Bismillahir Rahmanir Rahim
Assalamu allaikum wr. wb.
Saudaraku...
Islam secara umum dipahami sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Perkataan Islam berasal dari kata “silm” yang berarti “damai”
[1]. Karena itu Islam mengandung makna masuk ke dalam suasana yang damai, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial-kemasyarakatan. Makna Islam dari bahasa Arab yaitu :”aslama, yuslimu, islam”.
Secara etimologis kata Islam diturunkan dari akar yang sama dengan kata salām yang berarti “damai”. Kata 'muslim' (sebutan bagi pemeluk agama Islam) juga berhubungan dengan kata Islām, kata tersebut berarti “orang yang berserah diri kepada Allah" atau "berserah diri kepada Tuhan" adalah agama yang mengimani (mempercayai) satu Tuhan, yaitu Allah dalam bahasa Indonesia (QS. 9:74, 49:14 ).
Dari aspek kebahasaan ini, kata Islam merupakan penyataan kata yang berasal dari akar triliteral s-l-m, terdapat dari tatabahasa bahasa Arab Aslama, yaitu bermaksud "untuk menerima, menyerah atau tunduk".
Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dan tunduk kepada Tuhan (Allah), dan penganutnya harus menunjukkannya dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari Al-Qur’an.
Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..." (QS. 6:125, 61:7, 39:22).
Ayat lainnya ialah menghubungkan Islām dandīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. 5:3, 3:19, 3:83).
Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada jalan Tuhan lebih dari hanya sekedar pernyataan sebagai pengesahan keimanan.
Masa sebelum kedatangan Islam
Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menjadikannya satu antara Indo-Eropa dengan kawasan Asia di timur.
Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang dianggap suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka pada mulanya, disana juga ada telaga Zamzam, dan keberadaan yang terpenting adalah Ka'bah.
Masyarakat di wilayah ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain ‘bodoh’. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya, namun dalam pemikiran atau pemahaman dan moralitasnya. Warga dari suku Quraisy disana terkenal dengan masyarakat yang suka sekali dengan berpuisi.
Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu seni hiburan rakyat disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.
Masa sebelum kedatangan Islam
Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menjadikannya satu antara Indo-Eropa dengan kawasan Asia di timur.
Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang dianggap suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka pada mulanya, disana juga ada telaga Zamzam, dan keberadaan yang terpenting adalah Ka'bah.
Masyarakat di wilayah ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain ‘bodoh’. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya, namun dalam pemikiran atau pemahaman dan moralitasnya. Warga dari suku Quraisy disana terkenal dengan masyarakat yang suka sekali dengan berpuisi.
Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu seni hiburan rakyat disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.
Sekilas tentang
Riwayat Awal Nabi Muhammad
Muhammad Sholallahu 'Alaihi wa Salam dilahirkan di Mekkah Al Mukarramah pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awwal tahun 571 M. Tahun tersebut adalah tahun ketika Abrahah Al Habsyi berusaha menghancurkanKa'bah, maka Allah lalu menghancurkan Abrahah dan tentaranya, dan hal tersebut disebutkan di dalam Al Qur’an surat Al Fiil.
Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ia meninggal sebelum Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam dilahirkan. Oleh karena itu beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Ibu beliau adalah Aminah binti Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah.
Setelah melahirkan beliau, Ibunya memberikan kabar gembira dengan kelahiran cucu dan mengirim beliau kepada kakeknya. Sang kakek datang menyambut dengan menggendongnya. Kemudian Sang kakek membawanya memasuki Ka'bah bersama beliau.
Kakeknya berdoa bagi beliau dan menamai beliau Muhammad. Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Dan (aku) memberikan kabar gembira dengan seorang rasul yang datang sesudahku yang bernama Ahmad (Muhammad)" (QS. Ash Shaff: 6).
Nasabbeliau dari sisi ayah adalah: Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin ghalib bin Fihr bin Malik bin AnNadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma'ad bin Adnan.
Adnan termasuk keturunan Ismail bin Ibrahim 'Alaihimussallam. Nasab ayah Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam bertemu dengan nasab ibu beliau pada Kilab bin Murrah.
Masa penyusuan Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam.
Di masa itu, orang-orang mulia suku Quraisy mempunyai sebuah kebiasaan untuk menyerahkan anak-anak mereka kepada para ibu susuan yang berasal dari desa (pedalaman). Agar di tahun-tahun pertama kehidupannya sang anak hidup di udara pedalaman yang segar, sehingga badannya menjadi kuat karenanya.
Oleh karena itu Abdul Muthallib mencari ibu susuan bagi Muhammad Sholallahu 'Alaihi wa Salam. Ketika itu datanglah wanita-wanita dari bani Sa'ad di Mekkah. Mereka mencari anak-anak untuk disusui. Di antara mereka adalah Halimah As Sa'diyyah.
Semua wanita itu telah mengambil anak untuk disusui kecuali Halimah. Ia tidak menemukan selain Muhammad. Pada mulanya ia enggan mengambil beliau dikarenakan beliau adalah anak yatim tanpa ayah. Namun ia tidak suka kembali tanpa membawa anak susuan. Akhirnya Halimah mengambil beliau karena tidak ada bayi selain beliau untuk disusui.
Halimah mendapatkan banyak dari barokah Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam selama menyusui beliau.
Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam menetap di Bani Sa'ad selama dua tahun, selama masa penyusuan. Kemudian Halimah membawanya ke Makkah. Ia membawanya kepada ibu beliau, Halimah meminta, agar beliau bisa tinggal bersamanya lebih lama lagi.
Kemudian Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam mencapai usia lima tahun. Di usia itu terjadi peristiwa pembelahan dada beliau.
Jibril datang kepada Muhammad Sholallahu 'Alaihi wa Salam. Ketika itu beliau tengah bermain-main bersama anak-anak lain.
Jibril mengambil beliau kemudian melemparkannya ke tanah. Ia mengambil jantung beliau. Ia mengeluarkan segumpal darah (hati) dari jantung tersebut. Kemudian ia berkata: "Ini adalah bagian syaithan dari dirimu".
Lalu ia mencucinya dalam baskom emas dengan air zam-zam. Kemudian Jibril mengembalikan jantung itu seperti semula. Anas Radhiyallahu'anhu, perawi hadits ini mengatakan: "Sungguh aku telah melihat bekas sobekan di dada beliau".
Maka kemudian Halimah mengetahui kejadian ini. Ia pun sangat mengkhawatirkan akan keselamatan beliau. Sehingga ia mengembalikan beliau kepada sang ibu. Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam.
Dikembalikan oleh Halimah.
Beliau pun tinggal bersama sang ibu. Ketika beliau mencapai usia enam tahun, Aminah membawanya ke Yatsrib. Mereka menunjungi paman-paman beliau. Mereka adalah saudara Aminah dari Bani An Najjar.
Aminah pergi bersama Ummu Aiman, pengasuh Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam. Di perjalanan pulang dari Yatsrib, ibu beliau meninggal. Ia meninggal di suatu tempat yang disebut Al Abwa' yang berada di antara Mekkah dan Madinah.
Maka Ummu Aiman kembali ke Mekkah bersama beliau. Kemudian beliau diasuh oleh sang kakek Abdul Muthallib.
[2]. Masa awal Islam
Islam bermula pada tahun 611 M. ketika wahyu pertama diturunkan kepada Rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira', Arab Saudi.
Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571 masehi). Ia dilahirkan ditengah-tengah suku Quraish pada zamanjahiliyah, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang dan menyembah berhala.
Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan Ibunya.
Pada saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah pun meninggal dunia.
Sepeninggalan ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Talib.
Muhammad kemudian menikah dengan seorang janda bernama Siti Khadijah dan menjalani kehidupan secara sederhana.
Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulailah mengajarkan ajaran Islam secara tertutup dan sembunyi-sembunyi pada saat malam yang sunyi kepada para sahabatnya.
Setelah tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, akhirnya ajaran Islam kemudian juga disampaikan secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.
Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya pindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah, dan semenjak peristiwa itulah sebagai dasar permulaan perhitungan kalender Islam.
Di Madinah, Muhammad SAW dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga semakin kuatlah ummat Islam.
Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, ummat Islam selalu mendapatkan kemenangan.
Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.
Keunggulan diplomasi nabi Muhammad SAW pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan ummat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh ummat Islam tidak terjadi pertumpahan darah.
Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam. Kepemimpinan ummat selanjutnya dipegang oleh Khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin yang memilki arti pemimpin yang baik, diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib.
Pada masa ini ummat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi.
Abu Bakar memperkuat dasar-dasar kenegaraan ummat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad SAW.
Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak.
Dengan takluknya negeri-negeri tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh ummat Islam. Setelah periodeKhalifah Rasyidin, kepemimpinan ummat Islam berganti ke tangan pemimpin selanjutnya yang disebut "khalifah", atau terkadang juga disebut "amirul mukminin", "sultan", dan sebagainya.
Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan ummat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga mirip dan banyak yang menyamakannya dengan kerajaan;
misalnya kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah. Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam ini telah menjadikannya sebagai salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu.
Timbulnya tempat-tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab. Di berbagai wilayah dunia Islam telah diwujudkan suatu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung dan mulia.
Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan dan teknologi bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya padazaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.
Luasnya wilayah penyebaran dari agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk "kesultanan"; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia.
Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.
Pada kurun ke-18 dan ke-19 Masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I.
Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh Mustafa Kemal Pasha atau Kemal Attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.
Saudaraku...
Sepintas Perkembangan Islam Kini
Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,5 milyar lebih ummatmuslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh.
Populasi muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat China, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.
Pertumbuhan Muslim sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia.
[3]. Beberapa pendapat, telah menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam, dimana enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran yang tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas Muslim.
Namun belum lama ini, sebuah studi demografi menyatakan bahwa angka kelahiran di negara-negara muslim telah menurun hingga ke tingkat negara Barat
[4]. Hampir semua muslim tergolong dalam salah satu dari dua kelompok terbesar, diantaranyaSunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidak setujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu.
Islam adalah agama pra-dominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran muslim di bagian lain dunia.
seperti Eropa Barat. Sekitar 20% muslim tinggal di negara-negara Arab,
[5] 30% di sub-benua India dan 15.6% di Indonesia sebagai negara muslim terbesar berdasar populasi.
[6] Negara dengan mayoritas pemeluk Islam sunniadalah Indonesia, Arab Saudi, dan Pakistan. Sedangkan negara dengan mayoritas Islam syi'ah adalah Iran dan Irak. Doktrin antara sunni dan syi'ah berbeda pada masalah imamah (kepemimpinan) dalam politik dan keagamaan serta peletakan Ahlul Bait (keluarga keturunan Nabi Muhammad). Namun secara umum, baik sunni maupun syi'ah percaya pada rukun Islam dan rukun iman walaupun dengan terminologi yang berbeda.
Pemahaman Islam
Islam (Arab: al-islām, "berserah diri kepada Tuhan") Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah
[7]. Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah.
Agama ini termasuk agama samawi (agama-agama yang dipercaya oleh para pengikutnya diturunkan dari langit) dan termasuk dalam golongan agama Ibrahim. Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia
[8]. Islam menjadikan agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen
[9]. Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan 'muslim’ yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah muslimin bagi laki-laki dan muslimat bagi perempuan.
Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan Rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.
Islam sebagai agama monotheisme
[10]. Yang diwahyukan Allah kepada Rasulnya, yakni Nabi Muhammad SAW, di tanah Arab.
Kaum muslim percaya bahwa Allah mewahyukan Al-Qur'an kepada Muhammad, sebagai penutup segala Nabi Allah (khataman-nabiyyin), dan menganggap bahwa Al-Qur'an dan Sunnah (kata dan amalan Muhammad) sebagai sumber fundamental Islam.
[11] Dan tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai “pembaharu” dari keimananmonoteistik dari Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan nabi lainnya. Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu
"Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" yang berarti "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah". Apabila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, berarti ia sudah dapat dianggap sebagai seorang muslim atau mualaf (orang yang baru masuk Islam).
Ummat Islam juga meyakini Al-Qur'an sebagai kitab suci dan pedoman hidup yang disampaikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril yang sempurna Dan tidak ada keraguan di dalamnya (QS. Al-Baqarah 2:2).
Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan Al-Qur'an hingga akhir zaman dalam suatu ayat. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an.
Ummat Islam juga diwajibkan untuk mengimani kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum Al-Qur'an (Zabur, Taurat ,Injil, dan suhuf atau lembaran Ibrahim) melalui nabi dan rasul terdahulu adalah benar adanya (QS. 2:4).
Ummat Islam juga percaya bahwa selain Al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka ummat Islam meyakini bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Ummat Islam juga meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah agama tauhid, dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni imannya) maka menjadikannya seorang muslim(QS. 2:130, 10:72 “ ….... dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (Muslim)".
Saudaraku...
" Konsep Islam teologikal dasarnya ialah tauhid, kepercayaan bahwa hanya ada satu Tuhan. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Allāh; Sebagai rujukan, kebanyakan ilmuwan yang percaya kata Allah didapat dari penyingkatan dari kata al- (si) dan ‘ilāh ' (dewa, bentuk maskulin), yang dimaksud adalah "Tuhan" (al-ilāh'), tetapi yang lain ada menekankan dari asal usulnya yaitu Arami Alāhā.
Kata Allah juga adalah kata yang digunakan oleh ummat Kristiani (Nasrani) seperti Kristen dan Katholik serta Yahudi-Arab sebagai terjemahan dari ho theosdari Perjanjian Baru dan Septuaginta.
[12]. Allah adalah Nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan sebagaimana perkenalan-Nya kepada manusia melalui Al-Qur’an yakni: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku". (QS. Taha :14).
Pemakaian kata Allah secara linguistik mengindikasikan kesatuan. Ummat Islam percaya bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah sama dengan Tuhan ummat Yahudi dan Nasrani, juga dalam hal ini adalah Tuhannya Ibrahim. Yang juga berarti mengikuti wasiat Nabi Ibrahim as,;
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ke-Islam-an itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata) ”Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama Islam untuk kamu, maka janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim” (QS. Al Baqarah: 132).
Namun, Islam menolak ajaran Kristen menyangkut paham Trinitas dimana hal ini dianggap Politeisme. Mengutip Al-Qur'an, surat An-Nisa' ayat :71:
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya.
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu mengatakan :"Tuhan itu tiga", berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa. Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara".
Allah adalah nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan (QS.Taha 20:14). Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam Al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering disebut sebagai Ahli Kitab atau Ahlul Kitab.
Dalam Islam, visualisasi atau penggambaran Tuhan tidak dapat dibenarkan, hal ini dilarang karena dapat berujung pada pemberhalaan dan justru dianggap penghinaan pula, karena Tuhan tidak serupa dengan apapun (QS. Asy-Syu'ara' 42:11).
Sebagai gantinya, Islam menggambarkan Tuhan dalam 99 nama / gelar / julukan Tuhan (asma'ul husna) dan yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya sebagaimana terdapat pada Al-Qur'an.
Memeluk agama Islam adalah memperoleh hidayah dan pencerahan dari Allah dengan firmannya: ”Maka apakah orang-orang yang Allah bukakan hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya (nuur) dari Tuhannya (sama dengan orang yang keras hatinya) ? Maka celakalah bagi orang-orang yang keras hatinya dari mengingat Allah (dzikir). Mereka itulah dalam kesesatan yang nyata” (QS. Az Sumar: 22).
Tentu saja dalam ber-Islam ini harus bersungguh-sungguh sepenuhnya dan ikhlas. Dan diperintahkan Allah SWT untuk masuk Islam seutuhnya. Firman Allah menyebutkan: ”Hai orang-orang yang beriman (percaya), masuklah ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Al Baqarah: 208). Berikutnya:
” Dan (aku diperintah): “Hadapkanlah mukaku kepada agama dengan ikhlas. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik “ (QS. Yunus: 105). Agama Islam mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang membawa para penganutnya untuk bersikap damai dengan Tuhannya dan bersikap damai dengan sesama makhluk. Sikap tersebut bersifat “hubungan” yakni disebut hablumminnallah (dengan Allah SWT) dan hablumminnanas (dengan sesama manusia) yang diwujudkan dalam “kepatuhan” dan “tunduk” kepada ketentuan Allah SWT, istislam (QS. 3: 82), pasrah mengikuti kehendak Tuhan (Allah),inqiyad (QS. 6: 5), ikhlas dan tulus mengabdi kepadaNya.
Dan sikap ikhsan, berbuat baik kepada sesama secara tulus, bersikap ishlah, membangun kehidupan yang lebih baik dan berhubungan lebih konstruktif dengan alam dan sesama manusia serta sikap qisth (QS. 4: 3,58; 16: 76,90; 42: 15), berlaku adil kepada siapapun diseluruh kehidupan. Berintikan tauhid (tauhidullah) yaitu pengakuan dan kepercayaan sepenuhnya akan ke-Esa-an Allah SWT (QS. 21: 92), diwujudkan dalam peribadatan (ibadah) dan peramalan (amal sholeh) hanya kepada-Nya, yang mendasari pengakuan akan kesatuan dan persamaan serta persaudaraan ummat manusia.
Ajaran Islam tertuang dalam Al Qur’an dan Sunnah, berupa petunjuk, perintah dan larangan serta anjuran. Maka hanya Islam yang diterima disisi Allah SWT (QS. Ali Imron: 19 dan 85; Al Maidah: 3; As Zumar: 22; Al Baqaroh: 32 dan 208; Yunus:105).
Seseorang yang kemudian memproklamirkan diri untuk memeluk agama Islam mengikrarkan syahadat baik lisan maupun dalam hati, sebagai kesaksian dan pengakuan atas Tuhan Allah SWT dan Kerasulan Nabi Muhammad SAW (syahadat Tauhid dan syahadat Rasul) dan diwajibkan mengamalkan rukun Islam yang lima yakni melaksanakan sholat dan puasa di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, dan bila mampu pergi Haji.
Dalam keyakinan kaum muslimin, semua agama samawi yang dibawa oleh para Nabi sepanjang zaman mengajarkan inti yang sama yaitu tauhid (QS.21: 25), perbedaannya hanya pada syari’at atau aturan sesuai dengan zamannya (QS. 5: 48).
Agama samawi atau agama wahyu yaitu Islam yang dibawa oleh penutup segala Nabi atau Khatamu‘l-Nabiyyin (QS. 3: 18) telah mencapai tingkat kesempurnaan karena risalahnya sudah bersifat universal(QS. 21: 107; 34: 28).
Sasaran Islam antara lain meliputi al-Mabadiu‘l-Khamsah (prinsip yang lima) [13], prinsip-prinsip tersebut adalah :
1) Memelihara keluhuran agama (hifzhu‘l-din) dengan kebebasan beragama, pembelaan terhadap eksistensi institusi keagamaan, larangan penghinaan terhadap keyakinan orang lain (QS. 6: 109).
2) Memelihara keselamatan jiwa (hifzhu‘l-nafsi), menentukan hukuman yang keras terhadap kejahatan, pembunuhan dan penganiayaan (QS. 2: 178).
3) Memelihara kesehatan akal, pikiran dan mental (hifzhu ‘l-‘aqli), melarang mabuk-mabukan atau melarang minuman keras, Narkoba, dll.
4) Memelihara kesucian keturunan (hifzhu‘l-nasli), pengaturan rinci tentang perkawinan (QS. 4: 3,22,23,34) dan larangan semua bentuk perzinahan (QS. 24: 2).
5) Memelihara keamanan harta benda (hifzhu‘l-mal), kepemilikan harta benda dilakukan dengan cara yang sah / benar (QS. 2: 188; 4: 29,161; 9: 34), mencegah penumpukan kekayaan ditangan segelintir orang kaya, menetapkan kewajiban zakat dan infak (QS. 2: 3,43; 9: 60), menegaskan bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin (QS. 70: 24,25).
[14] Disamping itu dalam kehidupan bermasyarakat, Islam juga menekankan beberapa prinsip dasar yaitu:
1) Sebagai masyarakat yang terbuka (QS. 14: 1)
2) Berdasarkan sistem musyawarah (QS. 3: 158; 42: 58)
3) Berlandaskan hukum dan pemerintahan yang adil (QS.4: 58)
4) Pemerataan kekayaan (QS. 59: 7)
5) Kebebasan berkeyakinan (QS. 17: 29)
6) Penghormatan atas martabat manusia (QS. 17: 70).
7) Seluruh kalangan menyepakati sumber utama ajaran Islam adalah: Al Qur’an dan Sunnah Nabi (Hadits).
Muhammad SAW (570-632) adalah nabi terakhir dalam ajaran Islam dimana mengakui kenabiannya merupakan salah satu syarat untuk dapat disebut sebagai seorang muslim (lihat syahadat).
Dalam Islam MuhammadSAW tidak diposisikan sebagai seorang pembawa ajaran baru, melainkan merupakan penutup dari rangkaian nabi-nabi yang diturunkan sebelumnya. Terlepas dari tingginya statusnya sebagai seorang Nabi, Muhammad SAW. dalam pandangan Islam adalah seorang manusia biasa.
Namun setiap perkataan dan perilaku dalam kehidupannya dipercayai merupakan bentuk ideal dari seorang muslim. Oleh karena itu dalam Islam dikenal istilah hadits yakni kumpulan perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan Muhammad.
Hadits adalah teks utama (sumber hukum) kedua Islam setelah Al Qur'an.
Ajaran Islam disampaikan pertama kalinya oleh Nabi Muhammad SAW. sebagai kabar gembira dan peringatan ummat manusia (QS. Saba’: 28). Dilanjutkan oleh para sahabat (yg hidup sezaman dan turut berjuang bersama Nabi SAW).
Kemudian oleh Tabi’in, yaitu tokoh ulama Islam yang lahir setelah Nabi SAW wafat dan mempelajarinya dari para sahabat. Lalu oleh Tabi’it-tabi’in, tokoh ulama Islam sesudah para sahabat wafat dan mempelajarinya dari Tabi’in.
Demikianlah ajaran Islam disampaikan terus menerus, baik secara turun-temurun maupun dengan berguru kepada ahli warisnya yang disebut ulama pewaris ilmu Rasullullah. Juga diberikan dalam pendidikan formal agama Islam dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, menjadikannya sebagai Ilmu pengetahuan keagamaan yang terus berkembang. Ajaran Islam menganjurkan untuk meraih kebahagiaan hidup dalam keseimbangan antara kehidupan dunia dan akherat, tersurat dalam firman Allah QS. Al Qashash ayat 77: “Dan carilah dengan apa yang dianugrahkan Allah kepadamu akan (kebahagiaan) negeri akherat dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia....”.
Saudaraku...
"Keharusan untuk mematuhi syari’at Islam, ditujukan bagi pemeluknya (muslim) yang berakal, sehat, menginjak dewasa (baligh yaitu pria yang sudah mengeluarkan mani dan manita yang sudah menstruasi) dalam firman Allah QS. Al Jaatsiyah ayat 18 yang artinya “Kemudian kami jadikan engkau berada di atas syari’at dari urusan (agama) itu, maka turutilah syari’at (peraturan) itu, dan janganlah engkau turuti kemauan-kemauan orang-orang yang tidak mengetahui”.
Bagi ummat muslim dalam menempuh kehidupan sehari-hari umumnya menjalankan 5 hukum yang bersifat:
1) Wajib (fardhu), segala perintah Allah SWT yang merupakan keharusan untuk dikerjakan, terdiri dari:
a) wajib syar’i, yang apabila dikerjakan berpahala dan bila ditinggalkan terhitung berdosa;
b) wajib akli, ketetapan hukum yang masuk akal dan rasional;
c) wajib aini, ketetapan hukum yang harus dikerjakan setiap muslim (misal rukun Islam yang lima);
d) wajibkifayah, ketetapan hukum bila dikerjakan oleh sebagian muslim, maka muslim lainnya terbebas dari kewajiban, tapi bila tidak ada yang mengerjakan berdosa semuanya (misal mengurus jenazah);
e) wajibmuaiyyan, tindakan yang ditetapkan bentuknya / macamnya tindakan (misal gerakan sholat);
f) wajib mukhoyyar, suatu kewajiban yang boleh dipilih salah satunya dari bermacam pilihan untuk dikerjakan;
g) wajib muntlaq, suatu kewajiban yang tidak ditentukan waktu pelaksanaannya (misal denda sumpah);
h) wajib aqli dhoruri, adalah percaya kebenaran dengan sendirinya tanpa perlu dalil-dalil (misal orang makan jadi kenyang); dan
i) wajib nazari, percaya kebenaran dengan memahami dalil-dalilnya atau dengan suatu penelitian yang mendalam (misal tentang eksistensi Allah ).
2) Sunnah, adalah suatu perkara bila dikerjakan berpahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Ada 4 sunnah yaitu:
a) sunnah ab’ad, perkara dalam sholatyang harus dikerjakan, kalau terlupakan maka harus menggantinya dengansujud sahwi;
b) sunnah muakkad, adalah sunnah yang sangat dianjurkan (sholat Idul Fitri, Idul Adha dan Tareweh);
c) sunnah haiah, perkara dalamsholat sebaiknya dikerjakan, mis. mengangkat dua tangan saat takbir dan mengucap Allahu akbar ketika ruku’, sujud dan sebagainya; dan
d) sunnah ghoiru muakkad, sunnah biasa, misal memberi salam kepada orang lain, puasa senin-kamis dan sebagainya.
3) Haram, suatu perkara yang dilarang dikerjakan, bila dikerjakan terhitung dosa dan bila ditinggalkan berpahala.
5) Makruh, suatu hal yang tidak diinginkan dan tidak disukai, bila dikerjakan tidak berdosa, bila ditinggalkan berpahala (misal merokok).
5) Mubah, atau Ja’iz (boleh), istilah fikih yang diperbolehkan, yang tidak dianjurkan dan tidak dicela, suatu perkara bila dikerjakan atau ditinggalkan tidak berdosa dan tidak berpahala.
Saudaraku...
[15]. Adapun dalam memahami dan memudahkan penyampaian ajaran Islam oleh para alim-ulama dan ahlinya telah pula diusahakan serta dilakukan secara sistematik, yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan keagamaan (al-‘ulumu‘l-diniyah), semacam trilogi ilmu pengetahuan ke-Islam-an yaitu:
1) Ushulu‘l-din (teologi);
2) Fiqh atau fikih (hukum Islam);
3) Tasawuf (Sufisme) dengan tarekatnya (jalan / cara / metode).
Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga bermanfaat bagi kita semua Aamiin WassalamSebagai Nara sumber________________________________________
[1] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 7, PT.Delta Pamungkas, Jakarta, 2004,
hal. 247
[2] Muqarrar al-Mustawa Ats Tsalits fis Siratin Nabawiyyah—Syu'bah Ta'lim al-Lughah al- 'Arabiyyah al-Jami'ah al-Islamiyyah, Madinah, 2007
[3] http//w.w.w.Islam Basics: About Islam and American Muslim, Council on American- Islamic Relations
[4] http//www.Major Religions of the World—Ranked by Number of Adherents. diakses pada 3 Juli 2007
[5] Esposito, John (2002b). What Everyone Needs to Know about Islam. Oxford University Press. 2007 Dan Esposito, John (2004).
[6] Islam: The Straight Path, 3rd Rev Upd, Oxford University Press. 2007 dan Ibid, Esposito, John, 2002b, 2004
[7] http//w.w.w.USC-MSA Compendium of Muslim Texts
[8] http//w.w.w.w Islam Basics: About Islam and American Muslim, Council on American- Islamic Relations, 2007. dan Religions & Ethics: Islam at a glance, BBC - 2007
[9] http//w.w.w. Major Religions of the World—Ranked by Number of Adherents. (HTML) Diakses, 3 Juli 2007
[10] Ensiklopedi Umum, P.N. Kanisius, 1991, hal 476
[11] Esposito, John; John Obert Voll (1996). Islam and Democracy. Oxford University Press. Dan Ghamidi, Javed (2001). Mizan. Dar al-Ishraq.
[12] Accad, Martin "The Gospels in the Muslim Discourse of the Ninth to the Fourteenth Centuries: An Exegetical Inventorial Table (Part I)". Islam and Christian-Muslim Relations14 (1), 2003
[13] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 7, Ibid, hal 248
[14] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 7, Ibid, hal. 248
[15] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 7, Ibid, hal 248
Selamat Jumpa dan Salam Ukhuwah kepada para sahabat yang telah singgah di Blog-ku. Semoga Allah merahmati kita dengan keredhaan-Nya. Aamiin...
Rabu, 04 April 2012
Selasa, 03 April 2012
>> SEPULUH LANGKAH
MENJEMPUT REZEKI <<
===============================
1.Taqwa
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan
keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka- sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).
2. Tawakal
Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)
3. Shalat
Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)
4. Istighfar
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS Nuh: 10-12).
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).
5. Silaturahmi
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturahim.”
6. Sedekah
Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)
7. Berbuat Kebaikan
“Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Alqashash:84)
Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pd hambanya yg berbuat kebaikan.Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.(HR. Ahmad)
8. Berdagang
Dan Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (Riwayat Ahmad)
9. Bangun Pagi
Fatimah (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah ( S.A.W.) melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W.) mengatakan kepadanya, “Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari. ( H.R. Al-Baihaqi)
Aisyah juga meceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah (S.A.W.) bersabda, “Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan. (H.R. At-Tabarani)
10. Bersyukur
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)
* SEMOGA BERMANFAAT *
===============================
1.Taqwa
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan
keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka- sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).
2. Tawakal
Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)
3. Shalat
Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)
4. Istighfar
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS Nuh: 10-12).
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).
5. Silaturahmi
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturahim.”
6. Sedekah
Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)
7. Berbuat Kebaikan
“Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Alqashash:84)
Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pd hambanya yg berbuat kebaikan.Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.(HR. Ahmad)
8. Berdagang
Dan Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (Riwayat Ahmad)
9. Bangun Pagi
Fatimah (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah ( S.A.W.) melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W.) mengatakan kepadanya, “Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari. ( H.R. Al-Baihaqi)
Aisyah juga meceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah (S.A.W.) bersabda, “Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan. (H.R. At-Tabarani)
10. Bersyukur
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)
* SEMOGA BERMANFAAT *
Rabu, 15 Februari 2012
~* Keutamaan Taubat *~
Assalamu allaikum wr.wb.
Saudaraku...
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan keutamaan yang sangat besar kepada siapa saja dari hamba-Nya yang mau bertaubat dan kembali kepada kebenaran, di antaranya:
1.PENGHAPUS DOSA DIGANTI dengan KEBAIKAN
Allah berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Maka pasti Rabb kalian menghapuskan kesalahan-kesalahanmu.” (At Tahrim: 8)
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amalan yang shalih, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Furqan: 70)
2. MENDAPAT KEBERUNTUNGAN DUNIA AKHIRAT
Sebagaimana firman Allah (artinya): “Bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu mendapatkan kemenangan.” (An Nur: 31)
3. MENDAPAT KECINTAAN ALLAH
Allah telah menegaskan dalam firman-Nya (artinya): “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al Baqarah: 222)
4. DITURUNKANNYA RIZKI DAN BAROKAH
Sebagaimana yang ditegaskan dalam firman Allah (artinya): “Dan hendaknya kalian memohon ampunan dari Rabb kalian dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (memperoleh balasan) keutamaannya.” (Hud: 3)
5. PENGHALANG DARI AZAB ALLAH
Allah berfirman (artinya): “Dan tidaklah Allah mengadzab mereka, sedang mereka terus beristighfar (memohon ampun).” (Al Anfal: 33)
Sebaliknya, Allah mengancam bagi siapa yang enggan untuk bertaubat kepada-Nya, dengan firman-Nya (artinya): “Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (At Taubah: 74)
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: `Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan`. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. 5:19)
Tafsir DEPARTEMEN AGAMA RI :
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 19
Menurut riwayat Ibnu Ishak, Ibnu Abbas menceritakan bahwa Rasulullah saw. mengajak orang-orang Yahudi supaya masuk Islam, maka mereka menolak lalu Muaz bin Jabal, Saad bin Ubadah, Uqbah bin Wahab berkata kepada mereka, "Hai orang-orang Yahudi! Hendaklah kamu takut kepada Allah, sesungguhnya Muhammad adalah Rasul".
Lalu Rafi'i bin Hurairah dan Wahab bin Yahuza berkata, "Kami tidak pernah berkata demikian kepada kamu dan Allah tidak menurunkan Kitab sesudah Musa dan tidak mengutus Rasul sesudahnya untuk membawa berita gembira dan tidak pula untuk memperingatkan", maka turunlah ayat ini.
Pada ayat ini Allah menjelaskan kepada ahli kitab, bahwa sesungguhnya telah datang Rasul Allah yang mereka tunggu, sesuai dengan yang mereka ketahui dan kitab-kitab yang diberikan oleh Allah melalui Rasul-Nya Musa dan Isa a.s.
Rasul Allah yang telah datang itu menerangkan syariat Allah, pada periode yang dinamakan "Fatrah", yaitu antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad di mana wahyu tidak turun, sedang isi Taurat dan Injil sudah banyak yang kabur tidak banyak diketahui dan yang ada banyak pula perubahan atau dilupakan, baik disengaja atau tidak disengaja.
Dan sekarang sudah datang Rasul Allah yaitu Muhammad saw. membawa berita gembira dan peringatan untuk segala apa yang diperlukan untuk kehidupan duniawi dan ukhrawi, menunjukkan jalan yang benar yang harus ditempuh oleh umat manusia, sehingga tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk mengatakan bahwa tidak tahu karena tidak adanya Rasul yang membimbing dan membawa berita gembira serta peringatan.
Sekarang ahli kitab dan seluruh umat manusia dan jin hendaklah menentukan sikap. Kalau mereka ingin selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat, maka haruslah mereka percaya kepada Muhammad saw, Rasul Allah yang terakhir dan mengikuti segala petunjuk dan perintah-Nya.
Barangsiapa yang membangkang, maka dia sendirilah yang akan memikul resikonya dan tidak ada orang lain yang akan menolongnya. Barangsiapa yang tidak percaya kepada Allah dan semua Rasul-rasul yang diutus sebelumnya, maka mereka akan merasakan azab yang pedih dari Allah.
Minggu, 05 Februari 2012
Kisah Cinta Siti Khadijah r.a - Muhammad SAW.
Dalam Rangka Memperingati Maulid Nabi SAW.
RINDU KAMI PADAMU..YA RASUL..
CINTA KAMI PADAMU AKANKAH SAMPAI PADAMU..
CINTA IKHLASMU PADA MANUSIA..
BAGAI CAHAYA SYURGA....
DAPATKAH KAMI MEMBALAS CINTAMU SECARA BERSAHAJA
RINDU KAMI PADAMU YA RASUL, RINDU TIADA TERPERI
BERABAD JARAK DARIMU YA RASUL, SERASA DIKAU DISINI
Allahumma Sholli alla sayyidina Muhammad Wa'alla ali
sayyidina Muhammad Allahumma Sholli wasallim wabaarik Alaih wa'Alla Aalaihi
washohbihi wasallim Ajma'in Aamiin...
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami panutan kami Baginda Rosulloh MUHAMMAD BIN ABDILLAH satu-satunya harapan pemberi safaat bagi kami Aamiin Ya Allah Aamiin Ya Robbal Allamiin Wassalam.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami panutan kami Baginda Rosulloh MUHAMMAD BIN ABDILLAH satu-satunya harapan pemberi safaat bagi kami Aamiin Ya Allah Aamiin Ya Robbal Allamiin Wassalam.
Saudaraku...
Dan Dibawah ini
Aku sertakan:
Kisah Cinta
Siti Khadijah r.a - Muhammad SAW.
Siapakah Khadijah?
Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman.
Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya.
Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.
Banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.
Bermimpi melihat matahari turun kerumahnya
Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya merata kesemua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya.
Mimpi itu diceritakan kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal.
Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Waraqah berkata:
“Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”
“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh.
“Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat.
“Dari suku mana?”
“Dari suku Quraisy juga.”
Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?”
“Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur.
Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai sepupuku?”
Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”
Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.
~* Lamaran dari Khadijah kepada Rasulullah s.a.w. *~
Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah.
Wanita usahawan itu berkata : “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan.
Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya)
Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.
“Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”
(Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban)
Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,”.
“Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak, meneliti).
Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandung isyarat
Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya.
Kepadanyalah aku hendak membawamu”.
(Khadijah tertunduk lalu melanjutkan): “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.
Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawaban, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab.
Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Rasulullah SAW minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya.
Rasulullah SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.
‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.
‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”
Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah.
Khadijah : “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW.
Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius.
“Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.”
“Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”,
Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.
‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah.
Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.”
Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah.
Wanita usahawan itu berkata : “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan.
Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya)
Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.
“Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”
(Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban)
Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,”.
“Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak, meneliti).
Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandung isyarat
Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya.
Kepadanyalah aku hendak membawamu”.
(Khadijah tertunduk lalu melanjutkan): “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.
Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawaban, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab.
Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Rasulullah SAW minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya.
Rasulullah SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.
‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.
‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”
Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah.
Khadijah : “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW.
Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius.
“Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.”
“Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”,
Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.
‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah.
Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.”
~* Khadijah
yang cantik *~
Sebelum diajak bermusyawarah, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan.
Utusan peribadi Khadijah itu bertanya: “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari istri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”
Nafisah “Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”
Rasulullah SAW: “Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
Nafisah : “Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”
Usaha Nafisah berhasil. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW.
Setelah Muhammad SAW menerima pemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.
Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan yang utama karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya.
Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli. Maka di adakanlah majlis yang penuh keindahan itu.
Hadir Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya.
Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempo untuk berunding dengan wanita yang berkenaan.
~* Pernikahan Muhammad dengan Khadijah *~
Khadijah r.a diminta pendapat.
Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”.
“Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah. “Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.
Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai.
Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima ratus dirham.
Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.
Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad.
Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar.
“Begitupun kita memuji Allah SWT. Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian.
Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia.
Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat.
“Semoga Allah memberkati pernikahan ini”. Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan.
Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.
Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu.
Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau ridhoi !”
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.
Khadijah r.a diminta pendapat.
Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”.
“Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah. “Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.
Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai.
Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima ratus dirham.
Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.
Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad.
Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar.
“Begitupun kita memuji Allah SWT. Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian.
Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia.
Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat.
“Semoga Allah memberkati pernikahan ini”. Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan.
Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.
Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu.
Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau ridhoi !”
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.
~* Dijamin
Masuk Syurga *~
Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian.
Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).
Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit.
Tidak ada yang mendahuluinya.
Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang disampaikan Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:
“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita. “Allah SWT tidak akan mengecewakanmu.
Bukankah engkau orang yang senantiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar? Bukankah engkau senantiasa menyantuni anak yatim piatu, menghormati tamu dan mengulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”
Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy.
Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain yaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.
Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: “Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.
Demikianlah Keharmonisan Rumah Tangga Beliau sampai akhirnya sang permaesuri Baginda Nabi besar Muhammad Salallahu allaihi Wassalam berpulang petikahannya pun masih tetap di kenang sepanjang jaman dan terlaksana sudah menjadi penghuni syurga Jannah-Nya. Aamiin...
~* Wanita Terbaik *~
Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW.
Terhadap pribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam kebimbanga, dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putra-putri yang tidak ku dapatkan dari istri-istri yang lain”.
Putra-putri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak enam orang: dua lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari putrinya bernama Fatimah Az Zahra, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dianggap sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.
~* Perjuangan Khadijah *~
Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita.
Kedua wanita itu berdiri di belakang da’wah Islamiah, mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin Khuwailid dan Fatimah binti Asad.
Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu’minin, sebaik-baik istri dan teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.
Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira’.
Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya.
Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.
~* Rasulullah SAW bersabda :
”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa.”
Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, padahal di hadapan kita ada “wanita terbaik di dunia,”
Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mu’minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat menjadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.
Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga.
Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam istananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hidupnya.
Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata :
”Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman.
Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.
” [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata:"Keshahihannya telah disepakati."]
Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia, hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ?
Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu’min yang orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW.
Khadijah r.a. membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya.
Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.
Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian.
Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT.
Kemudian dia menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi.
Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur.
Semua itu terjadi ketika Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.
Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya.
Ketika melihatnya, Khadijah berkata :”Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku.
” Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata :”Gembiralah dan teguhlah, wahai, putra pamanku.
Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini.” Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali pe neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi urusannya.
Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya.
Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya.
Demikian hendaknya wanita ideal.
Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam kepadanya.
Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya :”Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda :”Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Maka Khadijah r.a. menjawab :
”Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).
” Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin.
Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da’wah itu sesudahnya.
Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rasulullah SAW.
Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan hartanya.
Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa.
Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia.” [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]
Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :
”Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :
”Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman.
Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.
” [Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]
Demikianlah rangkaian : Kisah Cinta Siti Khadijah r.a - kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Rujukan : Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW karangan Muhammad Ibrahim Saliim.
Dan dengan tersajikannya kisah ini semoga saja menjadikan keberkahan bagi kita semua sebagai umatnya yang senantia mencintai-nya. Aamiin...
Allahumma Sholli alla sayyidina Muhammad Wa'alla ali sayyidina Muhammad Allahumma Sholli wasallim wabaarik Alaih Wa'Alla Aalaihi Washohbihi Wasallim Ajma'in Aamiin...
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami panutan kami Baginda Rosulloh MUHAMMAD BIN ABDILLAH satu-satunya harapan pemberi safaat bagi kami Aamiin Ya Allah Aamiin Ya Robbal Allamiin Wassalam.
~*** Aisyah Shidiq ***~
Seorang gadis
kecil periang berumur sembilan tahun sedang gembira bermain-main dengan
teman-temannya. Rambutnya awut-awutan dan mukanya kotor karena debu. Tiba-tiba
beberapa orang yang sudah agak tua muncul dari sebuah rumah di dekat situ dan
datang ke tempat anak-anak tadi bermain - main.
Mereka lalu
membawa anak gadis itu pulang, memberinya pakaian yang rapi, dan malam itu
juga, gadis itu dinikahkan dengan laki-laki paling agung di antara manusia,
Nabi agama Islam. Suatu penghormatan paling unik yang pernah diterima seorang
wanita.
Aisyah adalah salah seorang putri
tersayang Sayyidina Abu Bakar, sahabat Nabi yang setia, yang kemudian
menggantikan Nabi sebagai Khalifah Islam yang pertama.
Gadis itu lahir
di Mekkah 614 Masehi, delapan tahun sebelum permulaan zaman Hijrah. Orangtuanya
sudah memeluk agama Islam. Sejak mulai kecil anak gadis itu telah dididik sesuai
dengan tradisi paling mulia (agama baru itu) dan dengan sempurna dipersiapkan
dan diberinya hak penuh untuk kemudian menduduki tempat yang mulia.
Ia menjadi istri
Nabi selama sepuluh tahun. Masih muda sewaktu dinikahkan dengan Nabi, tetapi ia
memiliki kemampuan sangat baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan tugas
barunya.
Kehadirannya
membuktikan bahwa ia seorang yang cerdas dan setia, dan sebagai istri, sangat
mencintai tokoh dermawan paling besar bagi umat manusia. Di seluruh dunia, ia
diakui sebagai pembawa riwayat paling otentik bagi dari ajaran Islam seperti
apa yang telah disunahkan oleh suaminya.
Ia di anugerahi
ingatan yang sangat tajam, dan mampu mengingat segala pertanyaan yang diajukan
para tamu wanita kepada Nabi, serta juga mengingat segenap jawaban yang
diberikan oleh Nabi.
Diingatnya
secara sempurna semua kuliah yang diberikan Nabi kepada para delegasi dan
jemaah di masjid. Karena kamar Aisyah itu bersebelahan dengan masjid, dengan
cermat dan tekun ia mendengarkan dakwah, kuliah, dan diskusi Nabi dengan para
sahabat dan orang-orang lain.
Ia mengajukan
juga pertanyaan-per tanyaan kepada Nabi tentang soal-soal yang sulit dan rumit
sehubungan dengan ajaran agama baru itu. Hal-hal inilah yang menyebabkan ia
menjadi ilmuwan dan periwayat yang paling besar dan paling otentik bagi sunnah
Nabi dan ajaran Islam.
Aisyah tidak
ditakdirkan hidup bersama-sama dengan Nabi untuk waktu yang lama. Pernikahannya
itu berlangsung hanya sepuluh tahun saja. Tahun 11 Hijrah, 632 Masehi, Nabi
wafat dan dimakamkan di kamar yang dihuni Aisyah. Nabi digantikan oleh seorang
sahabat yang setia, Abu Bakar, sebagai khalifah islam yang pertama.
Aisyah terus
menduduki urutan kesatu, dan setelah Fatimah meninggal dunia di tahun 11
Hijrah, Aisyah dianggap sebagai wanita yang paling penting di dunia Islam.
Tetapi ayahnya, Abu Bakar, tidak berumur panjang.
Ia meninggal
dunia dua setengah tahun setelah wafat Nabi. Selama kekuasaan Umar al-Faruq,
khalifah yang kedua, Aisyah menduduki posisi sebagai ibu utama di seluruh
daerah-daerah Islam yang secara cepat makin meluas. Orang datang untuk meminta
nasihat-nasihatnya yang bijaksana tentang segala hal yang penting.
Umar terbunuh
dan kemudian Khalifah Usman. Dua peristiwa kesyahidan tersebut telah
mengguncangkan sendi-sendi negara baru itu, dan menjurus kepada perpecahan yang
tragis di kalangan umat Islam.
Keadaan itu
sangat merugikan agama yang sedang menyebar luas dan berkembang dengan cepat,
yang pada waktu itu telah menjalar sampai ke batas pegunungan Atlas di sebelah
Barat, dan ke puncak-puncak Hindu Kush di sebelah Timur.
Aisyah tidak
dapat tinggal diam sebagai penonton dalam menghadapi oknum-oknum pemecah-belah
itu. Dengan sepenuh hati ia membela mereka yang menuntut balas atas kesyahidan
khalifah yang ketiga.
Di dalam Perang
Unta, suatu pertempuran melawan Ali, khalifah yang keempat, pasukan Aisyah
kalah dan ia terus mundur ke Madina di bawah perlindungan pengawal yang
diberikan oleh putra khalifah sendiri.
Beberapa orang
sejarawan yang menaruh minat terhadap peristiwa itu, baik yang Muslim maupun
yang bukan, memberikan kritik kepada Aisyah dalam pertempuran melawan Ali.
Tetapi tidak seorang pun yang meragukan kesungguhan hati dan keyakinan Aisyah
untuk menuntut balas bagi darah Usman.
Aisyah
menyaksikan berbagai perubahan yang dialami oleh Islam selama tiga puluh tahun
kekuasaan khalifah yang saleh. Ia meninggal dunia tahun 678 Masehi. Ketika itu
kekuasaan berada di tangan Muawiyah. Penguasa ini amat takut kepada Aisyah
dengan kritik-kritiknya yang pedas berkenaan dengan negara Islam yang secara
politis sedang berubah itu.
Ibu Utama agama
Islam ini terkenal dengan bermacam ragam sifatnya kesalehannya, umurnya,
kebijaksanaannya, kesederhanaannya, kemurahan hatinya, dan kesungguhan hatinya
untuk menjaga kemurnian riwayat sunnah Nabi.
Kesederhanaan
dan kesopanannya segera menjadi obor penyuluh bagi wanita Islam sejak waktu itu
juga. Ia menghuni ruangan yang berukuran kurang dari 12 X 12 kaki bersama –
sama dengan Nabi.
Ruangan itu
beratap rendah, terbuat dari batang dan daun kurma, diplester dengan lumpur.
Pintunya cuma satu, itu pun tanpa daun pintu, dan hanya ditutup dengan secarik
kain yang digantungkan di atasnya. Selama masa hidup Nabi, jarang Aisyah tidak
kekurangan makan.
Pada malam hari
ketika Nabi mengembuskan napasnya yang terakhir, Aisyah tidak nempunyai minyak
Waktu Khalifah Umar berkuasa, istri dan beberapa sahabat Nabi mendapatkan
tunjangan yang cukup besar tiap bulannya.
Aisyah jarang menahan uang atau pemberian yang
diterimanya sampai keesokan harinya, karena semuanya itu segera dibagikan
kepada orang-orang yang membutuhkannya. Pada suatu hari di bulan Ramadhan,
waktu Abdullah ibn Zubair menyerahkan sekantung uang sejumlah satu lakh dirham,
Aisyah membagikan uang itu sebelum waktu berbuka puasa.
Aisyah pada
zamannya terkenal sebagai orator. Pengabdiannya kepada masyarakat, dan usahanya
untuk mengembangkan pengetahuan orang tentang sunnah dan fiqh, tidak ada
tandingannya di dalam catatan sejarah Islam.
Jika orang
menemukan persoalan mengenai sunnah dan fiqh yang sukar untuk dipecahkan, soal
itu akhirnya dibawa kepada Aisyah, dan kata-kata Aisyah menjadi keputusan
terakhir.
Kecuali Ali,
Abdullah ibn Abbas dengan Abdullah ibn Umar, Aisyah juga termasuk kelompok
intelektual di tahun-tahun pertama Islam. Ibu Agung Agama Islam ini
mengembuskan napas yang terakhir 17 Ramadhan, 58 Hijriah (13 Juli, 678 Masehi).
Kematiannya menimbulkan rasa duka terutama di Madina dan di seluruh dunia
Islam.
Aisyah bersama
Khadijah dan Fatimah az-Zahra dianggap sebagai wanita yang paling menonjol di
kalangan wanita Islam. Kebanyakan para ulama menempatkan Fatimah di tangga
teratas, diikuti oleh Khadijah, dengan Aisyah sebagai yang terakhir.
Tapi ulama ibn Hazim malah menempatkan Aisyah
nomor dua sesudah Nabi Muhammad, di atas semua istri, sahabat, dan
rekan-rekannya. Menurut Allama ibn Taimiya, Fatimah-lah yang berada di tempat
teratas, karena ia itu anak tersayang Nabi, Khadijah itu agung karena dialah
orang pertama yang memeluk agama Islam.
Tetapi, tidak
seorang pun yang menandingi Aisyah mengenai peranannya dalam menyebarluaskan
ajaran Nabi.
Sumber :
http://alhakimbestari.org/pdf/28-ISTERI
DAN ANAK NABI MUHAMMAD.pdf
Langganan:
Postingan (Atom)