Dalam Rangka Memperingati Maulid Nabi SAW.
RINDU KAMI PADAMU..YA
RASUL..
CINTA KAMI PADAMU AKANKAH SAMPAI PADAMU..
CINTA IKHLASMU PADA MANUSIA..
BAGAI CAHAYA SYURGA....
DAPATKAH KAMI MEMBALAS CINTAMU SECARA BERSAHAJA
RINDU KAMI PADAMU YA RASUL, RINDU TIADA TERPERI
BERABAD JARAK DARIMU YA RASUL, SERASA DIKAU DISINI
Allahumma Sholli alla sayyidina Muhammad Wa'alla ali
sayyidina Muhammad Allahumma Sholli wasallim wabaarik Alaih wa'Alla Aalaihi
washohbihi wasallim Ajma'in Aamiin...
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada
penghulu kami panutan kami Baginda Rosulloh MUHAMMAD BIN ABDILLAH satu-satunya
harapan pemberi safaat bagi kami Aamiin Ya Allah Aamiin Ya Robbal Allamiin
Wassalam.
Saudaraku...
Dan Dibawah ini
Aku sertakan:
Kisah Cinta
Siti Khadijah r.a - Muhammad SAW.
Siapakah Khadijah?
Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda,
bangsawan, hartawan, cantik dan budiman.
Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan
bangsa Arab pada umumnya.
Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan
bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk
mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.
Banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya dan
sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu
ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.
Bermimpi melihat matahari turun kerumahnya
Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun
dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya merata kesemua
tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya.
Mimpi itu diceritakan kepada sepupunya yang bernama
Waraqah bin Naufal.
Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam
mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga
mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Waraqah berkata:
“Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan
menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”
“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah
bersungguh-sungguh.
“Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat.
“Dari suku mana?”
“Dari suku Quraisy juga.”
Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?”
“Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,”
kata Waraqah dengan nada menghibur.
Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar
meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai
sepupuku?”
Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW.
Dialah bakal suamimu!”
Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang
luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat.
Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan
kelak munculnya sang pemimpin itu.
~* Lamaran dari Khadijah kepada Rasulullah s.a.w. *~
Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah.
Wanita usahawan itu berkata : “Hai Al-Amiin,
katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan.
Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya)
Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun
agak malu-malu tetapi pasti.
“Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam
rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi
anak saudaranya yang yatim piatu”
(Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu
memandangnya dengan penuh ketakjuban)
Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit,
tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau
maksudkan,”.
“Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan
calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak, meneliti).
Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan
mengandung isyarat
Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang
wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja
dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya.
Kepadanyalah aku hendak membawamu”.
(Khadijah tertunduk lalu melanjutkan): “Tetapi sayang,
ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan
menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.
Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama
terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu
memerlukan jawaban, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab.
Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam
di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin
(jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon
yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Rasulullah SAW minta izin untuk pulang tanpa sesuatu
keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya.
Rasulullah SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh
kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini
dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya
itu.
‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang
perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung
kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan
mendatanginya”.
‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus
menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan,
maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina
puteraku, anak saudaraku Muhammad?”
Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya
bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan
mendamaikan hati ‘Atiqah.
Khadijah : “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu
dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang
kumaksudkan kepada Muhammad SAW.
Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau
tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat
‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi
serius.
“Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui
oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau
belum cobalah meminta persetujuannya.”
“Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu
Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku
diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”,
Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur
siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan
mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.
‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk
dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada
saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah.
Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan
Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah
dengan Muhammad SAW lebih dulu.”
~* Khadijah
yang cantik *~
Sebelum diajak bermusyawarah, maka terlebih dahulu
ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a
yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan.
Utusan peribadi Khadijah itu bertanya: “Muhammad,
kenapa engkau masih belum berfikir mencari istri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi
kesanggupan belum ada.”
Nafisah “Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak
menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik,
berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”
Rasulullah SAW: “Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
Nafisah : “Khadijah!” Nafisah berterus terang.
“Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”
Usaha Nafisah berhasil. Ia meninggalkan putera
utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan
Muhammad SAW.
Setelah Muhammad SAW menerima pemberitahuan dari
saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda
tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih
tua daripadanya.
Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada
Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan yang utama karena
hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan
dijodohkan dengannya.
Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda
umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih
dan bermata jeli. Maka di adakanlah majlis yang penuh keindahan itu.
Hadir Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang
terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi meminang Khadijah
r.a kepada saudara sepupunya.
Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta
tempo untuk berunding dengan wanita yang berkenaan.
~* Pernikahan Muhammad dengan Khadijah *~
Khadijah r.a diminta pendapat.
Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak
sepupuku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah,
memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula
pertalian kekeluargaannya luas”.
“Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”,
ujar Waraqah. “Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak
memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,”
demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.
Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib
memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan
merestui bakal pernikahan kedua mempelai.
Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima
ratus dirham.
Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan
“Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan
sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy,
sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung,
apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.
Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a
berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga
ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama
‘Amir bin Asad.
Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan
dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah,
segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih
(Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar.
“Begitupun kita memuji Allah SWT. Yang menjadikan kita
penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan
kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin
Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih
berat dari mereka sekalian.
Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu
adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya.
Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia.
Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan
memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai
dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat
tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan
memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman
hebat.
“Semoga Allah memberkati pernikahan ini”. Penyambutan
untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai
perempuan.
Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri
berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai
lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan
harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.
Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a
membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah!
Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang
terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan,
hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu.
Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang
engkau ridhoi !”
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup
sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.
~* Dijamin
Masuk Syurga *~
Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua
puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan
sepuluh tahun sesudah masa kenabian.
Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena
kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).
Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman
kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit.
Tidak ada yang mendahuluinya.
Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya
pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang disampaikan Jibril ‘alaihissalam,
dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s
dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna
peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:
“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi
Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi
Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita. “Allah SWT tidak akan mengecewakanmu.
Bukankah engkau orang yang senantiasa berusaha
untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar?
Bukankah engkau senantiasa menyantuni anak yatim piatu, menghormati tamu dan
mengulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”
Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan
dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam
duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap
kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan
oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy.
Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan
khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain yaitu, menerima ucapan salam
dari Allah SWT. yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah
SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah
radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.
Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan
Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: “Wanita yang utama
dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah
binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri
Fir’aun”.
Demikianlah Keharmonisan Rumah Tangga Beliau sampai
akhirnya sang permaesuri Baginda Nabi besar Muhammad Salallahu allaihi Wassalam
berpulang petikahannya pun masih tetap di kenang sepanjang jaman dan terlaksana
sudah menjadi penghuni syurga Jannah-Nya. Aamiin...
~* Wanita Terbaik *~
Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah
SAW.
Terhadap pribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah
seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di
saat orang lain masih dalam kebimbanga, dia telah membenarkan aku di saat orang
lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang
lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa
putra-putri yang tidak ku dapatkan dari istri-istri yang lain”.
Putra-putri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak
enam orang: dua lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita.
Salah satu dari putrinya bernama Fatimah Az Zahra, dinikahkan dengan Ali bin
Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah
yang dianggap sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.
~* Perjuangan Khadijah *~
Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari
kaum lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita.
Kedua wanita itu berdiri di belakang da’wah Islamiah,
mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW :
Khadijah bin Khuwailid dan Fatimah binti Asad.
Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik
di dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu’minin,
sebaik-baik istri dan teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.
Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi
SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua
Hira’.
Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya
ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya.
Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya
dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan
kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.
~* Rasulullah SAW bersabda :
”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar,
dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan
hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa.”
Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di
sana-sini, padahal di hadapan kita ada “wanita terbaik di dunia,”
Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mu’minin yang setia
dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu
berkhalwat sebelum diangkat menjadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.
Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada
risalahnya, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan
keluarga.
Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan
Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di
dalam istananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa
hidupnya.
Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata
:
”Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang
membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman.
Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya
dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga
dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.
” [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi
SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata:"Keshahihannya telah disepakati."]
Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana
di dunia, hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ?
Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang
bergabung dengan rombongan orang Mu’min yang orang pertama yang beriman kepada
Allah di bumi sesudah Nabi SAW.
Khadijah r.a. membawa panji bersama Rasulullah SAW
sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan
memusuhi kaumnya.
Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafas
terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.
Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung
Nabi SAW sejak awal kenabian.
Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di
sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-ayat Kitab yang
mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT.
Kemudian dia menampakkan diri di jalannya, antara
langit dan bumi.
Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga
Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur.
Semua itu terjadi ketika Nabi SAW berada di antara
jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu
maupun penolong.
Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga
malaikat meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan
takut akibat yang didengar dan dilihatnya.
Ketika melihatnya, Khadijah berkata :”Dari mana
engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan
untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku.
” Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada
Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata :”Gembiralah dan teguhlah,
wahai, putra pamanku.
Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku
berharap engkau menjadi Nabi umat ini.” Nabi SAW tidak mendapatkan darinya,
kecuali pe neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi
urusannya.
Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang
menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau
penghindaran darinya.
Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan
kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya.
Demikian hendaknya wanita ideal.
Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah
mengirim salam kepadanya.
Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu
kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya :”Sampaikan kepada Khadijah salam
dari Tuhannya.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda :”Wahai Khadijah, ini
Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Maka Khadijah r.a. menjawab :
”Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya
berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam
(kesejahteraan).
” Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak
diperoleh seorang pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk
Islam serta khulafaur rasyidin.
Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat
pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da’wah
itu sesudahnya.
Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang
besar bagi Rasulullah SAW.
Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad,
berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang
sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan
penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan
hartanya.
Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku
ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang
mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak
memberiku apa-apa.
Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan
bagiku anak dari selain dia.” [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya,
6/118]
Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah
r.a., dia berkata :
”Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :
”Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa
sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman.
Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam
dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga,
(terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.
” [Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan
Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]
Demikianlah rangkaian : Kisah Cinta Siti Khadijah r.a
- kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Rujukan : Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW
karangan Muhammad Ibrahim Saliim.
Dan dengan tersajikannya kisah ini semoga saja
menjadikan keberkahan bagi kita semua sebagai umatnya yang senantia
mencintai-nya. Aamiin...
Allahumma Sholli alla sayyidina Muhammad Wa'alla ali
sayyidina Muhammad Allahumma Sholli wasallim wabaarik Alaih Wa'Alla Aalaihi
Washohbihi Wasallim Ajma'in Aamiin...
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada
penghulu kami panutan kami Baginda Rosulloh MUHAMMAD BIN ABDILLAH satu-satunya harapan
pemberi safaat bagi kami Aamiin Ya Allah Aamiin Ya Robbal Allamiin Wassalam.