Selasa, 29 Mei 2012

Syarat Syah Syahadat Laa Ilaaha Illallah


Oleh Nurassajati Purnama Allam 

 * TIJAN = Titian Jannah *

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Saudaraku, yang aku cintai karena-Nya.

Setiap ibadah memiliki rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut sah. Seseorang yang hendak sholat tentu akan berwudhu terlebih dahulu, karena suci adalah syarat sah sholat. Begitu pula ibadah yang lain seperti haji, puasa dan zakat juga memiliki rukun-rukun dan syarat yang tidak boleh tidak harus dipenuhi.

Dan segala sesuatu yang harus dipenuhi sebelum mengerjakan sesuatu yang lain disebut syarat.

Lalu bagaimana pula dengan mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh? Tidak diragukan lagi bahwa syahadat adalah setinggi-tingginya derajat keimanan dan rukun islam yang paling utama. Di sana ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kalimat Laa Ilaaha Illalloh yang kita ucapkan dianggap sah.

Para ulama menjelaskan bahwa syahadat Laa Ilaaha Illalloh memiliki delapan syarat:

1. Ilmu
Sebuah pengakuan tidak dianggap kecuali dengan ilmu. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengucapkan kalimat syahadat ini dengan mengilmui makna dari kalimat tersebut. Alloh berfirman, “Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (Az Zukhruf: 86).

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan mengilmui Laa Ilaaha Illalloh pasti masuk surga.” (HR. Al Bukhori dan Muslim). Dan makna yang benar dari kalimat Laa Ilaaha Illalloh yaitu tidak ada sesembahan yang haq melainkan Alloh Ta’ala.

2. Yakin
Yakin adalah tidak ragu-ragu dengan kebenaran maknanya sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai cobaan. Alloh berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Alloh dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al Hujurat: 15)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang engkau jumpai dari balik dinding ini dia bersaksi Laa Ilaaha Illalloh dengan keyakinan hatinya sampaikanlah kabar gembira untuknya bahwa dia masuk surga.” (HR. Muslim)

3. Menerima
Alloh menceritakan keadaan orang kafir Quraisy yang tidak menerima dakwah Nabi Muhammad dalam firman-Nya, “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha Illalloh’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Alloh) mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’.” (As Shoffat: 35-36)

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Inilah sifat orang kafir, tidak menerima kebenaran kalimat Laa ilaaha Illalloh. Sungguh hanya Alloh lah yang berhak disembah dan diibadahi.

4. Tunduk
Maksudnya yaitu melaksanakan konsekuensinya lahir dan batin. Alloh berfirman, “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Alloh-lah kesudahan segala urusan.” (Luqman: 22)

Nabi bersabda, “Tidaklah sempurna iman kalian sehingga hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaranku.” (HR. Thabrani)

5. Jujur
Alloh berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar (jujur) dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al ‘Ankabut: 2-3)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tak seorang pun bersaksi Laa Ilaaha Illalloh dan Muhammad hamba Alloh dan rasul-Nya dengan kejujuran hati kecuali Alloh mengharamkan neraka untuk menyentuhnya.” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

Betapa kejujuran menjadi syarat sahnya syahadat. Lihatlah bagaimana syahadat orang munafik ditolak oleh Alloh karena tidak jujur. Sebagaimana firman-Nya, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Alloh.’ Dan Alloh mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Alloh mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (Al Munafiqun: 1)

6. Ikhlas
Ikhlas hakikatnya mengharapkan balasan dari Alloh saja, tidak kepada selain-Nya. Alloh berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)

Apa yang dimaksud dengan ikhlas?
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Alloh mengharamkan bagi neraka menyentuh orang yang mengatakan Laa Ilaaha Illalloh karena semata-mata mencari wajah Alloh.” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

7. Cinta
Alloh berfirman, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya dan bahwa Alloh amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al Baqoroh: 165)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga hal barangsiapa memilikinya pasti akan merasakan kelezatan iman: Alloh dan rasul-Nya lebih dia cintai dibanding selain keduanya, dia mencintai seseorang karena Alloh, dan dia benci untuk kembali kafir sebagaimana kebenciannya jika dilempar ke dalam api.” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

8. Mengingkari peribadatan kepada Thoghut.
Thoghut adalah segala sesuatu selain Alloh yang ridho disembah/diibadahi. Alloh berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqoroh: 256)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh dan mengingkari sesembahan selain Alloh, haramlah harta dan darahnya sedang perhitungannya adalah terserah kepada Alloh Azza Wa Jalla.” (HR. Muslim)

Perlu diperhatikan, syarat-syarat ini tidak bermanfaat sama sekali jika sekedar dihafalkan, tanpa diamalkan. apakah kita sudah mengevaluasi syahadat kita? Sudahkah terpenuhi delapan syarat ini dalam syahadat Laa Ilaaha Illalloh yang kita ikrarkan? Belum terlambat. Berbenahlah! Semoga kita bertemu dengan Alloh sebagai seorang yang bertauhid, bukan sebagai seorang musyrik. Wal ‘iyaadzu billah

~*****~
Demikianlah semoga bermanfaat
Naskah Book; *TIJAN=Titian-Jannah.*

Senin, 07 Mei 2012

MENJAWAB SEBUAH PERTANYAAN TENTANG “ MA’RIFAT.


Assalamualaikum. warahmatullahi wabarokatuh

Bismillahir rahmanir rahim.

Saudaraku...
Dzat Allah swt. dan Sifat-sifat-Nya dan, `Apa yang disebut Ma`rifat adalah Dzat-Nya.
Sifat-sifat?”Dzat dan Mak’rifat Allah swt.yang wajib diketahui

Sedangkan ma’rifat Sifat adalah mengetahui sesungguhnya Allah swt. Mahahidup, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan seluruh Sifat-sifat Keparipurnaan lainnya.

Kalau ditanya, `Apa rahasia ma`ri fat?” Rahasia dan ruhnya adalah tauhid. Yaitu, jika anda telah menyucikan sifat-sifat Mahahidup, Ilm (Ilmu), Qudrah, Iradah, Sama ; Bashar dan Kalam Allah dari segala keserupaan dengan sifat-sifat makhluk [dengan penegasan bahwa tiada satu pun yang menyamai-Nya].

Lalu, apa tanda-tanda ma`rifat? Tanda-tandanya adalah hidupnya kalbu bersama Allah swt. Allah swt. mewahyukan kepada Nabi Dawud a.s., “Mengertikah engkau, apakah ma’rifat-Ku itu?” Dawud menjawab, “Tldak.”Allah berfirman, “Hidupnya kalbu dalam musyahadah kepada-Ku. “

Kalau ditanya, “Tahap atau maqam manakah yang dapat disahkan sebagai ma`rifat yang hakiki?” [Jawabnya] adalah tahap musyahadah (penyaksian) dan ru’yat (melihat) dengan sirr qalbu. Hamba melihat untuk mencapai ma’rifat. Karena ma’rifat yang hakiki ada dalam dimensi batin pada iradah, kemudian Allah swt. menghilangkan sebagian tirai (hijab), lantas kepada mereka diperlihatkan nur Dzat-Nya dan Sifat-sifat-Nya dari balik hijab itu agar mereka sampai pada ma’rifat kepada Allah swt.

Hijab itu tidak dibukakan seluruhnya, agar yang melihat-Nya tidak terbakar.
Sang Sufi bersyair dengan ungkapan pencapaian pada tahap spiritual tertentu :
Seandainya Aku tampak tanpa hijab
Pastilah seluruh makhluk sempurna

Namun hijab itu amat halus
Agar merevitalisasi kalbu para hamba yang `asyiq.
Ketahuilah, bahwa manifestasi (tajalli) keagungan melahirkan rasa takut (khauf) dan keterpesonaan (haibah). Sedangkan manifestasi keelokan (al-Hasan) dan Keindahan (al-Jamal) melahirkan keasyikan. Sementara manifestasi Sifat-sifat Allah melahirkan mahabbah. Dan manifestasi Dzat meniscayakan lahirnya penegasan keesaan (tauhid).

Sebagian ahli ma’rifat berkata, “Demi Allah, tidak seorang pun yang mencari dunia, selain orang itu dibutakan kalbunya oleh Allah, dan dibatalkan amalnya. Sesungguhnya Allah menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai cahaya. Allah menjadikan kalbu juga gelap, lalu dijadikan ma’rifat sebagai cahayanya. Apabila awan telah tiba, cahaya matahari akan terhalang. Begitupun ketika kecintaan dunia tiba, cahaya ma’rifat akan terhalang dari kalbu.”

Ada pula yang mengatakan, “Hakikat ma’rifat adalah cahaya yang dikaruniakan di dalam kalbu Mukmin, dan tiada yang lebih mulia dalam khazanah kecuali ma’rifat.”

Sebagian Sufi berkata, “Matahari kalbu Sang `Arif lebih terang dan bercahaya dibandingkan matahari di siang hari. Karena matahari pada siang hari kemungkinan menjadi gelap karena gerhana, sedangkan matahari kalbu tiada pernah mengalami peristiwa gerhana (kusuf). Matahari siang tenggelam ketika malam, namun tidak demikian pada matahari kalbu.” Mereka mendendangkan syair:

Matahari siang tenggelam di waktu senja
matahari kalbu tiada pernah tenggelam
Siapa yang mencintai Sang Kekasih
`Kan terbang sayap rindunya
menemui Kekasihnya.

Dzun Nun berkata bahwa hakikat ma’rifat adalah penglihatan al-Haq atas rahasia-rahasia relung kalbu melalui perantaraan (muwashalah) Kilatan-kilatan lembut (latha’if) cahaya-cahaya: Dan.
Bagi orang `arifin, terdapat kalbu-kalbu yang diperlihatkan
Cahaya I1ahi dengan rahasia di atas rahasia
Yang terdapat dalam berbagai hijab
Tu1i dari makhluk, buta dari pandangan mereka
Bisu dari berucap dalam klaim-klaim dusta.

Sebagian di antara mereka ditanyai, “Kapankah seorang hamba mengetahui bahwa dia telah mencapai ma’rifat yang hakiki?” Dijawab, “Tatkala dia mencapai tahapan tidak menemukan dalam kalbunya sedikit pun ruang bagi selain Tuhannya.”

Sebagian Sufi ada pula yang berkata, “Hakikat ma’rifat adalah musyahadah kepada Yang Haq tanpa perantara, tanpa bisa diungkapkan, tanpa ada keraguan (syubhah).” Seperti ketika Amirul-Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. ditanya, “Wahai Amirul-Mukminin, apakah yang anda sembah itu yang dapat anda lihat atau tidak dapat anda lihat?”

“Bukan begitu, bahkan aku menyembah Yang aku lihat, bukan dengan penglihatan mata, tetapi penglihatan kalbu,” jawab Ali.

Ja’far ash-Shadiq ditanya, “Apakah anda pernah melihat Allah swt.?”
“Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak bisa kulihati” Ditanyakan lagi, “Bagaimana anda melihat-Nya, padahal Dia tidak dapat dilihat mata?”

Ja’far menjawab, “Mata penglihatan fisik tidak bisa melihat-Nya, tetapi mata batin (al-qulub) dapat melihat-Nya melalui hakikat iman. Tidak diketahui melalui penginderaan dan tidak pula dianalogikan dengan manusia.”

Sebagian `arifin ditanya seputar hakikat ma’rifat. Mereka berkata, “Menyucikan sirr (rahasia) kalbu dari segala kehendak ‘ dan meninggalkan kebiasaan sehari-hari, tentramnya kalbu kepada Allah swt. tanpa ada ganjalan (`alaqah), berhenti dari sikap berpaling dari Allah swt. dan menuju selain Allah swt. Mustahil, ma’rifat kepada substansi Dzat-Nya dan Sifat-sifat-Nya, dan tidak akan diketahui siapa Dia, kecuali melalui Dia sendiri, Yang Mahaluhur, Mahatinggi, serta Kemuliaan hanya kepada Diri-Nya saja.”


Bashirah, Mukasyafah, Musyahadah dan Mu’ayanah

Bashirah, Mukasyafah, Musyahadah dan Mu`ayanah merupakan term-term yang sinonim. Perbedaannya pada tataran makna penjelasannya yang utuh, bukan pada tataran makna asalnya. Kedudukan bashirah (mata batin) pada akal sama dengan kedudukan cahaya mata (batin) pada mata penglihatan (fisik). Kedudukan ma’rifat pada bashirah adalah seperti kedudukan bola matahari yang berpijar pada cahaya mata, sehingga dengan sinar itu, objek-objek yang jelas dan yang tidak tampak dapat dikenali.

Di dalam kehidupan (hayah) itu sendiri, Tauhid dapat diketahui.Allah swt. berfirman: “Bukankah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan?” (Q. s. al-An’am:122).

Demikianlah yang dapat aku haturkan. Dan semoga saja bermanfaat bagi kita semua. Aamiin...Wassalam dan tak lupa aku pun mohon maaf jika seandainya ada salah kata atau ke kurangan itu dikarenakan kelemahan serta ke bodohanku dan hanya Allah-Lah yang Maha segala-Nya. Aamiin Wassalamu Allaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Dan bagi Anda yang mau share atau menandai dan membagikannya kepada teman atau sahabat yang lain aku persilahkan semoga saja ada guna serta manfaatnya bagi kita semua Aamiin...

Jumat, 27 April 2012

Saudaraku Mari kita Sambut Hari Yang Indah ini...

Assalamu allaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Bismillah Alhamdulillah....

Ya Robb...
hari ini aku masih diberikan kesempatan untuk hidup, semoga saja dalam sisa umurku ini dapat lebih berarti untuk menggapai ridho-Mu duhai Ilahi

Dan jadikanlah hari-hariku laksana kertas nan putih bersih sehingga dapat aku tulisi dengan tulisan indah serta berarti untuk dijadikan bekalanku di hari nanti

Dan semoga goresan pena ku ini kan menjadikan tinta emas bagi generasi yang akan datang dan lahir dikemudian hari menggantikan aku nanti

Ya Robbi...
Hidupkanlah jiwanya hidupkanlah raganya dan kokoh kuatkanlah ke imanannya kepada-Mu. Aamiin...

Ya illahi...
aku bersimpuh di hadapan-Mu, menyusun sujud pada debu-semesta yang gelap,
Ku sulam kata pinta, ku rangkai kalimat do’a, memohon agar dalam hidup ini di berikan segalanya yang terbaik, agar Di tunjuki jalan yang lurus,istiqomah di tengah fitnah, sabar di tengah makar, ikhlas menghadapi hidup yang keras. sehingga dapat menghapus genangan air mata dan duka serta kepedihan yang selalu mengalir pedih, membasahi malam-malam, yang sunyi, sepi...

Wahai Saudaraku...
Marilah kita bersama-sama kembali untuk saling berbagi dengan sebait pinta dan do’a yang pernah meluncur deras dari lisan kita yang penuh dosa.

Lupa akan arti kehidupan, lupa akan perjumpaan dengan-Nya, lupa akan 'azzam yang sudah lama tertanam, lupa akan suatu hari dimana kelak tak sebaitpun doa akan didengarkan-Nya, tak sejurus pun sujud ada artinya, tak ada arti setiap tangis yang meringis. Kita kembali lupa, entah apa penyebabnya, tanyakanlah pada hati nurani kita yang paling dalam, apa yang terjadi dalam diri kita, kenapa kita senantiasa mengingkarinya.

Wahai Saudaraku...
Kehidupan yang kita lalui ini, sangatlah tidak berarti, masihkah kita tidak mengerti, masihkah pura-pura tuli, ada kehidupan setelah ini!!!

Bila wajah pucat kaku itu adalah wajah kita, bila tubuh lemah yang terbujur itu adalah tubuh kita, bila tangis itu adalah tangis melepas kita, apa yang dapat kita lakukan? kepada siapa kita kembali kalau bukan kepda Rabb yang jiwa kita ada dalam genggaman-Nya?

Sahabatku...
Kini, masihkah kita pantas mengadahkan tangan, setelah sekian banyak mungkir kita lakukan, setelah seribu dusta kita ucapkan. Maka dari itu masihkah kita berani mengangkat wajah yang kelam ini di hadapan-Nya setelah olok-olok ayat-Nya kita pertontonkan, masihkah kita berani sahabat?

Duhai Saudaraku...
Kembalilah pada-Nya, kepada Rabb yang telah memberi kita rezeki.

Sebelum kita benar-benar mengakhiri dunia ini.
Ku titipkanlah kerinduan ku pada malam, sampaikanlah kepadanya jangan sampai merenggang, agar senantiasa bisa kita menikmati sepertiga malam untuk sampaikan pesan agar hidup kita berlimpah iman.

Saudaraku...
Tiada guna penyesalan, dan mumpung masih ada waktu, yuuk mari kita sama-sama perbaiki diri, dan benahi hati, sucikan jiwa.

Tuailah ibrah dalam setiap kejadian. Mari bersama melangkah kedepan, yuuk kita sambut hari esok penuh ceria, tuk lukislah prestasi gapai impian demi kemajuan, detik ini, besok atau pun nanti, marilah saudaraku mari kita ukir hari-hari kita dengan penuh prestasi.

Agar kelak tiada lagi penyesalan dikemudian hari dengan demikian Insya Allah kita akan temui kehidupan yang indah, dan diberkahi, serta mendapatkan keridhoan dari pada-Nya, tidak saja didunia tapi juga di akhirat nanti. Aamiin Ya Rabbal'alamin...

Dan bagi Anda para sahabatku jika Anda suka silahkan dishare atau dibagikan lagi kepada sahabat atau teman yang lain semoga saja ada guna serta manfaatnya buat kita semua Aamiin Ya Robbal allamiin...Wassalam...

Kamis, 26 April 2012

~* ADAB TIDUR RASULALLAH *~

Bismillahir Rahmanir Rahim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saudaraku...
Tidur adalah salah satu kebutuhan terpenting bagi tubuh dan jiwa kita, sekaligus merupakan nikmat dari Allah SWT yang tidak ternilai. Sayangnya tidak semua orang mengerti bagaimana cara tidur yang berkualitas tinggi seperti halnya Rasulullah Muhammad SAW. Berikut ini adalah tips singkat mengenai bagaimana cara beliau ketika akan tidur dan ketika bangun tidur, semoga saja kita bisa mensuri tauladaninya Aamiin....

~* KETIKA AKAN TIDUR:

1. Berwudhu-lah seperti wudhu ketika akan sholat;

2. Bacalah do’a sebelum tidur. Pilihlah salah satu dari contoh doa Rasulullah SAW di bawah ini:

► “Bismika Allahumma Ahyaa wa Amut “, yang artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati”;

► “Robbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka“, yang artinya: “Ya Robbi, peliharalah aku dari azab-Mu pd hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu”

► “Alloohumma bismika amuutu wa ahyaa“, yang artinya: “Ya Allah, dengan Asma-Mu aku mati dan aku hidup”

► “Allahumma aslamtu nafsii ilaika wawajjahtu wajhi ilaika wafawwadhtu amrii ilaika wa alja’tu zhahrii ilaika raghbatan warahbatan ilaika laa malja-a walaa manja-a minka illaa ilaika. Aamantu bikitaabikalladzii anzalta wanabiyyikal ladzii arsalta“,artinya:

“Wahai Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harapan dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dari nabi yang Engkau utus”.

3. Bacalah surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas dalam posisi berbaring. Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah membaca ketiga surat tersebut setelah mengumpulkan kedua telapak tangannya dan meniupnya. Kemudian setelah selesai membaca, beliau mengusapkan kedua tangannya 3x ke seluruh badan yang mampu diusap, dengan dimulai dari kepala, muka, dan bagian depan badannya;

4. Berbaringlah dengan memiringkan tubuh ke arah kanan;
5. Letakkan tangan kanan di bawah pipi sebelah kanan;
6. Dan tidurlah dengan tenang dan damai

~* Hal lain yang penting tentang cara tidur beliau:

1. Tidurlah di awal malam setelah sholat Isya
2. Jangan pernah tidur dalam posisi tengkurap (perut ada di bawah)
---------
Referensi:
1. “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710)

2. Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan”.

3. Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Muhammad saw bila berbaring di tempat tidurnya, beliau letakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdoa: Robbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka (Ya Robbi, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).” (HR. At Tarmidzi)

4. Hudzaifah ra. berkata: “Bila Rasulullah Muhammad saw berbaring di tempat tidurnya, maka beliau berdoa: Alloohumma bismika amuutu wa ahyaa (Ya Allah, dengan Asma-Mu aku mat dan aku hidup). Dan jika bangun dari tidurnya beliau berdoa: Alhamdu lillaahil-lladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin-nusyuur (Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan daku kembali setelah mematikan daku, dan kepada-Nya tempat kembali).” (HR. At Tarmidzi)

5. Dari Al Barra’ bin Azib ra berkata, “Apabila Rasulullah saw berada pada tempat tidurnya dan akan tidur maka beliau miring ke sebelah kanan, kemudian membaca:

“Allahumma aslamtu nafsii ilaika wawajjahtu wajhi ilaika wafawwadhtu amrii ilaika wa alja’tu zhahrii ilaika raghbatan warahbatan ilaika laa malja-a walaa manja-a minka illaa ilaika. Aamantu bikitaabikalladzii anzalta wanabiyyikal ladzii arsalta.

(Wahai Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harapan dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dari nabi yang Engkau utus.” (HR. Bukhari)

6. “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.”
(HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

7. Dari al-Barra` bin Azib, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “Apabila kamu hendak tidur,maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan”.

8. “Rasulullah Muhammad saw apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

9. Aisyah ra. berkata: “Bila Rasulullah Muhammad saw berbaring di tempat tidurnya, beliau kumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dan dibaca pada keduanya surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas. Kemudian disapunya seluruh badan yang dapat disapunya dengan kedua tangannya. Beliau mulai dari kepalanya, mukanya dan bagian depan dari badannya. Beliau lakukan hal ini sebanyak tiga kali.” (HR. At Tarmidzi)

10. “Beliau saw tidur di awal malam dan menghidupkan akhir malam.” (Mutafaq ‘Alaih)

11. “Bahwasanya Rasulullah Muhammad saw membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235))

12. “Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shohih)

13. “Maka bangunlah Rasulullah Muhammad saw dari tidurnya kemudian duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya.” (HR. Muslim No. 763 (182)

14. “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka beristintsaarlah tiga kali karena sesunggguhnya syaitan bermalam di rongga hidungnya.” (HR. Bukhari No. 3295 dan Muslim No. 238)

15. “Apabila Rasulullah Muhammad saw bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR. Al Bukhari No. 245 dan Muslim No. 255)
●═════════✿═════════●

~* KETIKA BANGUN TIDUR:

1. Berdoalah dengan doa yang beliau ajarkan ini:
“Alhamdu lillaahil-lladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin-nusyuur“, yang artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami mati, dan kepada-Nya kami kembali”

2. Usaplah bekas tidur dari wajah dengan tangan;
3. Hiruplah air ke dalam hidung lalu keluarkan (semburkan) kembali. Ini disebut beristinsyaq dan beristintsaar;

4. Sikat gigi (bersiwak);

Marilah kita sampaikan salam terindah kpada baginda Nabi Muhhamad SAW. Semoga kita tergolong hamba-hamba Alloh dan slalu mencintai Rasulullah... Aamiin.


Smoga bermanfaat.. Aamiin... Wassalam

Rabu, 04 April 2012

MEMAHAMI KE ISLAMAN

Bismillahir Rahmanir Rahim

Assalamu allaikum wr. wb.


Saudaraku...


Islam secara umum dipahami sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Perkataan Islam berasal dari kata “silm” yang berarti “damai”

[1]. Karena itu Islam mengandung makna masuk ke dalam suasana yang damai, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial-kemasyarakatan. Makna Islam dari bahasa Arab yaitu :”aslama, yuslimu, islam”.

Secara etimologis kata Islam diturunkan dari akar yang sama dengan kata salām yang berarti “damai”. Kata 'muslim' (sebutan bagi pemeluk agama Islam) juga berhubungan dengan kata Islām, kata tersebut berarti “orang yang berserah diri kepada Allah" atau "berserah diri kepada Tuhan" adalah agama yang mengimani (mempercayai) satu Tuhan, yaitu Allah dalam bahasa Indonesia (QS. 9:74, 49:14 ).

Dari aspek kebahasaan ini, kata Islam merupakan penyataan kata yang berasal dari akar triliteral s-l-m, terdapat dari tatabahasa bahasa Arab Aslama, yaitu bermaksud "untuk menerima, menyerah atau tunduk".

Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dan tunduk kepada Tuhan (Allah), dan penganutnya harus menunjukkannya dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari Al-Qur’an.

Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..." (QS. 6:125, 61:7, 39:22).

Ayat lainnya ialah menghubungkan Islām dandīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. 5:3, 3:19, 3:83).

Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada jalan Tuhan lebih dari hanya sekedar pernyataan sebagai pengesahan keimanan.


Masa sebelum kedatangan Islam
Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menjadikannya satu antara Indo-Eropa dengan kawasan Asia di timur.

Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang dianggap suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka pada mulanya, disana juga ada telaga Zamzam, dan keberadaan yang terpenting adalah Ka'bah.

Masyarakat di wilayah ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain ‘bodoh’. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya, namun dalam pemikiran atau pemahaman dan moralitasnya. Warga dari suku Quraisy disana terkenal dengan masyarakat yang suka sekali dengan berpuisi.

Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu seni hiburan rakyat disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.
Masa sebelum kedatangan Islam
Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menjadikannya satu antara Indo-Eropa dengan kawasan Asia di timur.

Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang dianggap suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka pada mulanya, disana juga ada telaga Zamzam, dan keberadaan yang terpenting adalah Ka'bah.

Masyarakat di wilayah ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain ‘bodoh’. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya, namun dalam pemikiran atau pemahaman dan moralitasnya. Warga dari suku Quraisy disana terkenal dengan masyarakat yang suka sekali dengan berpuisi.

Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu seni hiburan rakyat disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.

Sekilas tentang
Riwayat Awal Nabi Muhammad
Muhammad Sholallahu 'Alaihi wa Salam dilahirkan di Mekkah Al Mukarramah pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awwal tahun 571 M. Tahun tersebut adalah tahun ketika Abrahah Al Habsyi berusaha menghancurkanKa'bah, maka Allah lalu menghancurkan Abrahah dan tentaranya, dan hal tersebut disebutkan di dalam Al Qur’an surat Al Fiil.

Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ia meninggal sebelum Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam dilahirkan. Oleh karena itu beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Ibu beliau adalah Aminah binti Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah.

Setelah melahirkan beliau, Ibunya memberikan kabar gembira dengan kelahiran cucu dan mengirim beliau kepada kakeknya. Sang kakek datang menyambut dengan menggendongnya. Kemudian Sang kakek membawanya memasuki Ka'bah bersama beliau.

Kakeknya berdoa bagi beliau dan menamai beliau Muhammad. Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Dan (aku) memberikan kabar gembira dengan seorang rasul yang datang sesudahku yang bernama Ahmad (Muhammad)" (QS. Ash Shaff: 6).

Nasabbeliau dari sisi ayah adalah: Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin ghalib bin Fihr bin Malik bin AnNadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma'ad bin Adnan.

Adnan termasuk keturunan Ismail bin Ibrahim 'Alaihimussallam. Nasab ayah Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam bertemu dengan nasab ibu beliau pada Kilab bin Murrah.


Masa penyusuan Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam.

Di masa itu, orang-orang mulia suku Quraisy mempunyai sebuah kebiasaan untuk menyerahkan anak-anak mereka kepada para ibu susuan yang berasal dari desa (pedalaman). Agar di tahun-tahun pertama kehidupannya sang anak hidup di udara pedalaman yang segar, sehingga badannya menjadi kuat karenanya.

Oleh karena itu Abdul Muthallib mencari ibu susuan bagi Muhammad Sholallahu 'Alaihi wa Salam. Ketika itu datanglah wanita-wanita dari bani Sa'ad di Mekkah. Mereka mencari anak-anak untuk disusui. Di antara mereka adalah Halimah As Sa'diyyah.

Semua wanita itu telah mengambil anak untuk disusui kecuali Halimah. Ia tidak menemukan selain Muhammad. Pada mulanya ia enggan mengambil beliau dikarenakan beliau adalah anak yatim tanpa ayah. Namun ia tidak suka kembali tanpa membawa anak susuan. Akhirnya Halimah mengambil beliau karena tidak ada bayi selain beliau untuk disusui.

Halimah mendapatkan banyak dari barokah Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam selama menyusui beliau.

Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam menetap di Bani Sa'ad selama dua tahun, selama masa penyusuan. Kemudian Halimah membawanya ke Makkah. Ia membawanya kepada ibu beliau, Halimah meminta, agar beliau bisa tinggal bersamanya lebih lama lagi.

Kemudian Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam mencapai usia lima tahun. Di usia itu terjadi peristiwa pembelahan dada beliau.

Jibril datang kepada Muhammad Sholallahu 'Alaihi wa Salam. Ketika itu beliau tengah bermain-main bersama anak-anak lain.

Jibril mengambil beliau kemudian melemparkannya ke tanah. Ia mengambil jantung beliau. Ia mengeluarkan segumpal darah (hati) dari jantung tersebut. Kemudian ia berkata: "Ini adalah bagian syaithan dari dirimu".

Lalu ia mencucinya dalam baskom emas dengan air zam-zam. Kemudian Jibril mengembalikan jantung itu seperti semula. Anas Radhiyallahu'anhu, perawi hadits ini mengatakan: "Sungguh aku telah melihat bekas sobekan di dada beliau".

Maka kemudian Halimah mengetahui kejadian ini. Ia pun sangat mengkhawatirkan akan keselamatan beliau. Sehingga ia mengembalikan beliau kepada sang ibu. Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam.

Dikembalikan oleh Halimah.
Beliau pun tinggal bersama sang ibu. Ketika beliau mencapai usia enam tahun, Aminah membawanya ke Yatsrib. Mereka menunjungi paman-paman beliau. Mereka adalah saudara Aminah dari Bani An Najjar.

Aminah pergi bersama Ummu Aiman, pengasuh Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam. Di perjalanan pulang dari Yatsrib, ibu beliau meninggal. Ia meninggal di suatu tempat yang disebut Al Abwa' yang berada di antara Mekkah dan Madinah.

Maka Ummu Aiman kembali ke Mekkah bersama beliau. Kemudian beliau diasuh oleh sang kakek Abdul Muthallib.


‎[2]. Masa awal Islam
Islam bermula pada tahun 611 M. ketika wahyu pertama diturunkan kepada Rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira', Arab Saudi.

Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571 masehi). Ia dilahirkan ditengah-tengah suku Quraish pada zamanjahiliyah, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang dan menyembah berhala.

Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan Ibunya.

Pada saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah pun meninggal dunia.

Sepeninggalan ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Talib.

Muhammad kemudian menikah dengan seorang janda bernama Siti Khadijah dan menjalani kehidupan secara sederhana.

Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulailah mengajarkan ajaran Islam secara tertutup dan sembunyi-sembunyi pada saat malam yang sunyi kepada para sahabatnya.

Setelah tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, akhirnya ajaran Islam kemudian juga disampaikan secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.

Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya pindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah, dan semenjak peristiwa itulah sebagai dasar permulaan perhitungan kalender Islam.

Di Madinah, Muhammad SAW dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga semakin kuatlah ummat Islam.

Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, ummat Islam selalu mendapatkan kemenangan.

Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.

Keunggulan diplomasi nabi Muhammad SAW pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan ummat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh ummat Islam tidak terjadi pertumpahan darah.

Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam. Kepemimpinan ummat selanjutnya dipegang oleh Khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin yang memilki arti pemimpin yang baik, diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib.


Pada masa ini ummat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi.

Abu Bakar memperkuat dasar-dasar kenegaraan ummat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad SAW.

Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak.

Dengan takluknya negeri-negeri tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh ummat Islam. Setelah periodeKhalifah Rasyidin, kepemimpinan ummat Islam berganti ke tangan pemimpin selanjutnya yang disebut "khalifah", atau terkadang juga disebut "amirul mukminin", "sultan", dan sebagainya.

Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan ummat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga mirip dan banyak yang menyamakannya dengan kerajaan;

misalnya kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah. Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam ini telah menjadikannya sebagai salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu.

Timbulnya tempat-tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab. Di berbagai wilayah dunia Islam telah diwujudkan suatu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung dan mulia.

Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan dan teknologi bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya padazaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.

Luasnya wilayah penyebaran dari agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk "kesultanan"; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia.

Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.

Pada kurun ke-18 dan ke-19 Masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I.

Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh Mustafa Kemal Pasha atau Kemal Attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.


Saudaraku...

Sepintas Perkembangan Islam Kini
Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,5 milyar lebih ummatmuslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh.

Populasi muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat China, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.

Pertumbuhan Muslim sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia.

[3]. Beberapa pendapat, telah menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam, dimana enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran yang tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas Muslim.

Namun belum lama ini, sebuah studi demografi menyatakan bahwa angka kelahiran di negara-negara muslim telah menurun hingga ke tingkat negara Barat

[4]. Hampir semua muslim tergolong dalam salah satu dari dua kelompok terbesar, diantaranyaSunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidak setujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu.

Islam adalah agama pra-dominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran muslim di bagian lain dunia.

seperti Eropa Barat. Sekitar 20% muslim tinggal di negara-negara Arab,

[5] 30% di sub-benua India dan 15.6% di Indonesia sebagai negara muslim terbesar berdasar populasi.

[6] Negara dengan mayoritas pemeluk Islam sunniadalah Indonesia, Arab Saudi, dan Pakistan. Sedangkan negara dengan mayoritas Islam syi'ah adalah Iran dan Irak. Doktrin antara sunni dan syi'ah berbeda pada masalah imamah (kepemimpinan) dalam politik dan keagamaan serta peletakan Ahlul Bait (keluarga keturunan Nabi Muhammad). Namun secara umum, baik sunni maupun syi'ah percaya pada rukun Islam dan rukun iman walaupun dengan terminologi yang berbeda.


Pemahaman Islam

Islam (Arab: al-islām, "berserah diri kepada Tuhan") Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah

[7]. Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah.
Agama ini termasuk agama samawi (agama-agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama Ibrahim. Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia

[8]. Islam menjadikan agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen

[9]. Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan 'muslim’ yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah muslimin bagi laki-laki dan muslimat bagi perempuan.

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan Rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Islam sebagai agama monotheisme

[10]. Yang diwahyukan Allah kepada Rasulnya, yakni Nabi Muhammad SAW, di tanah Arab.
Kaum muslim percaya bahwa Allah mewahyukan Al-Qur'an kepada Muhammad, sebagai penutup segala Nabi Allah (khataman-nabiyyin), dan menganggap bahwa Al-Qur'an dan Sunnah (kata dan amalan Muhammad) sebagai sumber fundamental Islam.

[11] Dan tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai “pembaharu” dari keimananmonoteistik dari Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan nabi lainnya. Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu

"Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" yang berarti "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah". Apabila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, berarti ia sudah dapat dianggap sebagai seorang muslim atau mualaf (orang yang baru masuk Islam).

Ummat Islam juga meyakini Al-Qur'an sebagai kitab suci dan pedoman hidup yang disampaikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril yang sempurna Dan tidak ada keraguan di dalamnya (QS. Al-Baqarah 2:2).

Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan Al-Qur'an hingga akhir zaman dalam suatu ayat. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an.

Ummat Islam juga diwajibkan untuk mengimani kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum Al-Qur'an (Zabur, Taurat ,Injil, dan suhuf atau lembaran Ibrahim) melalui nabi dan rasul terdahulu adalah benar adanya (QS. 2:4).

Ummat Islam juga percaya bahwa selain Al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka ummat Islam meyakini bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Ummat Islam juga meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah agama tauhid, dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni imannya) maka menjadikannya seorang muslim(QS. 2:130, 10:72 “ ….... dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (Muslim)".

Saudaraku...

" Konsep Islam teologikal dasarnya ialah tauhid, kepercayaan bahwa hanya ada satu Tuhan. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Allāh; Sebagai rujukan, kebanyakan ilmuwan yang percaya kata Allah didapat dari penyingkatan dari kata al- (si) dan ‘ilāh ' (dewa, bentuk maskulin), yang dimaksud adalah "Tuhan" (al-ilāh'), tetapi yang lain ada menekankan dari asal usulnya yaitu Arami Alāhā.

Kata Allah juga adalah kata yang digunakan oleh ummat Kristiani (Nasrani) seperti Kristen dan Katholik serta Yahudi-Arab sebagai terjemahan dari ho theosdari Perjanjian Baru dan Septuaginta.

[12]. Allah adalah Nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan sebagaimana perkenalan-Nya kepada manusia melalui Al-Qur’an yakni: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku". (QS. Taha :14).

Pemakaian kata Allah secara linguistik mengindikasikan kesatuan. Ummat Islam percaya bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah sama dengan Tuhan ummat Yahudi dan Nasrani, juga dalam hal ini adalah Tuhannya Ibrahim. Yang juga berarti mengikuti wasiat Nabi Ibrahim as,;

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ke-Islam-an itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata) ”Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama Islam untuk kamu, maka janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim” (QS. Al Baqarah: 132).

Namun, Islam menolak ajaran Kristen menyangkut paham Trinitas dimana hal ini dianggap Politeisme. Mengutip Al-Qur'an, surat An-Nisa' ayat :71:

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya.

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu mengatakan :"Tuhan itu tiga", berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa. Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara".

Allah adalah nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan (QS.Taha 20:14). Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam Al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering disebut sebagai Ahli Kitab atau Ahlul Kitab.

Dalam Islam, visualisasi atau penggambaran Tuhan tidak dapat dibenarkan, hal ini dilarang karena dapat berujung pada pemberhalaan dan justru dianggap penghinaan pula, karena Tuhan tidak serupa dengan apapun (QS. Asy-Syu'ara' 42:11).

Sebagai gantinya, Islam menggambarkan Tuhan dalam 99 nama / gelar / julukan Tuhan (asma'ul husna) dan yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya sebagaimana terdapat pada Al-Qur'an.

Memeluk agama Islam adalah memperoleh hidayah dan pencerahan dari Allah dengan firmannya: ”Maka apakah orang-orang yang Allah bukakan hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya (nuur) dari Tuhannya (sama dengan orang yang keras hatinya) ? Maka celakalah bagi orang-orang yang keras hatinya dari mengingat Allah (dzikir). Mereka itulah dalam kesesatan yang nyata” (QS. Az Sumar: 22).

Tentu saja dalam ber-Islam ini harus bersungguh-sungguh sepenuhnya dan ikhlas. Dan diperintahkan Allah SWT untuk masuk Islam seutuhnya. Firman Allah menyebutkan: ”Hai orang-orang yang beriman (percaya), masuklah ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Al Baqarah: 208). Berikutnya:

” Dan (aku diperintah): “Hadapkanlah mukaku kepada agama dengan ikhlas. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik “ (QS. Yunus: 105). Agama Islam mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang membawa para penganutnya untuk bersikap damai dengan Tuhannya dan bersikap damai dengan sesama makhluk. Sikap tersebut bersifat “hubungan” yakni disebut hablumminnallah (dengan Allah SWT) dan hablumminnanas (dengan sesama manusia) yang diwujudkan dalam “kepatuhan” dan “tunduk” kepada ketentuan Allah SWT, istislam (QS. 3: 82), pasrah mengikuti kehendak Tuhan (Allah),inqiyad (QS. 6: 5), ikhlas dan tulus mengabdi kepadaNya.

Dan sikap ikhsan, berbuat baik kepada sesama secara tulus, bersikap ishlah, membangun kehidupan yang lebih baik dan berhubungan lebih konstruktif dengan alam dan sesama manusia serta sikap qisth (QS. 4: 3,58; 16: 76,90; 42: 15), berlaku adil kepada siapapun diseluruh kehidupan. Berintikan tauhid (tauhidullah) yaitu pengakuan dan kepercayaan sepenuhnya akan ke-Esa-an Allah SWT (QS. 21: 92), diwujudkan dalam peribadatan (ibadah) dan peramalan (amal sholeh) hanya kepada-Nya, yang mendasari pengakuan akan kesatuan dan persamaan serta persaudaraan ummat manusia.

Ajaran Islam tertuang dalam Al Qur’an dan Sunnah, berupa petunjuk, perintah dan larangan serta anjuran. Maka hanya Islam yang diterima disisi Allah SWT (QS. Ali Imron: 19 dan 85; Al Maidah: 3; As Zumar: 22; Al Baqaroh: 32 dan 208; Yunus:105).

Seseorang yang kemudian memproklamirkan diri untuk memeluk agama Islam mengikrarkan syahadat baik lisan maupun dalam hati, sebagai kesaksian dan pengakuan atas Tuhan Allah SWT dan Kerasulan Nabi Muhammad SAW (syahadat Tauhid dan syahadat Rasul) dan diwajibkan mengamalkan rukun Islam yang lima yakni melaksanakan sholat dan puasa di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, dan bila mampu pergi Haji.

Dalam keyakinan kaum muslimin, semua agama samawi yang dibawa oleh para Nabi sepanjang zaman mengajarkan inti yang sama yaitu tauhid (QS.21: 25), perbedaannya hanya pada syari’at atau aturan sesuai dengan zamannya (QS. 5: 48).

Agama samawi atau agama wahyu yaitu Islam yang dibawa oleh penutup segala Nabi atau Khatamu‘l-Nabiyyin (QS. 3: 18) telah mencapai tingkat kesempurnaan karena risalahnya sudah bersifat universal(QS. 21: 107; 34: 28).

Sasaran Islam antara lain meliputi al-Mabadiu‘l-Khamsah (prinsip yang lima) [13], prinsip-prinsip tersebut adalah :

1) Memelihara keluhuran agama (hifzhu‘l-din) dengan kebebasan beragama, pembelaan terhadap eksistensi institusi keagamaan, larangan penghinaan terhadap keyakinan orang lain (QS. 6: 109).

2) Memelihara keselamatan jiwa (hifzhu‘l-nafsi), menentukan hukuman yang keras terhadap kejahatan, pembunuhan dan penganiayaan (QS. 2: 178).

3) Memelihara kesehatan akal, pikiran dan mental (hifzhu ‘l-‘aqli), melarang mabuk-mabukan atau melarang minuman keras, Narkoba, dll.

4) Memelihara kesucian keturunan (hifzhu‘l-nasli), pengaturan rinci tentang perkawinan (QS. 4: 3,22,23,34) dan larangan semua bentuk perzinahan (QS. 24: 2).

5) Memelihara keamanan harta benda (hifzhu‘l-mal), kepemilikan harta benda dilakukan dengan cara yang sah / benar (QS. 2: 188; 4: 29,161; 9: 34), mencegah penumpukan kekayaan ditangan segelintir orang kaya, menetapkan kewajiban zakat dan infak (QS. 2: 3,43; 9: 60), menegaskan bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin (QS. 70: 24,25).

[14] Disamping itu dalam kehidupan bermasyarakat, Islam juga menekankan beberapa prinsip dasar yaitu:
1) Sebagai masyarakat yang terbuka (QS. 14: 1)
2) Berdasarkan sistem musyawarah (QS. 3: 158; 42: 58)
3) Berlandaskan hukum dan pemerintahan yang adil (QS.4: 58)
4) Pemerataan kekayaan (QS. 59: 7)
5) Kebebasan berkeyakinan (QS. 17: 29)
6) Penghormatan atas martabat manusia (QS. 17: 70).
7) Seluruh kalangan menyepakati sumber utama ajaran Islam adalah: Al Qur’an dan Sunnah Nabi (Hadits).

Muhammad SAW (570-632) adalah nabi terakhir dalam ajaran Islam dimana mengakui kenabiannya merupakan salah satu syarat untuk dapat disebut sebagai seorang muslim (lihat syahadat).

Dalam Islam MuhammadSAW tidak diposisikan sebagai seorang pembawa ajaran baru, melainkan merupakan penutup dari rangkaian nabi-nabi yang diturunkan sebelumnya. Terlepas dari tingginya statusnya sebagai seorang Nabi, Muhammad SAW. dalam pandangan Islam adalah seorang manusia biasa.

Namun setiap perkataan dan perilaku dalam kehidupannya dipercayai merupakan bentuk ideal dari seorang muslim. Oleh karena itu dalam Islam dikenal istilah hadits yakni kumpulan perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan Muhammad.

Hadits adalah teks utama (sumber hukum) kedua Islam setelah Al Qur'an.

Ajaran Islam disampaikan pertama kalinya oleh Nabi Muhammad SAW. sebagai kabar gembira dan peringatan ummat manusia (QS. Saba’: 28). Dilanjutkan oleh para sahabat (yg hidup sezaman dan turut berjuang bersama Nabi SAW).

Kemudian oleh Tabi’in, yaitu tokoh ulama Islam yang lahir setelah Nabi SAW wafat dan mempelajarinya dari para sahabat. Lalu oleh Tabi’it-tabi’in, tokoh ulama Islam sesudah para sahabat wafat dan mempelajarinya dari Tabi’in.

Demikianlah ajaran Islam disampaikan terus menerus, baik secara turun-temurun maupun dengan berguru kepada ahli warisnya yang disebut ulama pewaris ilmu Rasullullah. Juga diberikan dalam pendidikan formal agama Islam dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, menjadikannya sebagai Ilmu pengetahuan keagamaan yang terus berkembang. Ajaran Islam menganjurkan untuk meraih kebahagiaan hidup dalam keseimbangan antara kehidupan dunia dan akherat, tersurat dalam firman Allah QS. Al Qashash ayat 77: “Dan carilah dengan apa yang dianugrahkan Allah kepadamu akan (kebahagiaan) negeri akherat dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia....”.



Saudaraku...

"Keharusan untuk mematuhi syari’at Islam, ditujukan bagi pemeluknya (muslim) yang berakal, sehat, menginjak dewasa (baligh yaitu pria yang sudah mengeluarkan mani dan manita yang sudah menstruasi) dalam firman Allah QS. Al Jaatsiyah ayat 18 yang artinya “Kemudian kami jadikan engkau berada di atas syari’at dari urusan (agama) itu, maka turutilah syari’at (peraturan) itu, dan janganlah engkau turuti kemauan-kemauan orang-orang yang tidak mengetahui”.

Bagi ummat muslim dalam menempuh kehidupan sehari-hari umumnya menjalankan 5 hukum yang bersifat:

1) Wajib (fardhu), segala perintah Allah SWT yang merupakan keharusan untuk dikerjakan, terdiri dari:
a) wajib syar’i, yang apabila dikerjakan berpahala dan bila ditinggalkan terhitung berdosa;
b) wajib akli, ketetapan hukum yang masuk akal dan rasional;
c) wajib aini, ketetapan hukum yang harus dikerjakan setiap muslim (misal rukun Islam yang lima);
d) wajibkifayah, ketetapan hukum bila dikerjakan oleh sebagian muslim, maka muslim lainnya terbebas dari kewajiban, tapi bila tidak ada yang mengerjakan berdosa semuanya (misal mengurus jenazah);
e) wajibmuaiyyan, tindakan yang ditetapkan bentuknya / macamnya tindakan (misal gerakan sholat);
f) wajib mukhoyyar, suatu kewajiban yang boleh dipilih salah satunya dari bermacam pilihan untuk dikerjakan;
g) wajib muntlaq, suatu kewajiban yang tidak ditentukan waktu pelaksanaannya (misal denda sumpah);
h) wajib aqli dhoruri, adalah percaya kebenaran dengan sendirinya tanpa perlu dalil-dalil (misal orang makan jadi kenyang); dan
i) wajib nazari, percaya kebenaran dengan memahami dalil-dalilnya atau dengan suatu penelitian yang mendalam (misal tentang eksistensi Allah ).

2) Sunnah, adalah suatu perkara bila dikerjakan berpahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Ada 4 sunnah yaitu:
a) sunnah ab’ad, perkara dalam sholatyang harus dikerjakan, kalau terlupakan maka harus menggantinya dengansujud sahwi;
b) sunnah muakkad, adalah sunnah yang sangat dianjurkan (sholat Idul Fitri, Idul Adha dan Tareweh);
c) sunnah haiah, perkara dalamsholat sebaiknya dikerjakan, mis. mengangkat dua tangan saat takbir dan mengucap Allahu akbar ketika ruku’, sujud dan sebagainya; dan
d) sunnah ghoiru muakkad, sunnah biasa, misal memberi salam kepada orang lain, puasa senin-kamis dan sebagainya.

3) Haram, suatu perkara yang dilarang dikerjakan, bila dikerjakan terhitung dosa dan bila ditinggalkan berpahala.

5) Makruh, suatu hal yang tidak diinginkan dan tidak disukai, bila dikerjakan tidak berdosa, bila ditinggalkan berpahala (misal merokok).

5) Mubah, atau Ja’iz (boleh), istilah fikih yang diperbolehkan, yang tidak dianjurkan dan tidak dicela, suatu perkara bila dikerjakan atau ditinggalkan tidak berdosa dan tidak berpahala.


Saudaraku...

[15]. Adapun dalam memahami dan memudahkan penyampaian ajaran Islam oleh para alim-ulama dan ahlinya telah pula diusahakan serta dilakukan secara sistematik, yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan keagamaan (al-‘ulumu‘l-diniyah), semacam trilogi ilmu pengetahuan ke-Islam-an yaitu:

1) Ushulu‘l-din (teologi);
2) Fiqh atau fikih (hukum Islam);
3) Tasawuf (Sufisme) dengan tarekatnya (jalan / cara / metode).

Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga bermanfaat bagi kita semua Aamiin WassalamSebagai Nara sumber________________________________________

[1] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 7, PT.Delta Pamungkas, Jakarta, 2004,


hal. 247
[2] Muqarrar al-Mustawa Ats Tsalits fis Siratin Nabawiyyah—Syu'bah Ta'lim al-Lughah al- 'Arabiyyah al-Jami'ah al-Islamiyyah, Madinah, 2007
[3] http//w.w.w.Islam Basics: About Islam and American Muslim, Council on American- Islamic Relations
[4] http//www.Major Religions of the World—Ranked by Number of Adherents. diakses pada 3 Juli 2007
[5] Esposito, John (2002b). What Everyone Needs to Know about Islam. Oxford University Press. 2007 Dan Esposito, John (2004).
[6] Islam: The Straight Path, 3rd Rev Upd, Oxford University Press. 2007 dan Ibid, Esposito, John, 2002b, 2004
[7] http//w.w.w.USC-MSA Compendium of Muslim Texts
[8] http//w.w.w.w Islam Basics: About Islam and American Muslim, Council on American- Islamic Relations, 2007. dan Religions & Ethics: Islam at a glance, BBC - 2007
[9] http//w.w.w. Major Religions of the World—Ranked by Number of Adherents. (HTML) Diakses, 3 Juli 2007
[10] Ensiklopedi Umum, P.N. Kanisius, 1991, hal 476
[11] Esposito, John; John Obert Voll (1996). Islam and Democracy. Oxford University Press. Dan Ghamidi, Javed (2001). Mizan. Dar al-Ishraq.
[12] Accad, Martin "The Gospels in the Muslim Discourse of the Ninth to the Fourteenth Centuries: An Exegetical Inventorial Table (Part I)". Islam and Christian-Muslim Relations14 (1), 2003
[13] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 7, Ibid, hal 248
[14] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 7, Ibid, hal. 248
[15] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 7, Ibid, hal 248

Selasa, 03 April 2012

>> SEPULUH LANGKAH MENJEMPUT REZEKI <<
===============================
1.Taqwa
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan 
keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka- sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).



2. Tawakal
Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)



3. Shalat
Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)



4. Istighfar
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS Nuh: 10-12).


“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).


5. Silaturahmi
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturahim.”
6. Sedekah
Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)


7. Berbuat Kebaikan
“Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Alqashash:84)
Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pd hambanya yg berbuat kebaikan.Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.(HR. Ahmad)


8. Berdagang
Dan Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (Riwayat Ahmad)


9
. Bangun Pagi
Fatimah (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah ( S.A.W.) melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W.) mengatakan kepadanya, “Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari. ( H.R. Al-Baihaqi)


Aisyah juga meceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah (S.A.W.) bersabda, “Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan. (H.R. At-Tabarani)


10. Bersyukur
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)
* SEMOGA BERMANFAAT *