Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

* Nikmatnya Ilmu Pengetahuan (La Tahzan)


Nikmatnya Ilmu Pengetahuan (La Tahzan)

"Dan, Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah itu sangat besar." (QS. An-Nisa:113)

Kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuhnya kehidupan dan membusuknya umur.

"Sesungguhnya, Aku mengingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (QS. Hud:46)

Sebaliknya, ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan bagi ruh dan bahan bakar bagi tabiat.

"Dan, apakah orang-orang yang mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaanya berada dalam gelap gulita yang berkali-kali tidak dapat keluar
daripadanya?" (QS. Al-An'am:122)

Kebahagiaan, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu terjadi kerana ilmu
mampu menembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang, dan menyingkap yang tersembunyi. Selain itu, naluri dari jiwa manusia itu adalah selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru dan ingin mengungkap sesuatu yang menarik.

Kebodohan itu sangat membosankan dan menyedihkan. Pasalnya, ia tidak pernah memunculkan hal yang baru dan menarik serta menyegarkan, yang kemarin seperti sama seperti hari ini, dan yang hari ini pun sama dengan hari kemaren dan hari yang akan datang yang akan terjadi esok.

Bila anda ingin senantiasa bahagia, tuntutlah ilmu, galilah pengetahuan, dan raihlah pelbagai manfaat, niscaya semua
kesedihan, kepedihan dan kecemasan itu akan sirna.

Dan, katakanlah: "Ya Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha:114)

"Bacalah dengan nama Rabb-mu Yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq:1)

"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan pandaikan ia dalam agama." (Al-Hadits)

Janganlah seseorang sombong dengan harta atau kedudukannya, kalau memang ia tak memiliki ilmu sedikitpun. Sebab,
kehidupannya tidak akan sempurna. "Adakah orang yang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu itu benar sama dengan orang yang buta." (QS. Ar-Ra'd:19)

Az-Zamakhsyari, dalam sebuah syairnya berkata: Malam-malamku untuk merajut ilmu yang bisa dipetik, menjauhi wanita elok dan harumnya leher. Aku mondar-mandir untuk menyelesaikan masalah sulit, lebih yang menggoda dan manis dari berkepit betis nan panjang. Bunyi penaku yang menari di atas kertas-kertas, lebih manis daripada berada dibelaian wanita dan kekasih. Bagiku lebih indah melemparkan pasir ke atas kertas daripada gadis-gadis yang menabuh dentum rebana. Hai orang yang berusaha mencapai kedudukanku lewat angannya, sungguh jauh jarak antara orang yang diam dan yang lain naik.

Apakah aku yang tidak tidur selama dua purnama dan engkau tidur nyenyak, setelah itu engkau ingin menyamai
derajatku.

Alangkah mulianya ilmu pengetahuan. Alangkah gembiranya jiwa seseorang yang menguasainya. Alangkah segarnya dada orang yang penuh dengannya, dan alangkah leganya perasaan orang yang menguasainya. "Maka, apakah orang yang berpegang teguh pada keterangan yang datang dari Rabb-nya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk dan mengikuti hawa nafsunya?" (QS. Muhammad:14)
««
saudaraku..
sentuhlah hati berhentilah pornografi
Laa Tahzan~!

Wassalamualaikum.

Selasa, 18 Januari 2011

* Cahaya Hati=*

Renungan Pagi =*

oleh Nurassajati Purnama Allam pada 19 Januari 2011 jam 7:47
Bismillahi rohmaanir rohiim..
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya, melainkan dari performa batiniah atau hatinya. ''Sesungguhnya, Allah tidak melihat rupa dan harta-harta kamu, tapi melihat hati dan perbuatanmu.'' (HR Muslim).

Dalam riwayat lain, Ali bin Abi Thalib r a menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, ''Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia sesungguhnya bersih atau bersinar, namun kerap tertutupi oleh
awan kemaksiatan hingga sinarnya menjadi tidak tampak.
Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita.

Bagaimana caranya?
Pertama, introspeksi diri. Introspeksi diri dalam bahasa Arab disebut muhasabatun nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.

''Hai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.'' (QS Alhasyr [59]: 18).

Kedua, perbaiki diri atau yang populer disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. ''Hai, orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ....'' (QS Attahrim [66]: 8).

Ketiga, tadabur Alquran. Menelaah isi Alquran lalu menghayati dan mengamalkannya. ''Maka, apakah mereka tidak memerhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?'' (QS Muhammad [47]: 24).

Keempat, menjaga kelangsungan amal saleh. Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah SWT. Sedangkan, kelima adalah senantiasa mengisi waktu dengan berzikir.

Tuntunan Islam, jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, akan menghadirkan hati yang tenteram, bersih, serta bersinar terang. Ibnu Abbas r a menceritakan bahwa ketika menginap di rumah Rasulullah Sallallhu 'alaihi Wasallam, ia pernah mendengar beliau mengucapkan doa berikut.

''Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya,
dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.''
(HR Muslim).Wallahu'alam Bishawab ..

Wallahi Taufiq Wal Hidayah ..Semoga bermanfaat ..Amiin Ya Rabb

Subhanaka Allahuma wa bihmdika asyhadu ala ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik....

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...

Jumat, 14 Januari 2011

* = Disela Kesibukan =*

Sahabat.
"Di sela sela kesibukan kita banyak hal-hal yang berlalu lewat dan pergi begitu saja tanpa bisa di ambil dan dijadikan pelajaran untuk mengenal akan kebesaran Allah Yang Maha Kuasa.

"Semua itu seakan tidak berarti dan berharga tapi bila di amati dan di teliti,mungkin saja itu semua akan menjadikan dirimu, sebagai pucuk kejayaan bagimu, tapi karena kelengahan dan ketidak pedulian maka akhirnya.

"Bagaikan permata yang termahal  lepas dari tangkainya hilang dan takkan kembali, karunia dan bahasa dari Tuhan-Mu pergi lepas dan tanpa anda pahami.

"Apakah yang harus di pahami,,,,,, itulah pertanyaannya,,????

"Siapakah sang Maha Di Raja dalam sekenario di kehidupan ini yang menetukan kisah anda dari semua kisah yang ada dan berbeda.

" Ternyata begitu besarnya rencana ILAHI pada kehidupan kita.Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian.

" Dan tentu sangat besar paidahnya, Sahabat-sahabat itulah jawabnya, lembar demi lembar haripun silih berganti adalah merupakan lembaran kisah mu yang bertemu dalam hidupmu baik dalam keadaan suka maupun duka.

"Dimanakah lembar kisah mu itu saat ini.............................???

Bila lembar kisah mu saat ini di rumah sakit terbaring dengan masalah besar di kesehatan maka ingatan mu akan lari pada waktu waktu yang telah berlalu, diri mu tidur di kamar yang harus terus di bayar, siapapun yang datang memeriksa mu harus di bayar, siapapun yang memberikan obat untuk mu harus di bayar, juga nafas dan jantung mu harus di bantu alat dan juga harus di bayar.

Terbaring tiada berdaya, hanya bisa meneteskan air mata, hari hari sehat telah berlalu pergi dan takkan kembali lagi  pikirkanlah dalam benak mu,,,, suaramu yang banyak parau serta gelisah di temani dengan menetesnya air mata membentuk sungai-sungai penyesalan yg sangat panjang dalam hari hari mu namun tiada arti hanya ajal yg menunggu.

teringat akan diri yang tak pandainya menjaga diri, lisan dan perbuatan justru sering di pakai untuk mencaci maki dan membicarakan keburukan orang lain.

teringat diri mu pernah memfitnah dan menuduh orang yang tidak bersalah

teringat diri mu pernah memeras uang orang di jalanan tanpa belas kasihan bahkan menjambret barang-barang orang dari atas kendaraan, padahal diantara orang tersebut pernah memohon pada mu untuk di sisakan sedikit untuk beli beras agar anak anaknya hari ini dapat makan, bahkan tanpa disadari mungkin ada diantara mereka ternya  masih keluargamu jua.

teringat diri mu pernah mengusir pengemis yang sedang sakit tiada berdaya

teringat diri mu pernah mencaci maki istri mu tanpa sebab yang jelas

teringat diri mu pernah memaki ibu mu yang sudah renta dan bersusah payah membesarkan mu

teringat diri mu pernah menodai anak gadis orang dan tak bertanggung jawab

teringat diri mu suka menipu orang dengan menjual ayat ayat suci dalam ucapan manis serta merayu

teringat diri mu pernah korupsi dan kabur dengan teganya melarikan uang rakyat

teringat diri mu mengaku ustad atau kiyai atau guru tapi kerdil dan kotor hati mu tak pernah mengamalkan ilmu

teringat diri mu sebagai penguasa tapi setiap hari senang berkhianat dan bermaksiat dengan amanat sangatnya

air matapun kini menjadi sahabat mu,,,,,

hati mu berkata kata sungguh aku telah menipu dan merusak diri ku sendiri,kisah kisah ku kelam dan penuh dengan lumpur-lumpur dosa dan nista, seperti penjahat, seperti bajingan,seperti iblis kini hatimu perih,seperti di iris seperti bukan bukan manusia lagi...

itulah suara hati mu di saat nyawamu lepas perlahan lahan meninggalkan jasad mu...

"masa masa sehat yang harus di gunakan untuk kebaikan dan ibadah pergi secepat kilat bersama perginya nafas terakhir dari tubuhmu,,,

"Di mana masa jaya mu yang dulu berlimpah ruah dengan harta dan bendaserta rezeki yang di berikan ILAHI sangatlah banyak dan mudah namun kini tiada berarti dan tidak berbekas dengan kebaikan,sekalipun engkau sadakohnamun disertai sifat ria, sumbangan mu dengan syarat, bantuan mu untuk orang lain selalu berharap pamrih.

karena diri mu terikat dengan rasa takut kurang dan takut miskin bila beramal,,,,

Akhirnya Jenazah mu di antar oleh orang orang yang memaki diri mu yang tersimpan dalam hatinya

Akhirnya Jenazah mu di antar oleh orang orang yang akan merampas kembali kebahagiaan mu di alam kubur

Akhirnya Jenazah mu di antar oleh orang orang yang bersaksi bahwa diri mu wajar di azab berat dan di himpit bumi

Akhirnya Jenazah mu di tinggalkan dengan kisah yang baru kini diri mu sudah memasuki babak baru

فَبِأَيِّآلَاءرَبِّكُمَاتُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.

Wahai Saudara-Saudariku maka jadikanlah kisah ini sebagai perenungan dalam kehidupan mu,
selagi kita masih diberikan kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
Sekian dahulu coretan ini semoga berman faat bagi diriku juga bagi diri-mu. Wassalam.


* Tidak Menepati Janji...








Sahabat
Dalam pergaulan sehari-hari kita kerap
menyatakan bahwa janji itu adalah hutang
yang harus kita bayar (di laksanakan),

bahkan ada juga yang mengatakan bahwa
seseorang itu yang dipegang adalah
janjinya atau yang dipercayainya itu dikarenakan
oleh ketepatan dia melaksanakan janjinya.

Didalam ajaran
Islam dinyatakan bahwa janji itu adalah
sesuatu yang harus dilaksanakan dan
dihari akhir nanti diminta pertanggung
jawabannya oleh Allah swt.

Didalam Surah
Al-Israa (17) ayat 34 Allah swt
berfirman:

"dan penuhilah janji ;
sesungguhnya janji itu pasti diminta
pertanggungan jawabnya"

 di dlm surat Al Fath 10

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.
(Al Fath 10)

 demikian juga
diawal Surah Al-Maidah (5) ayat 11
diingatkan Allah swt untuk memenuhi
janji-janji kita (akad-akad).

Allah swt., sangat murka sekali dengan orang-orang
yang tidak menepati janjinya, dan hal
ini dinyatakan-Nya dalam Al-Quran:

Hai...Orang-orang yang beriman, mengapa kamu
mengatakan apa yang tidak kamu perbuat;
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa
kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu
kerjakan� (QS 61:2-3).

 Banyak diantara-hadits-hadits Rasulullah
saw yang mengecam orang-orang yang tidak
menepati janji yang diantaranya
menyatakan bahwa tidak menepati janji
itu adalah salah satu ciri orang yang
munafiq walau orang itu puasa dan shalat
atau merasa disinya seorang muslim (HR.
Bukhari & Muslim)

Dan tentunya kita
sudah tahu bagaimana pedihnya azab bagi
orang-orang yang munafiq tersebut.

Kita di anjurkan mengucapkan kata "INSYALLAH" itu lebih baik dari pd berjanji

Semoga Allah menjauhkan kita dari kesalahan

yaitu satu sikap yang menghantarkan kita
kepada kemunafiqan ini yakni dengan
selalu tepat dalam memenuhi janji-janji
kita.

Kecuali bila kita bernazar dalam hal kebakhilan maka dengan meninggalkannya. Allah akan memberikan ganjaran.

* Renungan= 3 * AL Qur'an *









Al Qur’an adalah pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, khususnya umat Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan kali ini adalah apakah di dalam Al Qur’an dijelaskan petunjuk tentang jalan keluar dari segala permasalahan kita? Jawabannya adalah iya, di dalam Al Qur’an telah diajarkan tata cara meminta pertolongan segala permasalahan kita melalui pertolongan Allah. Pada surat Al Baqarah ayat 1 – 5 telah dijelaskan bagaimana cara seorang muslim meminta pertolongan kepada sang Khalik.

Alif laam miim. (QS. 2:1)

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. 2:2)

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (QS. 2:3)

Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. 2:4)

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya,dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. 2:5)

Dari ayat diatas dijelaskan pada ayat pertama, Alif laam miim. Ayat tersebut sering juga dikenal dengan ayat-ayat mutasyabihaat yang sebagian ahli tafsir menafsirkan sebagai ayat yang berguna sebagai penarik perhatian orang yang membacanya agar memperhatikan petunjuk yang akan diberikan dari Al Qur’an.

Pada ayat kedua dikatakan bahwa tidak adanya keraguan didalam Al Qur’an ini, yaitu kitab yang merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Jadi apabila kita sebagai seorang muslim ingin mendapatkan petunjuk dari Al Qur’an yang merupakan kitab yang tidak diragukan lagi kebenarannya, kita harus benar-benar beriman dan bertaqwa.

Taqwa dalam artian yakin dan sungguh-sungguh melaksanakan perintah di dalamnya dan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah dan tertulis di dalamnya pula.

Lalu apa saja yang harus dilakukan oleh kita sebagai seorang muslim agar dapat menjadi orang yang disebutkan pada ayat kedua tersebut? Di ayat kelima dijelaskan bahwa orang yang memperhatikan itulah orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Dijelaskan bahwa hanyalah orang yang bertaqwa yang akan mendapatkan petunjuk dari Allah, dan terlebih lagi mereka adalah orang-orang yang beruntung. Alangkah bahagianya dan merupakan suatu idaman bagi setiap muslim untuk menjadi orang yang beruntung menurut Al Qur’an yang sudah dijamin kepastiannya oleh Allah.

Kemudian timbul lagi pertanyaan berikutnya, bagaimana cara yang harus ditempuh oleh seorang muslim agar mendapatkan petunjuk dari Allah? Hal tersebut dijawab oleh Allah melalui ayat yang ketiga, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Di ayat tersebut terdapat 3 langkah, yaitu :

1. Beriman kepada yang ghaib, hal ini sebelumnya telah diperjelas dengan adanya rukun iman yang mendasari kehidupan akhirat seorang muslim. Mengi’tikadkan dengan segala sesuatu yang maujud seperti halnya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, hari akhir dan sebagainya dengan berdasar dalil-dalil yang ada.

Dengan mengimani yang ghaib, maka akan membangkitkan rasa takut akan ketentuan Allah apabila kita merasa melakukan kesalahan dikarenakan yakin bahwa Allah itu ada dan tahu akan segala gerak gerik kita di dunia.

2. Mendirikan sholat, tentunya ciri utama yang dimiliki oleh seorang muslim adalah sholat. Sholat yang merupakan tiang dari agama ini merupakan media penghubung antara seorang hamba dengan penciptanya, yaitu Allah SWT.

Dengan sholat dan senantiasa berdoa kepada Allah akan memperjelas pengabdian diri kita kepada-Nya dan meningkatkan rasa rendah diri terhadap Allah.

3. Menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan kepada kita, dalam hal ini ditekankan pengertiannya kepada sedekah. Sedekah tidak hanya berdampak kepada orang-orang yang menerimanya seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain, akan tetapi nilai keikhlasan akan sedekah tentunya akan sangat berdampak besar tehadap diri kita sendiri.

Dengan ikhlas dalam bersedekah sudah tentu akan menambah tingkat ketqwaan kita sebagai hamba yang memang tidak mempunyai daya dan upaya selain pemberian dan atas izin Allah.

Kemudian pada ayat keempat dijelaskan bahwa agar dapat bertaqwa dan mendapatkan petunjuk Allah adalah mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Dengan meyakini ayat keempat ini, kita senantiasa yakin bahwa Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-shuhuf yang tersebut dalam al-Qur’an adalah benar merupakan kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah dan disempurnakan dengan turunnya kitab yang terakhir, yaitu Al-Qur’an.

Lalu dengan mengimani hari akhir, kita senantiasa yakin bahwa akan ada kehidupan yang kekal setelah kita mati. Akhirat merupakan tujuan akhir dari pencarian seorang muslim di dunia. Dengan meyakini hal itu, sudah tentu seorang muslim akan selalu memperbaiki diri dan senantiasa melakukan yang terbaik dalam menempuh jalan yang diridhoi Allah.

Sahabatku, dengan meyakini kelima ayat tersebut tentunya kita akan memperoleh kemudahan dalam mencari petunjuk Allah dan senantiasa menjadikan kita sebagai seorang muslim yang benar-benar bertaqwa kepada Allah. Dengan demikian, pertolongan apalagi yang akan kita harapkan selain pertolongan Allah.

Bukankah Allah merupakan sumber penyelesaian dari segala masalah kita? Sehingga hanya dengan melalui pertolongan Allah lah kita akan menyelesaikan segala permasalahan kita dengan mudah.

Sebagai seorang hamba, kita benar-benar tidak memiliki daya apapun untuk melakukan sutau hal kecuali atas izin dan pemberian dari Allah. Maka dari itu, marilah kita senantiasa memperbaiki diri kita sehingga pertolongan-pertolongan Allah itu akan lebih mudah kita terima.

Semoga kita menjadi salah satu hamba Allah yang bertaqwa dan mendapatkan petunjuk dari Allah,

Insya Allah


* Dalam Kehidupan*

Sahabat-sahabatku.

Takan ada yang tumbuh atau berbuah dimasa yang akan datang jika hari ini kita tidak pernah menanam.

Apa yang harus kita tanam hari ini dan apa pula buah yang akan kita petik kelak ? Rosulullah SAW memberi arahan kepada kita agar menjadi seperti yang kita cita-citakan, berikut ini

Seorang sahabat bertanya kepada Rosulullah S.A.W , Dia berkata : Aku ingin menjadi seorang Ulama’ (orang yang memiliki kedalaman ilmu).

Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi Ulama’

Dia berkata : Aku ingin menjadi orang paling kaya

Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri sendiri maka engkau akan jadi orang paling kaya

Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang adil

Baginda S.A.W menjawab: Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang paling baik

Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang istimewa di sisi Allah

Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan dzikrullah niscaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

Dia berkata : Aku ingin disempurnakan imanku

Baginda S.A.W menjawab : Baikkanlah akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang taat

Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajiban yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

Dia berkata : Aku ingin berjumpa Allah dalan keadaan bersih dari dosa

Baginda S.A.W menjawab : Banyaklah beristighfar niscaya niscaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci dari dosa

Dia berkata : Aku ingin menjadi semulia-mulia manusia

Baginda S.A.W menjawab : Jangan berprasangka buruk pada orang lain niscaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

Dia berkata : Aku ingin menjadi segagah-gagah manusia

Baginda S.A.W menjawab : Senantiasa berserah diri (tawakkal) kepada Allah niscaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

Dia berkata : Aku ingin dimurahkan rezeki oleh Allah

Baginda S.A.W menjawab : Senantiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadast ) niscaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya

Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Allah dan RasulNya

Dia berkata : Aku ingin diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat

Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain niscaya engkau akan selamat dari kemurkaan Allah dan rasulNya

Dia berkata : Aku ingin diterima segala permohonanku

Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram niscaya segala permohonanmu akan diterimaNya

Dia berkata : Aku ingin agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat

Baginda S.A.W menjawab : Tutupilah keburukan orang lain niscaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat
Dia berkata : Siapa yang selamat dari dosa?

Baginda S.A.W menjawab : Orang yang senantiasa mengalirkan air mata penyesalan, mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

Dia berkata : Apakah kebaikan terbesar di sisi Allah?

Baginda S.A.W menjawab : Baik budi pekerti, rendah diri dan sabar menghadapi cobaan Allah

Dia berkata : Apakah kejahatan terbesar di sisi Allah?

Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ?

Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi dan menghubungkan persaudaraan

Dia berkata: Apakan yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat?

Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah

Oleh karena itu mari kita tanam benih-benih kebajikan semoga kita kandapat memetik hasilnya disuatu hari kelak. Wassalam.

* Buat Ikhwan Dan Akhwat.










Assalamu allaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 Renungan buat ikhwan dan akhwat.

“Ukhti, aku tertarik dengan anti.” Itulah kalimat yang sering didengar dan diadukan oleh para akhwat yang penulis kenal. Dalam satu minggu bisa ada dua tawaran ta’aruf dari ikhwan dunia maya. Berdasarkan curhat para akhwat, rata-rata si ikhwan tertarik pada akhkwat melalui penilaian komentar akhwat.

Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo messenger, dll, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas.

Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.
Kasus ta’aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta’aruf. Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata ‘ta’aruf’, tanpa perantara.

Jangan memaknai kata “ta’aruf” secara sempit, pelajari dulu serangkaian tata cara ta’aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. Jika memakai kata ta’aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.

Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta’aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati. Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya, berikut ini petikan obrolannya:

“Assalamualaikum ukhti,” Sapa sang ikhwan.

“‘Wa’alikumsalam akhi,” Balas sang akhwat.

“Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…” puji ikhwan tersebut.

Apakah berakhir sampai di sini? Oh no….
Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab.

“Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak.”

Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat. “Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”
....Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya....

Owh mengerikan, berlebay-lebay di dunia maya, syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.

Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars, mengunjungi benua-benua di dunia. Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay.
Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……a’udzubillah, bukan begitu ta’aruf yang Rasulullah ajarkan.

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!
Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam.

Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.

....Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan?....

Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main.
Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka.

Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.

Wahai Ikhwan,
Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya.

....luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis....
Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.

Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!
Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta’aruf yang tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri.

Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?

Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.
....berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram....

Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak.

Duhai akhwat, ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah.

Demikianlah yang dapat aku sampaikan semoga ada manpaatnya Wassalam.