sentiasa selalu berkata dan bersuara di dalam dada untuk menyadarkan kita sekalipun terkadang ada kalanya kita mencoba untuk memendamnya. 

Namun di alam sana ketika Protes peradilan di gelar di hadapan Mahkamah-Nya, tidak akan ada seorang pun yang akan mampu menghindarinya karena hatinya akan selalu dan terus bergema dan berkata dalam rahsia-Nya. 

Dan fitrahnya akan selalu menjerit. Itulah jeritan batin yang akan mampu menghantar pemiliknya ke dalam penjara jiwa yang lebih menyakitkan bagi dirinya. Karena akibat perbuatan dari segala dosa yang telah dilakukannya semasa di dunia.

Ya sekarang boleh jadi, semua dosa –dosanya itu bisa di tutupi dan disembunyikan daripada pengetahuan manusia, tetapi jika nanti tiba saatnya tidak akan ada seorang pun yang akan mampu untuk menyembunyikannya dari segala dosa serta perbuatannya di hadapan Mahkamah Ilahi karena hatinya sendirilah yang akan berkata. 

Lain halnya ketika kita masih di dunia mungkin ia mampu menipu manusia, tetapi tidak di akhirat nanti, dan dihadapan Allah. Jadi, mau kemana lagi kita ingin menyembunyikan diri 
ketika kita dipanggil untuk dimintai pertanggung jawaban dan yang ber bicara adalah hatinya... 

Sedangkan sejak saat ini hati kecil kita pun selalu setia, dan akan selalu berkata bahkan di setiap waktu, dan di sepanjang masa juga di segala suasana, karena ia tidak akan rela dan tidak akan tega jika kita. Harus melakukan kesalahan, dengan segala kemungkarannya.

Karena setiap kesalahan dari dosa itu akan selalu memberikan kesan derita yang teramat sangat pada jiwa. Bila saja si pendosa itu dapat memahami hakikat dari dosa yang telah dilakukannya 

Sebab setiap ‘perlanggaran itu pasti akan ada sangsinya’. Pertama, perlanggaran ke atas fitrah hati yang tabii. Kedua, perlanggaran terhadap Allah, zat Yang Maha Tinggi. Dua perlanggaran ini sudah cukup meragut ketenangan.

Maka dari itu janganlah sekali-kali kita pernah melawan fitrah diri sendiri yang menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Fitrah ini adalah kurunia Allah, yang dengannya seseorang boleh menerima pengajaran dan didikan. 

Jika fitrah di diri ini di rawat dan diterima sebagai kebaikan tentunya akan menjadi sarana, pendididik dan pemimpin, didalam kehidupan kita selama hati dan pikiran kita masih harmoni, maka pada akhirnya akan menghantarkan kita pada ke bahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Namun Sebaliknya, jika fitrah yang baik itu dibiarkan, dan di abaikan apa lagi jika ditentang, maka tentu akibatnya tidak akan ada lagi tolak ukur dan yang akan mengingatkan kita sehingga tidak ada lagi yang akan menghantarkan kita ke arah kebahagiaan dan ketenangan. Jadi, hati-hatilah menjaga hati, agar hati kita tidak mati!

Rasulullah SAW sangat arif tentang hakikat ini. Justeru, apabila beliau ditanyakan, apakah itu dosa? Baginda menjawab:

“Dosa adalah sesuatu yang menyebabkan hati kamu resah dan kamu tidak suka orang lain melihat kamu melakukannya.”

Oleh itu, awaslah wahai diri. Dosa itu adalah racun. Bahananya akan merusak secara perlahan atau mendadak." Kata ulama, mujurlah dosa itu tidak berbau, jika tidak, tentu tidak akan ada siapa pun yang sudi mendekati kita.

Maka dari itu sering-seringlah bersidang birdiskusi di mahkamah hati. Dan selalulah bertanyakan pada hati kecil kita sendiri. Karena hati itu tidak akan pernah berdusta selagi ia tidak mati!

Demikianlah saudaraku yang dapat aku sampaikan kurang lebihnya mohon dimaafkan dan kepada-Nya aku pun memohon ampunan Aamiiin...”Wassalam,-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar