Tampilkan postingan dengan label Catatan ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan ku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Mei 2014

Aku Bangga Jadi Seorang Muslim


" Di antara nikmat yang tidak terhitung bagi kita semuaadalah ni’matulwujud ataunikmat kehidupan. Bahwa kita dijadikan salah satu makhluk-Nya yang dimuliakanyang hidup di alam raya ini.

Kehidupan ini memberikan kepada kita hak-hak yangluar biasa banyaknya setelah Allah swt memberikan eksistensi / keberadaan dirikita dalam kehidupan. 

Karunia kedua, ni’matul insan, faktabahwa kita adalah manusia yang ditetapkan sebagai makhluk yang memilikikelebihan, keunggulan dalam struktur jasmani dan ruhani dibandingmakhluk-makhluk lainnya.

Karunia ketiga, ni’matul ‘aql ataukarunia akal. Allah swt memberi kepada kita kemampuan membaca dan menulis,kemampuan untuk menjelaskan, kekuatan untuk memahami ayat-ayat-Nya yangtersurat dan tersirat, diantara ayat-ayat-Nya yang tidak tertulis adalahfenomena di alam raya ini.

Lebih dari pada itu, ada karunia yang jauh lebih besar.Yakni, ni’matulhidayah ilal Islam (karuniapetunjuk menjadi seorang Muslim). Inilah nikmat yang paling mulia dan palingberharga.

Dan ini tidak Allah berikan kepada semua manusia,melainkan hanya kepada kita.
“Sesungguhnya kenikmatan beragama hanya Aku berikan kepada hamba yang Akupilih dari hamba-hamba-KU yang shalih.” (al Hadits).

Karena itu nikmat ini haruslah kita syukuri. Inilah jalansatu-satunya yang Allah berikan kepada kita agar kita mendapatkebaikan/kemuliaan di dunia dan di akhirat.

“Jika kamu mensyukuri nikmat-Ku, pasti akan Aku tambah. Tapi jika kamumengingkari nikmat-Ku, ketahuilah bahwa adzab-Ku pasti pedih .”(QS. Ibrahim (14) : 7)

Mensyukuri nikmat hidayah Islam itu dengan beberapa cara.

Pertama, syukurinikmat ini dengan menumbuhkan perasaan bahwa kita bangga dan mulia denganberagama Islam. Olehkarenanya kitaharus merasa bangga, dan percaya diri bahwa kita adalah orang Islam. Katakan kepadasemua orang dengan penuh kebanggaan, ”Saya adalah orang Islam. Saya adalah umattauhid. Saya adalah umat al-Qur’an. Saya adalah umat Muhammad saw.”

Dahulu para sahabat sangat bangga menjadi Muslim. Mereka mengatakan, ”Ayahkuadalah Islam. Tiada lagi selain Islam. Apabila orang bangga dengan suku,bangsa, kelompok, marga, perkumpulan, paham mereka, tapi aku bangga nasabku adalahIslam.

Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya,”Keturunan siapa Kamu ?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidakmengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang, ”Saya puteraIslam.

” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalahbagian dari keluarga kami, bagian dari keluarga Muhammad saw.”

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاءبَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاًوَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْفَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Katakanlah, Hai Ahli kitab marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yangtidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecualiAllah dan tidak kita persekutukan Dia dengan suatupun dan tidak (pula) sebagiankita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jikamereka berpaling maka katakanlah, bahwa kami adalah orang-orang yangmenyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran (3) : 64).

Maka tatkala ia merasakan keingkaran dari mereka (BaniIsrail) berkatalah dia, Siapakah yang menjadi penolong-penolongku untuk(menegakkan agama) Allah? para hawariyyin (sahabat-sahabatsetia) menjawab: Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. “Kami beriman kepadaAllah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yangmenyerahkan diri.” (QS. Ali Imran (3) : 52).

Kita harus bangga bahwa kita adalah Muslim. Karenafaktanya bahwa Islam itu diturunkan sebagai misi di mana Muhammad saw sebagaiRasulnya, juga diturunkan ke muka bumi dengan tujuan menyebarkan kasih sayang.

Karena itu kita haruslah bangga, karena kitalah yang dinanti-nanti/dirindukanoleh umat manusia. Kita rahmat bagi alam semesta ini. Kita bagaikan air yangdirindukan oleh orang yang haus dahaga. Kita adalah makanan yang sedangdimimpikan oleh orang yang lapar. Kita adalah thabib yangditunggu-tunggu para pasien.

Fakta lain, kita harus bangga menjadi Muslim, adalahbahwa kita mempunyai kitab suci. Al-Qur’an sendiri telah menjamin bahwa kitabini tidak mungkin ternodai. Tidak satu huruf atau titik pun yang akan merubahkesucian al-Qur’an yang sudah pasti di pelihara oleh Allah.

Karena itukebenaran al-Qur’an akan tetap abadi. Al-Qur’an yang ada di Indonesia adalahal-Qur’an yang ada dan dibaca oleh saudara-saudara kita di muka bumi lain.Al-Qur’an yang dicetak di Indonesia, Arab Saudi, Mesir adalah al-Qur’an yangdicetak di seluruh dunia.

Oleh karena itu, kita mempunyai alasan yang sangatkuat bahwa kitalah pihak yang paling berhak menyampaikan kebenaran dari Allahkepada seluruh umat manusia.
Menjadi rahmat

Kita adalah rahmat untuk seluruh umat manusia. Rahmatbagi yang jauh dan dekat. Rahmat dalam keadaan damai dan keadaan perang. Rahmatuntuk Muslimin dan Muslimat. Rahmat untuk manusia dan binatang. Rahmat untukMuslim dan non-Muslim.

Rahmat untuk lingkungan sosial kita. Al-Quran sendiriyang terdiri dari 114 surat, semuanya diawali dengan bismillahirrahmanirrahimkecuali surat at Taubah. Ini menunjukkan bahwa sifat yang menonjol, dan melekatpada diri Allah SWT adalah Ar Rahman dan Ar Rahim.

Rahmat-Nya agung, Rahmat-Nyaselalu mengalir, membasahi seluruh alam. Panutan kita Rasulullah saw dalam perihidupnya memiliki sikap kasih sayang. Demikianlah Allah swt memuliakan kitadengan Al-Qur’an dan Rasul-Nya.

Cobalah perhatikan, pernah dalam suatu pertempuranRasulullah saw menyaksikan ada seorang perempuan yang ikut terbunuh. Lalubeliau mengatakan kepada para sahabatnya, ”Tidak mungkin perempuan ini ikutberperang sehingga ia tidak layak di bunuh.

” Demikian rahmat Islam dalampeperangan. Rasulullah saw melarang umatnya untuk membunuh perempuan,anak-anak, orang tua, para pendeta, merusak tempat ibadah, memotong pohon.

Perang adalah perkara yang sangat dibenci dalam Islam meskipun perang itusebagai kenyataan yang dipaksakan dalam kehidupan. Itulah sebabnya Islammenjelaskan bahwa kita adalah rahmat untuk manusia sekalipun kita berperang.

Tidak ada manusia yang mencintai perang. Tidak adamanusia yang senang dengan pertumpahan darah. Oleh karena itu, ketikaRasulullah saw ada kesempatan untuk membunuh lawan-lawannya dalam peristiwa FathuMakkah (pembebasankota Makkah), tapi itu tidak pernah dilakukan oleh beliau.

Ketika seluruh orangQuraisy berkumpul di sekeliling masjidil Haram sebagai pihak yang kalah,Rasulullah saw bertanya kepada mereka,

”Apa yang kalianduga yang akan saya lakukan kepada kalian?” orang-orang Quraisy itu tertundukdengan mengatakan, ”Kami menduga engkau pasti akan melakukan sesuatu yang baikbagi kami karena engkau adalah saudara kami yang mulia (akhun karim),

”Kemudian Rasulullah saw mengatakan kepada mereka, ”idzhabufaantum thulaqa’. laayatsriba ‘alaikumul yaum. (Hari ini tidak ada dendam. Hari ini kalian bebassemuanya. Pergilah semuanya, kalian bebas.

Lihatlah bagaimana Rasulullah memperlihatkan kasihsayang, ketulusan dan kecintaannya. Bandingkan dengan karikatur yangdigambarkan oleh orang-orang Denmark tentang Rasulullah dengan kartun yangmenggambarkan Rasulullah dikelilingi perempuan sambil menghunus pedang.

Itusangat berlawanan (kontradiktif) dengan kemuliaan dan kasih sayang Rasulullahsaw. Karena ternyata fakta sejarah menunjukkan Rasulullah saw justru mampumemunculkan rasa kasih sayang hingga dalam situasi beliau mampu melakukan apasaja terhadap musuh-musuhnya.

Bila kewajiban kita adalah mensyukuri nikmat Islam, makakita harus bangga dengan Islam, dan itu artinya kita harus istiqamah dankonsisten serta konsekwen dengan ajaran Islam.

Namun tidak cukup dengan kata-katabahwa kita adalah Muslim, tapi kita harus mengamalkan apa yang diajarkan olehIslam. Islam harus mewarnai kehidupan kita, dalam cara berpikir, bersikap,merasa, dan dalam seluruh gaya hidup kita semuanya.

Islam sebagai pengarahtunggal dalam segala aspek kehidupan kita. Aspek ideologi, politik, sosial,ekonomi, kebudayaan dan pertahanan keamanan.

Jika kehidupan ini tidak ditemani oleh Islam akan membuatpemburunya kecewa dan akan terjadi penyesalan sepanjang hayat.

Olehkarena itu marilah kita jadikan Islam sebagai darah daging kita dan jati diri kita. Disinilah rahasia kemuliaan, kejayaan dan kemenangan kita secara mikro dan makro.

Tunjukkan keislaman kita dengan bentuk apa saja; kepribadian, perilaku, pekerjaandan hubungan. Di mana saja dan kapan saja. Sebab, jika orang Islam takbangga dengan Islam-nya, di situlah salah satu indikasi awal kemunduran Islamterjadi.

Wallahu a’lam.
sumber : .muslim-menjawab.

Jumat, 15 Februari 2013

MAHKAMAH HATI


Assalamu’laikum warohmatullahi wabarokatuh 

Bismillahir-Rahmanir-Rahim


Saudaraku..."
Bukankah kita sering diperingatkan, berani kerana benar, takut kerana salah?
Benar itu menjadi sumber keberanian. Salah itu puncak ketakutan. 
Jangan dibiarkan hidup dalam ketakutan, akibat terus menerus melakukan kesalahan. 

Bersalah menimbulkan rasa sesal. Rasa bersalah itu sangat menyiksa selagi tidak ditebus dengan maaf dan taubat. Bersalah dengan manusia pun sudah cukup meresahkan, apa lagi bersalah kepada Allah.

Mahkamah pengadilan itu ada tiga.
1.Mahkamah Di Dunia
2.Mahkamah Di Akhirat
3.Mahkamah Di Hati

Pertama : 
Mahkamah di dunia
Saksi, pendakwa dan hakimnya adalah manusia seperti kita juga. Yang tekadang, dengan kebijaksanaan dan kelicikannya, 
di mahkamah dunia ini dapat diperdayakan. 

Sebab telah sering yang bersalah justru terlepas bebas, namun sebaliknya yang benar malah justeru, jadi terhukum. sehingga, tidak ada keadilan yang muktamad dan mutlak di dunia ini.

Kedua : Mahkamah di akhirat
Yang hakimnya adalah Allah yang Maha Adil. Di sana segalanya akan dibuktikan yang benar akan terserah, kebenarannya dan yang salah pasti kalah. Walau bagaimana pun pandainya seseorang bersilat kata.

Disana tidak akan ada yang bisa berkutik kerana semua apa yang ada pada dirinya pada saat itu semua akan “hidup” untuk menjadi saksi. 

Kulit, tangan, kaki dan segala anggota badannya akan berkata.” yang kini, selalu kita jaga, kita elus dan kita belai, namun pada saatnya nanti semua itu akan mendakwa kita di alam mahsyar. 

Di sanalah nanti semua keadilan yang hakiki akan di tegakkan .

Ketiga: Mahkamah hati
Saksi, sebagai pendakwa dan hakimnya adalah hati kita sendiri. Hati kecil yang sentiasa selalu berkata dan bersuara di dalam dada untuk menyadarkan kita sekalipun terkadang ada kalanya kita mencoba untuk memendamnya. 

Namun di alam sana ketika Protes peradilan di gelar di hadapan Mahkamah-Nya, tidak akan ada seorang pun yang akan mampu menghindarinya karena hatinya akan selalu dan terus bergema dan berkata dalam rahsia-Nya. 

Dan fitrahnya akan selalu menjerit. Itulah jeritan batin yang akan mampu menghantar pemiliknya ke dalam penjara jiwa yang lebih menyakitkan bagi dirinya. Karena akibat perbuatan dari segala dosa yang telah dilakukannya semasa di dunia.

Ya sekarang boleh jadi, semua dosa –dosanya itu bisa di tutupi dan disembunyikan daripada pengetahuan manusia, tetapi jika nanti tiba saatnya tidak akan ada seorang pun yang akan mampu untuk menyembunyikannya dari segala dosa serta perbuatannya di hadapan Mahkamah Ilahi karena hatinya sendirilah yang akan berkata. 

Lain halnya ketika kita masih di dunia mungkin ia mampu menipu manusia, tetapi tidak di akhirat nanti, dan dihadapan Allah. Jadi, mau kemana lagi kita ingin menyembunyikan diri 
ketika kita dipanggil untuk dimintai pertanggung jawaban dan yang ber bicara adalah hatinya... 

Sedangkan sejak saat ini hati kecil kita pun selalu setia, dan akan selalu berkata bahkan di setiap waktu, dan di sepanjang masa juga di segala suasana, karena ia tidak akan rela dan tidak akan tega jika kita. Harus melakukan kesalahan, dengan segala kemungkarannya.

Karena setiap kesalahan dari dosa itu akan selalu memberikan kesan derita yang teramat sangat pada jiwa. Bila saja si pendosa itu dapat memahami hakikat dari dosa yang telah dilakukannya 

Sebab setiap ‘perlanggaran itu pasti akan ada sangsinya’. Pertama, perlanggaran ke atas fitrah hati yang tabii. Kedua, perlanggaran terhadap Allah, zat Yang Maha Tinggi. Dua perlanggaran ini sudah cukup meragut ketenangan.

Maka dari itu janganlah sekali-kali kita pernah melawan fitrah diri sendiri yang menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Fitrah ini adalah kurunia Allah, yang dengannya seseorang boleh menerima pengajaran dan didikan. 

Jika fitrah di diri ini di rawat dan diterima sebagai kebaikan tentunya akan menjadi sarana, pendididik dan pemimpin, didalam kehidupan kita selama hati dan pikiran kita masih harmoni, maka pada akhirnya akan menghantarkan kita pada ke bahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Namun Sebaliknya, jika fitrah yang baik itu dibiarkan, dan di abaikan apa lagi jika ditentang, maka tentu akibatnya tidak akan ada lagi tolak ukur dan yang akan mengingatkan kita sehingga tidak ada lagi yang akan menghantarkan kita ke arah kebahagiaan dan ketenangan. Jadi, hati-hatilah menjaga hati, agar hati kita tidak mati!

Rasulullah SAW sangat arif tentang hakikat ini. Justeru, apabila beliau ditanyakan, apakah itu dosa? Baginda menjawab:

“Dosa adalah sesuatu yang menyebabkan hati kamu resah dan kamu tidak suka orang lain melihat kamu melakukannya.”

Oleh itu, awaslah wahai diri. Dosa itu adalah racun. Bahananya akan merusak secara perlahan atau mendadak." Kata ulama, mujurlah dosa itu tidak berbau, jika tidak, tentu tidak akan ada siapa pun yang sudi mendekati kita.

Maka dari itu sering-seringlah bersidang birdiskusi di mahkamah hati. Dan selalulah bertanyakan pada hati kecil kita sendiri. Karena hati itu tidak akan pernah berdusta selagi ia tidak mati!

Demikianlah saudaraku yang dapat aku sampaikan kurang lebihnya mohon dimaafkan dan kepada-Nya aku pun memohon ampunan Aamiiin...”Wassalam,-

Selasa, 29 Januari 2013

PESAN WASIAT BAGINDA RASULULLAH SAW. KEPADA SAIDINA ALI BIN ABU THALIB


Bismillahir-Rahmanir-Rahim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Saudaraku..."
Inilah Pesanan dan Wasiat Baginda Nabi Muhammad saw kepada Saidina Ali bin Abu Thalib.

Wasiat yang sangat menarik dan boleh dijadikan
bahan renungan bersama,

Adalah wasiatnya kepada menantu Baginda, Saidina Ali bin Abu
Talib. Sungguhpun wasiat itu khusus kepada Ali, namun kita sebagai Muslim, perlu menjadikannya sebagai iktibar sehingga menjadikannya amalan.

"Wahai Ali, bagi orang mukmin ada tiga tanda iaitu:
1. Tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia;
2. Tidak terpesona dengan pujuk rayu;
3. Benci terhadap perbualan dan perkataan sia-sia.

"Wahai Ali, bagi orang alim itu ada tiga tanda iaitu:
1. Jujur dalam berkata-kata;
2. Menjauhi segala yang haram;
3. Merendah diri.

"Wahai Ali, bagi orang yang jujur ada tiga tanda iaitu:
1. Merahsiakan ibadahnya;
2. Merahsiakan sedekahnya;
3. Merahsiakan ujian yang menimpanya;

Wahai Ali, bagi orang yang takwa itu ada tiga tanda iaitu:
1. Takut berlaku dusta dan keji.
2. Menjauhi kejahatan.
3. Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.

Wahai Ali, bagi ahli ibadah itu ada tiga tanda iaitu:
1. Mengawasi dirinya.
2. Menghisab dirinya.
3. Memperbanyakkan ibadah kepada Allah.

Top of Form
 Selanjutnya..."
Ibnu Abbas meriwayatkan, bahawa Ali berkata: "Pada hari perkahwinan dengan
Fatimah, Rasulullah bersabda kepadaku, mengutarakan 13 wasiat khusus untukku iaitu:

"Wahai Ali, takutilah engkau daripada memasuki" tempat mandi (hammam) tanpa
memakai kain separas pinggang. Bahawasanya barang siapa memasuki tempat mandi
tanpa kain separas pinggang, maka dia mendapat laknat (mal'un).

"Wahai Ali, janganlah engkau 'memakai cincin pada jari telunjuk dan tengah'.
Sesungguhnya itu adalah apa yang dilakukan oleh kaum Lut.

"Wahai Ali, sesungguhnya Allah mengagumi hamba-Nya yang melafazkan istighfar:
"Rabighfirli fainnahu la yaghfirul-zunuba illa Anta"

(Tuhanku, ampunilah aku. Sesungguhnya
tiada yang mengampunkan dosa melainkan Engkau). Allah lalu berfirman: "Hai malaikat-Ku, sesungguhnya hamba-Ku ini mengetahui bahawasanya tiada yang mengampunkan
dosa melainkan Aku. Hai malaikat-Ku: Jadilah saksi, bahawasanya aku telah mengampuni
dia."

"Wahai Ali, takutilah engkau daripada berdusta. Bahawasanya berdusta itu menghitamkan
muka dan disuratkan oleh Allah sebagai kazzab (pendusta). Dan, bahawasanya benar itu
memutihkan muka dan disuratkan oleh Allah sebagai sadiq.

• Ketahuilah engkau,
WASIAT RASULULLAH KEPADA SAIDINA ALI
bahawasanya sidq (benar) itu berkat dan kizb (dusta) itu celaka.

"Wahai Ali, peliharalah diri engkau daripada mengumpat dan mengadu-domba.
Bahawasanya orang berbuat demikian itu diwajibkan ke atasnya seksaan kubur dan
menjadi penghalang kepadanya di pintu syurga.

"Wahai Ali, janganlah engkau bersumpah dengan nama Allah, sama ada dusta atau
benar, kecuali dalam keadaan darurat, dan janganlah jadikan Allah permainan sumpah
engkau. Sesungguhnya Allah tidak menyucikan dan tidak mengasihani orang yang
bersumpah dusta dengan nama-Nya.

"Wahai Ali, janganlah engkau mencita-citakan rezeki untuk hari esok. Bahawasanya Allah
mendatangkan rezeki engkau setiap hari.

"Wahai Ali, takutilah engkau daripada berbantah-bantah dan berkelahi dengan makihamun
dan sumpah-seranah. Bahawasanya perbuatan itu pada awalnya jahil dan pada
akhirnya penyesalan.

"Wahai Ali, sentiasalah engkau bersugi dan mencungkil gigi. Bahawasanya bersugi itu
menyucikan mulut, mencerahkan mata dan diredai Allah. Mencungkil gigi itu dikasihi
malaikat kerana malaikat amat tidak senang dengan bau mulut kerana sisa-sisa makanan
pada celah gigi tidak dicungkil selepas makan.

"Wahai Ali, janganlah engkau melayani rasa marah. Apabila timbul rasa marah, duduklah
engkau dan fikirkanlah mengenai kekuasaan serta kesabaran Allah ke atas hamba-Nya.
Pertahankan diri engkau daripada dikuasai kemarahan dan kembalilah engkau kepada
kesabaran.

"Wahai Ali, perhitungkan (tahassub) kurniaan Allah yang telah engkau nafkahkan untuk diri
engkau dan keluarga engkau, nescaya engkau peroleh peruntukan daripada Allah.

"Wahai Ali, apa yang engkau benci pada diri engkau, maka engkau bencikan juga pada
diri saudara engkau dan apa yang engkau kasih pada diri engkau maka engkau kasihkan
juga pada diri saudara engkau, yakni engkau hendaklah berlaku adil dalam memberi
hukuman. Maka dengan demikian , engkau dikasihi seluruh isi langit dan bumi.

"Wahai Ali, perbaikkan perhubungan antara penduduk (jiran) sekampung dan antara ahli
rumah engkau. Hiduplah dengan mereka sekaliannya dengan rasa persahabatan dan
kekeluargaan, nescaya disuratkan darjat yang tinggi bagi engkau.

" Wahai Ali, peliharakanlah pesananku (wasiatku). Engkau akan peroleh kemenangan dan
kelepasan. Insya-Allah."

Demikianlah saudaraku yang dapat aku sampaikan semoga saja bermanfaat Aamiin...”Wassalam,-

Rabu, 23 Januari 2013

Mengenal Nama-nama Baginda Nabi Muhammad saw.


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

~Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim~

Saudaraku kita sebagai umatnya maka sudah sewajarnya jika kita mengetahui nama-namanya.

@~NAMA-NAMA RASUULULLAAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM~@
[149] SHAAHIBUL MAQAAM = Pemilik Kedudukan.
[150] SHAAHIBUL WASIILAH = Pemilik Wasilah.
[151] SHAAHIBUL QADAM = Pemilik Keutamaan.
[152] SHAAHIBUSSAYF = Pemegang Pedang.
[153] MAKHSHUUSHUN BIL'IZZ = Yang Teristimewa Kemuliaannya.
[154] SHAAHIBUL FADHIILAH = Pemilik Keutamaan.
[155] MAKHSHUUSHUN BILMAJD = Yang Teristimewa Keagungannya.
[156] SHAAHIBUL IZAAR = Yang Mengenakan Sarung.
[157] SHAAHIBUL HUJJAH = Pemilik Hujjah.
[158] SHAAHIBUL MAGHFAR = Yang Menjadi Sebab Ampunan.
[159] SHAAHIBUSSULTHAAN = Pemilik Singgasana.
[160] SHAAHIBUL-LIWAA' = Pemilik Bendera.
[161] SHAAHIBURRIDAA' = Pemilik Sorban.
[162] SHAAHIBUL MI'RAAJ = Pelaku Mi'raj.
[163] SHAAHIBUD DARAJATIRRAFI'AH = Pemilik Derajat Yang Tinggi.
[164] SHAAHIBUL QADHIIB = Pemilik Tongkat.
[165] SHAAHIBUTTAAJ = Pemilik Mahkota.
[166] SHAAHIBUL BURAAQ = Yang memiliki Buraq.
[167] SHAAHIBUL KHAATAM = Pemilik Cincin.
[168] MUTHAHHIRUL JANAAN = Yang Menyucikan Hati.
[169] SHAAHIBUL 'ALAAMAH = Pemilik Tanda.
[170] RA'UUF = Yang Berbelas Kasih.
[171] RAHIIM = Penyayang.
[172] SHAAHIBUL BURHAAN = PemilikArgumentasi.
[173] SHAAHIHUL ISLAAM = Yang Benar Islamnya.
[174] SHAAHIBUL BAYAAN = Pemilik Keterangan.
[175] SAYYIDUL KAUNAIN = Penghulu Dua Negeri.
[176] FASHIIHUL LISAAN = Yang Fasih Lisannya.
[177] 'AINUNNA'IIM = Sumber Kenikmatan.
[178] UDZUNU KHAIR = Telinga Kebaikan.
[179] 'ALAMUL HUDAA = Tanda-tanda Petunjuk.
[180] 'AINUL GHURR = Sumber Cahaya.
[181] KAASYIFUL KURAB = Penghapus Duka.
[182] RAAFI'UR RUTAB = Pengangkat Derajat.
[184] SA'DUL KHALQ = Kebahagiaan Makhluk.
[185] 'IZZUL 'ARAB = Kemuliaan Bangsa Arab.
[186] KHATHIIBUL UMAM = Pemberi Arahan Kepada Umat.
[187] SHAAHIBUL FARAJ = Pemilik Segala Jalan Keluar.
Sumber :
Kitab AFDHAL ASH-SHALAWAT 'ALA SAYYID AS-SADAT, susunan SYAIKH YUSUF bin ISMAIL AN-NABHANI, terbitan DAR AL-KUTUB AL-ISLAMIYAH (2004).
Salaam Ukhuwwah Fillah.

Manusia sebagai tujuan akhir penciptaan

Dasar pandangan, adalah hadist Qudsi:
“Kalau bukan karenamu, tidak akan KU ciptakan alam semesta ini”
(diwakili (oleh) dialog dengan Nabi Muhammad SAW)
... - sebab Beliau SAW adalah “INSAN KAMIL” symbol par excellence = manusia dengan tingakt kesempurnaan.

Olehnya maka, manusia adalah tujuan akhir dari penciptaan alam.
Indikasinya adalah = apa saja yang ada didunia diperuntukkan bagi manusia.

“DIA lah (ALLAH) yang menjadikan segala apa yang ada dibumi untukmu”
[QS. Al-Baqarah].

>> sebagai mahluk yg paling akhir kemunculannya, manusia dimungkinkan memiliki semua kecakapan dan daya yg dimiliki oleh mahluk lainnya yg mendahuluinya, sehingga dialah yg tercanggih dan terunggul dari semua mahluk dan menunjukkan bahwa mahluk-mahluk lain dicipta untuk melayani kepentingannya.

Lalu, apa tujuan Tuhan menciptakan manusia diujung penciptaan alam(tujuan akhir penciptaan alam?)
- tidak lain sebab manusia dijadikan wakil (Khalifah) Tuhan dimuka bumi.
Manusia lah yg diharapkan untuk melaksanakan Kehendak-2 NYA dimuka bumi.

[ manusia adalah cermin yg melaluinya Tuhan dapat melihat wajahNYA] – [sufi].

IDENTITAS MANUSIA (kenalilah dirimu, pastikan tujuan hidupmu!!)

NAMA : Manusia, Putra Adam alaihissalam.
Kebangsaan : Dari tanah aku datang, dan kepadanya aku akan pergi
Alamat : Planet Bumi

KETERANGAN PERJALANAN :
Terminal Keberangkatan : Kehidupan Dunia
Tempat Tujuan Akhir : Negri Akhirat
Jam Keberangkatan :
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan Pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati (Al Quran surat Lukman ayat 34)
Check In:
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu slalu lari daripadanya. (QS. Qaaf:19)
Barang Bawaan yang diijinkan :
1. Dua meter kain
2. Amal Shalih
3. Ilmu yang bermanfaat
4. Do’a anak shalih
Tips perjalanan yang menyenangkan :
Kepada saudara-saudari penumpang yang mulia, diharapkan untuk mengikuti petunjuk yang tertuang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang mulia; yang terpenting diantaranya adalah:
1. Taat kepada Allah, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, serta mengesakan peribadatan hanya kepada-Nya
2. Mengikuti Nabi SAW. Dalam setiap perkara dan larangannya
3. Berhati-hati terhadap perkara-perkara syirik dan perkara-perkara Bid’ah
4. Senantiasa mengingat kematian
5. Sadar, Bahwa tidak ditemukan di negeri akhirat selain sorga dan neraka
6. Berbakti pada kedua orang tua
7 Makan dan minuman anda harus halal
Catatan :
Diharapkan untuk berhubungan dengan kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang mulia (gratis dan online). Barang bawaan yang diizinkan dan diperintahkan untuk diperbanyak adalah amal shalih. Kepada seluruh penumpang diharap bersiap-siap untuk perjalanan panjang ini

sumber: majalah qiblati

~* USWATUN HASANAH *~

Allah s.w.t. Adalah penjaga dan pelindung kekasih-Nya Rasulullah s.a.w.

 Bismillahir-Rahmanir-Rahim
"Inaa kafainaakal mustahdzi`iin..
Sesungguhnya kami memelihara kamu dari pada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan kamu. (Qur`an surah Al-Hijr : 95).

"Wallahu ya`simuka minannaas..
Dan Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. (Qur`an surah Al-maidah : 67).

Subhanallah..
Subhnaka Ya hafiidzu Ya Aziizu Ya Kariiim..

Engkaulah Rasulullah s.a.w. yang tiada pernah gentar terhadap manusia, tiada pernah takut pada musuh Allah, tiada pernah gelisah karena harta, tiada pernah bersedih karena celaan dan dahsyatnya deru derita siksa musuh-musuh Allah yg telah terhina..

Tiada seorang manusia bisa membunuhmu, karena Allah memeliharamu dari kejahatan mereka. tiada seorang raja dan penguasapun yang mampu padamkan cahayamu, karena Allah memeliharamu dari semua kejahatan manusia.

walaupun bersatu seluruh kekuatan penguasa durjana di dunia untuk memadamkan sinarmu, namun demi Allah mereka takkan mampu, karena Allah memeliharamu dari kejahatan manusia..

Ya Allah sampaikan salam kerinduan kami bagi Nabi kekasih kami, pengobat duka lara gelisah hati kami, penawar gelapnya awan kebodohan kami. penuntun dalam meniti akhlakul karimah kami menuju cinta dan keridho`an-Mu..

Ya Nabi salam alaika.. Ya Rasul salam alaika..
Ya habib salam alaika.. sholawatullah alaikaa..

Tiadalah orang yang mencintaimu duhai Nabi melainkan orang-orang yg mulia..
dan tiadalah orang-orang yang menghinamu melainkan orang-orang yang memamerkan kehinaan dan kejahatan dirinya..

Shallallahu alaa Muhammad wa`alaa aalhi wa ashabihi wasallim..

Ya Ayyuhannabiyyu Inna arsalnaaka syaahidan wamubassiran wanadziira.
wadaa iyan ilallahi bi idznihi wasiroojan muniiro.
wabassyiril mu`miniina bi`annalahum minallahi fadhlan kabiiro.
"Wahai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mu`min, bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (Qur`an surah Al-ahzab : 45-47).

"Dan ingatlah ketika Isa putra maryam berkata :"Hai bani isra`il,sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab yang turun sebelumku, yaitu taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad,(Muhammad). maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata "ini adalah sihir yang nyata. (Qur`an surah As shaff : 6).

Allahumma shalli ala Isa fil aalamiin..
Allahumma shalli ala jami`an-Nabiyyina war mursaliiin..

Laa Ilaaha Illallah Muhammadurrasuulullaah...

Innallaha wamalaaikatahu yusalluna alannabi, Yaa ayyuhalladziina aamnau shallu alaihi wasallimu tasliiima.. 'Sesungguhnya Allah dan para malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Qur`an surah : Al-ahzab : 56).

Allaaahumma shalli wasallim wabaarik ala sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa`ala aalihi wa ashabihi wasallama tasliiman katsiiro..

kutulis semua ini dengan tetesan airmata kerinduanku padamu kekasihku s.a.w...
tiada kalimat terindah yang mampu ku ucapkan selain sholawat sebagai rasa terimakasih dan syukur hatiku..

kusadari duhai Qurrata aini... walaupun aku kan menangis darah dalam mencintai dan merinduimu, namun semua takkan cukup untuk membalas besarnya jasamu yang telah mengelurakan kami dari dzulumaati ilannur.. dari gelapnya kebodohan menuju cahaya iman yang menerangi jalan kami menuju ridho Allah s.w.t.

”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah  itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut (mengingat) Allah.”   (Q.S.Al-Ahzab: 21)

 (dan seterusnya sejuta pujian lainnya yang tak dapat dimuat dalam tulisan  yang ringkas  ini)

Maka dengan lantunan dan senandung sholawat puja-puji itu menjadi meriahlah bulan Maulid dengan berbagai kegiatan; berbagai syi’ar yang meng-agungkan Rasulullah SAW dan agama yang diwahyukan kepada beliau. Bahkan jauh melampaui batas Rabi’ul Awwal hingga ke Rabi’ul Akhir dan Jumadil Awwal, lantaran waktu yang sebulan rasanya tak cukup untuk memperingati sejarah kelahiran dan perjuangan Nabi yang kita muliakan itu.

Akan tetapi sangat disayangkan pujian dan penghormatan yang diberikan itu hanya memberikan bekas yang sedikit dalam kehidupan kita. Tak banyak yang bisa memetik makna yang sesungguhnya dari sejarah; mengapa Maulid diperingati? Bahkan yang paling menyedihkan, tidak sedikit pula “umat Muhammad SAW”; khususnya generasi muda Islam yang tahu dan kenal tentang sosok “Nabi” yang mereka cintai dan yang mereka puji dan puja. Hanya sedikit yang tahu tentang “Apa dan siapa Muhammad SAW”.

Sehingga sholawat; puji dan puja yang disenandungkan semuanya lewat begitu saja, bagaikan senandung pujian kita yang kemudian berangsur hilang menjelang datang Rabi’ul Awwal berikutnya. Sedikit sekali, bahkan nyaris tidak ada yang mau dan mampu “meneladani”   beliau sebagai hamba yang disebut Allah sebagai “uswatun hasanah” dengan firman-Nya:

”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah  itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut (mengingat) Allah.”   (Q.S.Al-Ahzab: 21)

Padahal bagaimanapun juga, adalah suatu kepatutan, bahkan wajib bagi kita sebagai orang-orang yang beriman pada ke-Nabian dan ke-Rasulan beliau, untuk terus mengkaji serta meneladani prilaku kehidupan atau “akhlaqul kariimah” beliau sebagai salah satu upaya  meningkatkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, sebagaimana yang tersirat dan tersurat dalam ayat 21 surah Al-Ahzab yang telah dipetikkan di atas.

Sementara di sisi lain, dengan  meneladani dan menjabarkan prilaku Muhammad Rasulullah SAW,   adalah merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai ajaran Al-Quran di dalam kehidupan. Sebab ketika suatu hari kepada “ummul mukminin” Aisyah r.a ditanyakan tentang akhlak atau budi pekerti Rasulullah SAW, maka Aisyah berkata; bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran. Artinya adalah, bahwa semua tingkah laku dan tindak tanduk keseharian Rasulullah SAW adalah penjabaran dan pelaksanaan dari apa-apa yang telah diperintahkan Allah SWT yang tertuang dan terangkum dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Dan ucapan Aisyah r.a tersebut tentulah sangat beralasan, sebab pada bagian lain di dalam Al-Qur’an Allah SWT menegaskan:

“Nun, demi kalam  dan apa yang mereka tulis.// berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukanlah orang gila.// Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.// Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”   (Q.S.Al-Qalam: 1-4)

Kemuliaan serta keagungan akhlaq “manusia” yang telah dipilih dan terpilih sebagai Rasul Allah tersebut, tidak hanya diakui oleh kalangan Islam, akan tetapi juga oleh sejarawan non Islam yang secara cermat meneliti sejarah kehidupan Muhammad Rasulullah SAW. Bahkan sebagaimana yang tercatat  dalam sejarah,  bahwa hanya dengan kemuliaan dan keagungan akhlaknya itulah; Muhammad SAW  telah berhasil melunakkan hati lawan-lawannya, yang pada akhirnya tunduk dan mengikuti ajaran agama Allah yang beliau sampaikan.

Oleh sebab itulah, dari berbagai sumber yang menjadi rujukan “catatan ringkas” ini, dalam suasana“maulid Nabi SAW” tahun ini, saya ingin mengajak anda untuk kembali menyimak serba sedikit tentang sejarah hidup; perjuangan dan budi pekerti mulia dari “junjungan alam”  dan “kekasih para mukmin”serta “panutan” kita “Muhammad Rasulullah SAW” 
Untuk itu dalam rangka menyambut Maulid Nabi *~
Yuuk kita perbanyak membaca sholawat Untuknya.

Ya nabii salaamun ‘alaika;  Ya rosuul salaamun ‘alaika
Ya habiib salaamun ‘alaika; Sholawaatullaahi ‘alaika

(Wahai Nabi salam kami kepadamu;   Wahai Rasul salam kami kepadamu
Wahai kekasih Allah salam kami kepadamu; Rahmat Allah semoga melimpah terus untukmu)

“Hamba Allah yang mulia lagi dimuliakan” atau “Nabi yang sangat kita cintai”  Muhammad“shollallaahu ‘alaihi wasallam”  putra  dari  Abdullah  bin Abdul Muthallib dan  Aminah binti Wahab. Menurut  riwayat yang lazim beliau dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal; 53 tahun sebelum Hijrah atau pada tanggal 20 April 570 M  yang  banyak  disebut- sebut sebagai tahun Gajahlantaran beberapa waktu sebelum Muhammad dilahirkan terjadi peristiwa penyerangan pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah ke Makkah untuk  meruntuh kan Ka’bah.

Abdullah meninggal dunia di Madinah ketika Muhammad masih dalam kandungan ibunya. Sedangkan ibunya Aminah meninggal dunia ketika Muhammad masih berumur 5 tahun di Abwa’  (37 km dari Madinah) dalam perjalanan pulang menuju Makkah, ketika ia membawa Muhammad berziarah  ke kuburan  ayahnya  di  Madinah.  

 Selanjutnya  Muhammad  yang  ketika  itu didampingi  Ummu  Aiman diserahkan  kepada  kakeknya;   Abdul Muthallib.

Dan ketika usia  Muhammad  8 tahun setelah Abdul Mutallib meninggal dunia, Muhammad diasuh pula oleh pamannya  Abu  Thalib  bin  Abdul  Muthallib.  Riwayat mencatat bahwa semasa  dalam   asuhan   Abu Thalib   inilah Muhammad dinikahkan denganKhadijah binti Khuwailid dan selanjutnya dilantik sebagai Nabi dan Rasul Allah.

Sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad sempat bekerja membawa dagangan Khadijah ke Syam. Dan pada masa inilah Khadijah merasa tertarik kepada Muhammad lantaran kejujuran dan ke-elokan budi pekerti yang dimiliki oleh Muhammad. Akhirnya setelah melalui proses yang lazim, Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid pada usia 25 tahun sementara Khadijah sa’at itu berusia 40 tahun.

Setelah menikah kurang lebih 15 tahun atau  pada usia beliau yang ke-40 tahun, Muhammad mendapat wahyu yang pertama setelah bertahannuts di Gua Hira’ dalam masa yang cukup panjang. Dan itulah pertanda dari awal kenabian dan kerasulannya. Sementara  wahyu terakhir diterima beliau kurang lebih 80 hari sebelum berpulang ke rahmatullah.

Sebelum hijrah ke Madinah, Muhammad SAW  di  Isra’ Mi’raj  kan oleh Allah SWT, dari Baitullah di Makkah ke Baitul Maqdis di Palestina yang berlanjut pada perjalanan beliau ke Sidratul Muntahabertemu dengan Allah SWT dan sekaligus menerima perintah kewajiban mendirikan sholat lima waktu dalam sehari semalam. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu sendiri terjadi setelah meninggalnya paman dan isteri yang beliau cintai; Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid.  Para ahli sjarah mencatat, bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut terjadi pada tanggal 27 Rajab antara tahun 5 dan 7 masa kenabian dan kerasulan beliau.

Atas izin dan perintah Allah pada tahun 10-11 masa kenabian dan kerasulannya, Muhammad   “hijrah”dari Makkah ke Madinah untuk lebih memantapkan dakwah yang beliau sampaikan.

Semasa di Madinah inilah Muhammad SAW menikah lagi yang pada akhirnya tercatat beliau  memiliki 11 orang isteri yakni: Khadijah binti Khuwailid; kemudian berturut-turut menikahi: Saudah binti Zam’ah; Aisyah; Hafshah binti Umar ibnulKhattab; Zainab binti Jahsyi; Hindun binti Abu Umayyah; Ramlah (Ummu Habibah) binti Abu Sufyan bin Haris; Maimunah binti Al Harts Al-Hilaaliyah; Juwairiah binti Al Harts; Shofiah binti Hay bin Aktub dan Mariyah Al-Qibtiyah. Dan di antara 11 perempuan yang beliau nikahi, hanya 1 orang yang berstatus gadis/perawan tatkala beliau nikahi yakni; Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq r.a; selebihnya berstatus janda.

Dari semua isteri-isteri beliau tersebut Muhammad SAW hanya dikaruniai anak melalui pernikahannya dengan Khadijah, yakni: Qasim; Thahir; Zainab; Ruqayyah; Ummu Kalsum dan Fatimah.  Sedangkan dengan  Mariyah Al-Qibtiyah  dikaruniai dikaruniai anak laki-laki: Ibrahim. Semua anak laki-laki beliau berpulang ke rahmatullah ketika masih kecil/bayi.

Setelah hijrah ke Madinah dan selama masa menjalankan tugasnya sebagai utusan Allah, Muhammad SAW telah mengalami peperangan secara phisik melawan musuh-musuh Allah kurang lebih 17 kali; Baik peperangan besar maupun yang kecil. Tercatat di antarnya yang terkenal adalah perang: Badar; Uhud; Khandaq; Khaibar; Hunain dan lain sebagainya. Akhirnya pada tahun ke 8 hijrah, Muhammad berhasil menaklukkan Makkah dan menghancurkan  kemusyrikan yang telah berlangsung berabad-abad lamanya di kota yang disucikan Allah SWT tersebut.

3 tahun setelah “Fathu makkah” atau berhasil menaklukkan Makkah sebagai lambang dan pusat kemusrikan; tepatnya pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun kesepuluh setelah hijrahnya ke Madinah (633 M); Muhammad Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di dalam Masjid yang dibangunnya (Masjid Nabawi) Madinah.

TUGAS  KENABIAN DAN KERASULAN MUHAMMAD SAW.
Semua  Nabi dan Rasul yang di utus Allah sebelum Muhammad SAW memiliki tugas kenabian dan kerasulan yang bersifat temporer (dalam kurun waktu tertentu) dan itupun hanya untuk komunitas atau kaum tertentu. Sebaliknya sebagai  “khataman-nabiyyin”, Muhammad SAW dijadikan dan diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul  untuk seluruh umat manusia; bahkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta ini; walaupun masa kenabian dan kerasulan beliau hanya berlangsung kurang lebih 23 tahun yakni; 13 tahun periode Makkah dan 10 tahun periode Madinah.

Sebagai Nabi dan Rasul Allah yang terakhir secara tegas difirmankan Allah di dalam Kitab-Nya: 

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di-antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”  (Q.S. Al-Ahzab: 40)  

Sedangkan diutusnya Muhammad kepada seluruh manusia dan menjadi rahmat bagi se-isi alam dinyatakan Allah SWT dengan firman-Nya:

“Kami mengutusmu (hai Muhammad) kepada segenap manusia dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Q.S. An-Nisaa’: 79)

“Dan tiadalah Kami mengutusmu (hai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam).”  (Q.S. Al-Anbiyaa’: 107)

Inilah catatan ringkas tentang sejarah hidup dan perjuangan Muhammad Rasulullah SAW. Selanjutnyainsya Allah akan telusuri pula serba sedikit sisi kehidupan beliau; terutama “akhlaqul kariimah”Muhammad SAW yang “wajib” kita teladani.  Wallahua’lam.

Jumat, 18 Januari 2013

Detik detik Menyambut Kelahiran Sang Baginda Nabi Muhammad SAW.


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh


Bismillahir-Rahmanir-Rahim 

Diriwayatkan dari Imam Shihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-syafi’i di dalam kitabnya “An-ni’matul Kubraa’alal Aalam” di halaman 61.

Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Rabiul Awwal) saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw sudah semakin mendekati, Allah SWT semakin melimpahkan bermacam anugerahNya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabiul Awwal malam kelahiran Al-Musthafa Muhammad saw.

Pada Malam Pertama (ke 1):
Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga beliau (ibunda Nabi Muhammad saw), Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam ke 2:
Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad saw yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Allah SWT.

Pada malam ke 3:
Datang seruan memanggil “Wahai Aminah… sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rasulullah saw yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT.”

Pada malam ke 4:
Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan jelas.

Pada malam ke 5:
Sayyidah Aminah bermimpi dengan Nabi Allah Ibrahim as.

Pada malam ke 6:
Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad saw memenuhi alam semesta.

Pada malam ke 7:
Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira sehingga kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak.

Pada malam ke 8:
Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan jelas mengumandangkan “Bahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat kelahiran Nabi agung, Kekasih Allah SWT Pencipta Alam Semesta.”

Pada malam ke 9:
Allah SWT semakin mencurahkan rahmat belas kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah, sakit, dalam jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam ke 10:
Sayyidah Aminah melihat tanah Tha’if dan Mina ikut bergembira menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw.

Pada malam ke 11:
Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Sayyidina Muhammad saw.

Malam detik-detik kelahiran Rasulullah, tepat tanggal 12 Rabiul Awwal jam 2 pagi. Di malam ke 12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Saat itu Sayyid Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad saw) sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah. Sayyid Aminah sendiri di rumah tanpa ada seorangpun yang menemaninya.

Tiba-tiba beliau, Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4 wanita yang sangat anggun, cantik, dan jelita diliputi dengan cahaya yang memancar berkemilau serta semerbak harum memenuhi seluruh ruangan.

Wanita pertama datang berkata,”Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang agung, junjungan semesta alam. Beliaulah Nabi Muhammad saw. Kenalilah aku, bahwa aku adalah istri Nabi Allah Adam as, ibunda seluruh uamt manusia., aku diperintahakan Allah SWT untuk menemanimu.”

Kemudian datanglah wanita kedua yang menyampaiakan kabar gembira, “Aku adalah istri Nabi Allah Ibrahim as diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.”

Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga,”Aku adalah Asiyah binti Muzahim, diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.”

Datanglah wanita ke empat,”Aku adalah Maryam, ibunda Isa as menyambut kehadiran putramu Muhammad Rasulullah.”

Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad saw yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya berdatangan silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puji-pujian kepada Allah SWT dengan berbagai macam bahasa yang berbeda.

Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau bermacam-macam bintang di angkasa yang sangat indah berkilau saling beterbangan.

Detik berikutnya Allah bangun dari singgasanaNya dan memerintahkan kepada Malaikat Ridwan agar mengomandokan seluruh bidadari syurga agar berdandan cantik dan rapih, memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutra dengan bermahkota emas, intan permata yang bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian syurga yang harum semerbak ke segala arah. lalu trilyunan bidadari itu dibawa ke alam dunia oleh Malaikat Ridwan, terlihat wajah bidadari itu gembira.

Lalu Allah SWT memanggil : “Yaa Jibril… serukanlah kepada seluruh arwah para nabi, para rasul, para wali agar berkumpul, berbaris rapih, bahwa sesungguhnya Kekasihku cahaya di atas cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah mereka mnyambut kedatangan Nabi Muhammad saw.

Yaa Jibril… perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup pintu-pintu neraka dan perintahakan kepada Malaikat Ridwan untuk membuka pintu-pintu syurga dan bersoleklah engkau denagn sebaik-baiknya keindahan demi menyambut kekasihKu Nabi Muhammad saw.

Yaa Jibril… bawalah trilyunan malaikat yang ada di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah KekasihKu Muhammad saw telah siap untuk dilahirkan dan sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman.”

Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi bumi ini dengan trilyunan malaikat.
Lalu ibunda Rasulullah saw di bumi, beliau melihat malaikat itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya.

Pada saat itu pula mereka semua berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula datanglah burung putih berkilau cahaya mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada saat itu pula lahirlah Muhammad Rasulullah saw dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari Nabi Muhammad saw bersujud kepada Allah seraya mengucapkan, “Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Wal-hamdulillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa asiilaa.”

Semakin memuncaklah kegembiraan seluruh alam dunia dan semesta dan terucaplah “Yaa Nabi Salam Alaika… Yaa Rasul Salam Alaika… Yaa Habib Salam Alaika… Shalawatullah Alaika.. ”

Matanya bagaikan telah dipakaikan sifat mata, senyum indah terpancar dari wajahnya dan hancurlah berhala-berhala dan bergembiralah semua alam semesta menyambut kelahiran Nabi yang mulia…

Demikianlah Saudaraku, di copas dari naskah sahabatku :" Sabari Muhammad.
Semoga saja bermanfaat Aamiin..." Wassalam,-
-

SIRAH MUHAMMAD Menjelang Kelahiran (Bag : ke 1 )


Muhammad adalah keturunan Nabi Ismail -nabi dengan 12 putra yang menjadi cikal bakal bangsa Arab. Para nenek moyang Muhammad adalah penjaga Baitullah sekaligus pemimpin masyarakat di Mekah, tempat yang menjadi tujuan bangsa Arab dari berbagai penjuru untuk berziarah setahun sekali. Tradisi ziarah yang sekarang, di masa Islam, menjadi ibadah haji. Salah seorang yang menonjol adalah Qusay yang hidup sekitar abad kelima Masehi.

Tugas Qusay sebagai penjaga ka'bah adalah memegang kunci ('hijabah'), mengangkat panglima perang dengan memberikan bendera simbol yang dipegangnya ('liwa'), menerima tamu ('wifadah') serta menyediakan minum bagi para peziarah ('siqayah').

Ketika lanjut usia, Qusay menyerahkan mandat terhormat itu pada pada anak tertuanya, Abdud-Dar. Namun anak keduanya, Abdul Manaf, lebih disegani warga. Anak Abdul Manaf adalah Muthalib, serta si kembar siam Hasyim dan Abdu Syam yang harus dipisah dengan pisau. Darah tumpah saat pemisahan mereka, diyakini orang Arab sebagai pertanda keturunan mereka bakal berseteru.

Anak-anak Abdul Manaf mencoba merebut hak menjaga Baitullah dari anak-anak Abdud-Dar yang kurang berwibawa di masyarakat. Pertikaian senjata nyaris terjadi. Kompromi disepakati. Separuh hak, yakni menerima tamu dan menyediakan minum, diberikan pada anak-anak Abdul Manaf. Hasyim yang dipercaya memegang amanat tersebut.

Anak Abdu Syam, Umayah, mencoba merebut mandat itu. Hakim memutuskan bahwa hak tersebut tetap pada Hasyim. Umayah, sesuai perjanjian, dipaksa meninggalkan Makkah. Keturunan Umayah -seperti Abu Sofyan maupun Muawiyah- kelak memang bermusuhan dengan keturunan Hasyim.

Hasyim lalu menikahi Salma binti Amr dari Bani Khazraj -perempuan sangat terhormat di Yatsrib atau Madinah. Mereka berputra Syaibah (yang berarti uban) yang di masa tuanya dikenal sebagai Abdul Muthalib -kakek Muhammad. Inilah ikatan kuat Muhammad dengan Madinah, kota yang dipilihnya sebagai tempat hijrah saat dimusuhi warga Mekah. Syaibah tinggal di Madinah sampai Muthalib -yang menggantikan Hasyim karena wafat-menjemputnya untuk dibawa ke Mekah. Warga Mekah sempat menyangka Syaibah sebagai budak Muthalib, maka ia dipanggil dengan sebutan Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib mewarisi kehormatan menjaga Baitullah dan memimpin masyarakatnya. Namanya semakin menjulang setelah ia dan anaknya, Harits, berhasil menggali dan menemukan kembali sumur Zamzam yang telah lama hilang. Namun ia juga sempat berbuat fatal: berjanji akan mengorbankan (menyembelih) seorang anaknya bila ia dikaruniai 10 anak. Begitu mempunyai 10 anak, maka ia hendak melaksanakan janjinya. Nama sepuluh anaknya dia undi ('kidah') di depan arca Hubal. Abdullah -ayah Muhammad-yang terpilih.

Masyarakat menentang rencana Abdul Muthalib. Mereka menyarankannya agar menghubungi perempuan ahli nujum. Ahli nujum tersebut mengatakan bahwa pengorbanan itu boleh diganti dengan unta asalkan nama unta dan Abdullah diundi. Mula-mula sepuluh unta yang dipertaruhkan. Namun tetap Abdullah yang terpilih oleh undian. Jumlah unta terus ditambah sepuluh demi sepuluh. Baru setelah seratus unta, untalah yang keluar dalam undian, meskipun itu diulang tiga kali. Abdullah selamat.

Peristiwa besar yang terjadi di masa Abdul Muthalib adalah rencana penghancuran Ka'bah. Seorang panglima perang Kerajaan Habsyi (kini Ethiopia) yang beragama Nasrani, Abrahah, mengangkat diri sebagai Gubernur Yaman setelah ia menghancurkan Kerajaan Yahudi di wilayah itu. Ia terganggu dengan reputasi Mekah yang menjadi tempat ziarah orang-orang Arab. Ia membangun Ka'bah baru dan megah di Yaman, serta akan menghancurkan Ka'bah di Mekah. Abrahah mengerahkan pasukan gajahnya untuk menyerbu Mekah.

Mendekati Mekah, Abrahah menugasi pembantunya -Hunata-untuk menemui Abdul Muthalib. Hunata dan Abdul Muthalib menemui Abrahah yang berjanji tak akan mengganggu warga bila mereka dibiarkan menghancurkan Baitullah. Abdul Muthalib pasrah. Menjelang penghancuran Ka'bah terjadilah petaka tersebut. Qur'an menyebut peristiwa yang menewaskan Abrahah dan pasukannya dalam Surat Al-Fil."Dan Dia mengirimkan kepada mereka "Toiron Ababil", yang melempari mereka dengan batu-batu cadas yang terbakar, maka Dia jadikan mereka bagai daun dimakan ulat".

Pendapat umum menyebut "Toiron Ababil" sebagai "Burung Ababil" atau "Burung yang berbondong-bondong". Buku "Sejarah Hidup Muhammad" yang ditulis Muhammad Husain Haekal mengemukakannya sebagai wabah kuman cacar (mungkin maksudnya wabah Sampar atau Anthrax -penyakit serupa yang menewaskan sepertiga warga Eropa dan Timur Tengah di abad 14). Namun ada pula analisa yang menyebut pada tahun-tahun itu memang terjadi hujan meteor -hujan batu panas yang berjatuhan atau 'terbang' dari langit. Wallahua'lam. Yang pasti masa tersebut dikenal sebagai Tahun Gajah yang juga merupakan tahun kelahiran Muhammad.

Pada masa itu, Abdullah putra Abdul Muthalib telah menikahi Aminah. Ia kemudian pergi berbisnis ke Syria. Dalam perjalanan pulang, Abdullah jatuh sakit dan meninggal di Madinah. Muhammad lahir setelah ayahnya meninggal. Hari kelahirannya dipertentangkan orang. Namun, pendapat Ibn Ishaq dan kawan-kawan yang paling banyak diyakini masyarakat: yakni bahwa Muhammad dilahirkan pada 12 Rabiul Awal. Orientalis Caussin de Perceval dalam 'Essai sur L'Histoire des Arabes' yang dikutip Haekal menyebut masa kelahiran Muhammad adalah Agustus 570 Masehi. Ia dilahirkan di rumah kakeknya -tempat yang kini tak jauh dari Masjidil Haram.

Bayi itu dibawa Abdul Muthalib ke depan Ka'bah dan diberi nama Muhammad yang berarti "terpuji". Suatu nama yang tak lazim pada masa itu. Konon, Abdul Muthalib sempat hendak memberi nama bayi itu Qustam -serupa nama anaknya yang telah meninggal. Namun Aminah -berdasarkan ilham-mengusulkan nama Muhammad itu.

SIRAH MUHAMMAD (Bag ;ke 2)


Dari Gembala ke Manajer


Dalam tradisi keluarga terhormat Arab masa itu, bayi tidak disusui sendiri oleh Sang Ibu. Ia diserahkan pada orang lain yang menjadi Ibu susu. Demikian pula Muhammad. Beberapa hari, ia disusui oleh Tsuaiba -budak paman Muhammad, Abu Lahab, yang juga tengah menyusui Hamzah -paman lainnya yang seusia Muhammad. Kemudian ia diserahkan pada Halimah, perempuan miskin dari Bani Saad yang mencari pekerjaan sebagai Ibu susu.

Semula Halimah menolak Muhammad. Ia menginginkan bayi yang bukan seorang yatim, dan keluarganya sanggup membayar lebih mahal. Tak ada bayi lain yang bisa disusui, Halimah pun membawa Muhammad ke kampungnya. Suasana perkampungan Bani Saad disebut lebih baik bagi pertumbuhan anak dibanding 'kota' Mekah. Udara di sana disebut lebih bersih, bahasa Arab-nya pun lebih asli. Di masa bersama Halimah itulah tersiar kisah mengenai Muhammad kecil.

Menurut kisah itu, Halimah menjumpai Muhammad dalam keadaan pucat. Disebutkan bahwa Muhammad baru didatangi dua orang -yang diyakini banyak kalangan sebagai malaikat. Orang tersebut kemudian membelah dada Muhammad. Banyak orang percaya, itu adalah proses malaikat "mencuci hati Muhammad'' sehingga bersih. Namun Haekal menyebut bahwa kisah tersebut lemah. Saat itu Muhammad dan anak Halimah yang menyertainya masih balita, sehingga kesaksiannya diragukan.

Pada usia lima tahun, Muhammad dikembalikan ke Mekah. Konon Halimah khawatir atas keselamatan Muhammad. Dalam perjalanan ke Mekah, Muhammad sempat terpisah dari Halimah dan tersesat sebelum ditemukan secara tak sengaja oleh orang yang kemudian mengantarkan ke rumah Abdul Muthalib. Saat Muhammad berusia enam tahun, Aminah sang ibu membawanya ke Madinah menengok keluarga dan makam Abdullah, sang ayah. Mereka ditemani budak Abdullah, Ummu Aiman, menempuh jarak sekitar 600 km bersama kafilah dagang yang menuju Syam.

Saat pulang, setiba di Abwa -37 km dari Madinah-Aminah jatuh sakit dan meninggal. Muhammad pun yatim piatu. Ia dipelihara Abdul Muthalib. Namun, sang kakek juga meninggal saat Muhammad berusia 8 tahun. Muhammad lalu tinggal di rumah Abu Thalib -anak bungsu Abdul Muthalib yang hidup miskin. Kehidupan sehari-hari Muhammad adalah menggembala kambing. Pada usia 12 tahun, Muhammad diajak pamannya berdagang ke Syam.

Terkisahkan, dalam perjalanan itu Abu Thalib bertemu pendeta Nasrani bernama Buhaira di Bushra. Sang pendeta memberi tahu bahwa Muhammad bakal menjadi Nabi besar. Maka, ia menyarankan Abu Thalib segera membawa pulang Muhammad agar tidak celaka olah ulah orang-orang yang tak suka. Perjalanan ke negeri asing untuk berbisnis pada usia semuda itu tentu memberi kesan kuat pada Muhammad.

Berkat ketulusan dan kelurusan hatinya, Muhammad remaja mendapat sebutan Al-Amien, "yang dapat dipercaya", dari orang-orang Mekah. Ia juga disebut-sebut terhindar dari berbagai bentuk kemaksiatan yang acap timbul dari pesta. Setiap kali hendak menyaksikan pesta bersama kawan-kawannya, Muhammad selalu tertidur. Sedangkan ketajaman intelektual serta nuraninya terasah melalui hobinya mendengarkan para penyair.

Pada bulan-bulan suci, di beberapa tempat di dekat Mekah, selalu muncul pasar. Terutama di Ukaz yang berada di antara Thaif dan Nakhla, serta di Majanna dan Dzul-Majaz. Di hari pasar, para penyair membacakan sajak-sajaknya. Sebagian penyair itu beragama Nasrani maupun Yahudi. Mereka umumnya mengeritik bangsa Arab yang menyembah berhala. Peristiwa tersebut menambah sikap kritis Muhammad atas perilaku masyarakatnya.

Persoalan pasar di Ukaz itu menyeret Muhammad pada realita manusia: perang. Berawal dari pelanggaran kesepakatan sistem dagang yang dilakukan Barradz bin Qais dari kabilah Kinana yang memicu pelanggaran serupa 'Urwa bin 'Uthba dari kabilah Hawazin. Barradz lalu membunuh 'Urwa di bulan suci yang diharamkan terjadi pertumpahan darah. Kabilah Hawazin lalu mengangkat senjata terhadap kabilah Kinana. Karena kekerabatan, kaum Quraish seperti Muhammad membela kabilah Kinana.

Selama empat tahun, pertempuran berlangsung pada hari-hari tertentu setiap tahun. Itu terjadi saat Muhammad berusia sekitar 16 hingga 20 tahun. Disebutkan pula, di pertempuran itu Muhammad hanya bertugas mengumpulkan anak panah lawan. 

Ada juga yang menyebut dia pernah memanah lawan. Perang Fijar itu pun berakhir dengan kesepakatan damai.
Satu peristiwa penting yang jarang dikisahkan adalah bergabungnya Muhammad pada Gerakan Hilfil Fudzul. Sebuah gerakan untuk memberantas kesewenangan di masyarakat dan melindungi yang teraniaya. 

Peristiwa itu terpicu oleh perampasan barang milik pedagang asing yang tiba di Mekah oleh Wail bin Ash. Zubair bin Abdul Muthalib mengajak keluarga Hasyim, Zuhra dan Taym untuk menegakkan kembali kehormatan kota Mekah. Mereka berikrar di rumah Abdullah bin Jud'an untuk membentuk gerakan tersebut. Pada usia 20-an tahun, Muhammad aktif dalam Hilfil Fudzul itu. Ia ikut menyelamatkan gadis dari Bani Khais'am yang diculik Nabih bin Hajaj dan kawan-kawan.

Kematangan Muhammad semakin tumbuh seiring dengan meningkatnya usia. Saat Muhammad berusia 25 tahun, Abu Thalib melihat peluang usaha bagi keponakannya. Ia tahu pengusaha terkaya di Mekah saat itu, Khadijah, tengah mencari manajer bagi tim ekspedisi bisnisnya ke Syam. Khadijah menawarkan gaji berupa dua ekor unta muda bagi manajer itu. Atas sepersetujuan Muhammad, Abu Thalib menemui Khadijah meminta pekerjaan tersebut buat keponakannya itu serta minta gaji dinaikkan menjadi empat ekor unta. Khadijah setuju.

Untuk pertama kalinya Muhammad memimpin kafilah, atau misi dagang, menyusuri jalur perdagangan utama Yaman - Syam melalui Madyan, Wadil Qura dan banyak tempat lain yang pernah ditempuhnya saat kecil. Di kafilah itu Muhammad dibantu oleh perempuan budak Khadijah, Maisarah. Bisnis tersebut sukses besar. 

Dikabarkan tim dagang Muhammad meraup keuntungan yang belum pernah mampu diraih misi-misi dagang sebelumnya. Dalam perjalanannya tersebut, ia juga banyak berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain. Termasuk para pendeta Yahudi maupun Nasrani yang terus mengajarkan keesaan Allah. Muhammad juga semakin memahami konstalasi politik global, termasuk menyangkut dominasi Romawi serta perlawanan Persia.

Khadijah terkesan atas keberhasilan Muhammad. Laporan Maisarah memperkuat kesan tersebut. Maka, benih cinta pun perlahan bersemi di hati pengusaha terkaya di Mekah yang hidup menjanda itu.