Rabu, 27 Agustus 2014

Hikmah Kutipan Bagian ke 12), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau ; Kitab Rahasia Dalam Rahasia yangKebenarannya Sangat Diperlukan".

12: MENYAKSIKAN ALLAH: SAMPAI KEPADA MAKAM MELIHAT KENYATAAN ZAT YANG MAHA SUCI.

Melihat Allah ada dua jenis: Pertama melihat sifat keindahan Allah yang sempurna secara langsung di akhirat 'dan satu lagi melihatsifat-sifat ketuhanan yang dipancarkan ke atas cermin yang jernih milik hatiyang murni di dalam kehidupan ini. 

Dalam hal tersebut penyaksian terlihat sebagai pengungkapan cahaya keluar dari keindahan Allah yang sempurna dan dilihat oleh mata hati yang hakiki.
"Hati tidak menafikan apa yang dia lihat". (Surah Najmi, ayat 11).

Tentang melihat kenyataan Allah melalui perantaraan."
 Nabisaw bersabda, 
" Yang beriman adalah cermin bagi yang beriman". 
Yang beriman yang pertama, cermin dalam ayat ini, adalah hati yang beriman yang sucimurni, sementara yang beriman kedua adalah Yang Melihat bayangan-Nya di dalam cermin itu, Allah Yang Maha Tinggi. 

Siapa yang sampai ke makam melihat kenyataan sifat Allah di dalam dunia ini akan melihat Zat Allah di akhirat, tanpa rupa tanpa bentuk.

Pernyataan ini disahkan oleh Umar dengan katanya,"Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku". Ali ra berkata,"Aku tidak menyembah Allah kecuali aku melihat-Nya".

 Mereka berdua tentu telah melihat sifat-sifat Allah dalam kenyataan. 
Jika seseorang melihat cahaya matahari masuk melalui jendela dan dia berkata, "Aku melihat matahari", dia berbicara benar.

Allah memberikan gambaran yang jelas tentang kenyataan sifat-Nya:
"Allah itu nur bagi langit-langit dan bumi. Perumpamaan nur-Nya (adalah) seperti satu kurungan pelita yang di dalamnya ada pelita(sedang) pelita itu dalam satu kaca, (dan) kaca itu sebagai bintang yang seperti mutiara, yang dinyalakan (dengan minyak) dari pohon yang banyak manfaat(yaitu) zaitun yang bukan bangsa timur dan bukan bangsa barat, yang minyaknya (saja) hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api, nur atas nur, Allah pimpin kepada nur-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah mengadakan perumpamaan bagi manusia, dan Allah mengetahui segala sesuatu ". (Surah Nuur, ayat 35).

Perumpamaan dalam ayat ini adalah hati yang yakin penuh di kalangan orang yang beriman. Lampu yang menerangi bekas hati itu adalah fakta atau esensi ke hati, sementara cahaya yang dipancarkan adalah rahasia Tuhan, 'roh sultan'.

 Kaca adalah transparan dan tidak menjebak cahaya di dalamnya tetapi ia melindunginya sambil menyebarkannya karena ia umpama bintang. Sumber cahaya adalah pohon Ilahi. Pohon itu adalah makam atau suasana keesaan, menjalar dengan dahan dan akarnya, memupuk prinsip-prinsip iman, berhubung tanpa perantaraan dengan bahasa yang asli. 

Langsung, melalui bahasa yang asli itulah Nabi saw menerima pembukaan al-Quran. 
Dalam pernyataan Jibril membawa firman Tuhan hanya setelah firman tersebut diterima - ini adalah untuk kepentingan kita supaya kita bisa mendengarnya dalam bahasa manusia. 

Ini juga memperjelas siapa yang tidak percaya dan munafik dengan memberi mereka kesempatan untuk menyangkal seperti mereka tidak percaya kepada malaikat. 

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu Al-Qur'an (ini) dari sisi (Allah) yang bijaksana, yang mengetahui". (Surah Naml, ayat 6). 

Karena Nabi saw menerima pembukaan sebelum Jibril membawanya ke dia, setiap kali Jibril membawa ayat-ayat suci itu Nabi saw mendapatinya di dalam hatinya dan membacanya sebelum ayat itu diberikan. Inilah alasan bagi ayat: "Dan janganlah engkau terburu-buru dengan Quran sebelum habis diwahyukan kepadamu".
 (Surah Ta Ha, ayat 114). 

Kondisi ini menjadi jelas sewaktu Jibril menemani Nabi saw pada malam mikraj, Jibril tidak mampu untuk pergi lebih jauh dari Sidratul Muntaha. Dia berkata, "Jika aku ambil satu langkah lagi aku akan terbakar". Jibril membiarkan Nabi saw melanjutkan perjalanan seorang diri. 

Allah menggambarkan pohon zaitun yang diberkati, pohon keesaan, bukan dari timur dan bukan dari barat. Dalam lain kata itu tidak ada awal dan tidak ada kesudahan, dan cahayanya yang menjadi sumber tidak terbit dan tidak terbenam. Ia tetap pada masa lalu dan tidak ada kesudahan pada masa akan datang.

 Kedua Zat Allah dan sifat-sifat-Nya adalah kekal abadi. Kedua pernyataan Zat-Nya dan kenyataan sifat-Nya tergantung pada Zat-Nya. 

Penyembahan yang sejati hanya dapat dilakukan ketika hijab yang menutupi hati tersingkap agar cahaya abadi menyinarinya. Hanya setelah itu hati menjadi terang dengan cahaya Ilahi. Hanya setelah itu roh menyaksikan perumpamaan Ilahi itu. 

Tujuan diciptakan alam maya adalah untuk ditemukan harta rahasia itu.
 Allah berfirman melalui Rasul-Nya: 
"Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi. Aku suka dikenal lalu Aku ciptakan makhluk agar Aku dikenal". 

Ini berarti Dia dapat dikenal di dalam dunia ini melalui sifat-sifat-Nya. Tetapi untuk melihat dan mengenali Zat-Nya sendiri hanya dapat terjadi di akhirat. Di sana melihat Allah langsung sebagaimana yang Dia kehendaki dan yang melihatnya adalah mata bayi hati. 

"Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat". (Surah Qiamat, ayat 22 & 23). 
Nabi saw bersabda,

"Aku melihat Tuhanku dalam rupa jejaka tampan".
Mungkin ini adalah bayangan bayi hati.
 Bayangan adalah cermin. Ini menjadi alat untuk mengungkapkan yang ghaib. 
Hakikat Allah Yang Maha Tinggi tidak menyerupai sesuatu apakah bayangan atau bentuk. 
 Bayangan adalah cermin, bahkan yang terlihat bukanlah cermin dan bukan juga orang yang melihat ke dalam cermin. 

Pikirkan tentang itu dan cobalah memahaminya karena itu adalah fakta ke alam rahasia-rahasia. 
Tapi semuanya terjadi pada makam sifat. Pada makam Zat semua pernyataan hilang, lenyap. Orang yang di dalam makam Zat itu sendiri lenyap tetapi mereka merasakan zat itu dan tidak ada yang lain.

 Betapa jelas Nabi saw menggambarkannya, "Aku dari Allah dan yang beriman dariku". Dan Allah berfirman melalui Rasul-Nya: 

"Aku ciptakan cahaya Muhammad dari cahaya Wujud-Ku sendiri". 
Maksud Wujud Allah adalah Zat-Nya Yang Maha Suci, menyata di dalam sifat-sifat-Nya Yang Maha Penyayang. Ini dinyatakan-Nya melalui Rasul-Nya: 

"Rahmat-Ku mendahului murka-Ku". 
Rasul yang dikasihi Allah adalah cahaya kebenaran sebagaimana Allah berfirman: 
"Tidak Kami utus engkau melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam". (Surah Anbiyaa ', ayat 107). 

"Sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepada kamu beberapa banyak dari (isi Kitab) yang kamu sembunyikan, dan ia tidak ambil tahu berapa banyak. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan". (Surah Maaidah, ayat 15). 

Pentingnya utusan Allah yang dikasihi-Nya itu jelas dengan firman-Nya kepada beliau, "Jika tidak karena engkau Aku tidak ciptakan makhluk". 

Demikianlah Hikmah Kutipan, ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar" 
Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia yang Kebenarannya Sangat Diperlukan".
Dan Insya Allah bersambung...>

Hikmah Kutipan Bagian ke 13 ), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia Yang Kebenarannya Sangat Diperlukan".

13:TABIR CAHAYA DAN KEGELAPAN

Allah berfirman:
"Siapapun yang buta di dunia ini buta juga di akhirat". (Surah Bani Israil, ayat 72).

Bukan buta mata yang di kepala tetapi buta mata yang di hati yang mencegah seseorang dari melihat cahaya hari akhirat. 

Firman Allah:
"Bukan matanya yang buta tetapi hatinya yang di dalam dada". (Surah Hajj, ayat 46).

Hati menjadi buta karena adanya kelalaian, yang telah membuat seseorang lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajiban mereka, lupa pada tujuan mereka, dan janji mereka dengan Allah, ketika mereka masih berada di dalam dunia. 

Adapun sebab utama adanya kelalaian kelalaian adalah karena kejahilan terhadap fakta (kebenaran) hukum dan peraturan Tuhan. sehingga hal itu telah menyebabkan seseorang itu berlanjut berada didalam kejahilan dikarenakan adanya kegelapan total yang telah menutupi seseorang itu dari luar dengan menguasai batinnya. 

Adapun penyebab yang mendatangkan kegelapan pada batin itu adalah sifat angkuh, sombong, megah,dengki, bakhil, dendam, bohong, mengumpat, fitnah dan lain-lain sifat keji.Sifat-sifat yang keji dan sesungguhnya sifat keji itulah yang telah merendahkan ciptaan Tuhan yang sangat baik sehingga jatuh ke tingkat yang paling rendah.

Dan untuk membebaskan seseorang dari kejahatan seperti itu dia harus menyucikan hati dan jiwanya sehingga dapat mengeluarkan kegelapan itu dari dalam dirinya dan memasukan cahaya kedalam hatinya yang akan dapat memberikan sinar cahaya kepada cermin jiwanya.

Adapun sarat yang diperlukan bagi seseorang didalam Penyucian ini adalah dengan mendapatkan pengetahuan, dan ia mahu beramal serta menurut pengetahuannya itu, dengan usaha dan keberaniannya yang kuat untuk melawan ego dirinya, dan bersedia untuk menghilangkan hawa nafsyunya yang ada pada dirinya.

Dengan demikian maka seseorang akan dapat mencapai kepada ke Esaan-Nya. Selain itu juga tentunya sangat diperlukan perjuangan yang ber laku secara berkesinambungan dan terus menerus sehingga hatinya pun benar-benar menjadi semakin hidup 

Dan dengan cahaya ke Esaan-Nya, Itu maka mata batinnya yang telah suci itu akan dapat melihat hakikat dan sifat-sifat Allah yang ada disekitar dirinya. Dan pada apa yang ada di dalam hatinya.

Apabila telah sampai kearah itu maka kamu akan tahu dan ingat siapa sesungguhnya diri kamu dan siapa yang telah menciptakan kamu dan kemana kamu akan pulang. Dan apa yang kamu tuju dan apa pula sebenarnya yang kamu cari...

Apabila sudah sampai diperingkat itu maka kemudian pada diri kamu akan ada kerinduan dan keinginan untuk kembali ke rumah kediaman-Nya yang nyata, dan dengan berkat pertolonganNya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang maka Roh suci yang ada pada diri kamu pun akan menyatu bersama-Nya.

Dan apabila sifat kegelapan telah terangkat maka cahaya ilahi akan mengambil alih tempatnya dan orang yang memiliki mata rohani akan melihat. Dan dia akan mengenali apa yang dia lihat dengan cahaya nama-nama sifat Ilahiah. 

Kemudian dirinya di banjiri oleh cahaya dan berubah menjadi cahaya. Meskipun cahaya ini masih lagi hijab dan menutupi cahaya suci Zat, tetapi waktunya akan sampai bila ini juga dapat dilewatinya dan semuanya akan terangkat, sehingga yang tinggal hanya cahaya suci Zat itu sendiri.

Dan sesungguhnya hati itu memiliki dua mata, satu yang sempit dan satu lagi yang luas. 

Dengan mata yang sempit seseorang dapat melihat kenyataan sifat-sifat dan nama-nama Allah. Dan Penglihatan ini akan berlanjut sepanjang perkembangan kerohaniannya. 

Sedangkan Mata yang luas melihat hanya kepada apa yang telah terlihat oleh cahaya keesaan dan yang esa. Hanya bila seseorang sampai ke daerah jarak dengan Allah dia akan melihat, di dalam alam penghabisan bagi kenyataan Zat Allah,Yang Esa dan Mutlak.

Untuk mencapai makam-makam ini ketika masih berada di dalam dunia,di dalam kehidupan ini kamu harus membersihkan diri kamu dari sifat keduniaan, serta ego dan ke akuanmu. 

Karena jarak yang kamu tempuh dalam bepergianmu di dalam kenaikan kamu ke arah makam-makam tersebut itu tergantung pada sejauh mana kamu mengisolasi diri kamu dari hawa nafsu yang rendah dan ke egoan diri kamu. Dan ke akuanmu.

Pencapaian kamu ke tujuan yang kamu inginkan itu bukanlah seperti barang materi yang mudah sampai ke tempat kebendaan. Ia juga bukan ilmu yang membawa seseorang kepada sesuatu yang menjadi diketahui (dari tidak diketahu), juga bukan berdasarkan pada pertimbangan yang diperolehi dari apa yang dipikirkan, bukan juga khayalan yang menyatu dengan apa yang dikhayalkan. Tujuan yang kamu ingin capai adalah kesadaran tentang ketiadaan (kekosongan) kamu dari segala sesuatu kecuali Zat Allah.

 Pencapaian ini adalah perubahan suasana yang terjadi, bukan perubahan pada sesuatu yang nyata. Disana tidak ada jarak, tidak dekat atau jauh, tidak kesampaian, tidak ada ukuran, tidak ada arah, tidak ada ruang.

Dia Maha Besar, segala Puji bagi-Nya. Dia Maha Pengampun.Dia menjadi nyata dalam apa yang Dia sembunyikan dari kamu. Dia menyatakan Diri-Nya sebagaimana Dia melabuhkan tirai di antara Dia dengan kamu. Pengenalan tentang Diri-Nya yang tersembunyi di dalam ketidak mampuan kamu di dalam mengenali-Nya.

Jika ada di antara kamu yang sampai kepada cahaya yang  dijelaskan dalam catatan ini ketika kamu masih berada di dalam dunia, maka buatlah muhasabah (hisab) terhadap diri kamu, dengan buku catatan kamu tentang apa yang di praktekkan oleh kamu. 

Hanya dibawah cahayaNya kamu bisa melihat apa yang kamu sudah buat dan apa yang sedang kamu buat; buat maka dari itu hitungan kamu, apa bisa di seimbangkannya.

Atau kamu akan membaca buku catatan kamu di hadapan Tuhan kamu pada hari pembalasan. Dan sesungguhnya itu adalah akhir dari kehidupanmu. Dan kamu tidak ada kesempatan lagi untuk mengimbanginya di sana. 

Dan jika kamu melakukan itu di sini ketika kamu masih ada waktu, maka kamu akan termasuk ke dalam golongan yang diselamatkan.

Jika tidak maka azab dan siksaNya akan menjadi bagian kamu di akhirat. karena sesungguhnya kehidupan di dunia ini akan berakhir. Dan di sana ada siksaan di dalam kubur, dan ada hari pembalasan, serta ada neraka dan neraca timbangan yang akan menimbang sampai kepada dosa-dosa kamu yang paling kecil dan kebaikan apa yang paling kecil.

Kemudian ada jembatan yang lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari mata pedang, dan penghujungnya adalah taman, sementara di bawahnya adalah neraka yang penuh dengan kecelakaan, dan penderitaan, dan kesemuanya itu adalah abadi dan semua itu hanya bisa di tentukan ketika kamu masih hidu di kehidupan yang singkat ini hingga kamu berakhir.

Demikianlah untk kali ini dan semoga saja bermanfaat dan Insya Allah bersambung...>

Hikmah Kutipan Bagian ke 14 ), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia yangKebenarannya Sangat Diperlukan".

14: KEBAHAGIAAN KARENA BERAMAL SALIH DAN KESENGSARAAN KARENAINGKAR

Kamu harus tahu bahwa manusia akan termasuk ke salah satu dari dua golongan ;

 Golongan pertama adalah yang berada dalam kedamaian, keimanan, bahagia dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sementara orang kedua berada dalam kondisi tidak aman, keraguan dan kekhawatiran dalam keingkaran terhadap aturan Tuhan.

Kedua nilai, ketaatan dan keingkaran, yang ada di dalam diriseseorang.

Jika kesucian, kebaikan dan keikhlasan lebih menguasai,sifat mementingkan diri maka akan berubah menjadi suasana kerohanian dan bagian diri yang ingkar akan dikalahkan oleh bagian diri yang baik. Sebaliknya jika seseorang mengikuti hawa nafsunya yang rendah dan kesenangan ego dirinya, maka sifat ingkar akan menguasai bagian dirinya yang satu lagi untuk menjadikannya ingkar dan jahat.

Jika kedua sifat yang berlawanan itu sama-sama kuat diharapkan yang baik itu bisa menang, sebagaimana yang dijanjikan:

"Barang siapa kerjakan kebaikan maka baginya (ganjaran) sepuluh kali lipat, dan barang siapa kerjakan kejahatan maka Tidaklah dibalas dia melainkan sebanyak (kejahatannya) itu, dan mereka tidak akan diniayai.(Surah An'aam, ayat 160).

Dan jika Allah menghendaki ditambahkan-Nya lagi imbalan atas kebaikan. Namun orang yang kebajikan dan kejahatannya sama banyak harus lulus sidang pada hari pembalasan.

 Orang yang berhasil mengubah sifat mementingkan diri kepada tidak mementingkan diri, keinginan yang rendah kepada cita-cita spiritual, baginya tidak ada hisab, tidak ada catatan akan diberikan kepadanya. Dia akan memasuki surga tanpa melalui huru hara harikiamat.

"Oleh sebab itu barang siapa berat (timbangan) kebaikannya maka dia di dalam kehidupan (akhirat) yang sentosa". (SurahQari'ah, ayat 6 & 7).

Orang yang kejahatannya lebih berat dari kebaikannya akan dihukum menurut harga kejahatannya. Kemudian dia dikeluarkan dari neraka, jikadia beriman, dan akan masuk surga.

Taat dan ingkar berarti baik dan jahat. Kedua ini ada dalam diri seseorang manusia. Yang baik bisa berubah menjadi jahat dan yang jahat bisa berubah menjadi baik.

Nabi saw bersabda,
 "Orang yang kebaikan menguasainya menemukan keamanan, keimanan dan kegembiraan dan menjadi baik.

Orang yang jahat lebih menguasai kebaikan, dia menjadi kafir dan jahat. Orang yang menyadari kesalahannya dan bertobat dan mengubah haluannya akan menemukan suasana ingkar akan berubah menjadi taat dan beribadah".

Telah menjadi ketentuan bahwa baik dan jahat, kehidupan yang diberkati bagi orang yang taat dan kesengsaraan bagi yang ingkar, adalah kondisi yang setiap orang dilahirkan dengannya. Keduanya tersembunyi di dalam bakat atau kemampuan seseorang.

Nabi saw bersabda,
"Orang yang beruntung menjadi baik adalah baik ketikadi dalam kandungan ibunya, dan orang berdosa yang jahat adalah pendosa di dalam kandungan ibunya". Begitulah keadaannya dan tidak ada yang berhak berbicara tentang. Urusan takdir bukan untuk dibahas. Dan jika dibiarkan diskusi demikian ia akan membawa kepada bid'ah dan kekufuran.

Setelah semua tidak ada yang bisa membuat takdir sebagai alasan untuk membuang segala ikhtiar, semua perbuatan baik. Seseorang tidak dapat mengatakan, 'Jika aku ditakdirkan menjadi baik maka aku bersusah payah membuat kebaikan sedangkan aku sudah diberkati'. Atau berkata, 'Jika aku sudah ditakdirkan menjadi jahat apa gunanya aku berbuat kebaikan'.

Jika demikian maka jelas sikap demikian tidak benar.

Tidak wajar bila seseorang mengatakan, 'Jika kondisi aku sudah ditakdirkan sejak dari azali apa untung atau ruginya dari apa yang aku harapkan dengan usahaku sekarang'.

 Contoh yang baik diberikan kepada kita adalah perbandingan di antara Adam as dengan iblis yang dilaknat.

Iblis menempatkan kesalahan pada takdir, yang menyebabkan dia menjadi durhaka, maka dia menjadi kafir dan dibuang jauh dari pengampunan dan jarak dari Tuhan.

Adam as mengakui kesalahannya dan memohon ampunan, menerima pengampunan dari Allah dan diselamatkan.

Menjadi kewajiban bagi orang Islam yang beriman untuk tidak mencoba memahami sebab-sebab yang tersimpan di dalam takdir. Orang mencoba melakukannya akan menjadi bingung dan tidak mendapatkan apa-apa melainkan keraguan. Bahkan dia mungkin kehilangan keyakinan.

Orang yang beriman harus percaya kepada kebijaksanaan Allah yang mutlak. Segala yang manusia lihat terjadi pada dirinya di dalam dunia ini harus ada alasan tetapi alasan itu bukan untuk dipahami melalui logika manusia karena berdasarkan kebijaksanaan Tuhan.

Di dalam kehidupan ini bila kamu menemui pencacian terhadapTuhan, kemunafikan, keingkaran, penipuan dan lain-lain yang jahat, maka jangan biarkan hal tersebut menggoncangkan iman kamu.

Ketahuilah Allah Yang Maha Tinggi dengan kebijaksanaan mutlak bertanggung jawab kepada semua hal . Dan Pada apa yang ‘’ Dia lakukan tampak sebagai tidak baik sebagai manaIa menyatakan kekuasaan-Nya yang mutlak.

Pengungkapan kekuasaan yang demikian mungkin telah menyebabkan orang yang tidak tahan telah menganggapnya sebagai hal yang tidak baik padahal disebaliknya itu ada rahasia besar yang tidak ada makhluk yang tahu kecuali Rasulullah saw.

Sebagaimana  yang  di ungkapkannya :
 ‘Ada Sebuah Kisahkan Tentang Orang Arif Berdoa Kepada Tuhannya,

"Wahai Yang Maha Suci, semua telah diatur oleh Engkau.Takdirku adalah milik-Mu. Ilmu yang Engkau tempatkan padaku adalah milik-Mu". Dan Ketika itu dia mendengar jawaban tanpa suara tanpa sepatah kata, yang keluar dari dalam dirinya mengatakan,

 "Wahai hamba-Ku.Segala yang engkau katakan adalah kepunyaan Aku Yang Maha Esa dan dalam keesaan. Ini bukan milik hamba-hamba ".

Kemudian’ Hamba yang beriman itu berkata, " Wahai Tuhanku, aku telah menzalimi diriku, aku bersalah, aku berdosa". 
Setelah pengakuan itu sekali lagi dia mendengar dari dalam dirinya, "Ada suara tanpa kata “Dan Aku memiliki keampunan terhadap dirimu. Aku telah menghapus kesalahan-kesalahan kamu, Aku telah ampuni kamu ".

Demikianlah ungkapan dari kisah tersebut adapun maksud dan tujuannya adalah agar supa mereka Orang-orang yang beriman itu tahu dan bersyukur dalam segala hal kebaikan apapun dan dari apa yang mereka lakukan, bukanlah dari mereka tetapi melalui mereka, baik kesuksesan maupun ujianaNya yang datang dari Sang Pencipta.

Bila mereka bersalah biar mereka tahu bahwa kesalahan merekaitu datangnya dari diri mereka sendiri, disebabkan mereka telah berbuat dan telah melakukan suatu perbuatan yang tidak berkesesuaian dengan pengaturanNya.

Dengan demikian maka sudah sewajarnyalah apabila mereka bertobat. Dan mengakui dari segala Kesalahan yang datang karena kesemuanya itu diakibatkan dari ego mereka sendiri yang batil.

Jika kamu memahami ini dan mengingatnya maka kamu termasuk ke dalam golongan yang disebut Allah:
"Sedangkan bagi mereka yang ketika telah berbuat kejelekan atau menganiaya diri-diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak ingat kepada Allah, dan mereka minta diampuni dari dosa-dosa mereka bukankah tidak ada Tuhan yang mengampuni dosa-dosa melainkan Allah?

Dan Sesungguhnya mereka tidak abadi di atas dosa yang mereka kerjakan, dan mereka tahu. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka, surga-surga yang mengalir padanya sungai-sungai, mereka akan tetap padanya, dan alangkah baiknya balasan bagi orang-orang yang beramal ".(Surah Imraan, ayat 135 & 136).

Adalah baik bagi orang yang beriman yang mengakui dirinya sendirilah yang telah menyebabkan semua kesalahan dan dosa-dosanya.  Dan itulah yang akan menyelamatkannya. Karena hal itu lebih baik dan lebih benar dari menempatkan kesalahan dirinya kepada Yang Maha Perkasa Lagi Maha Kuasa, Pencipta semua hal.

Saudaraku...”
Bila Nabi saw bersabda, "Telah diketahui bila seseorang itu berada di dalam kandungan ibunya apakah dia akan menjadi baik atau pendosa" Adalah yang beliau maksudkan 'dalam kandungan ibu' itu adalah merupakan empat anasir yang melahirkan semua kekuatan atau energi dan kemampuan lahiriah.

 Dua dari anasir tersebut adalah tanah dan air yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan keyakinan dan pengetahuan, melahirkan kehidupan dan lahir dalam hati sebagai tawaduk (kerendahan diri).

 Dua anasir lain adalah api dan angin yang bertentangan dengan tanah dan air – keduanya berpungsi untuk membakar, membinasa, membunuh sesuatu hal yang tidak bersesuaian yang akan terjadi pada diri setiap makhluk.

Disiniah “Kudrat Tuhan yang telah menyatukan segala anasir-anasir yang berlawanan dan berbeda sehingga menjadi satu kesatuan. Bagaimana air dan api dapat hidup berdampingan? Bagaimana cahaya dan kegelapan dapat terkandungdi dalam awan?

Demikianlah "Dia yang mengunjukkan kepada kamu kilat untuk menakutkan dan Dia menjadikan mega yang berat. Dan petir itu beribadat dengan memuji Tuhannya, dan malaikat juga, lantaran 
(Mereka) takut kepada-Nya,dan Dia kirim halilintar dan Dia kenakannya kepada siapa pun yang Dia kehendaki...".(Surah ar-Ra'd, ayat 12 & 13).

Sebagimana pada suatu hari wali Allah Yahya bin Mua'adhar-Razi ‘ditanya, "Bagaimana mengenali Allah? ‘' Dia menjawab,"Melalui kombinasi yang bertentangan ".

Iyalah Pertentangan yang termasuk kepada apa, yang sebenarnya di butuhan dan untuk, memahami sifat-sifat Allah. Dengan menghadapkan diri kepada hakikat Ilahi hingga seseorang menjadi cermin yang membalikkan kebenaran itu, juga sifat Yang Maha Perkasa itu yang dibalikkan.

Dalam diri manusia terkandung seluruh alam maya. Sebab itudia disebut konsolidator yang banyak. Allah menciptakan manusia dengan dua tangan-Nya, yakni tangan kemurahan-Nya dan tangan keperkasaan-Nya, keperkasaan dan kekuasaanNya. Jadi, manusia adalah cermin yang menunjukkan kedua sisi, yang kasar serta tebal dan halus serta indah.

Semua nama-nama Ilahi nyata tampak pada diri manusia. Sedangkan semua makhluk yang lain hanyalah sebelah saja.

Sebagai mana Allah menciptakan iblis dan keturunannya dengan sifat kekerasan-Nya. Sedangkan , ’Dia ciptakan malaikat dengan sifat kemurahan-Nya.

Nilai-nilai kesucian dan kebaktian yang berkelanjutan terkandung dalam kejadian malaikat, sementara iblis dan keturunannya yang diciptakan dengan sifat kekerasan-Nya, memiliki nilai kejahatan, karena ituiblis menjadi takabur, dan bila Allah perintahkan sujud kepada Adam dia ingkar.

Dan dikarenakan manusia memiliki kedua fitur alam tinggi dan rendah, dan Allah telah memilih utusan-utusan dan wali-wali-Nya dari kalangan manusia, sehingga mereka tidak bebas dari kesalahan.

Melainkan hanya para Nabi-lah yang dipelihara dari dosa-dosa besar akan tetapi kesalahan kecil haruslah terjadi pada mereka.

Sedangkan bagi para  Wali-wali tiada jaminan dari terpeliharanya dari dosa tetapi adalah dikatakan wali-wali itu berhampiran dengan Tuhan, dikarenakan mereka tlah mencapai makam kesempurnaan, dan mereka masuk ke bawah perlindungan Tuhan dari dosa-dosa besar.

Syaqiq al-Baqi mengatakan,
"Ada lima tanda kebenaran: perangai yang lemah lembutdan lembut hati, menangis karena menyesal, mengisolasi diri dan tidak peduli tentang dunia, tidak ambisius, dan memiliki rasa hati (gerak hati atauintuisi).

Seangkan Tanda-tanda pendosa juga ada lima; keras hati,memiliki mata yang tidak pernah menangis, mencintai dunia dan kesenangannya, ambisius, tidak bermalu dan tidak ada rasa atau gerak hati ".

Nabi saw menempatkan empat nilai pada orang yang baik-baik,
Diantaranya," Dapat dipercaya dan menjaga  dari apa yang dipercayakan kepadanya dan mengembalikannya. Menepati janji. Berbicara benar, tidak berbohong. Tidak kasar dalam diskusi dan tidak menyakitkan hati orang lain ".

 Beliau juga mengatakan empat tanda pendosa,
Diantaranya, "Tidak dapat dipercaya dan merusak kepercayaan yang diberikan kepadanya, mungkir janji, menipu, suka bertengkar, memaki ketika berbincang dan menyakitkan hati orang lain". Selanjutnya pendosa tidak dapat memaafkan kawan-kawannya. Ini tanda tiada iman karena kemaafan menjadi tanda utama orang beriman. Allah memerintahkan rasul-Nya:

"Berilah maaf, dan suruhlah mereka (manusia) berbuat kebaikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh". (Surah A'raaf,ayat 199).

Perintah 'maafkanlah' bukan hanya tertuju kepada Rasulullah saw seorang saja. Ini tentang semua orang dan tentu saja termasuk mereka yang beriman dengan Rasulullah saw Kata 'maafkanlah' berarti jadikan kebiasaan memafkan, jadikan sifat atau pribadi. Siapapun yang ada sifat pemaaf menerima satu dari nama-nama Allah - ar-Rauf - Yang Memaafkan.

"Barang siapa memaafkan dan membereskan maka ganjarannya (adalah) atas (tanggungan) Allah". (Surah Syura, ayat 40).

Ketahuilah ketaatan kepada Allah berubah menjadi ingkar,kejahatan dan dosa menjadi kebaikan, tidak terjadi dengan sendiri, tetapi dengan dorongan, pengaruh, tindakan serta usaha diri sendiri. Nabi saw bersabda, "Semua anak dilahirkan muslim.

Tetapi ‘Orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi ". Setiap orang ada bakat untuk menjadi baik atau jahat, dapat memiliki sifat-sifat baik dan buruk dalam waktu yang sama.

Jadi, adalah salah menghukum seseorang atau sesuatu sebagai sepenuhnya baik atau buruk. Tapi benar jika dikatakan seseorang itu lebih banyak kebaikannya dari kejahatannya atau sebaliknya.

Ini bukan berarti manusia masuk surga tanpa praktek baik, juga bukan dia dikirim ke neraka tanpa praktek buruk. Berpikir cara demikian bertentangan dengan prinsip Islam. Allah menjanjikan surga kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal salih dan diancam-Nya orang-orang yang berdosa dengan azab neraka.

Dan "Barang siapa berbuat baik maka (adalah) untuk kebaikan dirinya dan barang siapa berbuat jahat maka untuk dirinya. Kemudian kepada Tuhan kamulah kamu akan dikembalikan ". (Surah Jaasiaah, ayat 15).

"Di hari ini dibalas setiap jiwa dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah cepat menghitung". (Surah Mukmin, ayat 17).

"Karena apa juga amal yang baik yang kamu sediakan untuk diri kamu nanti kamu temukan (imbalan) nya di sisi Allah". (Surah Baqaraah, ayat 110).

Demikianlahuntk kali ini dan semoga saja bermanfaat dan Insya Allah bersambung...>

Senin, 25 Agustus 2014

Hikmah Kutipan Bagian ke 15 ), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab "Rahasia DalamRahasia-rahasia yang kebenarannya sangat diperlukan".

15: DARWIS (SUFI)
Ada satu orang yang dikenal sebagai sufi. 
Empat interpretasi diberikan kepada istilah sufi. 
Ada yang melihatnya pada kondisi zahir mereka memakai baju bulu yang kasar.

Bulu dalam bahasa Arab adalah suf. Dari kata ini mereka disebut sufi. Yang lain melihat ke kehidupan mereka yang bebas dari kekacauan dunia ini serta kedamaian dan keten traman mereka, kondisi yang sesuai dengan bahasa Arab safa. Dari kata safa itu timbul istilah sufi.

Yang lain pula memandang lebih mendalam, kepada hati mereka yang suci murni dan bebas dari apa saja kecuali Zat Allah. Dalam bahasa Arab safi berarti kesucian hati dan dari kata itu dikatakan timbul istilah sufi. 

Yang lain memanggil mereka sufi karena mereka hampir dengan Allah dan akan berdiri di barisan pertama di hadapan Allah pada hari kiamat. Safi dalam bahasa Arab berarti barisan.

Ada empat alam, empat dunia. Yang Pertama adalah alam atau dunia materi - tanah, air, api dan angin semuanya merupakan materi dalam alam ini. 

Kedua adalah alam makhluk rohani - malaikat, jin, mimpi dan kematian, ganjaran Allah- delapan surga dan keadilan Allah - tujuh neraka. 

Ketiga adalah alam huruf, nama-nama indah untuk sifat-sifat Allah, dan Loh Tersembunyi (Loh Mahfuz) yang menjadi sumber kepada perintah-perintah Allah. 

Ke empat ialah alam Zat Allah Yang Maha Suci, alam yang tidak dapat digambarkan atau dijelaskan karena pada alam ini atau tahap ini tidak ada kata, nama-nama, sifat-sifat atau persamaan.Tidak ada kecuali Allah yang mengetahuinya.

Ada pula empat jenis ilmu. 
Pertama ilmu tentang peraturan Allah, dan kaitannya dengan aspek lahir kehidupan dunia ini. 
Kedua adalah ilmu spiritual, pengetahuan batin tentang sebab dan akibat. 
Ketiga adalah ilmu tentang jiwa, roh, mengenal diri dan melalui pengetahuan tentang ketuhanan diperoleh. Akhirnya ilmu tentang kebenaran atau fakta.

Roh juga ada empat jenis, roh kebendaan, roh yang arif, roh yang memerintah (roh sultan) dan roh kudus (roh suci).
Yang lahir, kenyataan bagi pencipta, juga ada empat jenis. 
Pertama adalah kenyataan di dalam rupa, bentuk, warna, seumpama gubahan-Nya. 
Kedua adalah kenyataan perbuatan dan respon dalam hal yang terjadi. 
Ketiga adalah pernyataan dalam sifat, bakat, perangai-perangai sesuatu. Akhirnya kenyataan bagi zat-Nya.

Akal atau daya menimbang juga ada empat jenis: akal yang mengatur soal-soal kehidupan duniawi, akal yang menimbang dan memikirkan soal-soal akhirat, akal bagi roh yang bertugas dalam bidang makrifat dan akhirnya akal yang meliputi.

Hal yang dibahas juga ada empat jenis. Empat jenis ilmu,empat jenis roh, empat jenis pengungkapan (pernyataan) dan empat jenis akal. 

Ada orang yang berada pada tingkat pertama ilmu, roh, kenyataan dan akal.Mereka adalah penghuni surga pertama yang disebut surga yang menjadi tempat kembali yang mensejahterakan, yaitu surga duniawi. 

Mereka yang berada pada tingkat kedua ilmu, roh, kenyataan dan akal tergolong ke dalam surga yang lebih tinggi, taman kesukaan dan kesenangan karunia Allah kepada makhluk-Nya, surga di dalam alam malaikat .. 

Sebagian manusia yang mencapai tingkat ketiga ilmu,roh, kenyataan dan akal (makrifat) berada di dalam surga tingkat ketiga, surga langit-langit, surga nama-nama dan sifat-sifat Ilahi dalam alam ke esaan.

Namun, mereka yang mencari dan terikat dengan imbalan Allah, bahkan surga, tidak dapat melihat fakta nyata dalam diri mereka dan dalam benda-benda di sekeliling mereka. 

Mereka yang arif, yang menemukan fakta,mereka yang mencapai suasana nyata sufi, suasana keinginan menyeluruh - tidak inginkan sesuatu apa pun kecuali Allah, berhajat kepada Allah saja -meninggalkan segalanya dan tidak menemukan apa-apa kecuali yang hak. 

Mereka temui apa yang mereka cari dan masuk ke dalam alam yang hak, dan jarak dengan Allah, dan hidup semata-mata karena Zat Allah, tidak karena yang lain.

Ini sesuai dengan perintah Allah, "Carilah keamanan dengan Allah" dan ikut nasihat Nabi saw, "Kedua dunia dan akhirat terlarang bagi orang yang mencintai Allah". Nabi saw tidak memaksudkan kedua dunia dan akhirat dihukumi haram. 

Apa yang beliau maksudkan ialah orang yang berkehendak menemui Allah membatasi keinginan hawa nafsunya, seyogianya, kasih sayang dan cita-citanya kepada dunia dan akhirat.

Pencari yang hak memberi alasan: 
Dunia ini adalah ciptaan dan kita juga ciptaan. Semua yang diciptakan berhajat kepada Pencipta.Bagaimana mungkin yang berhajat meminta kepada yang berhajat juga. Apa lagi jalan bagi yang diciptakan kecuali mencari Pencipta.

Allah berfirman melalui Rasul-Nya,
"Kecintaan-Ku,Wujud-Ku, adalah kecintaan mereka kepada-Ku".

Nabi saw bersabda,
"Keadaanku yang sangat berhajat,kemiskinanku, adalah kemegahanku". Kondisi yang sangat berhajat dan kecintaan kepada Allah menjadi dasar untuk pencarian sufi. 

Kondisi kemiskinan yang menjadi kebanggaan Nabi saw bukanlah kekurangan sesuatu berbentuk keduniaan atau materi.

 Ini adalah rilis segalanya kecuali keinginan kepada Zat Allah. Ini adalah segala sesuatu- tidak hanya yang di dalam dunia ini, bahkan yang dijanjikan di akhirat juga - dan karenanya suasana berhajat sepenuhnya untuk dipersembahkan kepada Allah.

Inilah kondisi yang menyebabkan seseorang kepada kekosongan atau ketiadaan diri, lenyap di dalam zat Allah. Ini adalah mengosongkan diri seseorang dari apa saja kecuali cinta Allah. Kemudian hati menjadi bernilai atau layak untuk menerima janji Allah, "Aku tidak dapat ditanggung oleh langit dan bumi tetapi layak ditanggung oleh hati hamba-hamba-Ku yang beriman".

Hamba yang beriman adalah yang melepaskan apa saja kecuali Yang Esa dari hatinya. Bila hati sudah disucikan, Allah melapangkannya dan memuat Diri-Nya ke dalamnya.

Sebagaimana " Bayazid Bustami menggambarkan luas hatinya dengan mengatakan, "Jika segala yang maujud di dalam dan di sekeliling takhta,luas semua ciptaan Allah, ditempatkan di penjuru hati manusia sempurna dia tidak akan merasakan beratnya".

Begitulah kondisi kekasih Allah. 
Kasihilah mereka dan sentiasalah bersama mereka karena yang mencintai akan bersama-sama yang dicintai pada hari akhirat nanti. 

Tanda kecintaan itu adalah mencari keberadaan bersama-sama mereka, berkehendak mendengar perkataan mereka, dan dengan pandangan serta kata mereka, dapat merasakan kerinduan terhadap Allah Yang MahaTinggi.

Allah berfirman melalui Nabi-Nya, 
"Aku merasakan kerinduan para hamba-Ku yang beriman, yang baik-baik, hamba yang sejati, terhadap diri-Ku dan Aku juga merindukan mereka".

Kekasih Allah terlihat berbeda dari orang lain, perilaku dan tindakan mereka juga berbeda. 
Pada tahap awal, ketika masih baru, tindakan mereka terlihat seimbang antara baik dengan buruk. 

Namun apabila mereka maju lagi dan sampai ke tingkat pertengahan, perbuatan mereka penuh dengan manfaat. Dalam semua hal kebaikan yang keluar melalui mereka bukan saja dalam ketaatan mereka mematuhi perintah Allah dan aturan agama, tetapi juga dalam perbuatan yang mengandung puncak kebahagiaan dan bersinar dengan cahaya kepada maksud bagi yang lahir.

Mereka tampaknya dipakaikan dengan pakaian dari cahaya yang berwarna warni yang memancar dari mereka menurut makom mereka.

Bila mereka dapat mengalahkan ego mereka dan kejahatan nafsu yang rendah dengan berkat kalimah tauhid 
"La ilaha illa Llah" dan sampai ke eksistensi yang bisa membedakan antara yang hak dengan yang batil,yang benar dengan yang salah, cahaya biru langit memancar keluar dari mereka.

Bila dalam tahap tersebut, dengan pertolongan dan ilham dari Allah, mereka pindah sepenuhnya ke dalam kebaikan dan meninggalkan kejahatan keseluruhan, cahaya merah membungkus atau membaluti mereka.

Dengan mengatakan nama Allah - HU - nama itu tidak ada yang lain kecuali yang hak dapat menceritakannya, mereka sampai ke tingkat dipersucikan dari segala sifat-sifat keji dan perbuatan jahat dan menemukan suasana tenang dan aman, kemudian cahaya hijau keluar dari mereka.

Bila semua ego dan keinginan, bila semua kehendak diri sendiri dihapus melalui berkat HAQ, yang sebenarnya, dan bila mereka menyerahkan kehendak mereka kepada kehendak Allah dan ridha dengan apa juga yang datang dari-Nya, warna mereka berubah menjadi cahaya putih.

Inilah gambaran orang-orang sufi dari tingkat awal mereka didalam perjalanan sampailah ke tingkat menengah. Tetapi seseorang yang sampai keperbatasan tingkat ini tidak memiliki bentuk atau warna. Dia menjadi seolah-olah sinar matahari. 

Cahaya matahari tidak berwarna. Sufi yang sampai kemakom yang paling tinggi tidak memiliki eksistensi untuk membalikkan cahaya atau warna. Jika ada, warnanya adalah hitam, yang menyerap semua warna. Inilah tanda kondisi fana

Orang yang melihat dia, kondisi yang tidak warna ini,terlihat gelap, menjadi tabir menutupi cahaya makrifat yang dia miliki, seperti malam menutupi sinar matahari. 

Allah berfirman:
"Dan Kami jadikan malam itu (sebagai) pakaian. Dan Kami jadikan siang itu tempat penghidupan". 
(Surah Nabaa, ayat 10 & 11).

Bagi mereka yang sampai kepada hakikat atau esensi akal dan ilmu, ada tanda dalam ayat di atas.
Mereka yang sampai kepada kebenaran (fakta) ketika di dalam dunia ini merasakan seolah-olah di penjarakan di sini di dalam kamar kurungan di bawah tanah yang gelap. 

Mereka menghabiskan hidup mereka di dalam kesusahan dan kesengsaraan. 
Mereka menanggung kesusahan yang besar, tekanan-tekanan situasi, di dalam dunia yang gelap sepenuhnya. 

Nabi saw bersabda, 
"Dunia ini adalah penjara bagi orang beriman". Seperti yang beliau kabarkan percobaan yang paling besar menimpa para nabi, kemudian yang hampir dengan Allah, kemudian dengan harga menurun berdasarkan harga seseorang ingin mendekati Allah. 

Jadi, adalah sesuai bagi sufi memakai pakaian hitam dan mengikat serban hitam di kepalanya, karena itu adalah pakaian orang yang siap menempuh kesusahan dan kesakitan di dalam perjalanan ini.

Di dalam kenyataan, hitam adalah pakaian paling sesuai bagi mereka yang berkabung karena kehilangan kemanusiaan dan keberadaan diri mereka. Banyak manusia yang kehilangan penghargaan yang berharga karena kelalaian,sesuai hanya untuk kemanusiaan, bagi mereka yang sadar, bagi yang bisa melihat kebenaran, menolak itu membunuh kehidupan abadi dengan tangan mereka sendiri. 

Membuang kasih Ilahi yang kerinduan di dalam hati mereka, memisahkan diri mereka menolak roh suci, mereka hilang kesempatan untuk kembali ke asal mereka,kepada penyebab. Meskipun mereka tidak mengetahuinya, merekalah yang menderita bala yang paling besar. 

Jika mereka sadar yang mereka sudah kehilangan segala nikmat akhirat, kehidupan abadi, mereka tentunya memakai pakaian hitam, pakaian berkabung. Janda yang kematian suami berkabung selama empat bulan sepuluh hari. 

Ini adalah berkabung karena kehilangan sesuatu di dalam dunia. Orang yang kehilangan kebaikan hidup yang abadi seharusnya berkabung secara abadi juga.

Nabi saw bersabda, 
"Mereka yang ikhlas selalu berada ditepi bahaya besar". Betapa tepat gambaran ini tentang orang yang terpaksa berjalan berjingkat dengan penuh kewaspadaan! Tapi inilah suasana sufi yang meninggalkan eksistensi dirinya dan berada di dalam alam fana.

 Kefakirannya terhadap dunia ini yang ditinggalkannya dan hajatnya yang penuh kepada Allah sangat besar, dan dia melewati kemanusiaan sebagai keindahan yang bersangatan.

Mereka yang memperoleh kesaksian kepada yang hak, setelah menyaksikan keindahan kebenaran itu, tidak ingin melihat yang lain lagi. 

Mereka tidak bisa melihat kecintaan dan kerinduan kepada apa saja. Bagi mereka,Allah-lah yang menjadi yang dikasihi, hanya Dia yang ada. Begitulah kondisi mereka di dalam kedua alam. 

Itulah satu-satunya tujuan mereka. Akhirnya mereka menjadi insan, dan Allah ciptakan insan supaya mengenali-Nya, supaya mencapai Zat-Nya.

Menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk menemukan dan mengenali atau mengetahui tujuan dia diciptakan dan menghayati maksud tujuan tersebut, kewajiban yang mereka tanggung di dalam dunia ini dan di akhirat, sehingga mereka tidak menghabiskan usia mereka di dalam kerugian, agar mereka tidak menyesal selamanya di akhirat - dikemas, tenggelam di dalam kerinduan yang akan mereka sadari akhirnya di dalam penyesalan yang abadi.

Demikianlah Untuk kali ini dan Insya Allah bersambung...>

Hikmah Kutipan Bagian ke 16), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab"Rahasia Dalam Rahasia-rahasia yang Kebenarannya Sangat Diperlukan".

16: PENYUCIAN DIRI
Dua jenis penyucian: Pertama zahir, ditentukan oleh aturan agama dan dilakukan dengan membasuh tubuh dengan air yang bersih. Keduanya adalah penyucian batin, diperoleh dengan menyadari kekotoran di dalam diri, serta menyadari dosanya dan bertobat dengan ikhlas. 

Penyucian batin membutuhkan perjalanan spiritual dan dibimbing oleh guru spiritual.
Menurut hukum dan peraturan agama, seseorang menjadi tidak suci dan wudlu menjadi batal jika keluar sesuatu dari rongga badan. Ini harus diperbaharui dengan wudhu.

 Dalam hal keluar mani dan darah haid mandi wajib diperlukan. Dalam hal lain, bagian tubuh yang terkena - tangan, lengan, wajah dan kaki - harus dicuci. 

Tentang reformasi wudhu Nabi saw bersabda,
 "Padasetiap pembaharuan wudhu Allah perbaharui kepercayaan hamba-Nya yang cahaya iman dipoles dan memancar dengan lebih bercahaya". Dan, "Mengulangi bersuci dengan wudhu adalah cahaya di atas cahaya".

Kesucian batin juga bisa hilang, mungkin lebih sering daripada kesucian lahir, dengan sifat -sifat buruk, yang perangai buruk, perbuatan  sifat yang merusak seperti sombong, takabur, menipu, mengumpat, fitnah, dengkidan marah. Dan perbuatan serta secara sadar dan tidak sadar telah mempengaruhi roh:

 Mulut yang memakan makanan haram, bibir yang berdusta, telinga yang mendengar umpatan dan fitnah, tangan yang memukul, kaki yang menyebabkan kejahatan. Zina, yang juga satu dosa, bukan saja dilakukan di atas ranjang.

 Nabi s.a.w bersabda,"Mata juga berzina".
Bila kesucian batin ditanamkan demikian dan wudhu kerohanian batal, memperbaharui wudhu demikian adalah dengan taubat yang tulus, yang dilakukan dengan menyadari kesalahan diri sendiri, dengan penyesalan yang mendalam dengan disertai oleh tangisan (yang menjadi air yang membasuh kekotoran jiwa), dengan bertekad tidak akan mengulangi kesalahan tersebut, dan berniat meninggalkan semua kesalahan, dengan memohon ampunan Allah, dan dengan berdoa agar Dia mencegahnya dari melakukan dosa lagi.

Shalat adalah menghadapkan diri kepada Tuhan.
Berwudhu, berada di dalam keadaan suci, menjadi syarat untuk bersembahyang. Orang arif tahu penyucian lahir saja tidak cukup, karena Allah melihat jauh ke dalam lubuk hati, yang perlu diberi wudlu dengan cara bertaubat. 

Firman Allah:
"Inilah apa yang dijanjikan untuk kamu, untuk tiap-tiap orang yang bertaubat, yang menjaga (batas-batas)". (Surah Qaaf, ayat 32).

Penyucian tubuh dan wudlu zahir terikat dengan masa karena tidur membatalkan wudhu. Penyucian ini terikat dengan siang dan malam bagi kehidupan di dalam dunia. Penyucian alam batin, wudhu bagi diri yang tidak terlihat, tidak ditentukan oleh waktu. Ini untuk seluruh kehidupan - bukan hanya kehidupan sementara di dunia tetapi juga kehidupan abadi di akhirat.

Demikianlah untk kali ini dan semoga saja bermanfaat dan Insya Allah bersambung...>

Minggu, 24 Agustus 2014

Hikmah Kutipan Bagian ke 17), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia yangKebenarannya Sangat Diperlukan".

17: MAKSUD IBADAT SECARA PRAKTEK ZAHIR DAN IBADAT BATIN
Lima kali sehari semalam, pada waktu yang telah ditentukan, sembah yang diwajibkan kepada sekalian Muslim yang baligh dan berkuasa. Ini diperintahkan oleh Allah:

"Kerjakan shalat dengan tetap dan akan sembahyang yang terlebih penting". (Surah al-Baqaraah, ayat 238).
Sembahyang menurut peraturan agama (rukun shalat) terdiri dari berdiri, membaca Quran, rukuk, sujud, duduk, membaca dengan terdengar beberapa doa. Gerakan dan perbuatan ini melibatkan bagian-bagian tubuh.

 Pembacaan diucap dan didengar dengan melibatkan indera dan indera, adalah sembahyang diri secara zahir.

 Karena tindakan diri zahir ini dilakukan berulang-ulang, dan acapkali,di dalam setiap hari lima waktu dalam sehari semalam, bagian pertama menurut perintah Allah"Dirikan shalat", adalah lebih dari satu.

 Bagian kedua perintah Allah"terutama shalat pertengahan" mengacu pada salat hati, karena hati berada di tengah-tengah pada kejadian manusia. 

Tujuan shalat ini adalah mendapatkan kesejahteraan pada hati. 
Hati berada di tengah-tengah, antara kanan dengan kiri, antara depan dengan belakang, antara atas dengan bawah, antara kebaikan dengan keburukan. 

Hati adalah pusat, titik penyeimbang, penengah. Nabi saw bersabda, "Hati anak Adam berada di antara dua jari Yang Maha Penyayang. Dia balikkan ke arah mana yang Dia kehendaki". 

Dua jari Allah adalah sifat kekerasan-Nya yang berwenang menghukum dan sifat keindahan-Nya dan pengasih-Nya yang memberi rahmat dan nikmat.

Sembahyang nyata adalah shalat hati. Jika hati lalai dari shalat, shalat lahir maka tidak akan teratur. Bila ini terjadi tentunya kesejahteraan dan kedamaian diri zahir yang diharapkan diperoleh dari salat zahir itu tidak diperoleh. 

Sebab itu Nabi saw bersabda, "Praktek shalat mungkin dengan hati yang diam".
Shalat adalah penyerahan yang dibuat kepada Sang Pencipta. Ini adalah pertemuan di antara hamba dengan Tuannya. 

Tempat pertemuan itu adalah hati. Jika hati tertutup, lalai dan mati, begitu juga maksud sembahyang itu,tidak ada kebaikan yang sampai kepada diri yang lahir dari shalat yang demikian, karena hati adalah esensi atau hakekat atau zat dari jasad, semua yang lain tergantung kepadanya. 

Nabi saw bersabda, 
"Ada sepotong daging di dalam tubuh manusia, jika ia baik maka baiklah seluruh anggota tetapi jika ia jahat maka jahat pula seluruh anggota. Ketahuilah, itu adalah hati".

Shalat yang diperintahkan oleh agama (syariat) dilakukan pada waktu tertentu, lima kali dalam sehari semalam. Sebaiknya dilakukan di dalam masjid secara berjama'ah, menghadap kiblat ka'abah, menuruti imam yang tidak munafik dan tidak ria '.

Sedangkan waktu untuk bersembahyang batin tidak menghitung waktu dan tidak berujung, kalau pun ada batasannya dari mulaii takbir hingga salam dalam shalat jahir dan itupun di utamakan dengan hati dan kesemuanya ini bagi kehidupan ini dan juga akhiratnya nanti.

 Masjid untuk shalat iniadalah hati. Jemaahnya adalah seluruh akal dan jiwa serta bakat spiritual, yang mengingat dan mengucapkannama-nama Allah Yang Esa di dalam bahasa alam batin.

 Imam shalat ini adalah kehendak yang tidak dapat ditolak atau diblokir, arah kiblatnya adalah keesaan Allah, yang di mana-mana, kekuasaanNya meliputi dan keabadian-Nya serta keindahan-Nya.

Hati yang sejati adalah yang dapat melakukan sembahyang yang demikian. Sembahyang adalah menghadapkan diri pada Ilahi. Dan Hanya Hati yang seperti inilah yang tidak akan tidur dan tidak mati. 

Hati dan roh yang demikianlah yang berada di dalam shalat serta yang berkelanjutan, dan manusia yang memiliki hati yang demikian, apakah dia dalam keadaan jaga atau tidur, ia selalu melakukan kebaktian. 

Batinnya selalu dipenuhi dengan Doa dan batin selalu mengucakan Asma nama-Nya dan semuanya itu dilakukan oleh hati adalah dalam keseluruhan kehidupannya.

 Tidak ada lagi suara bacaan, berdiri, rukuk, sujud atau duduk. 
Pembimbingnya, adalah iman iman adalah imam yang utama itu adalah shalatnya Rasulullah saw sendiri. 
Beliau berkata-kata dengan Allah Yang Maha Tinggi, "Engkau yang kami sembah dan Engkau jualah yang kami minta pertolongan". (Surah Fatihaah, ayat 4).

 Ayat suci ini ditafsirkan sebagai tanda manusia yang sempurna, yang dapat melewati atau melampaui dari... menjadi kosong, sehingga hilang ke segala materi, suasana menjadi keesaanNya. 

Hati yang demikian sempurna menerima rahmat yang besar dari Ilahi. 
Sebagaimana satu rahmat itu dinyatakan oleh Baginda Nabi saw.

 "Nabi-nabi dan yang dikasihi Allah mereka melanjutkan ibadah mereka di dalam kubur (alam Barjah Ruh) seperti yang mereka lakukan di dalam rumah mereka ketika mereka masih didalam dunia". Dalam perkataan lain di dalam kehidupan abadi hati mereka senantiasa melakukan penyerahan hatinya kepada Ilahi Rabbi " Allah Yang Maha Tinggi.

Oleh karenanya maka khusukanlah sholatmu karena pada saat itulah kamu sedang ber israk kepadaNya maka hadapkanlah wajah dan hatimu kepadaNya agar kamu bisa khusuk dan selalu bersama denganNya 

Bila salat tubuh dan sembahyang batinmu dapat berpadu maka barulah, shalat itu lengkap, dan sempurna antara ruh hati dan jiwa ragamu. 

Maka dengan demikian engkau berhak menerima 'Ganjarannya yang besar. Sebab Ia dapat membawa seluruh jiwa serta raganya dan menjadikan seseorang menjadi utuh secara rohani dan jasmani sehingga jarak dengan Allah, semakin dekat baik secara zahir maupun batin hingga terbang ke tingkat yang paling tinggi dalam pencapaiannya. 

Disebabkan mereka senantiasa berada dalam alam kenyataan dan mereka menjadi Hamba-hamba Allah yang taat. Sehingga menjadikan suasana interior mereka adalah menjadikan orang arif yang memperoleh makrifat nyata tentang Allah. 

Demikianlah adanya. Namun 'Jika shalat zahir tidak bersatu dengan sembahyang batin, maka itu adalah suatu kekurangan. Dan 'Ganjarannya hanyalah pada pangkat atau kedudukan, yang tidak dapat membawa seseorang sampai dan hampir dengan Allah.

Demikianlah untk kali ini dan semoga saja bermanfaat dan InsyaAllah bersambung...>

Hikmah Kutipan Bagian ke 18), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia yang KebenarannyaSangat Diperlukan".

18: PENYUCIAN INSAN SEMPURNA, YANG TELAH memisahkan dirinya dan membebaskan diri dari segala urusan dunia.

Tujuan penyucian itu ada dua jenis: 
Pertama untuk memungkinkannya masuk ke alam sifat Ilahi dan kedua untuk mencapai makam Zat.
Penyucian untuk memasuki alam sifat Ilahi membutuhkan pelajaran yang membimbing seseorang di dalam proses penyucian cermin hati dari gambaran hewan manusia dengan cara banding, ucapan atau memikirkan dan mendoakan pada nama-nama Ilahi. 

Ucapan itu menjadi kunci, kata rahasia yang membuka hati. Hanya bila mata itu terbuka barulah dia bisa melihat sifat-sifat Allah yang nyata. Kemudian mata itu melihat gambaran kemurahan Allah, nikmat, rahmat dan kebaikan-Nya di atas cermin hati yang murni itu. 

Nabi saw bersabda,
"Mukmin adalah cermin bagi samanya mukmin". Juga sabda beliau,"Orang berilmu membuat gambaran sementara orang arif kuku". Juga sabda beliau, "Orang berilmu membuat gambaran sementara orang arif memoles cermin hati yang menangkap kebenaran." Bila cermin hati sudah dicuci sepenuhnya dengan dipoles terus menerus secara menzikirkan nama-nama Allah,seseorang mendapat jalan kepada pengetahuan dan sifat Ilahi. 

Penyaksian terhadap pemandangan ini hanya mungkin terjadi di dalam hati.
Penyucian yang bertujuan mencapai Zat Ilahi adalah melalui terus menerus mentafakurkan kalimah tauhid. Yang mana ada tiga nama keesaan, iaitu tiga yang terakhir dari dua belas nama-nama Ilahi.

 Nama-nama tersebut adalah:
La ilaha illa llah: Tidak ada yang ada kecuali Allah
ALLAH: Nama khusus bagi Tuhan
HU: Allah yang bersifat melampaui sesuatu
HAQ: Yang sebenarnya (Fakta)
Hayyun: Hidup Ilahi yang kekal abadi
QAYYUM: Berdiri dengan sendiri yang segala keberadaantergantung pada-Nya
Qahhar: Yang Maha Memaksa, meliputi segala sesuatu
WAHHAB: Pemberi tanpa batas
WAHID: Yang Esa
AHAD: Esa
SAMAD: Sumber untuk segala sesuatu

Nama-nama ini harus diseru bukan hanya dengan lidah biasa tetapi harus dengan hati dan lidah rahasia hati bagi hati. Dan hanya dengan itu mata hati melihat cahaya keesaan. Bila cahaya suci Zat menjadi nyata maka semua nilai-nilai materi lenyap, semua menjadi tidak ada. 

Ini adalah suasana menghabiskan sepenuhnya segala hal,kekosongan yang melampaui semua kekosongan. Pernyataan cahaya Ilahi memadamkan semua cahaya:
"Tiap-tiap sesuatu akan binasa kecuali Dzat-Nya".(Surah Qasas, ayat 88).

"Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan Dia menetapkan apa yang Dia kehendaki, karena pada sisi-Nya ibu kitab". (Surahar-Ra'd, ayat 39).

Bila semuanya lenyap apa yang tinggal selamanya adalah roh suci. Ia melihat dengan cahaya Allah. Ia melihat-Nya, Dia melihatnya. Disana tidak ada tampilan, tidak ada persamaan di dalam melihat-Nya:
"Tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya. Dia mendengar dan melihat ". (Surah Asy-Syura, ayat 11).

Apa yang ada hanyalah cahaya murni yang mutlak. Tidak ada apa untuk diketahui lebih dari itu. Itu adalah alam fana diri. Tidak ada lagi pikiran untuk memberi kabar. Tidak ada lagi siapa melainkan Allah yang memberi kabar berita. 

Nabi saw bersabda, 
"Ada saat aku sangat hampir dengan Allah, tidak ada, malaikat yang hampir atau nabi yang diutus, bisa masuk antara aku dengan-Nya". Ini adalah suasana pemisahan di mana seseorang telah membuang semua hal kecuali Zat Allah. Itu adalah suasana keesaan. Allah memerintahkan melalui Rasul-Nya, "Maka Pisahkanlah dirimu dari segala hal dan carilah keesaan".

Pemisahan itu bergerak dari semua yang duniawi kepada kekosongan dan ketiadaan. Hanya dengan itu kamu memperoleh sifat-sifat Ilahi. Itulah yang dimaksudkan oleh Nabi saw saat bersabda, adalah " Sucikan diri kamu, benamkan dirimu dalam sifat-sifat yang suci (sifat Ilahi)".

Demikianlah untk kali ini dan semoga saja bermanfaat dan InsyaAllah bersambung...>

Sabtu, 23 Agustus 2014

Hikmah Kutipan Bagian ke 19), ~ Kitab "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar"

Atau Kitab "Rahasia Dalam Rahasia-rahasia Yang Kebenarannya Sangat Diperlukan".

19: ZAKAT
Ada dua jenis zakat:
zakat yang diajarkan oleh syariat danzakat spiritual yang berbeda sifatnya.
Zakat yang diajarkan oleh syariat adalah mengeluarkan dari barang-barang di dunia ini. Setelah ditolak jumlah tertentu yang terdaftar sebagai penggunaan keluarga, satu bagian dibagi kepada orang miskin.

Sedangkan' Zakat rohani Pokoknya diambil dari pengadaan barang akhirat. Ia juga diberikan kepada orang miskin, yaitu miskin spiritual.

Zakat adalah memberi bantuan kepada orang miskin. Allah perintahkan:
"Sedekah-sedekah itu untuk faqir-faqir dan miskin". (Surah at-Taubah, ayat 60).

Apa pun juga yang diberi untuk tujuan ini sampai ke tangan Allah Yang Maha Tinggi sebelum dikirim kepada yang membutuhkannya. Jadi, tujuan zakat dan sedekah ini bukanlah terutama hanyalah untuk membantu yang membutuhkan, karena Allah adalah Pemberi kepada semua yang membutuhkan, tetapi supaya niat baik pemberi zakat dan sedekah itu diterima oleh Allah.

Mereka yang hampir dengan Allah menjadikan imbalan rohani dari perbuatan baiknya sebagai kebaktian kepada orang yang berdosa. Allah Yang Maha Tinggi menyatakan ampunan-Nya mengampuni orang-orang yang berdosa menurut tingkat doa, permohonan, pujiannya, puasa, sedekah, hajji dan lain-lain kebaikan para hamba-Nya yang ingin mengorbankan imbalan spiritual yang mereka harapkan sebagai hasil dari ibadah dan ketaatan mereka, Allah dengan kemurahan-Nya menutup dan menyembunyikan dosa para pendosa sebagai balasan terhadap kebaktian para hamba-Nya yang baik-baik.

Kemurahan hati hamba-hamba-Nya yang beriman sampai ke tingkat mereka tidak memiliki apa-apa lagi, tidak menyimpan sesuatu apa pun untuk diri mereka, sampai-sampai tidak ada nama baik dari kebaikan mereka juga tidak ada harapan untuk balasan akhirat. 

Orang yang memasuki jalan ini kehilangan segalanya termasuk keberadaan dirinya sendiri. Dia bangkrut sepenuhnya karena dia benar-benar murah hati. Allah mengasihi orang yang murah hati sampai ketingkat kebangkrutan seluruhnya pada dunia ini. 

Nabi saw bersabda,
"Orang yang menghabiskan semua yang dimilikinya dan tidak berharap untuk memiliki apa-apa berada di dalam perawatan Allah di dunia dan akhirat".

Seperti mana 'Rabiatul Adawiyah berdoa, "Wahai Tuhan. Berikan semua bagianku dari dunia ini kepada orang-orang kafir dan jika ada bagianku diakhirat bagikannya kepada hamba-hamba-Mu yang beriman. Dan apa yang aku inginkan dalam dunia ini adalah merindui-Mu dan yang aku inginkan di akhirat adalah bersama-Mu, karena manusia dan apa saja yang diperolehnya adalah milik-Mu".

Allah membalas sampai sepuluh kali lipat kepada orang yang bersedekah.
"Barang siapa kerjakan kebaikan maka baginya (ganjaran) sepuluh kali lipat". (Surah al-An'aam, ayat 160).
Manfaat lain dari sedekah adalah efek penyuciannya. Ia menyucikan harta dan diri seseorang. Jika diri dibersihkan dari sifat-sifat ego maka tujuan sedekah atau zakat batin (spiritual) tercapai.

Sehingga 'Memisahkan seseorang dengan apa yang dia anggap sebagai miliknya mendatangkan balasan yang berlipat ganda di akhirat:

"Siapa yang akan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik lalu Dia gandakan (ganjaran) baginya, padahal (adalah) baginya ganjaran yang mulia?" (QS al-Hadid, ayat 11).

"Berbahagialah orang yang membersihkannya (jiwanya)". (Surah Asy-Syams, ayat 9).

Zakat, 'sedekah yang indah' adalah perbuatan yang baik,sebagian dari yang kamu terima, material dan spiritual. Belanjakanlah karena Allah, kepada Allah. Meskipun balasan berganda dijamin jangan pula melakukannya karena balasan tersebut. Berikan zakat dan sedekah secara peduli, dengan kasih sayang dan kasihan belas bukan sebagai budi, mengharapkan pujian, membuat penerima merasa berutang dan terikat.

"Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu batalkan (pahala) sedekah kamu dengan bangkitan dan gangguan ". (Surahal-Baqarah, ayat 264).

Jangan meminta dan mengharapkan manfaat keduniaan bagi perbuatan baik kamu. Melakukannya karena Allah semata-mata. Firman Allah:

"Kamu tidak akan dapat (balasan) kebaikan kecuali kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu sayangi, dan sesuatu apa yang kamu nafkahkan itu Allah mengetahui akan dia". (Surah al-'Imraan, ayat 92).

Demikianlah untk kali ini semoga saja bermanfaat dan Insya Allah bersambung...>