Jumat, 28 Januari 2011

Berburu Do’a Mustajab

oleh Nurassajati Purnama Allam pada 29 Januari 2011 jam 14:33

Berburu Do’a Mustajab
Sahabat...
Hidup ini tak lekang dengan masalah, silih berganti dari masalah satu ke masalah lain. Akan tetapi jika kita mau berfikir sebenarnya dibalik masalah tersebut ada pelajaran yang berharga yang dapat kita petik.
Rugilah kita tatkala menyia-nyiakan masalah,berlari dari masalah ataupun pura-pura mengaburkan masalah tersebut.

Saudariku,terutama bagi Anda  sebagai wanita dengan kodrat yang mempunyai beragam peran tentunya tak jauh dari masalah. Terlebih lagi secara fitrah, wanita sering mengedepankan hati atau perasaan untuk menilai sesuatu. Dengan demikian hendaknya kita mencari cara agar kita dapat mensiasati kelemahan itu agar menjadi lebih tegar tatkala kita dirundung masalah.
Saudariku, berdoalah kepada Allah karena itulah kunci dari segala masalah kita," Allah telah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al Baqarah: 186)
Apa susahnya kita mengadu kepada Allah yang telah mentakdirkan semua masalah yang telah menghampiri kita? Segala masalah akan ada kunci jawabnya meskipun entah kapan waktunya. Kita hanya bisa serahkan kepada Allah dan berusaha semaksimal mungkin untuk memecahkannya. Ingatlah saudariku apapun masalahnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Qs Ar-Ra’d: 28)
Saudariku doa adalah kunci yang sangat ampuh dan mujarab untuk melepaskan kepenatan hati, rasa was-was ataupun segala masalah yang sedang kita hadapi. Ingatlah bahwa doa adalah inti ibadah. Kita percaya bahwa dengan terus dan terus memohon kepada Allah maka Allah akan memudahkan urusan kita.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:
“Jika Allah akan memberi kunci kepada seorang hamba, berarti Allah akan membuka (pintu kebaikan) kepadanya dan jika seseorang disesatkan Allah, berarti ia akan tetap berada di depan pintu tersebut.”
Tentu saja tidak semua doa dapat diterima. Oleh karena itu pandai-pandailah dalam mensiasati agar doa terkabul. Dalam kesempatan kali ini akan aku jelaskan orang-orang yang beruntung karena doanya terkabul dan waktu-waktu mustajab untuk berdoa. Akan tetapi hal ini tidak berarti memvonis orang-orang yang tidak termasuk dalam golongan di atas, doanya tidak dikabulkan, Wallahu a’lam bishawab.

Serahkan semua usaha kita kepada Allah, karena Allah yang berhak menentukan hasil dari proses yang kita usahakan.
Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“ Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ’Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya bila dia ingat Aku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut Nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutkan dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR Bukhari Muslim)
Ada beberapa golongan manusia yang doanya terkabul, antara lain;
  • Doa seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya
    Dari Abu Darda’ Radhiyallahu’anhu, dia berkata bahwa Nabi Muhammamad Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Tidak seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak ada dihadapannya kecuali ada seorang malaikat yang ditugaskan berkata kepadanya:’Aamiin, dan bagimu seperti yang kau do’akan.” (HR Muslim)
  • Orang yang memperbanyak berdoa pada saat lapang dan bahagia
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang.” (HR At-Tirmidzi, Dishahihkan oleh Dzahabi dan dihasankan oleh Al-albani)
  • Orang yang teraniaya
    Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Hati-hatilah dengan doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan).” (HR Bukhari & Muslim)
  • Doa orangtua kepada anaknya dan doa seorang musafir
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
”Tiga orang yang doanya pasti terkabullkan; doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orangtua terhadap anaknya.” HR Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani
  • Doa orang yang sedang berpuasa
    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, dia Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Tiga doa yang tidak ditolak; doa orangtua terhadap anaknya, doa orang yang sedang puasa, dan doa seorang musafir.” HR Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani
Kemudian lebih baik lagi tatkala kita tahu waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa sehingga kita bisa maksimal dalam berdoa. Antara lain:
  • Sepertiga Akhir Malam
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga akhir malam terakhir, lalu berfirman: Barangsiapa yang berdoa, pasti akan Kukabulkan, barangsiapa yang memohon pasti akan Aku perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti akan Ku ampuni.” (HR Bukhari)
  • Tatkala berbuka puasa bagi orang yang berpuasa
    Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu’anhu, dia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak.” (HR Ibnu Majah)
  • Pada setiap dubur shalat fardhu (sesudah tasyahud akhir, sebelum salam)
    Dari Abu Umamah Radhiyallahu’anhu, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wata’alla, beliau menjawab:
“Dipertengahan malam yang akhir dan pada setiap dubur shalat fardhu.” (HR At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)
  • Pada saat perang berkecamuk
    Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak; doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk.” (HR Abu Daud dishahihkan oleh Imam Nawawi dan Al-Albani)
  • Sesaat pada hari Jum’at
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Abul Qasim Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada sesaat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan dikabulkan. Beliau berisyarat dengan tangannya untuk menunjukkan sebentarnya waktu tersebut.” (HR Al Bukhari)
  • Pada waktu bangun tidur malam hari bagi orang yang bersuci dan berdzikir sebelum tidur
    Dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR Ibnu Majah)
  • Diantara adzan dan iqamah
    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah.” (HR Abu Daud, dishahihkan Al-Albani)
  • Pada waktu sujud dalam shalat
    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab doa saat itu sangat diharapkan untuk terkabul.” (HR Muslim)
  • Pada saat sedang turun hujan
    Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Dua doa yang tidak pernak ditolak; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu turun hujan.” (HR Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)
  • Pada saat ada orang yang baru saja meninggal
    Dari Ummu Salamah Radhiyallahu’anha, Rasulullah Shallallahu’alahi wasallam bersabda tatkala Abu Salamah sakaratul maut:
“Susungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya.” Semua keluarga histeris. Beliau bersabda:”Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat meng-amini apa yang kamu ucapkan.” (HR Muslim)
  • Pada malam lailatul qadr
    Allah Subhanahu wata’alla berfirman:
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Qs Al Qadr: 3-5)
  • Doa pada hari Arafah
    Dari ‘Amr bin Syu’aib Radhiyallahu’anhu dari bapaknya dari kakeknya, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah.” (HR At Tirmidzi dishahihkan Al-Albani)
Semoga bermanfaat dan dapat mengoptimalkan agar doa terkabul. Wallahu a’lam.

Meneladani Sahabat Nabi, Dan Jalan Kebenaran

oleh Nurassajati Purnama Allam pada 28 Januari 2011 jam 10:43

Meneladani Sahabat Nabi, Jalan Kebenaran
Assalamu allaikum wr wb.
Sahabat.

Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama’ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya.

Kebenaran hanya milik Allah. Namun kebenaran bukanlah suatu hal yang semu dan relatif. Karena Allah Ta’ala telah menjelaskan kebenaran kepada manusia melalui Al Qur’an dan bimbingan Nabi-Nya Shallallahu’alaihi Wa sallam. Tentu kita wajib menyakini bahwa kalam ilahi yang termaktub dalam Al Qur’an adalah memiliki nilai kebenaran mutlak. Lalu siapakah orang yang paling memahami Al Qur’an? Tanpa ragu, jawabnya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam. Dengan kata lain, Al Qur’an sesuai pemahaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam dan sabda-sabda Shallallahu’alaihi Wa sallam itu sendiri keduanya adalah sumber kebenaran.

Yang menjadi masalah sekarang, mengapa ketika semua kelompok dan jama’ah mengaku telah berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits, mereka masih berbeda keyakinan, berpecah-belah dan masing-masing mengklaim kebenaran pada dirinya? Setidaknya ini menunjukkan Al Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ternyata dapat ditafsirkan secara beragam, dipahami berbeda-beda oleh masing-masing individu. Jika demikian maka pertanyaannya adalah, siapakah sebetulnya di dunia ini yang paling memahami Al Qur’an serta sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam? Jawabnya, merekalah para sahabat Nabi radhi’allahu ‘anhum ajma’in.

Pengertian Sahabat Nabi

Yang dimaksud dengan istilah ’sahabat Nabi’ adalah “Orang yang melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam dalam keadaan Islam, yang meriwayatkan sabda Nabi. Meskipun ia bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam tidak dalam tempo yang lama, atau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam belum pernah melihat ia sama sekali”

[1] Empat sahabat Nabi yang paling utama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu’ahum ajma’in. Tentang jumlah orang yang tergolong sahabat Nabi, Abu Zur’ah Ar Razi menjelaskan, “Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang sahabat Nabi”

[2] Keutamaan Sahabat
Para sahabat Nabi adalah manusia-manusia mulia. Imam Ibnu Katsir menjelaskan keutamaan sahabat Nabi, “Menurut keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah, seluruh para sahabat itu orang yang adil. Karena Allah Ta’ala telah memuji mereka dalam Al Qur’an. Juga dikarenakan banyaknya pujian yang diucapkan dalam hadits-hadits Nabi terhadap seluruh akhlak dan amal perbuatan mereka. Juga dikarenakan apa yang telah mereka korbankan, baik berupa harta maupun nyawa, untuk membela Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

[3] Pujian Allah terhadap para sahabat dalam Al Qur’an, di antaranya firman Allah yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah: 100)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam pun memuji dan memuliakan para sahabatnya. Beliau bersabda, “Kebaikan akan tetap ada selama di antara kalian ada orang yang pernah melihatku dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para sahabatku (tabi’in) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat sahabatku (tabi’ut tabi’in)

[4] Beliau Shallallahu’alaihi Wa sallam juga bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka,'"

[5] Dan masih banyak lagi pujian dan pemuliaan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam terhadap para sahabatnya yang membuat kita tidak mungkin ragu lagi bahwa merekalah umat terbaik, masyarakat terbaik, dan generasi terbaik umat Islam. Berbeda dengan kita yang belum tentu mendapat ridha Allah dan baru kita ketahui kelak di hari kiamat, para sahabat telah dinyatakan dengan tegas bahwa Allah pasti ridha terhadap mereka. Maka yang layak bagi kita adalah memuliakan mereka, meneladani mereka, dan tidak mencela mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda, “Jangan engkau cela sahabatku, andai ada di antara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud (satu genggam), bahkan tidak menyamai setengahnya pula.

[6] Pemahaman Sahabat Nabi, Sumber Kebenaran
Jika kita telah memahami betapa mulia kedudukan para sahabat Nabi, dan kita juga tentu paham bahwa tidak mungkin ada orang yang lebih memahami perkataan dan perilaku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selain para sahabat Nabi, maka tentu pemahaman yang paling benar terhadap agama Islam ada para mereka. Karena merekalah yang mendakwahkan Islam serta menyampaikan sabda-sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam hingga akhirnya sampai kepada kita, walhamdulillah. Merekalah ‘penghubung’ antara umat Islam dengan Nabinya.

Oleh karena ini sungguh aneh jika seseorang berkeyakinan atau beramal ibadah yang sama sekali tidak diyakini dan tidak diamalkan oleh para sahabat, lalu dari mana ia mendapatkan keyakinan itu? Apakah Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepadanya? Padahal turunnya wahyu sudah terhenti dan tidak ada lagi Nabi sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dari sini kita perlu menyadari bahwa mengambil metode beragama Islam yang selain metode beragama para sahabat, akan menjerumuskan kita kepada jalan yang menyimpang dan semakin jauh dari ridha Allah Ta’ala. Sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat Nabi. Setiap hari kita membaca ayat: “Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah: 6-7)

Seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’ut tabi’in, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya

[7]. Oleh karena itulah, seorang sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata, “Siapa saja yang mencari teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya diantara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit dalam berlebihan-lebihan, paling lurus bimbingannya, paling baik keadaannya. Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka. Karena mereka semua berada pada shiratal mustaqim (jalan yang lurus)”

[8] Dalam matan Ushul As Sunnah, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: “Asas Ahlussunnah Wal Jama’ah menurut kami adalah berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan meneladani mereka… dst.”

Jika demikian, layaklah bila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjadikan solusi dari perpecahan ummat, solusi dari mencari hakikat kebenaran yang mulai samar, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau dan pemahaman para sahabat beliau. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
Bani Israil akan berpecah menjadi 74 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di nereka, kecuali satu golongan

Para sahabat bertanya, “Siapakah yang satu golongan itu, ya Rasulullah?”
Beliau bersabda, “Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku

9) Beliau juga bersabda menjelang hari-hari wafatnya, “Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah. Lalu mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun ia dari kalangan budak Habasyah. Sungguh orang yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnnahku dan sunnah khulafa ar raasyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah perkara yang diada-adakan, karena ia adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Abu Daud no.4609, Al Hakim no.304, Ibnu Hibban no.5)

Jika Sahabat Berselisih Pendapat
Sebagaimana yang telah kita bahas, jika dalam suatu permasalahan terdapat penjelasan dari para sahabat, lalu seseorang memilih pendapat lain di luar pendapat sahabat, maka kekeliruan dan penyimpangan lah yang sedang ia tempuh. Namun jika dalam sebuah permasalahan, terdapat beberapa pendapat di antara para sahabat, maka kebenaran ada di salah satu dari beberapa pendapat tersebut, yaitu yang lebih mendekati kesesuaian dengan Al Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi’i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al Qur’an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat? Beliau menjawab, bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al Qu’an atau Sunnah atau Ijma’ atau Qiyas yang paling shahih”

[10] Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabatnya.

demikianlah yang dapat kami sampaikan
dengan harapan semoga menjadikan kemanpaatan bagi kita semuaWassalam.

Keyakinan Terhadap Nama dan Sifat Allah

oleh Nurassajati Purnama Allam pada 29 Januari 2011 jam 6:09

Assalamu alaikum wr wb.
Bissmillahir rahmanir rahim.
Sahabat-sahabat-ku.

Keyakinan yang Benar Terhadap Nama dan Sifat Allah
Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama’ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya.

Kebenaran hanya milik Allah. Namun kebenaran bukanlah suatu hal yang semu dan relatif. Karena Allah Ta’ala telah menjelaskan kebenaran kepada manusia melalui Al Qur’an dan bimbingan Nabi-Nya Shallallahu’alaihi Wa sallam. Tentu kita wajib menyakini bahwa kalam ilahi yang termaktub dalam Al Qur’an adalah memiliki nilai kebenaran mutlak. Lalu siapakah orang yang paling memahami Al Qur’an? Tanpa ragu, jawabnya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam. Dengan kata lain, Al Qur’an sesuai pemahaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam dan sabda-sabda Shallallahu’alaihi Wa sallam itu sendiri keduanya adalah sumber kebenaran.

Sesungguhnya mengenal Allah dan mengilmui tentang Allah akan menghantarkan hamba kepada kecintaan, penghormatan dan pengagungan, rasa takut dan harap, serta rasa ikhlas beramal untuk-Nya. Kebutuhan seorang hamba terhadap ilmu tersebut dan memperoleh buah dari lmu tersebut merupakan kebutuhan yang paling besar, paling utama, dan paling mulia. Semakin seorang hamba mengilmui tentang nama dan sifat Allah, dia akan lebih mengetahui tentang Allah dan semakin dekat dengan-Nya.

Sebaliknya, semakin seorang hamba mengingkari nama dan sifat Allah, dia akan semakin bodoh terhadap Allah dan akan semakin benci dan jauh dari-Nya. Allah Ta’ala akan menempatkan (mengingat) seorang hamba di sisi-Nya tatkala seorang hamba memberi tempat bagi Allah dalam jiwanya. Tidak ada jalan untuk mencapainya kecuali dengan mengenal nama dan sifat-Nya serta mempelajari dan memahami maknanya.

Yang menjadi masalah sekarang, mengapa ketika semua kelompok dan jama’ah mengaku telah berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits, mereka masih berbeda keyakinan, berpecah-belah dan masing-masing mengklaim kebenaran pada dirinya? Setidaknya ini menunjukkan Al Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ternyata dapat ditafsirkan secara beragam, dipahami berbeda-beda oleh masing-masing individu. Jika demikian maka pertanyaannya adalah, siapakah sebetulnya di dunia ini yang paling memahami Al Qur’an serta sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam? Jawabnya, merekalah para sahabat Nabi radhi’allahu ‘anhum ajma’in.

Nampaknya, banyak diantara kita belum merenungkan secara mendalam, ayat Qur’an, dzikir dan doa yang hampir setiap hari terucap dari lisan kita, yang sebenarnya sangat lugas mengikrarkan konsep Tauhid yang benar. Ya, konsep Tauhid yang diajarkan Islam sesungguhnya sangat bisa dipahami dari dzikir, doa dan ayat-ayat sederhana yang sering dibaca oleh kebanyakan kita. Beberapa diantaranya akan dibahas pada tulisan ini.

Kebenaran hanya milik Allah. Namun kebenaran bukanlah suatu hal yang semu dan relatif. Karena Allah Ta’ala telah menjelaskan kebenaran kepada manusia melalui Al Qur’an dan bimbingan Nabi-Nya Shallallahu’alaihi Wa sallam. Tentu kita wajib menyakini bahwa kalam ilahi yang termaktub dalam Al Qur’an adalah memiliki nilai kebenaran mutlak. Lalu siapakah orang yang paling memahami Al Qur’an? Tanpa ragu, jawabnya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam. Dengan kata lain, Al Qur’an sesuai pemahaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam dan sabda-sabda Shallallahu’alaihi Wa sallam itu sendiri keduanya adalah sumber kebenaran.

Masjid memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan dakwah Islam dan penyebaran syiar-syiar agama Islam. Di sanalah tempat didirikan sholat jama’ah dan berbagai kegiatan kaum muslimin. Seluruh manusia yang membawa perbaikan terhadap umat Islam ini, merupakan produk ‘jebolan pendidikan’ yang berawal mula dari masjid.

Masjid merupakan sebaik-baik tempat di muka bumi ini. Di sanalah tempat peribadatan seorang hamba kepada Allah, memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah semata. Dari sanalah titik pangkal penyebaran tauhid. Allah telah memuliakan masjid-masjid-Nya dengan tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. (QS. Al Jin: 18)

Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga bermanpaat. Wassalam.
http://nurassajatipurnamaalam.blogspot.com/

Kamis, 27 Januari 2011

*=Menata Hati Menuju Takwa

Menata Hati Menuju Takwa

Menata Hati Menuju Takwa
Assalamu allaikum wr. wb.
Sahabat.dan juga Saudara-saudari-ku

Sesungguhnya hidup ini tidaklah gampang sebagaimana dalam bayangan namun harus dilalui penuh dengan kesungguhan & juga keyakinan yang kuat bahkan mendiang kakeku pernah bilang bahwa jika ingin selamat dari dunia sampai di akhirat itu, laksana bagaikan unta yang harus melewati lubang jarum akan tetapi bukanlah berarti tidak bisa namun harus dengan jalan takwa & berjuang untuk mengalahkan hawa nafsu & syahwat maka barulah bisa selamt

Saudaraku Keberhasilan itu ditentukan oleh ukuran keyakinan kita untuk meraih kemenangan!

Ada pepatah mengatakan...
Apa yang sedang kita pikirkan, itulah yang sedang terjadi, atau akan terjadi.
Oleh sebab itu... Latihlah diri, hati, dan pikiran kita untuk selalu merespon hanya pada hal-hal yang positif!

Latihlah ia terus menerus,dan jangan hanya sesaat, tapi berkesinambungan di sepanjang waktu.

"Seutas benang itu sesungguhnya hanya
ada dalam pikiran kita

"Ada kisah nyata tentang seekor gajah.
Sejak kecil ia sudah dirantai kakinya dengan seutas rantai sepanjang 4 meter.

Apa yang terjadi ketika rantai itu diganti dengan seutas benang?

Gajah itu tetap saja berkeliling & tidak berani melangkah keluar dari area lingkaran 4 meter tersebut!

Dari kisah ini, pelajaran apa yang bisa kita ambil?
Maaf, saya tidak bermaksud menyamakan diri kita dengan seekor gajah. :-)

Namun bisa jadi, kita pun memiliki 'keterbelengguan' dengan seutas tali yang mengikat diri kita!
Kita tidak berani keluar dari zona yang dianggap nyaman.

Meski sesungguhnya,kita bisa melakukan banyak hal hebat iahir dari perkiraan kita yg kuat! Mari kita jujur pada diri sendiri, berapa banyak kesempatan yg sebenarnya hadir, melintas di depan kita, namun terkadang kita tidak mempedulikannya?

bahkan mungkin menganggap peluang itu'terlalu tinggi' untuk kamu, dan
merasa tidak pantas berada disana.

Atau mungkin kamu malah merasa tidak mampu untuk melakukan hal itu padahal sama sekali belum pernah dicobanya?

Kita semua tahu, segala hal yang menurut kita 'begitu hebat', seringkali tidak selalu seperti yang kita bayangkan.

Atau hal yang kita anggap sulit, kadang sebenarnya sangat gampang!Ada dua kunci dalam hal ini :
1. Kamu akan bisa jika kamu berpikir bisa

2. Kamu akan gagal jika kamu Ragu dan berpikir gagal,

So, jangan menyalahkan siapapun jika kesuksesan belum menghampiri diri kita. Sebab, faktor utamanya terletak padadiri kita sendiri.

Oleh sebab itu, perhatikan denganseksama, dan tanya pada diri sendiri,adakah seutas benang yang telah membelenggu diri kita selama ini? Jika ya, maka segeralah putuskan benang itu!

Cobalah bergerak maju dari lingkaran yang selama ini kita buat dan telah membelenggu diri kita sendiri! Peluang itu sebenarnya selalu hadirdan kapan saja.

Namun, karena kita selalu menutup mata, telinga, dan pikiran kita, maka peluang itu akan terlewat begitu saja!

Jika kamu masih ragu untuk melangkah,maka cobalah untuk melatihnya sedikit demi sedikit. Dan jika kamu sudah yakin, maka segeralah berlari cepat, dan keluar dari keterbelengguan kamu.

Jika sudah seperti ini, maka siapa lagi yang diuntungkan, jika bukan kamu sendiri?
Salam persahabatan dan persaudaran dalam Ukhuwah.

Selasa, 25 Januari 2011

Kisah; Nabi Ilyas a.s.

Kisah; Nabi Ilyas a.s.
Beliau adalah seorang utusan Allah s.w.t. Telah terjadi pertentangan antara beliau dan kaumnya tentang berhala yang bemama Ba'l. Nabi Ilyas menyeru di jalan Allah s.w.t dan mengajak kaumnya tetapi kaumnya mengabaikannya. Mereka cenderung kepada Ba'l.

Selesailah halaman kehidupan dunia dan mereka dihadirkan di hadapan Allah s.w.t pada hari kiamat. Allah s.w.t menceritakan hal tersebut dalam firman-Nya:

"Dan sesungguhnya Ilyas termasuk salah seorang dari rasul-rasul. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak- bapakmu yang terdahulu?' Maka mereka mendustakannya, kerana itu mereka akan diseret (ke neraka), kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di halangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) kesejahteran dilimpahkan atas Ilyas? Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (QS. ash-Shaffat: 123-132)

Hanya ayat-ayat yang pendek ini yang Allah s.w.t sebutkan berkaitan dengan kisah Nabi Ilyas. Dan pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa Ilyas adalah seorang Nabi yang bernama Ilya dalam Taurat. Injil Barnabas mengemukakan nasihat-nasihat Ilya. Tentu nasihat-nasihat tersebut tidak begitu terkenal dalam Taurat. Kami akan menyebutkan nasihat-nasihat tersebut kerana di dalamnya terdapat hikmah yang dalam dan ketulusan hati. Pesan tersebut terdapat dalam injil Barnabas dari ayat 23 sampai ayat 49. Disebutkan di dalamnya bahawa

"Ilya adalah hamba Allah. Hal ini ditulis bagi semua orang yang menginginkan untuk berjalan bersama Allah Pencipta mereka. Sesungguhnya orang yang suka untuk banyak belajar maka ia akan sedikit takut kepada Allah. kerana orang yang takut kepada Allah maka ia akan merasa puas untuk mengetahui apa-apa yang diinginkan Allah saja. Hendaklah orang-orang yang menginginkan untuk mengerjakan amal-amal yang soleh memperhatikan diri mereka kerana seseorang tidak akan memperoleh manfaat ketika mendapati dunia mendapatkan keuntungan sementara ia mendapati kerugian. Selanjutnya, hendaklah orang yang mengajari orang lain berusaha untuk lebih baik daripada orang lain kerana tidak akan bermanfaat suatu nasihat yang diberikan oleh orang yang tidak mengamalkan apa yang dikatakannya. Sebab, bagaimana seorang yang salah dapat memperbaiki kehidupannya sementara ia mendengar seorang yang lebih buruk darinya berusaha untuk mengajarinya. Kemudian hendaklah orang yang mencari Allah berusaha lari dari percakapan dengan manusia kerana Musa ketika berada sendirian di atas gunung Saina' maka beliau menemukan Allah dan berdialog dengan-Nya sebagaimana seorang pencinta berdialog dengan kekasihnya. Dan hendaklah orang-orang yang mencari Allah berusaha keluar sekali setiap tiga puluh kali ke tempat yang biasa di jadikan perkumpulan oleh masyarakat dunia. kerana boleh jadi ia dapat melakukan suatu amal pada satu hari saja namun dihitung amalnya itu selama dua tahun, khususnya berkaitan dengan pekerjaan yang di situ ia mencari ridha Allah. Hendaklah ketika ia berbicara tidak melihat ke arah mana pun kecuali ke arah dua kakinya, dan ketika ia berbicara hendaklah mengatakan hal yang penting saja. Hendaklah ketika ia makan tidak berdiri dari meja makan dalam keadaan kekenyangan. Dan hendaklah mereka berpikir setiap hari kerana boleh jadi mereka tidak akan menemui hari berikutnya. Dan hendaklah mereka benar-benar memanfaatkan waktu mereka sebagaimana mereka selalu bernafas. Hendaklah satu baju dari kulit binatang cukup untuk mereka. Hendaklah mereka setiap malam berusaha untuk tidur tidak lebih dari dua jam. Hendaklah mereka berusaha berdiri di tengah-tengah salat dengan rasa takut.

Kerjakanlah semua ini dalam rangka mengabdi kepada Allah s.w.t dengan menjunjung tinggi syariat-Nya yang Allah s.w.t kurniakan kepada kalian melalui Nabi Musa. kerana dengan cara seperti ini, kalian akan menemukan Allah s.w.t dan kalian akan merasakan pada setiap zaman dan tempat bahwa kalian berada di bawah naungan Allah s.w.t dan Dia akan selalu bersama kalian." Demikianlah apa-apa yang disebutkan dalam injil Barnabas melalui tulisan Ilya. ?

Semoga sajian ini dapat menjadikan pemahaman bagi kita Wassalam.

Video: Asmaul Husna

Video Foto Sejarah & Barang Pen "Nabi SAW.

Senin, 24 Januari 2011

Video : Selamat Berjuang

Allah SWT berfirman:

       "Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab: 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata: 'Tuhan kami mengetahui bahawa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami bernasib malang kerana kamu, sesungguhnya kamu jika tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merejam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yangpedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata: 'Kemalangan kamu itu adalah kerana kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas. " (QS. Yasin: 13-19)

Allah SWT menceritakan kepada kita tentang tiga nabi tanpa menyebut nama-nama
mereka. Hanya saja, Al-Qur'an menyebutkan bahawa kaum yang didatangi tiga nabi tersebut mendustakan mereka. Mereka mengingkari bahawa tiga nabi itu sebagai utusan Allah. Ketika para rasul itu menunjukan bukti kebenaran mereka, kaumnya berkata bahawa kedatangan mereka justru membawa kesialan. Mereka mengancam para nabi itu dengan rajam, pembunuhan, dan siksaan yang pedih. Para nabi itu menolak ancaman ini dan menuduh kaumnya membuat tindakan yang melampui batas. Mereka justru menganiaya diri mereka sendiri.

Al-Qur'an al-Karim dalam konteks ayat tersebut tidak menceritakan bagaimana urusan para nabi itu. Yang ditonjolkan oleh Al-Qur'an adalah urusan seorang mukmin yang mengikuti para nabi itu. Hanya dia satu- satunya yang beriman kepada nabi. Kelompok yang kecil ini berhadapan dengan kelompok yang besar yang menentang para nabi. Laki-laki itu datang dari negeri yang jauh. Dan dalam keadaan berlari, ia mengingatkan kaumnya. Hatinya telah terbuka untuk menerima kebenaran. Belum lama ia menyatakan keimanannya sehingga kemudian ia dibunuh
oleh orang-orang kafir.

Allah SWT berfirman:

"Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: 'Hai kaumku, ikutilah utusan- utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) ahan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidah (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maha dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.'" (QS. Yasin: 20-25)

Konteks Al-Qur'an hanya menyebutkan atau membatasi tentang proses pembunuhan itu. Belum lama orang mukmin itu atau belum sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya sehingga Allah SWT mengeluarkan perintah-Nya dan mengatakan:

"Dikatakan (kepadanya): 'Masuklah ke syurga.' Ia berkata: 'Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.'" (QS. Yasin: 26-27)

Jadi, Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan nama-nama para nabi itu dan kisah-kisah mereka, tetapi yang ditonjolkan adalah kisah lelaki mukmin di mana dalam konteks ayat tersebut nama laki-laki mukmin pun tidak disebutkan. Tentu penyebutan namanya tidak penting, tetapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi padanya. Beliau adalah seorang mukmin yang mengikuti para nabi AllahSWT.

Dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam syurga. Tentu proses penyiksaan yang diterimanya dan pembunuhannya bukan membawa suatu nilai yang besar tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahawa ia beriman dan tetap berjuang membela para nabi. Meski-pun ia mendapatkan ancaman pembunuhan, ia tetap menunjukkan keimanannya dan keimanannya tetap membara. "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku."'?

10 Pesan Allah S.W.T Kepada Nabi Musa a.s.



                     10 Pesan Allah S.W.T Kepada  Nabi Musa a.s.

 Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata Rasulullah S.A.W bersabda : "Allah S.W.T. telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran a.s. dalam alwaah 10 bab :

1.    Wahai Musa jangan menyekutukan aku dengan suatu apa pun bahawa aku telah memutuskan bahawa api neraka akan menyambar muka orang-orang musyrikin.

2.    Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu nescaya Aku peliharamu dari sebarang bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik.

3.    Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak nescaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka.

4.    Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau derhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak mensucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku.

5.    Jangan hasad dengki dan irihati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku.

6.    Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.

7.    Jangan mencuri dan jangan berzina isteri jiran tetanggamu sebab nescaya Aku tutup wajah-Ku daripadamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya.

8.    Jangan menyembelih korban untuk selain dari-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku.

9.    Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri.

10.    Jadikan hari Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda lagi : "Sesungguhnya Allah S.W.T menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa a.s. dan Allah S.W.T memilih hari Jumaat sebagai hari raya untukku."

Sifat2 Alloh yg wajib kita ketahui

Sifat2 Alloh yg wajib kita ketahui: 1. WUJUD - Artinya ADA, maka mustahil tidak ada, Firman-Nya ALLOHUL LADZII KHOLAQOS SAMAAWATI WAL ARDHI WAMAA BAINAHUMAA: Alloh-lah yg menciptakan langit & bumi & apa yg ada diantara keduanya (QS As-Sajdah:4), Maka sepatutnya setiap Mukmin yg mempunyai keyakinan yg benar untuk selalu dzikir (ingat) kepadaNYA setiap kali memandang segala sesuatu yg maujud (berwujud) di alam ini.
Sifat2 Alloh yg wajib kita kenal & ketahui: 2. QIDAM = Artinya terdahulu (tanpa ada awalnya), maka mustahil didahului oleh 'adam (ketiadaan). Firman-NYA: HUAL AWWALU WAL AAKHIRU: Dialah (Alloh) Yg Awal dan Yang Akhir (QS Al-Hadid:3), Maksudnya bahwa Alloh itu terdahulu tanpa ada awalnya dan terkemudian tanpa ada akhirnya. (Amalan dzikirnya lihat di comment).
 Sifat Alloh yg wajib dikenali & diyakini: 3. BAQA' artinya KEKAL (Abadi), maka mustahil Fana' (kebinasaan),Firman-NYA: WA YABQOO WAJHU ROBBIKA DZULJALAALI WAL IKROOM (QS Ar-Rahman:
27), Karena kita bersifat fana' (binasa) sdh sepantasnya kita senantiasa selalu ingat mati, krn maut pasti datang menjemput kita dan tdk seorangpun yg tahu kapan & dimana.jadi segera bertaubat sebelum ajal tiba.
Sifat Alloh yg wajib dikenal&diyakini: 4. MUKHOLAFATU LIL-HAWADIST artinya berlawanan dgn sgl sesuatu yg baru, maka mustahil bagi Alloh bersamaan dgn sgl sst yg baru. Firman-NYA: LAISA KAMISTLIHII SYAI-UN = Tidak ada sstpun yg serupa dgn DIA.(QS Asy-Syu'ara:11). Maka sepatutnyalah bagi setiap Mukmin yg memiliki keyakinan yg benar utk banyak2 mengucap TASBIH kpd Alloh, agar ia memperoleh rahmat-NYA.
Sifat Alloh yg wajib dikenal & diyakini: 5.QIYAMUHU BINAFSIHI=artinya berdiri dgn sendirinya,maka mustahil tdk berdiri dgn sendirinya.Firman-NYA: INNALLOOHA LAGHONIYYUN 'ANIL 'ALAMIIN: Sesungguhnya Alloh benar2 Mahakaya (tdk memerlukan sesuatu)dari semesta alam(QS Al-Ankabut:6),Maka seharusnya setiap Muslim selalu memohon pertolongan & berhajat hanya kpd Alloh, krn DIA MahaKaya &seluruh alam ini adalah milik-NYA
 Sifat Alloh yg wajib dikenali & diyakini: 6.WAHDANIYAH artinya ESA dzat-Nya, sifat-Nya & fi'il-Nya,maka mustahil Alloh itu berbilang dzat,sifat & fi'
'il-Nya. Firman-NYA: QUL HUWALLOOHU AHAD=Katakanlah, DIA-lah Alloh Yg Maha Esa (QS Al-Ikhlas:1), Seharusnya setiap org Islam yg memiliki keyakinan yg benar utk melihat & meyakini bahwa setiap kejadian yg ada dialam ini semuanya merupakan fi'il (perbuatan Alloh semata)
 Sifat Alloh yg wajib dikenali&diyakini: 7. QUDROT artinya KUASA,maka mustahil Alloh itu tdk kuasa. Firman-NYA: INNALLOOHA 'ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR=Sesungguhnya Alloh berkuasa atas segala sesuatu (QS Al-Baqarah:20), Sepatutnya kita tidak berlaku sombong atau mem-bangga2kan diri, bahkan hendaknya bersikap tawaddhu (rendah hati) dan banyak takut kpd ALLOH Yang Maha KUASA.
 Sifat Alloh yg wajib diketahui & diyakini: 8. IRADAT artinya Berkehendak (berkeinginan), maka mustahil Alloh bersifat terpaksa.Firman-Nya: FA'-'AALUN LIMA YURIID=(Sesungguhnya Tuhan-Mu) Maha melaksanakan apa yg IA kehendaki (QS Hud:107), Sdh sepantasnya kita senantiasa BERSYUKUR kpd Alloh atas segala nikmat-NYA & BERSABAR atas setiap bala (cobaan).
Sifat Alloh yg wajib diketahui & diyakini: 9. 'ILMUN Artinya MENGETAHUI, maka mustahil jahil (tidak mengetahui),Firman-NYA: WALLOOHU BIKULLI SYAI-IN 'ALIIM: Dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu (QS An-Nisa:176), Dgn mengenal Alloh bersifat 'ILMUN Seharusnya kita takut melakukan segala maksiat walau sekecil apapun, karena tidak ada sesuatupun yg luput dari pengetahuan Alloh.
Sifat Alloh yg wajib dikenal & diyakini: 10. HAYAT artinya hidup, maka mustahil Alloh itu mati. Firman-Nya: WATAWAKKAL 'ALAL HAYYIL LADZII LAA YAMUUT= ''Dan bertawakallah kepada Alloh Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati''. Maka sudah sepantasnyalah bagi setiap orang yg mengaku Islam dan yg memiliki keyakinan yg benar untuk senantiasa berserah diri (bertawakal) kpd Alloh Yang Hidup dan Yang tidak akan mati.
Sifat Alloh yg wajib kita kenal & yakini,yg ke-11 ialah: SAM'UN artinya MENDENGAR, maka mustahil Alloh itu tuli. Firman-NYA: WALLOHU SAMII'UN 'ALIIM=''Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'' Maka sepatutnya bagi setiap orang2 Islam yg memiliki keyakinan yg benar untuk memelihara mulut dari ber-kata2 yg haram, atau perbuatan tercela, krn sesungguhnya Alloh Maha Mendengar segala perkataan hamba-Nya.
 Sifat Alloh yg ke-12: BASHAR artinya MELIHAT, Maka mustahil Alloh itu buta. Firman-NYA: WALLOOHU BASHIIRUN BIMAA TA'MALUUN=Dan Alloh Maha Melihat apa yg kamu kerjakan. Dgn mengetahui & meyakini sifat-Nya ini,seharusnya kt tdk berani MAKSIAT sekecil apapun krn semuanya tdk ada yg luput dari pandangan Alloh,bahkan selembar daun yg kering jatuh kebumi ditengah malam gelap gulita diketahui & dilihat-NYA.
Sifat Alloh Ta'ala yang ke-13: KALAM artinya BERBICARA, maka mustahil Alloh itu bisu. Firman-NYA: WAKALLAMALLOOHU MUUSAA TAKLIIMAA= Dan Alloh telah berbicara kepada Nabi Musa dengan langsung. (QS An-Nisa: 164), Maka sepatutnya bagi Mukmin yg memiliki keyakinan yg benar utk senantiasa BERDZIKIR kpd Alloh dgn memperbanyak MEMBACA AL-QUR'AN karena Al-Qur'an adalah KALAMULLAH.
Sifat Alloh yg wajib dikenal & diyakini, yg ke-14: QADIRUN artinya yang kuasa. Dengan mengetahui Alloh memiliki sifat ini, seharusnya seorang Mukmin yang memiliki keyakinan yg benar untuk memperbanyak rasa RASA TAKUT kepada Alloh Yang Maha Kuasa, dan banyak memohon RAHMATNYA.
Sifat Alloh Ta'ala yg wajib diketahui yg ke-15: MURIDUN artinya berkehendak, Maka mustahil Alloh tidak berkehendak. Amalan mengenal sifat Alloh ini ialah memperbanyak DOA atau permohonan agar dikaruniai bahagia didalam kehidupan serta dijauhkan dari segala bala' bencana baik didunia dan diakhirat kelak. ROBBANA AATINA FID DUN-YAA HASANAH, WAFIL AAKHIROTI HASANAH, WAQIINA ADZAABAN NAAR.
Sifat Alloh yg wajib dikenal & diyakini, yang ke-16: 'AALIMUN artinya yang MENGETAHUI, mustahil Alloh itu tidak mengetahui. Maka sudah sepatutnya bagi setiap Mukmin yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa memohon pertolongan Alloh dalam setiap keadaan, dan memohon pemeliharaan-Nya dari segala bencana dan dari setiap kejahatan dunia dan akhirat.
 Sifat Alloh yg wajib dikenal & diyakini yg ke-17: HAYYUN artinya yg HIDUP, maka mustahil Alloh Ta'ala itu mati. Dengan mengenal dan meyakini sifat Alloh ini seharusnya bagi setiap orang2 yg beriman utk senantiasa berserah diri kpd Alloh dlm setiap keadaan. ''WAMAY YATAWAKKAL 'ALALLOOHI FAHUWA HASBUHU'': Barangsiapa bertawakal kepada Alloh maka Alloh pasti akan mencukupinya (QS Ath-Thalaq 65:3)
Sifat yg wajib bagi Alloh untuk dikenali dan diyakini yg ke-18: SAMII'UN artinya yg mendengar, maka mustahil Alloh itu tuli. Dengan mengenal sifat Alloh ini sepatutnyalah orang2 yg mengaku beriman untuk memperbanyak pujian dan bersyukur serta memanjatkan DOA kepada Alloh Yang Maha MENDENGAR.
(Semakin banyak memohon, Alloh semakin sayang, berarti ingat (dzikrullah) tetapi kalau sifat manusia justru sebaliknya).
 Sifat Alloh yang wajib dikenal & diyakini, yg ke-19: BASHIIRUN artinya yang MELIHAT, maka mustahil Alloh itu buta. Apabila keyakinan seseorang sudah benar dia tidak akan berani berbuat yang dilarang oleh Alloh walaupun ditempat yang tidak ada seorangpun yang tahu. Karena semuanya di LIHAT, atau di tatap Alloh, serta disaksikan oleh petugas-Nya yaitu Malaikat Raqib dan Atid.
Sifat yang wajib bagi Alloh Ta'ala yg ke-20: MUTAKALLIMUN artinya yang berbicara, maka mustahil Alloh itu gagu. Dengan mengenal dan meyakini dengan benar sifat Alloh ini, seharusnya setiap Mukmin untuk selalu membaca Al-Qur'an dengan tartil, khusyu', mengkaji, mempelajari, serta mengamalkan kandungannya, karena Al-Qur'an adalah KALAM Alloh. Ketika membacanya rasakan seolah-olah Alloh sedang berbicara dengan kita.
*******
 KEYAKINAN SEORANG SAHABAT NABI.
Rasulullah s.a.w. bersabda: Innasy syaithoona liyufarriqo min zhillin 'Umaro wama salaka 'Umaru fajjann illa salakasy syaithoonu fajjan aaakhoro, Artinya: Sesungguhnya setan itu lari jika melihat bayangan Umar. Ia pun tidak berani melangkah selangkahpun pada jalan yang dilewati Umar, kecuali setan telah melangkah di jalan yang lain. (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibbu Hibban, dari Buraidah).
Sahabat! YAKIN adalah istilah lain dari kekuatan IMAN dengan kemantapan & kekukuhannya, sehingga menjadi seperti gunung yg besar nan tinggi, tidak tergoyahkan oleh keraguan2 & tidak terombang-ambingkan oleh prasangka, hingga tidak tersisa sedikitpun darinya. Jika ke-raguan2 itu datang lari luar, maka telinganya tidak memperdulikannya.
 Tentang sifat yg wajib bagi Alloh.
TA'ALLUQ= Pertalian, kaitan atau hubungan. Sedangkan pengertiannya ialah, bahwa suatu SIFAT ALLOH itu menuntut perbuatan yg bertambah dari berdirinya sifat kepada DZAT. Ta'alluq sifat Qudrat Alloh adalah segala mungkin, yakni mungkin maujud dan mungkin ma'dum, Artinya: Bahwa Alloh itu kuasa mewujudkan yang tiada, dan kuasa pula meniadakan yang ada.
*******
PEMBAGIAN SIFAT-SIFAT ALLOH.
Secara keseluruhan sifat-sifat yang wajib bagi Alloh itu terbagi menjadi empat bagian: 1. Sifat NAFSIAH yaitu suatu hal yang wajib bagi Dzat Alloh bersifat dengan sifat WUJUD (Ada), yang wujudnya itu tidak disebabkan oleh suatu sebab apapun. Sifat Nafsiah ini hanya memiliki satu sifat, yakni WUJUD= Ada. (to be continued)
PEMBAGIAN SIFAT-SIFAT ALLOH.
Yang ke-2: Sifat SALBIAH yaitu suatu sifat yang menafikan (meniadakan) semua sifat yang tidak layak bagi Alloh. Sifat salbiah memiliki lima sifat yaitu: Qidam (terdahulu,tanpa ada awalnya), Baqa' (kekal abadi), Mukhalafatu lil-Hawadits (berlawanan dengan sesuatu yang baru), Qiyamuhu Binafsihi (berdiri dengan dirinya sendiri), dan Wahdaniat (Esa dzat-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya).
 PEMBAGIAN SIFAT-SIFAT ALLOH.
Bagian yang Ke-3: Sifat MA'ANI yaitu semua sifat maujud yang berdiri pada Dzat Alloh yang maujud, yang mewajibkan Dzat itu bersifat dengan suatu hukum sifat ma'nawiyah. Sifat MA'ANI ini meliputi tujuh sifat yaitu: Qudrat=Kuasa, Iradat=Berkehendak, Ilmun=Mengetahui, Hayat=Hidup, Sam'un=Mendengar, Bashar=Melihat, dan Kalam=Berbicara.
PEMBAGIAN SIFAT-SIFAT ALLOH.
Yang Ke-4: Sifat MA'NAWIYAH yaitu suatu hal yang tetap (tsabit) bagi Dzat Alloh bersifat dgn sifat Ma'nawiyah. Terdapat ikatan yg kuat antara sifat Ma'ani & sifat Ma'nawiyah. Dan sifat Ma'nawiyah ini meliputi tujuh sifat yaitu: Qadirun=Yg Kuasa, Muridun=Yg Berkehendak, 'Alimun=Yg Mengetahui, Hayyun=Yg Hidup, Sami'un=Yg mendengar, Bashirun=Yg Melihat dan Mutakallimun=Yg Berbicara.
Demikianlah telah kita bicarakan (di status) Duapuluh Sifat yg WAJIB bagi Alloh, dan Dua puluh Sifat yg MUSTAHIL bagi-Nya. Selanjutnya hanya Satu Sifat yg JA'IZ bagi Alloh yaitu: Fi'lu kulli mumkinin au tarkuhu=Melakukan segala yang mungkin atau meninggalkannya. Demikian jumlah Aqa-idul-Iman itu ada Empat puluh satu. Berikut ada sembilan aqa-id lainnya akan diterangkan kemudian.
Wajib bagi setiap mukallaf mengetahui keempatpuluhsatu Aqa-idul-Iman yg sudah dibicarakan, berikut sembilan aqa-id lainnya:
1. Wajib beri'tikad (meyakini) bahwasanya mustahil bagi Alloh berkewajiban menciptakan makhluk, atau tidak menciptakannya (meninggalkannya). Artinya JA'IZ bagi Alloh membuat atau tidak membuat.
 AQA-IDUL-IMAN ke-2 dari yang sembilan: Wajib berkeyakinan bahwa Alloh S.W.T.: TANAZZUHU TA'ALA 'ANIL A'ROODHI FII AF'ALIHII WA AHKAAMIHII= Maha Suci Alloh dari mengambil faedah dalam perbuatan-perbuatan dan hukum-hukum-Nya. Dengan pengertian lain, bahwa Alloh sama sekali tidak mengambil dan tidak memperoleh manfaat (keuntungan) apa pun dari sekalian hamba-Nya dalam seluruh perbuatan dan peraturan-Nya.
 AQA-IDUL-IMAN ke-3 dari yg sembilan: Wajib berkeyakinan bahwasanya MUSTAHIL bagi
Alloh mengambil manfaat dari sekalian hamba-Nya. Karena apa saja yg dituntut Alloh dari hamba2nya,baik berupa peribadatan,ketaatan dsb,semuanya itu pd hakikatnya utk kepentingan hamba itu sendiri,dan manfaatnyapun akan kembali kpd hamba tsb. Alloh sama sekali tdk membutuhkan kesemuanya itu &justru hamba itu sendirilah yg membutuhkannya.
 AQA-IDUL-IMAN yg ke-4 dari sembilan:
Wajib berkeyakinan AN LAA TA'-TSIIRO LISYAI-IN MINAL KAA-INAATI BIQUWWATIHII=Tidak ada sesuatupun dari alam ini yang bisa memberi (menimbulkan) pengaruh hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Dengan pengertian lain, bahwa seorang hamba itu tidak memiliki daya dan upaya apa pun melainkan dengan izin dan kehendak Alloh belaka.
 AQA-IDUL-IMAN Yg ke-5 dari sembilan:Wajib berkeyakinan bahwa alam ini MUSTAHIL memberi (menimbulkan) pengaruh hanya dgn mengandalkan kekuatan sendiri.
Katakanlah: HAADZA MIN FADHLI ROBBIY A-ASY KURUU AM AKFUR=Ini se-mata2 dari karunia Tuhan-KU, apakah aku bersyukur atau kufur. (QS An-Namal 40). Janganlah
pernah merasa sdh cukup kuat dpt berdiri sendiri tanpa pertolongan,rahmat,taufik hidayah & karunia Alloh SWT.
AQA-IDUL-IMAN yg ke-6 dari Sembilan:
Wajib berkeyakinan bahwa alam seluruhnya termasuk isinya adalah BARU (hadits). Dgn kata lain bahwa sebelumnya TIDAK ADA, kemudian menjadi ada setelah diciptakan. Firman-Nya: (Dia Alloh) yg menjadikan bumi hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit, lalu Dia hasilkan dgn hujan itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. (QS Al-Baqarah 2:22).
 AQA-IDUL-IMAN yg ke-7 dari sembilan:
Kita wajib beri'tikad (berkeyakinan) bahwasanya alam seluruhnya ini MUSTAHIL bersifat Qidam (terdahulu tanpa awalnya). Firman Alloh: HUWAL AWWALU WAL-AKHIRU WAZH-ZHOOHIRU WALBAATHINU, WAHUWA BIKULLI SYAI-IN 'ALIIM = Dialah (Alloh) Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Hadid 57: 3).
 AQA-IDUL-IMAN yg ke-8 dari sembilan: Wajib beri'tikad (berkeyakinan) bahwasanya "LAA TA'-TSIRO LISYAI-IN MINAL KAA INAATI BITHOBB-'IHII" Artinya Tidak ada sesuatu pun dari alam ini yang bisa memberi (menimbulkan) pengaruh dengan tabiatnya sendiri.
AQA-IDUL-IMAN Yang ke-9 lainnya, terakhir: Wajib beri'tikad bahwasanya sekalian alam ini MUSTAHIL memberi (menimbulkan) pengaruh dengan tabiatnya sendiri. Dengan demikian jumlah Aqa-idul-iman seluruhnya ada limapuluh, dan kesemuanya itu tercakup dalam makna kalimat: LAA ILAAHA ILLALLOOH yang bermakna: LAA MA'BUUDA BI HAQQIN - yakni tidak ada yang patut disembah dengan sebenarnya.
 Alloh menjanjikan kepada orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yg mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat)tempat yang baik di Surga 'Adn. Dan KERIDHAAN ALLOH lebih besar. Itulah kemenangan yang Agung. (QS At-Taubat 9: 72). Sambungan ayat 71, status kemarin.
 Tdk ada seorg Muslim pun yg berdoa dgn sst doa yg bukan doa yg mnyangkut dosa atau mnyangkut usaha memutuskan silaturrahmi, kecuali Alloh akan memberinya dgn salah satu dr tiga kemungkinan: Sgr dipenuhi-Nya doa tsb, atau dspan-Nya sbg simpanan di akhirat, atau dihindarkannya dr kclakaan atau kjelekan yg sbanding.Para shbt bertanya: Bgmn kalau kami perbanyak? Rasul mjwb: Alloh akan memperbanyak lg. (HR Ahmad& Hakim).
ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH
Sesungguhnya keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat adalah aqidah Nabi Muhammad, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka dikenal dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah; kelompok mayoritas ummat yang merupakan al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat). 
''Lebih lengkap lihat di comment'' semoga bermanfaat.

Dalil atas keyakinan tersebut selain ayat di atas adalah firman Allah:
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11)
Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al-Qur'an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagai atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al-Jawhar al-Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jism). Benda yang terakhir ini (jism) terbagi menjadi dua macam;
1. Benda Lathif; benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
2. Benda Katsif; benda yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.
Sedangkan sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta'ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al-Jawhar al-Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif.
Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya.
 Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.
Rasulullah bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah.
Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
“Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farq Bayn al-Firaq, hal. 333).
Al-Imam al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitabnya al-Asma Wa ash-Shifat, hal. 506, berkata:
“Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah:
“Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.
Al-Imam as-Sajjad Zain al-'Abidin 'Ali ibn al-Husain ibn 'Ali ibn Abi Thalib k.w. berkata:
“Engkaulah ya Allah yang tidak diliputi oleh tempat”. (Diriwayatkan oleh al-Hafizh az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya' 'Ulumiddin dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al-Bayt; keturunan Rasulullah).
Adapun ketika seseorang menghadapkan kedua telapak tangan ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah.
Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka'bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka'bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah seperti al-Imam al-Mutawalli (w 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, al-Imam al-Ghazali (w 505 H) dalam kitabnya Ihya 'Ulumiddin, al-Imam an-Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al-Imam Taqiyyuddin as-Subki (w 756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil, dan masih banyak lagi.
Al-Imam Abu Ja'far ath-Thahawi -Semoga Allah meridlainya- (w 321 H) berkata:
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut”.

Perkataan al-Imam Abu Ja'far ath-Thahawi ini merupakan Ijma' (konsensus) para sahabat dan ulama Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).
Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasannya bukanlah maksud dari Mi'raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad naik ke arah sana untuk bertemu dengan-Nya. Melainkan maksud Mi'raj adalah untuk memuliakan Rasulullah dan memperlihatkan kepadanya keajaiban-keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur'an surat al-Isra ayat 1.
Dengan demikian tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu tempat, atau disemua tempat, atau ada di mana-mana. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari (w 324 H) -Semoga Allah meridlainya- berkata:
“Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma Wa ash-Shifat).
Al-Imam al-Asy'ari juga berkata: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al-Imam al-Asy'ari ini dinukil oleh al-Imam Ibn Furak (w 406 H) dalam kitab al-Mujarrad. Syekh Abd al-Wahhab asy-Sya'rani (w 973 H) dalam kitab al-Yawaqit Wa al-Jawahir menukil perkataan Syekh Ali al-Khawwash: “Tidak boleh dikatakan Allah ada di mana-mana”. Maka aqidah yang wajib diyakini adalah bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.

Perkataan al-Imam ath-Thahawi di atas juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al-Wujud; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-makhluk-Nya, juga sebagai bantahan atas pengikut paham Hulul; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah menempati sebagian makhluk-Nya. Dua keyakinan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma’ (konsensus) seluruh orang Islam sebagaimana dikatakan oleh al-Imam as-Suyuthi (w 911 H) dalam kitab al-Hawi Li al-Fatawi, dan Imam lainnya. Para Imam panutan kita dari ahli tasawuf sejati seperti al-Imam al-Junaid al-Baghdadi (w 297 H), al-Imam Ahmad ar-Rifa'i (w 578 H), Syekh Abd al-Qadir al-Jailani (w 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati; mereka semua selalu mengingatkan orang-orang Islam dari para pendusta yang menjadikan tarekat dan tasawuf sebagai sebagai wadah untuk meraih dunia, padahal mereka berkeyakinan Wahdah al-Wujud dan Hulul.

Dengan demikian keyakinan ummat Islam dari kalangan Salaf dan Khalaf telah sepakat bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Sementara keyakinan sebagian orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas Arsy, adalah keyakinan sesat.
Keyakinan ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena duduk adalah salah satu sifat manusia. Para ulama Salaf bersepakat bahwa barangsiapa yang menyifati Allah dengan salah satu sifat diantara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir, sebagaimana hal ini ditulis oleh al-Imam al-Muhaddits as-Salafi Abu Ja'far ath-Thahawi (w 321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal dengan nama “al-'Aqidah ath-Thahwiyyah”. Beliau berkata:
“Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.
Perhatian….!
WASPADAI.. Keyakinan Tasybih [Keyakinan Allah serupa dengan makhluk-Nya] yang kian hari semakin merebak… Jangan sampai merusak genarasi kita!!!?
Kiriman dari: Majlis Ta'lim Riyadhul Jannah Jkt
Sahabat! Inilah ayat Al-Qur'an tentang Tawassul yg diamalkan oleh Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah.
Firman Alloh Ta'ala:
YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUT TAQULLOOHA WABBTAGHUU ILAIHIL WASIILAH, WAJAAHIDUU FII SABIILIHII LA'ALLAKUM TUFLIHUUN: 
Wahai orang-orang yang beriman, Dan carilah kepadamu wasilah, Dan berjihad pada jalan-Nya, agar kamu beruntung. (QS Al-Maidah 35)
Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari penguasaan Allah Ta'ala meski sesaat. Maka dari itu, hendaknya seorang mukmin yang benar keimanannya, berTAWAKKAL hanya kepada Alloh. 
(Intisari dari ayat Al-Qur'an surat Huud 11:56)