Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2016

Bahasan Mengenai Tentang Malam Lailatul Qadar

ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ LAILATUL KADAR adalah malam di mana Allah swt untuk kali pertama menurunkan wahyu Alquran, yakni lima ayat pertama dari Surah Al’alaq, kepada Rasulullah Muhammad saw.
Peristiwa itu direkam dalam Surat ”Alqadr” ([97] : 1): ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. ” Pada dasarnya Surat Alqadr bukan surah yang turun beriringan dengan Surat Al’alaq, surat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
Mayoritas (jumhur) ulama menyatakan bahwa surat itu urutan ke duapuluh lima. Namun sebagian ulama lain berpendapat surat pertama yang turun saat Rasulullah hijrah ke Madinah.
Tetapi dalam urutan penyusunan Alquran surat Alqadr diletakkan berurutan dengan Surah Alíalaq. Alíalaq menempati urutan ke 96, dan Alqadr menempati urutan ke 97. Demikian ini untuk memberi kejelasan bahwa pembahasan dalam Surah Alqadr yg berkenaan dengan malam mulia di mana Alquran untuk pertama kali diturunkan. 
Dalam Alquran Lailatulkadar ini diberi penjelasan dengan sejumlah keistimewaan: pertama dia adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan QS Alqadr [97]: 0 3; Kedua, dia adalah malam yang diberkati (mubarakah). QS Addukhon [44]: 03; Ketiga dia adalah malam diputuskannya segala urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar dari sisi Allah swt. QS Addukhon [44]:04;
Ke empat ia adalah malam di mana para malaikat, dipimpin oleh malaikat Jibril, turun ke bumi atas izin Tuhannya, dengan membawa segala urusan yang besar (pahala-pahala ibadah di malam itu). QS.Alqadr [97]: 04; Ke Kelima ia adalah malam penuh kedamaian hingga terbit fajar. QS. Alqadr [97]: 05.
Di sini perlu disampaikan bahwa bacaan yang paling pas adalah Lailatulkadar seperti bacaan dalam Surah Alqadr, bukan Lailatul Qadar sebagaimana lazim dalam ucapan kita sehari-hari. ”Qadr”memiliki makna kemuliaan dan kemurahan (syaraf wa fadhl), diambil dari kata fulaan dzuu qadrin adzÓmin, seseorang yang berkedudukan mulia. Sementara ”qadar” adalah putusan, seperti dalam rangkaian kata ”qadh‚`-qadar”.
Pemaknaan ini sejalan dengan penjelasan dalam ayat lain dalam Surah Addukhon, QS .[44]: 03: ”sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”. Namun penggunaan kalimat Lailatul Qadar, yakni malam keputusan, tidak sepenuhnya salah, karena pada malam itu Allah memutuskan segala urusan yang penting di sisi-Nya, sebagaimana dalam QS. Addukh‚n/ [44]: 04.
Dua kalimat ini, qadr dan qadar, mengantarkan kita pada pengertian bahwa ibadah di malam itu sangat penting bukan saja karena kemuliaannya (qadr), namun juga karena malam itu Allah SWT. menitahkan amarnya (qadar) untuk putaran satu tahun ke depan. 
Dengan beribada di malam itu seseorang berharap mendapatkan rahmat-Nya, agar semua amar keputusan yang ia terima merupakan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi dirinya di dunia dan di akhirat.
Titah amar yang tampak secara lahir tidak sesuai dengan keinginannya, akan tetapi karena penyikapan yang baik, yakni dihadapi penuh sabar dan tetap berbaik sangka (husnuzan) kepada Allah swt, Insya Allah justru akan membawa berkah tersendiri untuk kebaikan dirinya.
Kapan Lailatulkadar? Alquran tidak menjelaskan setara pasti kapan Lailatulkadar, hanya ada penjelasan bahwa Alquran diturunkan pada malam tersebut: QS. Alqadr/ ([97] : 1): ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alqur’an) pada malam kemuliaan.
” Dan pada ayat yang lain dijelaskan bahwa Alquran diturunkan pada bulan Ramadan: Lalu adakah rahasia lailatul Qadar ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ( 1 ) ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﺍﻙَ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ( 2 ) ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ ( 3 ) ﺗَﻨَﺰَّﻝُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﻭَﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺃَﻣْﺮٍ ( 4 ) ﺳَﻠَﺎﻡ ﻫِﻲَ ﺣَﺘَّﻰ ﻣَﻄْﻠَﻊِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ( 5 1 .
Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (AlQuran) pada malam kemuliaan ( Lailatul Qodr )
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat danmalaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbitfajar. Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah satu malam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia, Lailatul Qadar. 
Banyak ayat didalam Al-Quran yang menceritakan tentang barakahnya malam ini, dimana pada malam ini diturunkan Al-Quran.Banyak diantara orang menunggu kedatangan Lailatur Qadar dalam sepuluh hari terakhir. 
Tafsir Surat Al-Qadar Satu surat yang begitu signifikan menceritakan mengenai peristiwa malam tersebut ialah surahAl-Qadar yang berisi 5 ayat. Surat Al-Qadar adalah surat ke 97 menurut susunannya didalam Mushaf. 
Ada diantara ulama-ulama mengatakan bahwa surat Al-Qadar ini turun selepas hijrah Nabi saw ke Madinah.
Didalam membicarakan pentafsiran ayat, amatlah bijak jika kita mengambil penafsiran yang diambil dari Tafsir Jalalain: Kesimpulannya bahwa malam Al-Qadar itu secara sejarahnya di turunkan Al-Quran dari Lauhul Mahfuz kelangit dunia. 
Kemuliaan malam tersebut telah dikhabarkan kepada Rasulullah SAW. Bulan itu dikatakan satu bulan dengan barakah seperti 1000 bulan. Dimalam tersebut para malaikat-malaikat dan Jibril turun ke bumi dan memohon Allah mengkabulkan doa'-do'a hambanya. 
Kemuliaan malam tersebut berakhir dengan terbitnya fajar. Pentafsiran yang lebih terperinci sedikit mengenai ayat pertama surah Al-Qadar ini dapat kita lihat dari Tafsir Ibnu Katsir: AllahSWT telah mengkhabarkan sesungguhnya Ia telah menurunkan Al-Quran padamalam Lailatul Qadar. Dimana Allah berfirman,
"Sesungguhnya kami turunkannya di malam yg barakah". Inilah yang kemudian dikenal sebagai malam Al-Qadar yg berada didalam bulan Ramadan sebagaimana firmannya,"Pada bulan Ramadan yang diturunkan didalamnya Al-Quran". 
Berkata Ibnu Abbas bahwa Allah SWT telah menurunkan Al-Quran keseluruhannya (secara total) dari Lauhul Mahfuz ke Baitul 'Izzah dari langit dunia kemudian ia diturunkan secara berpisah dan berperingkat selama 23 tahun keatas Nabi SAW, kemudian firman Allah beliau memuliakan Lailatul Qadar dimana Allah SWT telah mengizinkan penurunan Al-Quran. 
Penamaan Lailatul Qadar ada dua faktor kenapa malam ini disebut Lailtul qodar, Faktor pertama: adalah karna malam Lailtul qodar merupakan malam yang agung derajatnya, disebut agung adalah karana beberapa sebab: 
Sebab pertama; karna pada malam ini ALLAH S.W.T menurunkan Al Quran secara keseluruhan di Baitul 'izzah dilangit dunia sebelum diturunkan secara terpisah-pisah, hal ini sebagaimana di sebutkan dalam Q.S Al Baqoroh: 185 "bulan ramadhan yang telah diturunkan didalamnya alquran sebagai petunjuk bagi manusia",
Kemudian merujuk pada Q.S Al Qodr: 1 ," dan KAMI telah turunkan AL Quran pada malam Lailtul qodar".
Bahkan Allah swt menyebutnya "malam barokah"sebagaimana dalam QS. Al Dukhon: 3 "Kami telah turnkan alQuran pada malam barakah". 
Sebab Kedua; karna pada malam ini lebih utama dari seribu bulan, makna seribu adalah ibarat dari keagungan bulan ini dengan maksud "mubalghoh" sedangkan bilangan tidak bermafhum, dan menurut qoul yang mu'tamad makna seribu adalah hakiki dengan demikina malam lailatul qodar adalah malam yang lebih utama dari seribu bulan yang tidak ada didalamnya lailatul qodar. 
Sebab Ketiga; adalah karena malam lailatul qodar merupakan malam turunnya malikat dan ruh, QS. Al Qodr: 4, disebut Ruh adalah jibril a.s dan menurut qoul yang lain adalah malaikat yng hanya tapak pd malam itu. 
Sebab Keempat; karna malam ini adalah malam "salam" QS.al Qodr: 5, disebut salam adalah karena setan tiada mampu membuat kerusuhan pada malam ini, hingga malam ini dipenuhi kebaikan sampai terbitnya fajar.
Faktor kedua: adalah karna pada malam ini di pastikannya "kullu amrin hakim" yaitu ditentukannya rizqi manusia, ajal dan kematian manusia, hujan dan kemarau hingga haji dan tidaknya manusia. Sebagaimana ALLAH S.W.T berfirman dalam QS.al Dukhon: 4 
 "Didalamnya(Lailtul qodar) di realisasikan setiap perkara yang telah di putuskan", sebagian mufassirin memang mengatakan: bahwa yang di maksud ayat ini adalah malam ishfu sya'ban, namun hal ini sangat keliru sbagai mana yang dijelaskan imam nawawi dalam al majmu'. 
Malam Lailatul Qadar special bagi umat Nabi Muhammad SAW Ummat MUHAMMAD saw adalah umat yang memang khusus mendapat malam lailatul qodar dengan makna bahwa ummat sebelumnnya tidak mendapatkan lailatul qodar, hal ini sesuai dengan Qoul shahih dari jumhur Ulama. 
Sesuai dengan asbabu nuzul bahwa ketika Rasul saw berisra' dan mi'raj Allah swt memerintahkan semua Nabi dan Rasul a.s beserta ummatnya bekumpul di masjidil aqsho, maka Rasul saw melihat diantara mereka ada yang sujud, ada yang ruku', dan Rasul s.a.w melihat ada yang punya pengikut seratus, seribu dan ada yang lebih banyak atau sedikit, maka ketika pandangan Rasul saw bertemu dengan ummat yang sngat banyak, sedang umur mereka daiatara 300-900 tahun, Rasul bertanya: " ummat siapakah ini?? 
Dikatakan: "inilah ummat Musa as Rasul saw bertanya: "lalu dimanakah ummatKu??? Lalu ditunjukkanlah ummat yang jauh lebih banyak, dan ketika umur mereka hanya berkisar 63-100 tahun maka Rasul saw mengeluh dan gundah, ummatNya saw tidak bisa menyamai ibadahnya ummat Nabi Musa as. 
Lalu Allah swt menberikan 'lailatul qodr' yang lebih utama dari seribu bulan, dengan arti: jika ummat Muhammad saw dapat menemuinya dalam tiap tahun maka seolah2 dia telah beribadah selama 83,34 tahun dan jika dia berumur 63 tahun maka seolah2 dia telah beribadah selama 4000 tahun jika baligh di umur 25 tahun. 
Keistimewaan Lailatul Qadar merujuk kepada surah Al-Qadar didalam membicarakan persoalan keistimewaan Lailatul Qadar, : "Allah telah memuliakan Al-Quran dimalam ini, dan ditambahnya dengan maqam yang mulia, yaitu kedudukan dan kemuliaannya yang sangat banyak dari kebaikan dan kelebihan dari 1000 bulan.ketaatan dan ibadah didalamnya menyerupai 1000 bulan yang bukan Lailatul Qadar. 1000 bulan ini menyamai 83 tahun 4 bulan. 
Hanya di satu malam ini lebih baik dari umur seseorang yang menghampiri 100 tahun, jika tambah berapa tahun beliau baligh dan dipertanggung jawabkan". Dan pada malam itu turunnya malaikat-malaikat dengan rahmat Allah dengan kesejahteraan dan barakahnya. Dan kesejahteraanya melimpah sehingga ke terbit fajar. banyak hadist-hadist yang menyebutkan mengenai keutamaan Lailatul Qadar ini. Yang banyak dianjurkan untuk mencarinya pada 10 malam terakhir. 
Dalam Sahih Bukhari dari Hadis Abu Hurarirah,dikatakan "Barangsiapa yang berqiam dimalam Al-Qadar dengan penuh keimanan dan bersungguh-sungguh maka telah diampunkannya apa yang telah lalu dari dosanya". (Riwayat Bukhari didalam Kitab Al-Saum). 
Rasulullah SAW telah memberi penjelasan kepada siapa yang lalai dan tidak memperhatikan malam tersebut, yaitu sama seperti menghalang diirinya dari menerima kebaikannya dan ganjarannya. Berkata para sahabat "Sesungguhnya bulan ini telah hadir kepada kamu didalamnya mengandung malam yang lebih baik dari 1000bulan. 
Siapa yang memuliakannya maka beliau akan dimuliakan kebaikan semua perkara. Dan siapa yang tidak memuliakannya maka kebaikannya akan dihalang". (Riwayat Ibnu Majah dari Hadis Anas, isnad Hassan sebagaimana didalam Sahih Jaami' Al-Saghir). 
Tanda-tanda Lailatul Qadar Nabi Muhammad Saw juga pernah mengkhabarkan kepada kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tanda lailatul qadar, yaitu: 1. Udara dan suasana pagi yang tenang Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: 
“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist Hasan) Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul Qodar, tidak berhembus kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur. 
Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya Aku melihat Lailatul-Qodar kemudian dilupakannya, Lailatul-Qodar turun pada 10 akhir (bulan Romadlon) yaitu malam yang terang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan”. (HR. Ibnu Khuzaimah no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan dishohihkan oleh keduanya). 
Kemudian, hadits dari shohabat ‘Ubadah bin Shomit sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya alamat Lailatul-Qodar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang, tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. 
Haram bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus, tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam purnama, haram bagi syaithon keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu”. (HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh) 
2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim) 
3. Terkadang terbawa dalam mimpi Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum.
4. Bulan nampak separuh bulatan Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata, “Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim) 
5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan) Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: 
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan) 
6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad at-Thusi al-Ghazali yang dikenal dengan sebutan Imam Al-Ghazali, beliau memberikan jawaban yang jelas dan gamblang, bahwa sebenarnya Lailatul Qadr dapat diketahui dari hari awal bulan puasa Ramadhan itu di mulai. 
Kemudian beliau menuturkan : “Jika awal bulan Ramadhan dimulai hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadr jatuh pada malam 29 Ramadhan. 
Jika awal bulan Ramadhan hari Senin, maka ia jatuh pada malam 21 Ramadhan. Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jum’at, maka ia jatuh pada malam 27 Ramadhan, dan jika awal Ramadhan hari Kamis maka ia jatuh pada malam 25 Ramadhan dan jika awal Ramadhan hari Sabtu maka ia jatuh pada malam 23 Ramadhan”.(Hasyiah Jamal Ala Syarkhil Minhaj, Juz II, hal. 357). 
Mengapa Lailatul Qadar disembunyikan ? Ada beberapa kemungkinan jawaban, sebagaimana terpapar dalam Tafsir Ar-Razi. Yang menarik diantara kemungkinan-kemungkinan itu adalah sebagai berikut. Yakni bahwa Allah menyembunyikan Lailatul Qadar agar hambaNya tak bertambah-tambah dosa. Karena, jika Allah memberitahukan kapan Lailatul Qadar, maka kalau seorang hamba melakukan ketaatan di malam itu, akan dilipatgandakan seperti pahala ketaatan 1000 bulan. 
Maka, sebagaimana pula ketaatan, kemaksiatan pun akan dilipatgandakan dosanya. Allah tahu bahwa sebagian hambaNya, jika diberitahu kapan Lailatul Qadar pun, akan tetap berbuat maksiat. Berlipatgandanya dosa ini tak akan terjadi jika si hamba tak tahu bahwa malam itu (yakni malam di mana ia berbuat maksiat) adalah malam Lailatul Qadar. Selaras dengan kasih sayang Allah seperti ini, adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah. 
Diriwayatkan bahwa Rasullah shallallahu alaihi wa sallam masuk masjid, lalu melihat orang yang sedang tidur. Lalu beliau berkata pada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, bangunkan dia agar segera berwudlu!”. Ali menjawab, 
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda gemar berlomba berbuat kebaikan. Mengapa tak Anda bangunkan sendiri?” Nabi pun menjelaskan, “Karena penolakan dia atasmu (saat kau bangunkan) bukanlah kekafiran. Aku lakukan itu (yakni tak membangunkan sendiri, tapi menyuruh Ali), agar dosanya ringan jika dia melakukan penolakan”. 
Demikianlah, jika semacam inilah kasih sayang Rasul, maka begitu juga kasih sayang Allah. Seakan Allah berkata: “Jika kamu tahu Lailatul Qadar, dan kamu melakukan ketaatan di waktu itu, maka kamu akan mendapatkan pahala 100 bulan. Dan jika kamu melakukan kemaksiatan, maka kamu akan dapatkan siksa 1000 bulan. Dan, menolak siksa lebih utama daripada menarik pahala” 
* Tafsir Al-Fakhr ar-Razi Disunahkan bagi orang yang melihat lailatul Qodr untuk merahasiakannya.Termasuk tanda-tanda lailatul qodr adalah; bahwa malam itu adalah malam yang sedang-sedang saja. Tidak panas dan juga tidak dingin dan matahari dipagi harinya terbit dengan sinar putih dan tidak terlalu sinarnya (agak redup). 
Lailatul Qodr ini hanya dalam waktu sangat singkat, sepeti sambaran kilat saja, namun demikian menjadikan seluruh malam mendapatkan keutamaan. Selain itu para malaikat bolak-balik naik turun membawa rohmat Allah dengan mendatangi hajat hamba-hambanya di bumi. 
Dan pada seluruh malam itu, Allah pun menampakkan diri (rahmatnya) , pada seluruh malam itu tidak seperti malam-malam selain Lailatul Qodr –dimana Allah hanya menampakkan diri pada sepertiga malam saja-Disunahkan menghidupkan sepuluh malam terakhir dari bulan Romadlon dengan berbagai bentuk ibadah, supaya ia bisa menemui Lailatul Qodr. 
Lailatul Qodr adalah malam dimana keajaiban-keajaiban dari kerajaan langit "nampak" pada malam itu. Manusiapun pengalaman "kasyf" nya berbeda-beda
Sesudah disyariatkannya ibadah shaum, dan agar umat Islam dapat merealisasikan nilai taqwa, Allah SWT melengkapi nikmat-Nya dengan memberikan adanya "Lailat al qodr". Allah berfirman : " Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada " Lailat al qodr". Tahukah kalian apakah " Lailat al qodr" ?. Itulah malam yang lebih utama dari pada seribu bulan" (QS. Al Qodr : 1-3) 
Keutamaan Lailat al Qodr Ayat yang dikutip di atas jelas menunjukkan nilai utama dari " Lailat al qodr". Mengomentari ayat di atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur'an, dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat al qodr sendiri). 
Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah mengkaruniakan " Lailat al qodr" untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya. Sementara berkenaan dengan ayat 4 surat al qodr, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailat al qodr, para malaikat turun kebumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al lail, atau melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka. 
Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari para hambaNya yang bertaubat. Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan , 
"barangsiapa melakukan qiyam (shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman serta semata-mata mencari keridloan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya". Demikian banyaknya keutamaan lailat al qodr, sehingga Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya :
" Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ' Lailat al qodr', karena lailat al qodr lebih utama dari (amalan) seribu bulan". 
Hukum "Menggapai" Lailat al Qodr. Memperhatikan pada arahan (taujih) Rasulullah SAW, serta contoh yang beliau tampilkan dalam upaya "menggapai" lailat al qodr, dalam hal ini misalnya Umar pernah menyampaikan sabda Rasulullah SAW : 
" Barangsiapa mencari lailat al qodr, hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh" (HR. Ahmad). Maka para ulama' berkesimpulan bahwa berupaya menggapai lailat al qodr hukumnya sunnah. IV. Kapankah terjadinya Lailat al Qodr Sesuai dengan firman Allah pada awal surat Al Qodr, serta pada ayat 185 surat Al Baqoroh, dan hadits Rasulullah SAW. 
Maka para ulama' bersepakat bahwa " Lailat al qodr" terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, dan Abu Hurairah, lailat al qodr bukannya sekali terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, malainkan ia terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai terjadinya hari qiyamat. 
Adapun tentang penentuan kapan persis terjadinya lailat al qodr, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut.
Sebagaimana tersebut dibawah ini : 1.Lailat al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Al Qur'an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh). 
2.Lailat al qodr terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW: "Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan" (HR. Bukhori, Muslim dan Baihaqi) 
3.Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim. 
4.Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.
5.Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan.
Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR. Thabroni dan Baihaqi). 
6.Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya lailat al qodr, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkan lailat al qodr pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. 
Tanda-tanda terjadinya Lailat al qodr Seperti diriwayatkan Oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: " Pada saat terjadinya lailat al qodr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan". 
Apa yang perlu dilakukan pada lailat al qodr dan agar dapat menggapai lailat al qodr 1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW. 
2. Melakukan i'tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
3. Melakukan qiyamu al lail berjama'ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra. 
4. Memperbanyak do'a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal : "Allahumma innaka 'afuwun tuhibul afwa fa'fu 'anni". Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya : ' wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat al qodr, apa yang mesti aku ucapkan"? (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi) 
Menggapai " Lailat al qodr" bagi Muslimah Sebagaimana tersirat dari dialog Rasulullah SAW dengan Aisyah, istri beliau itu, maka mudah disimpulkan bahwa kaum muslimah-pun disyari'atkan dan diperbolehkan menggapai lailat al qodr . 
Dengan melakukan maksimalisasi ibadah yang memang diperbolehkan untuk dilakukan seorang muslimah. VIII. Khotimah Demikian panduan ringkas ini, mudah-mudahan pada bulan Ramadhan tahun ini Allah memperkenankan kita meraih " Lailat al qodr", malam yang utama dari 1000 bulan alias 83 tahun itu. Aamiin... Aamiin.... Yaa Robbal’alamin...
Demikianlah pembahasan mengenai malam Lailatul Qadar Semoga saja Ada Guna Serta Manfaatnya Bagi Kita Semua Aamiin...”Wassalam,~ Ttd : Nursajati Purnama Alam

Jumat, 21 Juni 2013

"MALAM NISHFU SYA’BAN .~


  Oleh Nurassajati Purnama Alam

~ Bismillahir-Rahmannir-Rahim.~


  ~MALAM NISHFU SYA’BAN .~~


~~Artikel ini Agak Panjang , sengaja di tayangkan sekaligus.~~


Nishfu Sya'ban berasal dari bahasa Arab. Kata ’Nishfu’ yang berarti; setengah, seperdua, separuh, pertengahan. Sedangkan kata ‘Sya'ban’ adalah nama bulan ke-8 dalam tahun Hijriyah. Dengan demikian Nishfu Sya'ban berarti Pertengahan Bulan Sya'ban.


Bulan Sya’ban sendiri berasal dari kata ’syi’ab’ yang artinya ‘berjalan di atas gunung’. Dalam menghidupkan bulan penuh Maghfirah dan penuh Syafa’at.

Artikel ini, sengaja bagikan. Dengan harapan semoga, melalui tulisan ini, kita boleh mendapatkan pertambahan ilmu agama dan lebih menambah kemuhasabahan kita masing-masing.


Tulisan ini qu bagi menjadi 7 bagian, yaitu: A. PERISTIWA BULAN SYA’BAN B. BULAN TERLUPAKAN C. MALAM NISHFU SYA’BAN D. KELEBIHAN MALAM NISHFU SYA’BAN E. FADHILAH MALAM NISHFU SYA’BAN F. IBADAH UMUM BULAN SYA’BAN G. IBADAH AFDHAL BULAN SYA’BAN A. PERISTIWA BULAN SYA’BAN


Saudaraku sebelum qt membahas tentang Malam Nishfu Sya’ban, baiknya qt melihat dahulu, peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya’ban:


1. Ibnul Hajar ra. berkata, "Dinamakan Sya'ban karena kesibukan mereka mencari air atau sumur setelah berlalunya bulan Rajab yang mulia, dan dikatakan juga selain itu”. (al-Fath: 4/251)


2. Ibnu Abiy as-Shaif al-Yamaniy sa. berkata, “Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan shalawat kepada Nabi Muhammad saw., karena ayat Innallaaha wa malaaikatahuu yushalluuna ‘alan Nabiy … diturunkan pada bulan itu”. (Kitab al-Fawaaidul Mukhtaaroh)


3. Pada malam Nishfu Sya’ban, Allah SWT mengubah arah kiblat dari Masjidil Aqsha di Darussalam (Yerusalem), ke Ka'bah, di Mekkah. Abu Hatim al Bistiy rhm. berkata, ”Kaum muslimin telah melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari, sebelum perubahan arah kiblat.


Lalu Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk menghadap ke arah Ka’bah pada hari Tsalasa di pertengahan bulan Sya’ban". (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an jilid I hal 554)


B. BULAN TERLUPAKAN Sayangnya banyak dari kaum Muslim sepertinya kurang memperhatikan bulan penuh Maghfirah dan Syafa'at ini.


Padahal bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan Ramadhan. Dimana pada bulan ini seorang umat Muslim yang Mu’min baiknya mempersiapkan diri dengan;


1. Keimanan yang mantap. 2. Keadaan mendapatkan syafa’at. 3. Mendapat jaminan dan pembebasan dari siksaan api neraka. Ke-3 hal tersebut Allah siapkan untuk kita didalam bulan Sya’ban.


Namun sebenarnya mengenai hal ini, jauh sebelumnya, Rasulullah saw. telah memprediksinya,


1. “Bulan Sya’ban adalah bulan dimana manusia mulai lalai, yaitu diantara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam…” (HR. Al Nasa’i, di-hasan-kan oleh Syaikh Al Albani, dari Usamah bin Zaid ra.)


2. “Bulan Sya’ban sering dilupakan orang, karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan yang dilaporkan langsung kepada Rabbil ‘Alamin.” (HR. Ahmad dan Nasai – Sunnah Abu Dawud)


C. MALAM NISHFU SYA’BAN Didalam beberapa hadits, Rasulullah saw. telah bersabda seputar malam Nishfu Sya’ban, yang antara lain:


1. “...Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Allah mengawasi hambanya pada malam ini, Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberikan kasih sayang kepada mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki.” (HR. Baihaqi, dari ’Aisyah ra.) .

2. “Allah mengawasi dan memandang hamba-hamba Nya di malam Nishfu Sya’ban, lalu mengampuni dosa-dosa mereka semuanya kecuali mereka yang musyrik dan orang yang pemarah pada sesama muslimin.” (HSR. Ibnu Hibban, hadits no.5755)


3. "Dimalam Nishfu Sya'ban, hidupkanlah dengan shalat dan berpuasalah pada siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda,


’Barang siapa yang meminta ampunan akan Aku ampuni, barang siapa yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, dan barang siapa yang mendapatkan cobaan maka akan aku bebaskan, hingga fajar menyingsing." (HR. Ibnu Majah, dari Ali bin Abi Thalib kw.)


4. “... Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menurunkan MalaikatNya pada malam Nishfu Sya'ban ke langit dunia, lalu Allah mengampunkan dosa-dosa hambaNya, lebih banyak daripada bilangan bulu-bulu yang terdapat pada domba-domba peliharaan (bani) Kalb." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad, dari ‘Aisyah ra.)


D. KELEBIHAN MALAM NISHFU SYA’BAN Adapun kelebihan malam Nishfu Sya’ban, dimata para auliya adalah sebagai berikut;


1. Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailaniy rhm. berkata, “Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling mulia setelah Lailatul Qadr”. (Kalaam Habiib ‘Alwiy bin Syahaab)


2. Imam al-Ghazali rhm. mengistilahkan, “Malam Nisfu Sya’ban sebagai malam Syafa’at (Pertolongan), dimana pada malam;


a. ke-13, Allah memberikan sepertiga syafa’at kepada hambanya. b. ke-14, seluruh syafa’at itu diberikan secara penuh. c. ke-15, umat Mu’min telah sempurna mendapatkan syafa’at sebagai penutup catatan amal ibadahnya selama satu tahun”.


Dalam (Kitab Ihya' Ulumuddin) 3. Para ulama menyatakan, “Malam Nishfu Sya’ban adalah malam Maghfirah (Pengampunan), karena pada malam itu Allah menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang shalih”.


E. FADHILAH MALAM NISHFU SYA’BAN Sedangkan manfa’at ibadah malam Nishfu Sya’ban adalah:


1. PENGAMPUNAN DOSA a. Malaikat Jibril as. berkata, ”Di malam Nishfu Sya’ban ini dibukakan 300 pintu rahmat.


Allah mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yg terus menerus minum khamar (arak atau minuman keras), terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturahim.


Allah tidak mengampuni mereka sampai mereka taubat dan meninggalkan kejahatan mereka itu .” (HR. Abu Hurairah)


b. "Allah memandang pada kesemua makhluk ciptaanNya pada malam Nishfu Sya'ban, lalu Allah mengampunkan dosa-dosa kesemua makhlukNya, kecuali dosa orang musyrik (yang menyekutukan Allah) dan dosa orang yang bermusuhan." (HR. Al-Thabrani dan disahihkan oleh Ibnu Hibban hadits no.5755, dari Mu'adz bin Jabal ra.)


c. “Sesungguhnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, dari Abu Musa Al-Asy’ari ra.)


d. “Sungguh Allah turun ke langit bumi di malam nishfu Sya’ban dan mengampuni dosa dosa hamba Nya sebanyak lebih dari jumlah bulu anjing dan domba.” (Musnad Imam Ahmad hadits no.24825, dari 'Aisyah ra.)


e. Al-Imam As-Subkhiy rhm. berkata, “Malam Jum’at menghapus dosa seminggu, Malam Nishfu Sya’ban menghapus dosa setahun dan Lailatul Qadr menghapus dosa seumur hidup”.


2. SYAFA’AT (PERTOLONGAN) ALLAH Imam al-Ghazali rhm. Mengistilahkan, “Malam Nisfu Sya’ban sebagai malam Syafa’at (Pertolongan), dimana pada malam;


a. ke-13, Allah memberikan sepertiga syafa’at kepada hambanya. b. ke-14, seluruh syafa’at itu diberikan secara penuh. c. ke-15, umat Mu’min telah sempurna mendapatkan syafa’at sebagai penutup catatan amal ibadahnya selama satu tahun”.


Dalam (Kitab Ihya' Ulumuddin) 3. BEBAS DARI API NERAKA “Pernah Rasulullah memanggil istrinya, ‘Aisyah ra. dan memberitahukan tentang Nishfu Sya’ban, ‘Wahai Humairah, apa yang akan engkau perbuat pada malam ini?


Malam ini adalah malam di mana Allah yang Maha Agung memberikan pembebasan dari api neraka bagi semua hambanya, kecuali sembilan kelompok manusia’ (tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yang terus menerus minum khamar, orang yang terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak, orang yang suka mengadu domba dan orang yang memutuskan silaturahim).” (HR. Ibnu Ishak, dari Anas bin Malik ra.)


F. IBADAH UMUM BULAN SYA’BAN Berikut ini adalah bentuk ibadah umum bulan Sya’ban,


1. PUASA a. “... Bulan Sya’ban adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amat suka saat amalanku dinaikkan aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Al Nasa’i, di-hasan-kan oleh Syaikh Al Albani, dari Usamah bin Zaid ra.)


b. “... Di bulan Sya’ban, diangkat amalan-amalan (dan dilaporkan) kepada Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa.” (HR. Ahmad dan Nasa'i – Sunnah Abu Dawud)


c. ‘Aisyah ra. berkata, ”Lam yakunin Nabiyi sha mim yashumu aksara min Sya’baana finnahu kaana yashumuhu kulluhu kaana yashumuhu illa qalilan.” Nabi Muhammad saw. paling banyak berpuasa pada bulan Sya’ban. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)


d. ‘Aisyah ra. berkata, “Rasulullah biasa berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain daripada bulan Ramadhan adalah di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969, no. 1970 dan Muslim no. 1156)


2. SHALAT a. "Dimalam Nishfu Sya'ban, hidupkanlah dengan shalat dan berpuasalah pada siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu..." (HR. Ibnu Majah, dari Ali bin Abi Thalib kw.)


b. "Apabila tiba malam Nishfu Sya'ban maka berdirilah shalat pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya." (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya no. 1388, dari Usamah bin Zaid ra., dari Ali bin Abi Thalib kw.)


c. Ali bin Abi Thalib kw. setelah kemuslimannya, meluangkan waktunya untuk beribadah pada 4 malam dalam setahun, yakni; malam pertama bulan Rajab, malam 2 hari raya, dan malam Nishfu Sya’ban. (Manhajus Sawiy dan Tadzkiirun Nas)


3. DO’A Imam Syafii rhm. berkata, “Du’a mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam Jum'at, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab, dan malam Nishfu Sya’ban”. (Sunan Al Kubra Imam Baihaqi juz 3 hal 319)


4. SHALAWAT

Ibnu Abiy as-Shoif al-Yamaniy sa. berkata, “Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan shalawat kepada Nabi Muhammad saw., karena ayat Innallaaha wa malaaikatahuu yushalluuna ‘alan Nabiy … diturunkan pada bulan itu”. (Kitab al-Fawaaidul Mukhtaaroh)


G. IBADAH AFDHAL BULAN SYA’BAN 1. PUASA Puasa tiga hari pada Ayyamul Bidh, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 bulan Sya’ban.


2. SHALAT MALAM NISHFU SYA’BAN a. WAKTU PELAKSANAAN SHALAT - Sekitar tanggal 13 – 17 Sya’ban.


Untuk tahun ini jatuh pada tanggal 22 – 26 JUNI 2013. - Setelah melaksanakan shalat fardhu Maghrib. Al-Imam An-Nawawi rhm., seorang ahli fiqih kondang bermazhab Syafi'i, ”Tidak mengapa bila kita melakukan shalat sunnah di malam Nishfu Sya'ban antara Maghrib dan Isya' demi untuk ber'taqarrub' kepada Allah. Karena hal itu termasuk kebaikan”.


b. SHALAT ALFIYAH Setelah melaksanakan shalat fardhu Maghrib, lanjutkan dengan shalat sunnah Nishfu Sya’ban.


Dapat dilakukan secara berjamaah. Dianjurkan shalat sunnah Alfiyah (artinya 1000). Shalat ini dinamakan Alfiyah karena di dalam shalat tersebut dibacakan surat Al-Ikhlas sebanyak 1000 kali.


Sebagaimana sabda Rasulullah, “Hubbuka iyyahaa adkhalakal Jannah”. Cintamu pada surat Al-Ikhlas itulah yang akan membuatmu masuk syurga. (HSR. Imam Bukhari)


c. MEMBACA SURATUL YASIIN 3X Dapat dilakukan secara berjamaah dengan niat, semoga; - ditetapkan imannya. - diberi kesehatan. - diberi rizqi yang lancar dan barakah.


d. MEMBACA DO’A NISHFU SYA’BAN BIMILLAAHIRRAHMANNIRRAHIIM, ALLAAHUMMA YAA DZAL MANNI WALAA YUMANNU ‘ALAIKA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM, YAA DZATH THAULI WALIN’AAM, LAA ILAAHA ILLAA ANTA, DHAHRUL LAAJIIN, WA JAARUL MUSTAJIIRIIN, WA AMAANUL KHAA IFIIN.


ALLAAHUMMA IN KUNTA KATABTA NII ‘INDAKA FII UMMIL KITAABI SYAQIYYAN AW MAHRUUMAN AW MATHRUUDAN AW MUQTARRAN ‘ALAYYA FIR RIZQI, FAMHULLAA HUMMA BI FADLLIKA SYAQAAWATII WA HIRMAANII WA THARDII WAQ TITAARI RIZQII WA ATS-BITNII INDAKA FII UMMIL KITAABI SA’IIDAN MARZUUQAN MUWAFFAQALLIL KHAIRAAT. FA INNAKA QULTA WA QAULUKAL HAQQU FII KITAABIKAL MUNAZZALI ‘ALAA NABIYYIKAL MURSALI, YAMHUL.


ALLAAHUMAA YASYAA U WA YUTSBITU WA ‘INDAHUU UMMUL KITAAB. ILAAHII BITTAJALLIL AA’DHAMI FII LAILATIN NISHFI MIN SYAHRI SYA’BAANIL MUKARRAMIL LATII YUFRAQU FIIHAA KULLU AMRIN HAKIIM WA YUBRAM, ISHRIF ‘ANNII MINAL BALAA I MAA A’LAMU WA MAA LAA A’LAM WA ANTA ‘ALLAAMUL GHUYUUBI. BIRAHMATIKA YAA ARHAMAR RAAHIMIIN. AMIN YA ALLAAH YA RABBAL 'ALAAMIN


Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang, Ya Allah Tuhanku Pemilik Ni'mat, tiada ada yang bisa memberi ni'mat atasMu. Ya Allah Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.


Ya Allah Tuhanku Pemilik Kekayaan dan Pemberi Ni'mat. Tidak ada yang patut disembah hanya Engkau. Engkaulah tempat bersandar. Engkaulah tempat berlindung dan padaMu-lah tempat yang aman bagi orang-orang yang ketakutan.


Ya Allah Tuhanku, jika sekiranya Engkau telah menulis dalam buku besarMu bahwa adalah orang yang tidak bebahagia atau orang yang sangat terbatas mendapat ni'matMu, orang yang dijauhkan daripadaMu atau orang yang disempitkan dalam mendapat rizqi, maka aku memohon dengan karuniaMu, semoga kiranya Engkau pindahkan aku kedalam golongan orang-orang yang berbahagia, mendapat keluasan rizqi serta diberi petunjuk kepada kebajikan. Sesungguhnya Engkau telah berkata dalam kitabMu yang telah diturunkan kepada RasulMu, dan perkataanMu adalah benar, yang berbunyi:


'Allah mengubah dan menetapkan apa-apa yang dikehendakiNya dan padaNya sumber kitab.'


Ya Allah, dengan tajalliMu Yang Maha Besar pada malam Nishfu Sya’ban yang mulia ini, Engkau tetapkan dan Engkau ubah sesuatunya, maka aku memohon semoga kiranya aku dijauhkan dari bala bencana, baik yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui, Engkaulah Yang Maha mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Dan aku selalu mengharap limpahan rahmatMu, ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih. Amin Ya Allah Ya Rabbal ‘Alaamin.”


e. PERBANYAK DZIKR, SHALAWAT DAN ISTIGHFAR.WALLAAHU TA’AALAA A’LAM BISH SHAWAAB DAFTAR PUSTAKA


1. Fatwa Fadhilah Mufti Mesir Prof. Dr Ali Jum'ah, terjemahan Ibnu Juhan Al-Tantawi. 2. Majalah Mimbar Al-Islam, keluaran tahun ke-(68), bil (8) Sya'ban 1430, m/s 136.

3. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. oleh :Nizla Fatimah Mantiri.


Demikialah yang dapat aku haturkan semoga bermanfaat dan Anda menyukainya. Silahkan tulis komentar

Rabu, 27 Februari 2013

· SIFAT ORANG-ORANG YG CERDAS


Bismillahir-Rahmanir-Rahim 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Saudaraku..."
Menurut Islam sifat orang yg cerdas itu ada; 7, yaitu :

1) Setiap melakukan sesuatu,
di awali dengan mengucap Basmallah

2) Apabila mengakhiri suatu
perbuatan mengucapkan hamdallah
3) Jika terlanjur ber buat jelek,
buruk mengucapkan Astaghfirullah

4) Jika berjanji, mengucapkan
Insya'Allah

5) Bila diberi musibah mengucap
Innalillahi

6) Diberi cobaan yang tidak
mampu, membaca lahaowla walakuata
illabilah

7) Lisannya selalu ber dzikir dan mengucapkan hasbunnallah

Selain itu dia pun menyadari bahwa dirinya adalah seorang khalifah fil’ard

Ketika manusia menyadari akan dirinya sebagai Kalifah fil’ard dan sebagai Waliyullah manusia tentunya akan saling menghormati dan saling menghargai dan tidak saling cakar apalagi korufsi. 

Kalifah, artinya adalah pemimpin yang amanah ...”

Dan jika ia menjadi hamba Allah maka takutlah terhadap-Nya karena azab Allah yang amatlah pedih, terhadap sesama manusia mereka saling menghormati dan menghargai meskipun terhadap seorang 'abid atau hamba sahaya

Karena masing-masing punya hak tanggung jawab dan kewajiban...

Untuk itu maka "BelajarLah Untuk Menghargai, begitu pun ter hadap apa yg Kamu Miliki...Karena semua yg Kau Miliki itu adalah Anugrah dari Allah swt. Yg ke semuaNya Akan Dimintai Pertanggung jawabannya Dimahkamah Allah Swt..

Sedangkan dalam belajar itu kita harus berpikir sebab bila belajar tanpa berfikir tidak ada gunanya, berfikir tanpa belajar adalah berbahaya,

Dan ingatlah tidak ada suatu pekerjaan yg Sia-Sia..asalkan dilakukan dengan niat yg tulus ikhlas dari hati yg paling dalam, karena Allah...” Insya Allah Anda akan mendapatkan banyak Keberkahandi dalamnya...!

"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Asma Allah."
(Q.S. Al-Ahzab : 21)

Demikianlah Semoga bermanfaat. Aamiin...” Wassalam,-

Senin, 28 Januari 2013

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH BAGI ORANG YANG INGIN MENEMUI ALLAH


Asssalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim  

Saudaraku..."
Pada tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 Masehi yang lalu telah lahir seorang manusia yang menjadi Rahmatan Lil Alamin dan menyandang derajat keterpujian yang tidak terukur ketinggian dan kesempurnaannya serta kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia.

Manusia tersebut adalah Ahmad yang kemudian menyandang nilai-nilai Ke-Muhammad-an yang sangat tinggi sehingga beliau berhak menyandang gelar Muhammad yaitu yang sangat terpuji dan selalu dipuja dan dipuji, yang menjadi Rahmatan Lil Alamin dan Uswatun Hasanah bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta Raya ini.

Kata Muhammad apabila kita renungkan lebih dalam lagi dapat diartikan secara lahiriah maupun secara batiniah, yaitu
Pertama, Muhammad secara lahiriah adalah menunjuk kepada satu sosok seorang manusia biasa yang mempunyai sifat terpuji dan diutus oleh Allah untuk menyampaikan seruan atau ajaran Tauhid kepada seluruh umat manusia.

Katakanlah : “sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Maha Esa….” (QS Al Kahfi 18 : 110).

Sebagai manusia biasa, Muhammad merupakan prothotype manusia sempurna yang patut menjadi Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia.

Sebutan “Manusia Sempurna” sering disalahartikan oleh sebagian besar umat Islam, yakni Manusia sempurna adalah sosok manusia yang serba bisa, serba tahu, serba baik dan lain sebagainya.

Padahal jika kita kaji dan renungkan kembali hakikat dari istilah “Sempurna” itu, mempunyai unsur keseimbangan, kesepadanan, kesesuaian dan keharmonisan dalam hal apapun.

Dalam kajian Tauhid, kesempurnaan yang paling sempurna pada hakikatnya adalah Allah SWT itu sendiri. Apa yang diciptakan Allah di alam semesta ini merupakan ciptaan yang Maha Sempurna dan tidak ada yang sia-sia, sesuai dengan firman-Nya :

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah, sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang”?. (QS Al Mulk 67 : 3).

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapa orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka” (QS Shad 38 : 27).

“…Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran 3 : 191).

Saudaraku...”
Berdasarkan firman tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa apa yang terjadi dan apa yang dicipta di alam semesta ini adalah suatu kesempurnaan yang tidak sia-sia, baik sifat maupun bentuknya.

Misalnya seperti : baik-buruk, indah-jelek, terpuji-tercela, siang-malam, panas-dingin, panjang-pendek, siang-malam, pria-wanita, besar-kecil dan sebagainya.

Jadi suatu kesempurnaan adalah satu keseimbangan antara dua sifat atau unsure yang dikotomis atau bertolak belakang, sebab apabila hanya ada satu sifat saja atau ada baik saja, atau ada siang saja, atau ada dingin saja, hal itu bukanlah suatu yang dapat disebut sempurna.

Dengan dalih bahwa kita tidak akan sanggup mencapai derajat sempurna seperti Nabi Muhammad, banyak umat Islam merasa tidak perlu mencontoh semua apa yang telah diteladani oleh Nabi Muhammad SAW, terutama peristiwa Isra’ dan Mi’raj-nya beliau.  

Padahal sebagai Guru Besar bidang Tauhid Islam, beliau akan senang apabila seluruh umatnya dapat mencontoh semua teladannya., baik lahir maupun batin, bahkan beliau akan lebih senang lagi apabila ada umatnya yang dapat melebihi beliau.

Di dalam Al Qur’an telah diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah contoh yang paling baik bagi umat manusia yang menghendaki perjumpaan dengan Allah ketika kita masih hidup di atas dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah ;

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan menemui Allah dan Hari Akhir dan mengingat Allah sebanyak-banyak” (QS Al Ahzab 33 : 21).

Saudaraku...”
Sebagian ahli tafsir, banyak yang menterjemahkan ayat tersebut dengan iftiro atau menambah-nambahkan ayat tersebut dengan kata “mengharapkan rahmat Allah”, padahal bunyi sebenarnya adalah “Laqod kaana lakum fii Rasulillahi uswatu hasanatun liman kaana yaarjullohu walyaumil akhirawadzakarooloha kasyiron”.

Dalam ayat tersebut terdapat kata “yarjulloha” yang berarti mengharap Allah. Jadi bukan mengharapkan rahmat Allah atau mengharapkan ridha Allah, atau mengharapkan pahala Allah, atau mengharapkan rezeki Allah, tetapi yang benar adalah mengharapkan Allah semata.

Bahkan kalau boleh dipertegas lagi ayat tersebut bermakna : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang paling baik bai kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan menemui Allah dan hari akhir dan banyak mengingat Allah”.

Berdasarkan ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah adalah contoh yang paling baik bagi umat manusia yang ingin mengharapkan bertemu dengan Allah di dunia ini, dan juga bertemu dengan hari akhir, agar kita dapat mengingat Allah sebanyak-banyaknya. Sebab mustahil kita dapat mengingat Allah apabila kita belum pernah bertemu dan melihat Allah.

Kedua, Muhammad secara batiniah adalah suatu anasir Yang Bersifat Terpuji, yang telah dimiliki oleh setiap manusia tanpa kecuali. Tetapi yang sangat disayangkan adalah bahwa tidak semua umat manusia yang menyadari keberadaan anasir tersebut, apalagi menumbuhkannya dalam kehidupan sehari-harinya.

Sehingga tidaklah mengherankan apabila banyak orang yang mengaku umat Muhammad atau umat yang sangat terpuji, justru banyak melakukan perbuatan tercela.

Hal ini diakibatkan karena mereka belum dapat menyerap Muhammad dalam arti nilai-nilai keterpujian, di setiap aktivitas hidupnya dalam bermasyarakat. Padahal setiap harinya mereka selalu mengatakan : “Aku telah menyaksikan bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan aku telah menyaksikan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah”.

Kalimat Syahadat tersebut mempunyai makna yang sangat dalam sekali, yaitu saksinya seorang pesaksi yang menyaksikan kepada siapa dia bersaksi.

 Secara hakikat, makna simbolis dari “wa asyhadu an la Muhammad Rasulullah” adalah sebuah pengakuan bahwa setiap diri telah ditempati oleh anasir Terpuji yaitu Nur Muhammad, yang harus diimani dan diikuti sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an dan juga sabda Nabi Muhammad SAW :

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam dirimu ada Rasulullah …” (QS Al Hujurot 49 : 7).

Katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” QS Ali Imran 3 : 31).

“Muhammad itu sekali-kalilah bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup Nabi-Nabi. Dan sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segalanya” (QS Al Ahzab 33 : 40).

“Orang-orang yang telah kami beri Al Kitab, mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya” (QS Al Baqarah 2 : 146).

“Ana ahmad bi la mim, wa ana ‘arabbi bi la ‘ain, wa man roaini, innaroaitul haq” Aku ahmad tanpa huruf mim dan aku adalah ‘arabbi tanpa huruf ‘ain, barang siapa melihat aku, sesungguhnya telah melihat Sang Maha Benar”

Kesimpulan Berdasarkan (Hadits).
 “Yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT adalah Cahaya-ku, wahai Jabir (HR Ibnu jabir).
"Siapa saja yang mengatakan Muhammad Rasulullah telah mati, akan saya bunuh !" (Umar bin Khatab)

"Siapa yang menyembah Muhammad bin Abdullah, beliau telah mati. Siapa yang menyembah Wajah Allah, Dia-lah Yang Maha Abadi" (Abu Bakr Ash Shidiq)

"Dan janganlah kamu anggap mati orang-orang mati di Jalan Allah, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan diberi Rezeki" (QS 3 : 169)

"Aku adalah Ahmad tanpa huruf mim. Aku adalah 'Arabbi tanpa huruf 'ain. Barang siapa melihat aku, sesungguhnya ia telah melihat Al Haqq" (Hadits)

"Sebuah makam dan kubah dan menara kecil tidaklah menyenangkan bagi para pengikut Yang Maha Besar.

"Makammu bukanlah diperindah oleh batu, kayu dan plesteran.

Bukan, bukan itu, melainkan dengan menggali makam untuk dirimu sendiri dalam kesucian ruhani dan menguburkan egoisme dirimu dalam Egoisme-Nya.

Dan menjadi debu-Nya dan terkubur dalam Cinta-Nya, sehingga Nafas-Nya dapat memenuhi dan menghidupimu" (Jalaluddin Ar Rumi)

Demikianlah saudaraku sedikit bahasan tentang Uswatun Hasanah Baginda Nabi SAW. 

"Ya Nabi Salam 'alaika. Ya Rasul Salam 'alaika. Anta Syamsun, anta Badrun, anata Nuurun fauqo Nuurin !"

Bok:TIJAN=Titian-Jannah*~