Senin, 28 November 2011

*MARI KITA BERJUANG.*

Assalamu Allaikum Wr. Wb.

Saudaraku...
Berjuanglah dengan kesabaran yg tiada terbatas
Maka jika kamu ingin mencintai Allah
Cintailah pula aturan aturan NYA
Sungguh, dalam perjuangan yg dibutuhkan adalah kejujuran bukan pengingkaran
 
... Bagaimana mungkin kita mencintai Allah jika kita tiada memakmurkan jiwa raga kita dengan menjalankan yg di perintahkan

Bagaimana mungkin kita mencintai Allah sementara kita tiada menyenangi penderitaan yg diturunkan Allah sebagai ujian

Tidak Saudaraku...
Sungguh hanyalah kedustaan jikalau cinta itu tanpa adanya pembuktian
hanyalah dusta jikalau cinta itu hanya sebatas rasa senang terhadap pemberian
sementara hati kita menolak sisi lain dari kesenangan.....


Saudaraku, yg insya ALLAH dimulyakan NYA,
Sungguh perjalanan ini sangatlah sulit lagi terjal
Kebulatan tekadmu lah yg menentukan
Pertahankanlah cinta itu secara utuh
istiqomah dalam ketqwaan

Dengan cara memperindahnya dengan suka cita
Walaupun pedih dan perih senantiasa menjadi sahabat sejati
Yakinlah bahwasanya janji janji Allah adalah benar
Sauadaraku...

Hadirkanlah pertolongan Allah itu adalah dekat
Paksakan hati untuk senantiasa pasrah
Dan menantilah dgn segenap kerinduannya.

 Bahwasanya
SETELAH KESULITAN AKAN DATANG KEMUDAHAN
Berjalanlah berlahan......Mendekat dan senantiasa mendekatlah
Bermunajatlah
Bemunajatlah
Bermunajatlah dengan segala butuhmu...
 
Dan serahkanlah segala munajat kepada kebaikan Allah semata
Karena ALLAH Maha Baik dalam pengabulan doa
Jangan pernah bertanya kapan dan di mana doa kita terkabul
Karena Allah lebih mengetahui doa kita yg mana yg baik untuk dikabulkan
Maka pasrahkanlah seluruh jiwa raga kepada-Nya
DAN ISTIQOMAH DALAM PENGHAMBAAN

Saudaraku...
Takkan mampu bercerita tentang dashyatnya rasa tenggelam ditengah lautan jika tiada ia mengalaminya.

Maka manfaatkanlah segala apa yg telah kita ketahui dengan mengamalkan sebaik mungkin,sebelum apa yg kita telah ketahui menjadi usang dan sirna ditelan waktu,
Sabda Rasulullah ; Barang siapa mengamalkan ilmu yg telah diketahui niscaya Allah akan mewariskan ilmu2 yg belum diketahui.......

Yaa Allah.....Tambahkanlah kedewasaan akal serta kefahaman kepada kami, dan berikanlah kami kebulatan tekad hingga kami dapat merealisasikan ilmu2 yg telah Engkau berikan dalam kehidupan kami.....

Yaa Robbi....Jangan biarkan kami terjerumus dalam kesesatan setelah Engkau karuniakan nikmat pengetahuan kepada kami, maka cukupkanlah kami dengan segala kebutuhan kami yg telah Engkau cukupkan kepada kami

Ya a Hasbunallah wa ni'mal Wakil ni'mal maula wa ni'man Nashiir,Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billahil 'Aliyyil 'Adziim.......Allahumma sholli 'alaa Muhammadin wa 'alaa aliihi wassalim,amiin...amiin YAA ROBBAL 'ALAMIIN...Wassalam.

Selasa, 22 November 2011

Bersegeralah Wahai Saudara/ri-ku

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Assalamu allaikum wr wb.

Saudara-saudari-ku
Bersegeralah lakukan langkah untuk MEMPERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ALLAH.

LANGKAH 1 : MOHON AMPUN ATAS KESALAHAN & KEBURUKAN, dasar ayat QS.66:8: Hai orang2 yang beriman Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah2an Allah akan menutup kesalahan2 kamu.

Untuk tahap awal dan sekaligus riyadhah (membiasakan), ucapkanlah KALIMAT ISTIGHFAR (ASTAGHFIRULLAH) minimal 70-100 sehari semalam dasar al hadits : Barangsiapa yang biasa beristighfar Allah akan carikan jalan Keluar Bagi Kesulitannya, kelapangan bagi kesempitannya & memberi rizki dari arah yang tidak terduga INGET JODOH JUGA RIZKI loh. QS 71:10-12 :

Maka Aku katakan kepada mereka Mohon Ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak2mu dan mengadakan untukmu kebun2 dan mengadakan pula didalamnya untukmu sungai2.

LANGKAH ke 2 .

TINGKATKAN IBADAH, PERBAIKI IBADAH.
Sekali lagi yakinkan diri akan kuasa Allah. Insya Allah ada saja jalan bagi kita termasuk JALAN HADIRNYA PASANGAN HIDUP KITA -dasar ayat QS 65:3-4:
Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap2 sesuatu.

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Cobalah melakukan hal2 berikut ini :

PERBAIKI/LAZIMKAN WUDHU, BIASAKAN SHOLAT AWAL WAKTU DAN SHOLAT BERJAMAAH, BERDOA/BERDZIKIR SELEPAS SHOLAT, PELIHARA SHOLAT SUNAH SEBELUM & SESUDAH SHOLAT FARDHU KECUALI SETELAH SHOLAT SHUBUH DAN ASHAR, BIASAKAN SHOLAT MALAM :

TAHAJUD,HAJAT,ISTIKHOROH, TAUBAT, TASBIH, WITIR. Lakukanlah semampu anda, dasar ayat QS 22:77 : Hai orang2 yang beriman, ruku dan sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuat kebaikan supaya kamu mendapatkan keberuntungan dunia dan akhirat.
LANGKAH ke 3

PASRAHKAN KEPADA ALLAH minta hanya kepada Allah-dasar ayat QS 65:3
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.

Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya.

LANGKAH ke 4. LURUSKAN NIAT. Percayalah dengan niat, sucikan hati bahwa anda menikah karena ingin mengikuti sunah rasul dan mengharap ridho Allah (al hadits) Pernikahan itu menyempurnakan separuh dari agama.

LANGKAH ke 5.

HILANGKAN EGO Target/pilah pilih boleh2 aja sih, tapi yang wajar sajalah serahkan pilihan yang terbaik hanya pada Allah melalui shalat istikhoroh dan musyawarah dengan keluarga, dasar ayat QS 2:221 :

Dan janganlah kamu menikahkan orang2 musyrik, sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu, mereka mengajak keneraka,

sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya dan menerangkan ayat2-Nya (perintah2-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran

LANGKAH ke 6

PERBANYAK SILATURAHIM , terutama kepada orang2 yang pernah anda sakiti & minta ridho orang tua. Barangsiapa yang ingin diluaskan rejekinya temasuk jodoh, sambunglah tali silaturahim dasar al hadits untuk Ridho orangtua Raihlah cinta orangtua supaya Allah menghadirkan cinta buat anda.

LANGKAH ke 7 :

MENUTUP AURAT , supaya anda tidak sesat (menjauh dari jodoh anda) dasar ayat QS 20:121 :Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat2nya dan mulailah keduanya menutupnya dengan daun2 (yang ada di)surga dan durhakalah adam kepada Tuhan dan Sesatlah ia.

RAHASIA JODOH TERBAIK :
Jodoh itu tergantung pada diri kita sendiri, bila kita berperilaku baik, maka jodoh kitapun baik, jika perilaku kita buruk, maka jangan dipersalahkan jika jodoh kitapun berperilaku buruk.

Wanita yang keji adalah untuk pria yang keji dan pria yang keji adalah buat wanita yang keji pula dan wanita yang baik adalah untuk pria yang baik dan sebaliknya. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

LANGKAH ISTIMEWA :
MENOLONG YANG SEDANG KESUSAHAN misal bantulah saudara/kawan yang mau menikah tapi kekurangan/kesulitan dasar Al Hadits : wawloohu fii awnii abdi ma kanal abdu fii awni akhiihi, Allah selalu berkenan membantu hamba-Nya selama hambaNya berkenan membantu saudaranya.

SYARAT LANGKAH ISTIMEWA :
LAKUKAN DENGAN IKHLAS DAN JANGAN HAPUS DENGAN DOSA2 ,
Hai orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan si penerima .

Doa bagi laki2 yang berharap jodoh :

ROBBI HABLII MIILANDUNKA ZAUJATAN THOYYIBAH AKHTUBUHA WA ATAZAWWAJ BIHA WATAKUNA SHOIHIBATAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH,

artinya : Ya Robb berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat.

Doa bagi wanita yang berharap jodoh :

ROBBI HABLII MIN LADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA SHOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH,

artinya : Ya Robb berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat.

Doa tambahan :
HASBUNAWLOOH WANI-MAL WAKIIL NI’MAL MAWLA WANI’MAN NASHIIR, dasar ayat QS 9:129 :

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah : Cukuplah Allah bagiku tidak ada Tuhan selain DIA.
Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung

Doa untuk dapat jodoh dari hadits :

ALLAAHUMMAFTAHLII HIKMATAKA WANSYUR ALAYYA MIN KHOZAA INI ROHMATIKA YAA ARHAMAR-ROOHIMIN, artinya :

Ya Allah bukakanlah bagiku hikmah-Mu dan limpahkanlah padaku keberkahanMu, wahai Pengasih dan Penyayaang

LANGKAH ISTIMEWA, puasa sunnah, puasa hari senin dan hari kamis .

Dari Abu Hurairah r.a dari Rasulullah SAW , bersabda : “ Pada hari Senin dan Kamis amal perbuatan ( manusia ) disampaikan kepada Allah, maka aku senang bila perbuatanku disampaikan dalam keadaan aku berpuasa “ ( H.R Tirmidzi )

Dari Aisyah r.a berkata : “ Rasulullah SAW senantiasa bersungguh-sungguh untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis “ ( H.R Tirmidzi )

Ini isyaratnya bagi umatnya betapa penting dan banyak manfaatnya bagi yang mengamalkan puasa sunnah setiap hari senin dan kamis .

Orang yang membiasakan puasa doanya cepat terkabul.

DOA TAMBAHAN2 : ROBBANAA HABLANAA MIN AZWAJINAA WADZURRIYAATINAA QURROTA A’YUN WAJ ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA QS ; 25:74 :

Dan orang2 yang berkata :
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa . QS 65:3

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.

Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya

QS 65:3-4 : Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap2 sesuatu. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga bermanfaat

Bok; * TIJAN=Titian-Jannah.*

Minggu, 20 November 2011

Rahasia Do'a Pernikahan

 Bismillahir Rahmanir Rahim.

Assallamu allaikum wr. wb

Rahasia Do'a Pernikahan
Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara hukum agama, hukum negara, dan hukum adat

Karena begitu sakralnya upacara ini, maka ketika kita menghadiri suatu upacara pernikahan, entah itu pernikahan sahabat, rekan, handai tolan, sudah lazimnya kita memberikan ucapan atau do'a kepada mereka.

Dan mungkin di antara kita ada yang masih mengucapkan do'a "Selamat berbagia, semoga murah rizki dan banyak anak." Atau mungkin ucapan-ucapan selamat lainnya.  

Tahukah kawan, hukum dari pengucapan ini adalah “makruh”. Hal ini diceritakan dalam sebuah hadist sebagai berikut : Dari Al-Hasan, pada waktu pernikahan ‘Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam, para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah yaitu, "Birafa’ Wal Banin" (semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak).

Kemudian Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : “Janganlah kalian ucapkan demikian . Karena Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam melarang ucapan demikian”. Para tamu bertanya :”Lalu apa yang harus kami ucapkan?”. Aqil menjelaskan :  

“Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka ‘Alaiykum”. Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain].  

Atau lebih lengkapnya seperti ini :  
باَرَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ  

“Semoga Allah memberi berkah padamu, semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud (1819), Tirmidzi (1011), dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albani)  

Dalam hadits tersebut terdapat 2 preposisi yaitu للام dan على . Preposisi اللام /laam/ secara harfiyah artinya memang bisa diterjemahkan ‘pada’. Adapun على /’alaa/ dapat diterjemahkan ‘di atas’. Akan tetapi, jika kedua preposisi tersebut terdapat dalam satu kalimat secara bersamaan, makna preposisi tersebut tidak bisa lagi diterjemahkan secara harfiyah 'pada’ atau ‘di atas’ lagi.

Dari perbedaan ini, maka muncul berbagai versi terjemahan, antara lain :
• Terjemahan Pertama
“Semoga Allah memberikan berkah (yang bermanfaat) untukmu, semoga Dia (juga) memberikan berkah (yang turun) atasmu, dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.

Menurut As-Sindi dalam kitab syarahnya untuk Sunan Ibnu Majah, ia mengatakan :  

الْبَرَكَة لِكَوْنِهَا نَافِعَة تَتَعَدَّى بِاللَّامِ وَلِكَوْنِهَا نَازِلَة مِنْ السَّمَاء تَتَعَدَّى بِعَلَى فَجَاءَتْ فِي الْحَدِيث بِالْوَجْهَيْنِ لِلتَّأْكِيدِ وَالتَّفَنُّن وَالدُّعَاء مَحَلّ لِلتَّأْكِيدِ وَاَللَّه تَعَالَى اِعْلَمْ

“Berkah itu, karena bermanfaat (untuk hamba) maka dipakailah preposisi “Laam”, dan karena berkah (juga) turunnya dari langit, maka dipakailah preposisi “Alaa”.  

Oleh karenanya dalam hadits ini dipakai dua-duanya untuk lebih memperkuat makna, dan lebih memvariasikan kata. (Yang demikian itu), karena doa itu momen (yang tepat) untuk memperkuat (makna), wallahu a’lam”. (lihat di syarah As-Sindi untuk Sunan Ibnu Majah, hadits no: 1895, lihat juga di Mirqotul Mafatih 8/377)

* Rahasia Do’a pertikahan Terjemahan Kedua.*
 “Semoga Allah memberkahimu (dalam urusan duniamu), semoga Dia (juga) memberkahimu (dalam urusan akhiratmu), dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.
 Terjemahan ini didasarkan pada adanya beberapa nash yang menghubungkan manfaat duniawi dengan preposisi “Laam”, di sisi lain ada beberapa nash yang menghubungkan urusan akhirat dengan preposisi “Alaa”.  

Adapun nash-nash tersebut antara lain :
Sabda Nabi -shollallahu alaihi wasallam-:  

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا  

Dua pelaku teransaksi itu masih dalam khiyar selama belum pisah, lalu jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya diberkahi dalam transaksinya. (HR. Bukhori:1937 dan Muslim: 2825).

* Rahasia Do’a pertikahan. Terjemahan Ketiga.*

“Semoga Allah memberkahimu (di saat rumah tanggamu harmonis), semoga Dia (tetap) memberkahimu (di saat rumah tanggamu lagi renggang), dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”
 Preposisi “Laam” dan “Alaa” disandingkan dalam doa ini, berarti keduanya memiliki arti yang berbeda, dan sesuai kaidah bahasa arab, biasanya preposisi “Laam” itu dipakai untuk menunjukkan makna yang baik, sedangkan preposisi “Alaa” digunakan untuk menunjukkan makna yang buruk.  

Dan keadaan baik ketika berkeluarga adalah ketika terwujud suasana yang harmonis antara keduanya, sedang keadaan yang buruk dalam berkeluarga adalah ketika hubungan keduanya sedang renggang dan banyak masalah.

* Rahasia Do’a pertikahan. Terjemahan Keempat*
 “Semoga Allah memberkahi (istrimu) untukmu,
semoga Allah menurunkan berkah atasmu (dalam menafkahi dan memudahkan rizkinya), dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.  

Makna “Alaa” itu identik untuk menerangkan sesuatu yang datang dari atas, maka ditentukanlah makna rizki dan nafkah dalam doa itu.  

Allah berfirman: “Dan di langit itu, terdapat rizki dan apa yang dijanjikan untuk kalian” (Surat Adz-Dzariyat: 22).  

Dan karena preposisi “Alaa” dipakai untuk menerangkan datangnya sesuatu dari atas yang berupa rizki dan nafkah, berarti preposisi “Laa” bermakna sebaliknya, yakni untuk menerangkan sesuatu yang dari sesama manusia, dan karena momen doa ini adalah ketika baru mendapat nikmat istri yang halal, maka ditentukanlah kata istri dalam memaknainya. (kitab Faidhul Qodir, karya Al-Munawi 1/406).

* Rahasia Do’a pertikahan. Terjemahan Kelima*
 “Semoga Allah memberkahi dirimu (dalam pernikahan ini), semoga Allah juga memberikan berkah atas (anak dan keturunan)-mu, dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.
 Karena keberkahan dari pernikahan itu bergantung dari masing-masing mempelai, maka dipakailah preposisi “Laam” yang menunjukkan makna kepemilikan.  

Sedang alasan ditentukannya preposisi “Alaa” untuk makna “anak dan keturunan” adalah, karena tujuan utama pernikahan itu “berputar” pada anak dan keturunan. (Kitab Mirqotul Mafatih 8/377 dan Faidhul Qodir 1/176)

Penjelasan Rahasia Do’a pertikahan penutup. (akhir).

Begitu pula sabda beliau berikut ini:

*Rahasia Do’a pertikahan.Terjemahan Keenam.*

“Semoga Allah memberikan berkah pada (hak)-mu (dari pernikahan ini), semoga Allah juga memberikan berkah atas (kewajiban)-mu (karena pernikahan ini), dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.  

Karena biasanya dalam bahasa arab, preposisi “laam” itu digunakan untuk menyebutkan sesuatu yang menjadi hak dan kepunyaannya, sedang preposisi “alaa” digunakan untuk menyebutkan sesuatu yang menjadi kewajiban seseorang.  

Dari berbagai versi terjemahan tersebut, maka makna do'a tersebut bisa dijabarkan sebagai berikut :  

“Semoga Allah memberikan berkah (yang bermanfaat) untukmu”, baik berkah itu dalam urusan dunia maupun akhirat, baik berkah itu disaat rumah tanggamu sedang harmonis atau tidak, baik berkah itu pada rizki dan nafkah yang kau berikan kepada istri atau pada yang lainnya, baik berkah itu dari istrimu atau dari yang lain, baik berkah itu dalam hakmu atau kewajibanmu.  

“Semoga Dia (juga) memberikan berkah (yang turun) atasmu”, baik berkah itu dalam urusan dunia maupun akhirat, baik berkah itu disaat rumah tanggamu sedang harmonis atau tidak, baik berkah itu pada rizki dan nafkah yang kau berikan kepada istri atau pada yang lainnya, dan baik berkah itu dari istrimu atau dari keturunanmu, atau dari yang lain, baik berkah itu dalam hakmu atau kewajibanmu.  

“Dan semoga Dia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”  
Cakupan do'a ini begitu luas dari sekedar "semoga berbagia, murah rizki dan banyak anak" yang biasa kita ucapkan pada suatu pernikahan. Inilah diantara mukjizat kenabian Beliau yang biasa disebut dengan mukjizat “Jawami’ul Kalim” (Kata yang singkat, tapi maknanya padat).  

Dan dari do'a di atas, kalau kita cermati, semua kuncinya terletak pada kata "keberkahan".  

Sebagaimana kita ketahui bahwa keberkahan sendiri berasal dari kata “Berkah” atau “al-barakah” yang secara bahasa bisa diartikan “berkembang, bertambah dan kebahagiaan.” (Al-Misbah al-Munir oleh al-Faiyyumy 1/45, al-Qamus al-Muhith oleh al-Fairuz Abadi 2/1236, dan Lisanul Arab oleh Ibnu Manzhur 10/395).  

Sementara Imam an-Nawawi mengatakan “asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.” (Syarah Shahih Muslim oleh an-Nawawi, 1/225).  

Dengan do'a yang penuh keberkahan ini, diharapkan kebahagiaan, keharmonisan, limpahan rizki serta faktor penunjang keharmonisan suatu keluarga itu sendiri akan terus bertambah dan abadi. InsyaAllah . . . Aamiin.

* dari berbagai sumber  
Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga saja ada manfaatnya bagi kita semua Aamiin...Wassalam.

Bok; * TIJAN = Titian - Jannah.*

Kamis, 17 November 2011

*AKHLAK DALAM BERTANYA *

Bismillahir Rahmanir Rahim.


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh….


Ketika seseorang memahami masalah-masalah agamanya, berarti dia menghendaki kebaikan atas dirinya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya pemahaman tentang agamanya.


Maka, carilah ilmu, karena ilmu adalah cahaya dan petunjuk, sedangkan kebodohan adalah kegelapan, dan kesesatan.


Marilah kita menuntut ilmu, karena ulama yang merupakan pewaris para Nabi, sedang para Nabi tidak mewariskan harta atau uang atau emas. Mereka hanya mewariskan ilmu, sehingga siapapun yang mau mengambilnya berarti ia telah memperoleh bagian yang sempurna dari warisan para Nabi.


Marilah kita menekuni ilmu, karena ilmu syari’at adalah derajat di dunia dan akherat yang merupakan pahala yang terus menerus berlanjut bagi pemiliknya.


Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bila seorang hamba telah meninggal, maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga yaitu, shadaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat (sepeninggalnya), atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya”. (HR Muslim).


Belajarlah ilmu untuk ilmu, agar memperoleh berkah dan memetik buahnya, dan belajarlah ilmu untuk amal agar supaya kita beramal yang disertai dengan ilmu.


Bukan untuk berdebat dan bukan pula untuk berbantah-bantahan, karena orang yang menuntut ilmu untuk berdebat dengan orang-orang yang bodoh atau agar dia bisa berjalan sejajar dengan ulama, sesungguhnya dia telah menyerahkan dirinya untuk menerima sika Allah dan memberhentikan dirinya pada tujuan yang hina.


Janganlah menuntut ilmu karena harta. Ilmu lebih mulia daripada keberadaannya menjadi sarana untuk meraih harta. Harta lebih pantas digunakan sebagai sarana untuk mencapai ilmu, karena harta akan semakin berkurang bahkan bisa punah, sedangkan ilmu tetap bercahaya dan semakin bertambah jika mendapat pengamalan sebagai mestinya. 

Ketidakpedulian terhadap menuntut atau belajar ilmu agama merupakan ketersia-siaan dan kezaliman pada diri sendiri serta akan menyesal di kemudian hari. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang sholeh dan berkata : Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushshilat ayat 33). 

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Hal ini bisa dijelaskan dengan perintah membaca “iqra” menjadi wahyu pertama yang diterima oleh Rosululullah. 

Kemudian ilmu yang pertama kali diajarkan kepada manusia yakni Nabi Adam adalah ilmu tentang bahasa, berupa pengenalan nama-nama benda (Tolong lihat. Al Baqarah ayat 31-34). 

Jadi membaca kemudian bahasa, dua perpaduan sempurna untuk sebuah ilmu. Dan selanjutnya adalah proses penyimpanannya berupa menuliskannya dengan pena, laksana mengikat hewan buruan dengan tali, demikian Imam Syafi’i menganalogikan. 

Maka ilmu adalah sangat penting untuk dimiliki, dan dengan ilmu, Allah akan mengangkat derajat hambanya seperti yang tertulis surah Al Mujadalah ayat 11. 

Salah satu cara memperoleh ilmu dengan bertanya dan salah satu ciri orang yang berilmu itu adalah kritis. Malu bertanya sesat dij alan. Banyaklah bertanya agar bertambah ilmunya. Islam mengajarkan dalam bertanya agar dapat memperoleh manfaat dari pertanyaan hendaknya : 

• Ikhlash dalam bertanya. Maksudnya bertanya untuk menghilangkan kebodohan dari diri kita sendiri atau diri orang lain, bukan berdebat kusir atau sombong di hadapan para ulama atau riya (supaya dikatakan orang yang bersemangat menuntut ilmu). Rasulullah bersabda : 

"Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh atau untuk menarik perhatian manusia maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka" (HR. At-Tirmidzi). 

Ibnul Qayyim berkata, "Jika anda duduk bersama seorang 'alim (ahli ilmu), maka bertanyalah untuk menuntut ilmu bukan untuk melawan"


• Bertanya karena tidak tahu, wajib hukumnya.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (An Nahl ayat 43).


Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jabir berkata, “Ada sekolompok orang yang dalam perjalanan, tiba-tiba salah seorang dari kami tertimpa batu hingga mengalami luka pada kepalanya.


Di malam harinya dia mimpi basah, lalu dia bertanya kepada temannya,


“Apakah kalian membolehkan aku bertayammum?”. Teman-temannya serombongan tersebut menjawab, “Kami tidak menemukan keringanan bagimu untuk bertayammum. Sebab kamu bisa mendapatkan air”.


Lalu mandilah orang itu dan kemudian mati. Akhirnya berita ini sampai kepada Rasulullah, dan bersabdalah beliau, “Mereka (rombongan tersebut) telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka.


Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu? Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayammum… .”.


• Hindari bertanya bukan untuk membatah atau mendebat, apalagi sehingga mengadu domba.


Dalam bertanya hendaknya supaya dapat mengambil manfaat dari jawaban yang diberikan dari pertanyaan tersebut. Bukan untuk berbantah-bantahan. Rasulullah bersabda : “Dijaminkan sebuah rumah di syurga barangsiapa menghindari perdebatan, meski padanya ada kebenaran”.(HR.Abu Dawud). 

Bagaimana bila kita ingin meluruskan pemahaman orang yang kita tanya, tanpa bermaksud membantahnya atau mendebatnya?. 

Dalam hal ini contohlah Hasan ibnu Ali dan Husain Ibn Ali (cucu Rosulullah) yang berlomba berwudhu. Cara ini mereka gunakan untuk memberitahukan tata laksana berwudhu yang shahih kepada seorang kakek. 

Jadi tidak perlu bertanya dan mendebat karena debat hanya akan menimbulkan luka hati dan syahwat untuk memenangi serta dengki ketika argumentasi terbantahi. 

Seorang penanya bukanlah seorang pendebat, maka tidak diperkenankan mengadu domba di antara ahli ilmu seperti mengatakan, “Tapi ustadz, si fulan (dengan menyebut namanya) mengatakan demikian, dan yang demikian termasuk kurang beradab”. 

Yang sebaiknya mengatakan, “Apa pendapatmu tentang ucapan ini?” (tanpa menyebut nama orang yang mengucapkan). 

• Haram hukumnya bertanya, yang kemudian berakibat haramnya sesuatu yang sebelumnya tidak diharamkan sebelum kita menanyakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu al-Qur’an sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. 

Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. ( Al-Maidah ayat 101). Rosulullah bersabda, “Orang yang paling besar dosanya adalah orang yang menanyakan sesuatu yang sebelumnya tidak diharamkan. 

Kemudian, hal itu diharamkan karena adanya pertanyaan tersebut” (Mutafaqun alaihi). Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), maka syariatnya adalah didesain untuk memudahkan bukan untuk mempersulit. 

Tradisi memudahkan dan tidak menyulitkan ini telah dilakukan semenjak jaman Rasulullah dan para sahabat. Begitu pula para tabi’in. Rosulullah bersabda, "Biarkanlah (jangan tanyakan) yang aku diamkan bagi kalian (yang tidak dijelaskan hukumnya). 

Sessungguhnya, umat sebelum kalian binasa karena terlalu sering bertanya dan mereka berselisih dengan nabi-nabinya" (Mutafaq alaihi) 

• Dianjurkan memperbagus kalimat pertanyaan dan cara bertanya. Di antara kebaikan dalam bertanya adalah mencari situasi dan kondisi atau konteks yang tepat untuk bertanya. 

Kemudian memperbagus konteks pertanyaannya dengan pilihan diksi yang indah disertai dengan kelembutan ketika bertanya. Ibnul Qayyim berkata, 

“Ilmu itu memiliki enam tingkatan,
yang pertama adalah bagusnya pertanyaan dan sebagian orang ada yang tidak mendapatkan ilmu karena jeleknya pertanyaan,
mungkin karena dia tidak bertanya sama sekali, atau bertanya tentang sesuatu padahal disana ada sesuatu yang lebih penting yang patut ditanyakan seperti bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya tidak mengapa kita tidak mengetahuinya dan meninggalkan pertanyaan yang harus kita ketahui, dan ini adalah keadaan kebanyakan dari para penuntut ilmu yang bodoh”. 

Di antara cara memperbagus pertanyaan dengan berlemah lembut dalam bertanya, ingat rambu-rambu bertanya bahwa bertanya bukan untuk mendebat atau membantahnya. 

Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, “Dahulu Ubaidullah (yakni bin Abdullah bin ‘Utbah, seorang tabi’in) berlemah lembut ketika bertanya kepada Ibnu Abbas, maka beliau (Ibnu ‘Abbas) memberinya ilmu yang banyak” 

Selain itu perlu dicermati bahwa "Barangsiapa bersikap meremehkan,akan mudah baginya melakukan tindakan yg meremehkan. Ketahuilah bahwa luka itu tidak dapat menyakiti orang yang telah mati" (Al-Mutanabbi). 

"Tuntutlah ilmu dengan tujuan mengamalkannya. Bertanyalah kepada yang tahu apa yang engkau tidak tahu. Namun jangan bertanya untuk menguji. Hindarilah dari berfatwa sebagaimana engkau menghindar dari singa. Apakah engkau ingin batang lehermu menjadi jembatan yang akan dilalui orang menuju neraka?” (Ja'far Ash-Shadiq). 

Jadi kesimpulannya adalah janganlah engkau bertanya untuk menguji seseorang padahal kamu sudah lebih mengetahui tentang ilmu tersebut, kecuali jika tujuannya adalah untuk saling nasehat-menasehati itulah yang benar dan dianjurkan. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sesuatu kaum menghina kepada kaum yang lain, karena barangkali yang dihinakan itu bahkan lebih baik dari yang menghinakan. 

Jangan pula golongan wanita menghina kepada golongan wanita yang lain, karena barangkali yang dihinakan itu bahkan lebih baik dari yang menghinakan” (Al-Hujurat ayat 11). 

Yang dimaksud “penghinaan” itu adalah menganggap rendah derajat orang lain, meremehkannya atau mengingatkan cela-cela dan kekurangan-kekurangannya dengan cara yang dapat menyebabkan ketawa. 

Cara ini sering dilakukan, dengan cara meniru-nirukan percakapan atau perbuatan orang itu dan ada kalanya dengan jalan berisyarat (bahasa tubuh) dengan apa-apa yang menunjukkan ke arah tersebut. Intinya adalah ditujukan untuk merendahkan kedudukan orang lain dan menertawakannya serta menghinakan dan menganggapnya kecil. 

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan, “Barangkali yang dihinakan itu bahkan lebih baik dari yang menghinakan”, artinya janganlah kamu menghinakan orang lain karena hendak menganggapnya ia kecil dan rendah.
Masalah kecil atau rendah itu belum dapat ditentukan, mungkin justru orang itu sebenarnya yang lebih baik, lebih mulia, lebih tinggi derajatnya dari padamu sendiri. 

Pelarangan ini tentu terhadap seseorang yang merasa tidak enak atau tersinggung jika dihinakan, sedangkan terhadap seseorang yang sengaja dirinya untuk direndahkan karena telah menjadi watak dan tabiatnya dan bahkan bila diperbuat penghinaan, ia semakin gembira, maka kepadanya tidaklah termasuk sebagai penghinaan. 

Ini termasuk dalam senda gurau yang diperkenankan (lawakan), asalkan tidak melampaui batas dan tidak pula melanggar kehormatannya.


Yang diharamkan dalam “penghinaan dan pengejekan”
adalah apabila dengan cara menganggap kecil seseorang yang menyebabkan orang itu merasa dihinakan, diremehkan atau dianggap sepi dan tidak ada harganya sama sekali.


Misalnya, meneertawakan kata-katanya di waktu ia salah mengucapkan atau tidak sistematis uraiannya atau menertawakan perbuatannya di waktu ia keliru, juga seperti menertawakan hafalannya, ciptaannya, gambar tubuhnya ataupun yang ditertawakan itu adalah bentuk tuhnya karena terdapat cela yang terlihat jelas.


Tertawa dalam segala hal sebagaimana yang diuraikan di atas termasuk hal-hal yang benar-benar dilarang.


Dalam hal cara menangkal pertanyaan yang keras dan kasar, ada sebuah kisah Khalifah Harun ar-Rasyid mengajarkan kepada Al-Ashma'i tentang prinsip-prinsip dan kaidah nahi mungkar terhadap penguasa (pejabat).


Suatu ketika seorang penanya yang tidak mengetahui sedikitpun tentang prinsip-prinsip itu mendatangi Khalifah, dan menasehatinya dengan kata-kata keras dan kasar.


Meskipun Harun Ar-Rasyid menyenangi para ulama dan sering duduk-duduk bersama sambil mendengarkan nasehat mereka, lain halnya dengan seorang yg satu ini. Harun ar-Rasyid berkata kepadanya :


"Cobalah engkau berbicara dengan baik dan obyektif kepadaku". Penanya itu menjawab : "Itu adalah yang paling minimal bagimu". Ar-Rasyid :"Cobalah beritahu kepadaku siapa yang lebih jahat, aku atau Fir'aun?". 

Sang Penanya : "Fir'aun". Ar-Rasyid : "Sipakah yang lebih baik, engkau atau Musa bin Imran?". Sang Penanya : "Musa". Ar-Rasyid : "Apakah engkau tidak tahu, ketika Allah mengutus Musa dan saudaranya Harun kepada Fir’aun? 

Allah berpesan kepada keduanya : 'Maka bicaralah kamu berdua padanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut'". 

Sang Penanya, “Ya, aku tahu". Ar-Rasyid, "Itu adalah Fir’aun yang penuh dengan kesombongan dan kezhaliman, sementara engkau datang kepadaku dengan keadaan begitu. 

Aku melaksanakan kewajiban-kewajibanku terhadap Allah, aku hanya menyembah kepada Allah. Aku mentaati hukum-hukum, perintah dan larangan-Nya, sedangkan engkau menasehatiku dengan nada yang keras dan kata-kata yang kasar tanpa tata krama dan akhlak. 

Engkau tidak akan aman dan selamat jika aku menangkapmu. Dan jika engkau telah menawarkan jiwamu, berarti engkau sudah tidak memerlukannya lagi". Sang Penanya, "Aku telah bersalah, wahai Amirul Mukminin, dan aku minta maaf". Ar-Rasyid, "Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampunimu". 

Dari dialog antara Khalifah Harun ar-Rasyid dengan seorang penanya yang beraliran keras menunjukkan bahwa ajaran islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan dilanjutkan oleh sahabatnya 

khusus untuk menangani hal-hal yang menyimpang, menyatakan kritik-kritik keras terhadap ajaran islam dilakukan secara persuasif dengan membina agar yang bersangkutan memahami, mengerti dan mengakui kebenaran ajaran islam. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rosulullah mengumpamakan sahabat yang baik itu seperti membawa minyak wangi (terserah bau harumnya, harum seperti bunga melati, bunga mawar, buah melon dan sebagainya). 

Sahabat yang baik itu adakalanya kamu diberi dan ada kalanya pula kamu memberi. Dan yang pasti kamu akan merasakan bau harum dari minyak wangi yang dibawanya. 

Sedangkan sahabat yang buruk diumpamakan sebagai peniup api. Kalau tidak terbakar pakaianmu, tentulah engkau akan mencium bau busuk darinya". 

Perlu diketahui juga, bahwa dalam bergaul dengan orang bodoh tetapi tidak suka mengumbar hawa nafsunya itu lebih baik daripada bergaul dengan orang alim (berilmu) namun suka mengumbar hawa nafsunya. 

Selanjutnya, kita perlu memperhatikan kata mutiara yang pernah diucapkan oleh Khalifah Ali bin Abi Tholib sebagai pedoman dalam memilih salahabat : 

"Jangan bersahabat, kecuali dengan orang yang takwa, terdidik, terhormat, cerdik, cerdas, cendikiawan, tepat dengan janji-janjinya. Teguhkan keyakinanmu kepada Allah dalam setiap peristiwa, niscaya Allah akan menolongmu di setiap saat dari kejahatan, dengki dan tukang hasut". 

Dalam hal berolok-olok, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Katakanlah : ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rosul-sorul-Nya kamu selalu berolok-olok?. 

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman” (At-Taubah ayat 65-66).
Ayat ini menunjukkan bahwa mengolok-olok Allah adalah kekufuran, mengolok-olok rosul adalah kekufuran dan mengolok-olok ayat-ayat Allah adalah kekufuran. 

Karena itu, barangsiapa mengolok-olok salah satu dari perkara tersebut berarti ia telah mengolok-olok semuanya. 

Apa yang terjadi pada orang-orang munafik adalah mereka mengolok-olok rosul dan para sahabatnya, lalu turunlah ayat ini. 

Jadi mengolok-olok agama hukumnya adalah murtad dan keluar dari agama secara keseluruhan. 

Mengolok-olok ada dua macam, yaitu secara terus terang dan secara tidak terus terang.
• Secara terus terang. Mengolok-olok secara nyata atau terus terang seperti yang karenanya ayat di atas turun, yaitu ucapam mereka, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan atau ucapan-ucapan lain yang bersifat olok-olok. 

Seperti ucapan sebagian dari mereka, “Agama kalian ini adalah agama kelima”. Atau ucapan mereka yang lain, “Agama kalian adalah agama kuno”. Atau ucapan sebagian lain jika melihat orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, 

“Telah datang kepada kalian ahli agama”. Semuanya dalam nada mengejek mereka atau ucapan-ucapan lain yang tidak terhitung kecuali dengan susah payah, yang lebih besar dari ucapan yang karena ayat di atas turun kepada mereka. 

• Tidak terus terang. Mengolok-olok secara tidak terus terang dan contohnya banyak tidak terhitung. Seperti dengan mengedipkan mata, menjulurkan lidah, memonyongkan bibir, meremehkan dengan isyarat tangan ketika membaca Kitabullah atau Sunah Rosul-Nya, atau ketika melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. 

Termasuk di dalamnya adalah apa yang diucapkan oleh sebagian mereka bahwa Islam tidak sesuai untuk abad 20, tapi hanya cocok dan sesuai untuk abad-abad pertengahan. 

Islam adalah terbelakang dan kuno, di dalamnya terdapat kekerasan dan kebengisan, kekejaman dalam memberikan hukuman had dan sangsi, Islam menganiaya wanita dan hak-haknya karena membolehkan menceraikannya dan berpoligami. 

Juga termasuk ucapan mereka, memutuskan hukum dengan undang-undang buatan mereka lebih baik daripada berhukum dengan Islam. Mereka juga memberikan kepada orang yang menyeru kepada tauhid dan mengingkari ibadah kepada kuburan-kuburan dengan julukan ekstrimis, atau ingin memecah belah jama’ah umat Islam dengan julukan teroris. 

Atau mengatakan, ini adalah wahabi atau madzab kelima, serta ucapan-ucapan lain yang semuanya merupakan pelecehan terhadap agama dan pemeluknya, serta olok-olok terhadap aqidah yang benar, laa haula walaa quwwata illaa billaah. 

Termasuk diantaranya adalah olok-olok mereka terhadap orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, agama itu tidaklah disambut, sebagai olok-olok terhadap orang yang memanjangkan jenggotnya, serta ucapan-ucapan buruk lainnya.


Berbantah-bantahan pun dilarang dalam ajaran Islam yaitu semua sanggahan kepada pembicaraan orang lain dengan tujuan hendak memperlihatkan kesalahan, kekurangan atau ketidaktahuan orang itu menganggapnya seolah-olah bodoh dan ia lebih tahu atau pintar.


Hal ini adakalanya berhubungan dengan ucapannya, adakalanya dengan isi yang dibicaarakan dan mengenai tujuan pembicaraan dimaksud.


Menghindarkan diri dari berbantah-bantahan lebih baik dengan jalan tidak menyanggah atau melawannya, dimana semua perkataan yang anda dengar (sekiranya memang benar menurut perasaan anda).


Sebaiknya dipercaya, dan sebaliknya (sekiranya anda anggap salah, bathil atau berdusta), sebaiknya anda berdiam diri saja, asalkan tidak ada hubungannya dengan kehormatan agama.


Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau mengucapkan bantahan kepada saudaramu, jangan pula mengajaknya bersenda gurau dan jangan pula engkau berjanji memenuhi suatu perjanjian, kemudian engkau menyalahinya” (HR Tirmidzi).


Dalam hadits lain, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sesuatu kaum itu menjadi sesat setelah diberi petunjuk oleh Allah, melainkan sebab mereka itu suka berbantah-bantahan” (HR Tirmidzi).


Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tidaklah seseorang hamba itu mendapatkan kesempurnaan hakekat keimanan, sehingga suka meninggalkan berbantah-bantahan, sekalipun ia merasa dalam fihak yang benar” (HR Ibnu Abiddunya).


Sedangkan Bilal bin Sa’ad berkata, “Jika pada suatu ketika anda melihat seseorang yang banyak berbicara, suka berbantah dan merasa bangga dengan pendapatnya sendiri, maka sudah sempurnalah kerugiannya”. 

Lain halnya Ibnu Abi Laila berkata, “Saya ini tidak suka membantah sahabatku, adakalanya saya seharusnya mendustakannya dan adakalanya saya perlu memarahinya”. 

Bagaimana mensikapi terjadinya berbantahan tersebut?
Bila ada suatu perbantahan terjadi dan yang dibicarakan masalah ilmiah, sebaiknya saat itu berdiam diri saja sambil merenungkan atau mendengarkan alasan masing-masing fihak. 

Sebaiknya janganlah mencampuri, namun sementara anda dapat menyaring dan meneliti mana yang benar dan mana yang salah. Bila diperlukan bertanya dalam suatu hal yang tidak dimengerti, lakukanlah, namun sifatnya jangan bersifat membantah, menyanggah atau lebih-lebih menyalahkannya. 

Sebaiknya, hal tersebut dilakukan (bertanya) dengan sikap lemah lembut dan sopan agar mengeahui duduk permasalahannya, sehingga bukan bermaksud menjatuhkan dengan mengemukakan pertanyaan tersebut. 

Bila suatu pertanyaan atau ucapan untuk tujuan mematahkan atau melumpuhkan pembicaraan orang lain sehingga tidak dapat menjawabnya atau mengurangi nilai ucapannya, maka bentuk perbantahan yang paling dilarang sekalai dalam ajaran agama Islam dan sangat tercela di pandangan masyarakat sebaiknya menghindari dengan cara berdiam diri saja agar selamat dari dosa dan akibatnya. 

Kenapa seseorang suka berbantahan?
Seseorang suka berbantah, timbul karena perasaan yang salah yaitu semata-mata hendak menonjolkan kelebihan diri sendiri, lebih pandai, lebih benar pendapatnya. 

Selain itu berkehendak menyerang orang yang dianggap lawannya dengan menunjukkan kekurangan ilmu serta ketololannya. Jadi dua sifat inilah benar-benar merusakkan jiwa seseorang. 

Berbantah-bantahan itu tidak akan lepas dari sikap menyakiti hati orang lain, menyalakan api kemarahan dan membawa si penentang untuk mengulangi perbuatannya kepada siapapun juga. 

Sebaiknya sifat yang demikian dijauhi sedapat mungkin, baik yang benar maupun yang salah pendapatnya. Orang yang suka berbantah-bantahan itu akhirnya tidak memperdulikan lagi ucapan-ucapannya, apakah benar atau salah. 

Yang difikirkan hanyalah kemenangan dan menganggap lebih pintar dan cerdik. Ia tertipu dengan ucapannya sendiri, dengan mengungkapkan gambaran yang tidak semestinya, hanya semata-mata menginginkan keunggulan kehebatan berbantah atau berdebat. 

Jika ini terjadi maka pastilah akan timbul perselisihan dan pertarungan lidah (tulisan) yang sangat tajam dan putuslah silaturahmi diantara keduanya. 

Obat atau penawar dari sikap tersebut di atas adalah agar supaya seseorang senang melenyapkan sifat yang menimbulkan suka berbantah dimaksud, yaitu watak sombong dan takabbur yang hanya memperlihatkan bahwa dirinya lebih dipentingkan, juga sifat berbantah itu dimbul karena sifat kebinatangan yang senantiasa menganggap rendah dan kurang pada diri orang lain. 

Banyak orang dalam bertanya membohongi atau dusta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana berbohong dan nifak hanya akan menggambarkan seseorang memperoleh keninaan dan kesengsaraan, baik di dunia maupun di akherat. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang yang pendusta” (An-Nahl ayat 105). 

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta. ‘Ini halal dan haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. 

Manfaat mengada-adakan itu adalah kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka adzab yang pedih” (An-Nahl ayat 116-117). “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az-Zumar ayat 3). 

Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya memberikan larangan kepada umatnya untuk melakukan kebohongan dan bersikap nifak dalam pergaulan hidup bermasyarakat, apalagi berpuasa yang langsung berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Diantara sabda Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan mengenai larangan berbuat bohong dan nifak adalah : Dari Abu Hurairah bahwasanya sesungguhnya Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, 

“Tanda-tanda munafik itu ada tiga. Apabila berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim). 

“Khianat yang paling besar adalah apabila engkau menceriterakan suatu ceritera kepada saudaramu, kemudian dia membenarkan apa yang kamu ceritrakan, sedangkan kamu berdusta kepadanya” (HR Ahmad dan Abu Dawud). 

Dari Ibnu Umar berkata bahwasanya Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Membuat-buat (membual) yang paling dibuat-buat adalah ketika seseorang mengatakan bahwa matanya melihat sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dia lihat” (HR Bukhari). 

Berbicara dusta, mengingkari janji dan berkhianat adalah bagian dari akhlak yang tercela, yang harus dijauhi oleh setiap muslim (apalagi di bulan Ramadhan), karena ketiga akhlak ini merupakan bagian dari tanda-tanda kemunafikan seseorang. 

Demikian pula ceritera dusta yang kemudian dipercaya oleh orang lain termasuk akhlak yang tercela dan merupakan pengkhianat yang sangat besar. 

Dari Abu Hurairah berkata bahwasanya sesungguhnya Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Takutlah kamu terhadap prasangka, sebab sesungnguhnya prasangka adalah sejelek-jelek pembicaraan dusta” (HR Bukhari dan Muslim). 

Perbuatan dusta pada mulanya hanyalah bersifat coba-coba, namun akhirnya menjadi kebiasaan. Bila kedustaan dilakukan terus menerus akan membuat hati seseorang hitam kelam, tidak lagi mau menerima petunjuk, yang akhirnya mengantarkan seseorang menjadi pendusta yang sebenarnya. 

Bila hal ini terjadi, berarti dia termasuk dalam golongan penghuni neraka. Stop berdusta mulai hari ini dan perbaiki dengan kejujuran, buang jauh-jauh cobat-coba yang menjadikan kebiasaan berdusta. 

Dari Jabir bin Zaid, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Hudzaifah, “Wahai Abu Abdillah, apakah nifak itu?”. Jawab Hudzaifah, “Kamu mengatakan Islam, namun tidak mengamalkannya” (HR Imam Empat). 

Dari Jabir bin Zaid dari Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau telah bersabda, “Sesungguhnya La ilaaha ilallaah adalah kalimah yang dengannya bersatu hati orang-orang mukmin. 

Barangsiapa mengucapkannya, kemudian mengikuti ucapan itu dengan amal sholeh, maka dia termasuk mukmin paripurna. Dan barangsiapa mengucapkannya, kemudian mengikuti ucapan itu dengan amal kejelekan, maka dia termasuk munafik” (HR Imam Empat).
Bilahit taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh (Nurassajati Purnama Allam, 

Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga saja sajian ini menjadikan kemanpaatan bagi kita semua Aamiin Wassalam.


Bok: * TIJAN = Titian-Jannah.*

Kualitas Ibu Menentukan Kualitas Anak.

Assalamu allaikum wr. wb.

Saudaraku...
Kualitas Ibu Menentukan Kualitas Anak adalah tema Seminar Online Kharisma pada pekan terakhir bulan Mei 2008. Diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai negara di dunia, di antaranya adalah Inggris, Belanda, Jerman, Austria, Jepang, Australia dan tentunya Indonesia. Acara ini di selenggarakan di Chatroom Paltalk dan Yahoo Messenger selama kurang lebih 90 menit.

Tema tersebut dibawakan oleh Ibu Dra. Wirianingsih yang sangat kompeten menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik dan membesarkan putra/i-nya hingga mereka terbukti tidak hanya berprestasi secara akademik namun juga menjadi penghafal Al Qur’an.

Dalam surat An Nisa’: 9, Allah mengingatkan agar orangtua tidak meninggalkan anak yang lemah di kemudian hari, baik itu lemah iman, lemah akal, lemah pikiran, lemah fisik, ataupun lemah mental. Hal ini jelas sangat berkaitan dengan ibu. Karena anak melekat erat pada ibunya secara fisik, maupun secara psikis

Beliau juga mengingatkan bahwa yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang adalah kualitas ayahnya. Karena kualitas ibu tidak dapat berdiri dengan sendirinya.

Dia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini disebutkan oleh Allah dalam surat An Nisa’: 34 bahwa “Laki-laki itu adalah pemimpin kaum perempuan di dalam rumah tangga atau keluarga.”

Jadi kaum laki-lakilah yang menduduki posisi sebagai decision maker yang akan menjadi penentu arah pembinaan keluarga. Rasulullah saw juga mengingatkan kepada para sahabatnya bahwa

“Carilah kalian tempat perhentian yang baik, karena darinya engkau akan mendapatkan keturunan yang baik pula.” Hal ini dilakukan jauh sebelum menikah sehingga jika kita mau menentukan kualitas ibu juga harus dipertimbangkan kualitas dari laki-lakinya.

Perempuan-perempuan yang sholih dan taat kepada Allah dapat menjaga diri ketika suami tidak ada, adalah karena Allah menjaga mereka, hal ini dalam konteks kewajiban suami menjaga istrinya.

Di sini terlihat jelas peran laki-laki yang akan menjadi seorang suami dan ayah. Jika kelak Allah karuniakan kepadanya seorang anak perempuan, sejauhmana visi seorang ayah, dalam hal menjadikan anak-anak perempuannya menjadi anak-anak yang berkualitas.

Hal ini diingatkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadist, “Barangsiapa yang mempunyai anak perempuan kemudian dia didik dengan sebaik-baiknya pendidikan, dia akan menjadi pagar bagi orang tuanya dari siksa api neraka.”

Maka didiklah anak-anak perempuan kalian dengan sebaik-baiknya pendidikan. Dalam riwayat lain diceritakan ketika ada seorang anak mencuri, yang dipanggil ayahnya bukan ibunya.

Ketika ditanya anaknya menjawab, “Ayahku tidak memberiku seorang ibu yang baik, ayahku tidak memberiku nama yang baik dan ayahku tidak pernah mengajarkan Al Qur’an untukku.”

Hal ini menggambarkan bahwa kualitas ibu ditentukan dari bagaimana seorang laki-laki memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya. Jadi konsep kualitas ibu yang baik dimulai dari konsep pra nikah.

Dalam konteks ibu sebagai sebuah institusi. Kita sering mendengar ibu negara, jika kita mendapati ibu yang baik maka negara juga akan baik. Jika ibunya rusak maka negara juga akan rusak. Hal itu setidaknya dalam konteks bagaimana negara memperhatikan kaum wanita dengan sebaik-baiknya perlakuan.

Sehingga mereka berhak mendapatkan pendidikan yang sebaik-baiknya, karena kelak mereka akan menjadi seorang ibu yang berkualitas, cerdas dan berdaya guna, serta bertakwa kepada Allah. Sehingga dalam hal politik, kualitas ibu juga tidak mungkin dapat berdiri sendiri.

Ibu yang aktif di organisasi Salimah (Persaudaraan Muslimah) dan ASA (Aliansi Selamatkan Anak Indonesia) ini memaparkan data yang beliau dapatkan dari Menko Kesra tahun 2005, bahwa masih banyak wanita Indonesia yang buta huruf, setidak-tidaknya ada 10 %. Sehingga Menko Kesra mencanangkan Gerakan Wanita Bebas Buta Aksara.

Dari data yang dimiliki oleh ASA di daerah Mega Mendung ditemukan masih banyak anak-anak umur 9 sampai 11 tahun baru kelas 1 SD.

Di Cirebon ada budaya yang sekarang sedang marak bahwa banyak orang tua yang lebih bangga punya anak perempuan yang kemudian bisa mereka dandani meskipun sekedar bisa baca dan sedikit berhitung dengan harga Rp 5 juta dibandingkan jika mereka harus menggarap sawah selama 1 tahun, belum tentu mendapatkan hasil sebesar itu.

Dan ternyata dari sekian banyak angka yang ada, lebih dari 50%-nya adalah kaum muslimah.

Sangat menyedihkan jika melihat data-data yang ada di lapangan bahwa begitu banyaknya anak-anak yang masih berusia dini kisaran 9-11 tahun yang terlibat narkoba dan aborsi. Pertanyaannya kemudian ke mana orang tua mereka?

Jadi kualitas ibu tidak dapat berdiri sendiri, baik ibu sebagai seorang individu dan juga ibu sebagai sebuah institusi dalam hal kebijakan negara. Kedua-duanya tidak dapat dipisahkan.

Karena dalam hal ini membicarakan kualitas ibu sebagai seorang individu maka yang akan ditekankan di sini adalah mensyukuri bahwa insya Allah kita dianugerahkan oleh Allah kelebihan dari sisi materi, kecukupan ilmu, mungkin juga kesempatan berprestasi untuk bisa eksis lebih baik lagi.

Harus ada kemauan regenerasi di sini. Jadi dimulainya dengan mendefinisikan ciri berkualitas seperti apa, kemudian berkualitas itu dipergunakan untuk apa.
Menurut perempuan kelahiran Jakarta ini, arti berkualitas dalam konteks ibu secara individu yang pertama adalah dalam konteks ibu sebagai seorang hamba Allah.

Cermin kepribadiannya akan tampak dari bagaimana hubungan kedekatan dia dengan Allah SWT. Hal ini akan terpancar dan menetes kepada anak-anaknya dan itu adalah cahaya Allah. Artinya pancaran keimanan ibunya akan terpancar juga pada anak-anaknya.

“Barangsiapa yang beriman laki-laki dan perempuan, laki dan perempuan beramal sholih dan dia beriman”

Dengan penyebutan laki dan perempuan hendaknya kaum perempuan berkualitas. Kaum ibu berkualitas, jadi istri juga berkualitas. Kualitas yang dimaksudkan di sini yaitu kualitas keimanan kepada Allah. Kiat yang beliau utarakan untuk mengarungi kehidupan ini, senjata yang paling ampuh adalah beriman kepada Allah SWT.

Yang kedua adalah ilmunya. Dengan cara membedakan kata-kata pintar dan cerdas inilah, beliau memaparkan arti penting sisi keilmuan seorang ibu yang berkualitas. Pintar belum berarti cerdas namun cerdas sudah pasti pintar.

Banyak lulusan S1, S2 dan S3 yang pintar tapi sayangnya mereka tidak cerdas, imbuh Beliau. Dalam pengertian Rasulullah saw, cerdas yaitu orang yang membekali hidupnya dengan sebaik-baiknya kemudian ia bersiap-siap untuk menghadapi kematian.

Hal ini menjadi berbeda jika dibandingkan dengan definisi cerdas yang dikemukakan oleh pakar pendidikan, yaitu kemampuan individu untuk mengambilkan suatu keputusan secara cepat dan tepat, dengan segala resikonya.

Cerdas yang dimaksudkan di sini yaitu cerdas mengelola dirinya, mengatur waktunya dan cerdas menekan orang lain untuk menuntun mereka dalam kebaikan kemudian merajutnya menjadi sebuah kekuatan besar membangkitkan bangsa ini untuk mendapatkan ridha Allah.

Ketiga adalah berkualitas dari sisi fisik yaitu sehat badannya. Jangan sampai potensinya besar tetapi sakit-sakitan. Hal ini tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain atau umat.

Berkualitas dari sisi fisik akan menopang kualitas keimanan dan ilmu yang ada untuk dapat melakukan aktifitas-aktifitas beramal.

Karya dari suatu pemikiran hanya akan dapat dibuktikan ketika kita beramal. Dan yang melakukan ini adalah jasad atau fisik.

Intinya menurut hemat beliau kualitas orang hidup sebagai seorang individu adalah bertakwa, cerdas, berakhlak dan berdaya guna.

Dari ketiga hal inilah maka dapat dikatakan bahwa kualitas ibu tidak dapat berdiri sendiri dalam konteks individu karena terkait dengan pemberdayaannya dirinya di dalam keluarga.

Hubungannya dengan anak, jelas di sini dapat dikatakan kualitas ibu menentukan kualitas anaknya. Jangan sampai masih ada perbedaan kualitas pendidikan anak laki-laki dengan anak perempuan dalam pengertian peningkatan pendidikan mereka dalam kategori takaran yang sama.

Jika ingin melakukan perubahan besar terhadap kualitas anak perempuan atau kualitas ibunya, hal ini di mulai dengan dengan melakukan perubahan pada paradigma cara mendidik anak-anak di rumah.

Terutama pada anak laki-laki karena ia nanti akan menjadi bapak atau suami. Bagaimana ia memperlakukan istrinya sehingga kelak istrinya dapat menjadi ibu yang berkualitas. Begitupun berlaku pada anaknya, bagaimana ia mendidik anak perempuannya, sehingga ia menjadi anak yang berkualitas. Hal ini jelas berjalan beriringan.

Jika ketiga hal ini sudah ada dalam diri seorang perempuan maka ia akan berusaha menjadikan anak-anaknya dan suaminya seperti dirinya.

Karena orang-orang yang cerdas menginginkan lingkungan yang ada di sekelilingnya cerdas pula, minimal untuk anak-anaknya. Banyak sekali kasus ibu yang menelantarkan anak-anaknya. Menjadikan anak-anaknya bukan problem solver malah menjadi problem maker.

Kembali beliau mengungkapkan kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an bagaimana seorang ibunda Hajar yang berkualitas yang dipilih oleh seorang suami yang berkualitas seperti Nabiyullah Ibrahim melahirkan seorang anak yang berkualitas yaitu Nabiyullah Ismail, yang kemudian menurunkan Rasulullah SAW.

Sejarah Salafusshalih yang termasuk di dalam 30 tokoh-tokoh besar yang berkualitas karena mereka memiliki ibu-ibu yang berkualitas, yang juga dibarengi pula dengan bapak-bapak yang berkualitas sekelas imam Syafi’i misalnya.

Beliau ditinggal wafat ayahnya usia 6 tahun, namun seluruh isi kepala ayahnya sudah diwariskan kepada ibunya, agar meneruskan pendidikan anaknya sehingga menjadi ulama besar yang kita kenal seperti sekarang ini dan mahzhabnya pun dipakai di Indonesia.

Hasan Al Banna pun memiliki ayah dan ibu yang berkualitas. Bapaknya seorang ulama dan ibunya seorang yang cerdas. Jadilah ia seorang ulama besar, arsitek peradaban pada awal abad ke-20 yang telah mampu melakukan perubahan peradaban Islam yang ada sampai sekarang.

Berondongan pertanyaan dari peserta semakin terasa tatkala ibu yang lahir 46 tahun lalu mengakhiri uraian materinya dengan pernyataan, jika kita ingin menjadi ibu yang berkualitas, mulailah dengan mendekatkan diri kepada Allah, mohon petunjuknya ke jalan yang lurus.

Dan hanya orang-orang yang diberi petunjuk ke jalan yang luruslah, yang senantiasa mengajak orang lain untuk bersikap lurus.

Pertanyaan pertama datang dari seorang ibu, yang menanyakan tentang di mana pendidikan Qur’an putra/i pembicara dilakukan.

Pembicara yang akrab disapa dengan panggilan Ibu Wiwi ini mengingatkan agar belajar dari para salafusshalih, dengan melihat sejarah-sejarah masa lalu.

Untuk menjawab pertanyaan ini beliau menekankan bahwa pendidikan anak dua pertiganya berasal dari rumah. Karena di situlah masa-masa penting pertumbuhan anak.

Usia anak 0-7 tahun adalah Golden Age yaitu masa-masa pengasuhan atau peletakan basis. Kita kaitkan hal ini dengan nasihat Rasulullah SAW “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia 7 tahun, kalau tidak mau shalat 7 tahun dipukul.

Meskipun Rasulullah saw tidak mempelajari psikologi namun itu semua diajarkan langsung oleh Allah yang Maha Mengetahui, sumber segala ilmu yang ternyata sekarang ini pernyataan nabi telah dibuktikan kebenarannya oleh para ahli.

Menilik pendidikan anak menurut Imam Ali ada 3 tahapan :
1. 7 Tahun pertama perlakukan ia sebagai raja.
2. 7 Tahun kedua perlakukan ia sebagai tawanan perang.
3. 7 Tahun ketiga perlakukan ia sebagai seorang sahabat.

Jadi masa-masa 7 tahun pertama ada di rumah. Di sinilah anak seperti tanah lempung yang masih bisa dibentuk. Para pakar otak mengatakan, jika pada usia 0-6 tahun anak disia-siakan pertumbuhan otaknya, maka ketahuilah pada usia 7 tahun otak tidak dapat tumbuh lagi.

Maka sebaiknya anak distimulasi, diasuh dan diberikan pendidikan dengan baik pada usia anak 0-6 tahun.

Seorang ahli Psikologi Yahudi dan sekuler yang bernama Sigmund Freud mengungkapkan, “Jika seseorang bermasalah pada usia dewasanya atau lepas dari usia remaja menuju usia dewasanya, maka telusuri 5 tahun pertama dalam kehidupannya.”

Jadi hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah saw. Rasulullah saw mengingatkan tentang pentingnya pendidikan anak pada usia dini, karena terkait dengan ikatan emosional (emotional bonding).

Di usia ini anak-anak masih lekat dengan orang tuanya. Dari sisi perkembangan emosi, Islam sudah mengingatkan bahwa dewasa dalam Islam jika laki-laki dengan bermimpi, pada wanita jika ia sudah haid. Sangatlah mungkin ia bermimpi pada usia 10 atau bahkan 9 tahun. Secara umum 11-13 tahun.

Disayangkan karena faktor tayangan-tayangan yang ada di televisi, HP, pengaruh pornografi mempercepat anak laki-laki kita mengalami ejakulasi dini pada usia 9 tahun.

Jadi perintah Nabi SAW untuk mewajibkan shalat pada usia 7 tahun untuk mengantisipasi adanya perubahan emosional, seksual pada anak ketika memasuki usia remaja. Begitu anak sudah baligh, maka dalam Islam anak ini sudah memiliki kewajiban melaksanakan syariat Islam. Jadi kematangan dalam hal ibadah juga sudah harus disiapkan sejak awal.

Menurut beliau keharusan untuk mengajarkan shalat pada usia 7 tahun memberikan dampak yang positif karena jika pada usia 9 tahun ia sudah mulai mengalami perubahan emosi terhadap lawan jenisnya, ingin menunjukkan eksistensi dirinya, sudah mulai sering mengkhayal maka akan sangat berbahaya sekali bagi orang tua jika melalaikan masa-masa penting anak sebelum masa baligh.

Oleh karena itu sangat diutamakan pendidikan anak dua pertiganya di dalam rumah untuk menyikapi hal-hal yang tidak diinginkan.
Pada usia 7 tahun kedua, orang tua tinggal menerapkan hal-hal yang telah mereka berikan pada masa 7 tahun pertama, dalam bentuk kedispilinan.

Seperti shalat berapa kali sehari, kapan waktu untuk menonton TV, apa saja yang boleh ditonton, dan lain-lain. Jadi kesimpulannya pendidikan anak dua pertiganya ada di rumah, sisanya ada di pesantren, SDIT atau sekolah-sekolah negeri.

Beliau meyakini bahwa kontrol di rumah yang baik akan menjaga anak kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan. Tidak lupa beliau menyampaikan bahwa hal-hal yang telah disampaikan ini dilihat dari aspek normatifnya bukan dari aspek pribadi beliau.

Peserta dari Australia menanyakan usaha-usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk mendapatkan suami yang berkualitas. Ibu yang salah satu putranya ada yang bersekolah di Kairo ini meminta untuk menentukan terlebih dahulu definisi suami yang berkualitas.

Jika melihat standar umum yang disebutkan oleh Nabi SAW adalah ganteng, keturunan yang baik, kaya dan bertakwa. Jika 3 hal yang pertama tidak mudah didapatkan maka pilihlah yang bertakwa karena ia akan menuntun istrinya ke akhirat.

Cara mengetahui seseorang itu bertakwa adalah dilihat dari pergaulan, teman-tamannya, bertanya kepada teman-temannya bagaimana ia berprilaku sehari-harinya, bahkan kalau mungkin bertanya kepada musuhnya apa-apa yang tidak diketahuinya.

Setelah menentukan kriteria dan visi kemudian berdoa kepada Allah meminta yang terbaik untuk kepentingan dakwah, keluarga dan masa depan. Tak lupa beliau mengingatkan agar setiap hari membaca surat Ar -Rahman.

Pertanyaan kemudian bergulir mengenai peluang menjadi ibu yang berkualitas dengan disesuaikan permasalahan kesibukan ibu di luar rumah dari seorang peserta di Den Haag.

Dalam pandangan beliau bahwa tidak boleh dipisahkan antara kegiatan di luar rumah dengan pendidikan anak.

Sebisa mungkin menyatukan keduanya. Karena sesungguhnya ketika seorang ibu sedang aktif di luar rumah, adalah salah satu cara mengajarkan kepada anak-anak bahwa hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain.

Di sisi lain, seorang ibu jika bertemu dengan anaknya secara fisik, harus berkualitas pertemuannya dengan anaknya.

Misalnya kapan anak menyetorkan hafalannya, kapan orang tua mengajarkan mereka memasak di rumah, kapan waktu untuk jalan-jalan bersama keluarga, kapan orang tua belajar dengan anak-anak. Jadi semua kegiatan tidak bisa dipisah-pisahkan.

Anak-anak pun akan memahami jika ibunya aktif di luar rumah adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas diri, sama dengan ketika anak-anak sedang beraktifitas di luar rumah. Karena orangtuanya pun beranggapan bahwa mereka beraktifitas di luar rumah untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Jadi mereka pun tidak merasa ditinggalkan oleh ibunya.
Sebaliknya tidak bisa dijamin pula, jika ibu tidak pergi ke mana-mana ia dapat menjadi ibu yang berkualitas.

Banyak kecelakaan kecil yang terjadi, justru ketika ibu sedang berada di rumah.

Hanya Allah-lah yang mampu menjaga anak-anak kita dengan baik. Kembali beliau mengingatkan bahwa yang sangat berpengaruh di sini adalah faktor kedekatan seorang ibu kepada Allah.

Anak adalah titipan Allah maka jagalah hubungan kita dengan Allah. Maka Allah akan menjaga kita. Kebanyakan kesalahan yang ada adalah mengukur kualitas ibu dengan anak dari frekuensi pertemuannya.

Namun standar ini menjadi lain jika memang seorang ibu, diberikan potensinya oleh Allah untuk beraktifitas di rumah saja. Sederhananya jangan mendzalimi diri sendiri dan orang lain.

Maksudnya di sini adalah dzalim jika ia bisa membawa ember 100 namun ia hanya membawa 10 ember, begitupun sebaliknya jika ia hanya bisa membawa 100 namun ia justru membawa 1000 ember.

Ada tips yang beliau berikan yaitu dengan cara maping waktu dengan merencanakan rentang waktu. Maping waktu berguna untuk melihat sebanyak apa interaksi ibu dengan anak.

Ternyata seluruh kegiatan kita sesungguhnya lebih banyak bersama anak. Kemudian buat rentang waktu yang disesuaikan dengan umur Nabi Muhammad SAW.

Dibagi menjadi 3 rentang waktu yaitu 0-20 tahun yang sesuai dengan rentang umur yang telah diutarakan oleh imam Ali untuk membentuk kepribadian anak,

20-40 tahun di sini lah waktu untuk menimba ilmu atau wawasan sebanyak-banyaknya, 40-60 tahun adalah usia produktif yaitu usia di mana seseorang telah dapat memberikan kontribusi berbakti untuk umat atau kepentingan terbaik dakwah.

Intinya adalah jika ingin memanage suatu kegiatan dilihat dari sejauh mana kita melihat kualitas waktu kita.

Dari kegiatan ibu di luar rumah pertanyaan peserta dari Berlin beralih kepada tahapan-tahapan cara mendidik anak hingga bisa menghafal Qur’an dalam usia yang masih muda.

Ibu pemilik 4 cahaya mata yang telah Hafidz Qur’an ini menjabarkan secara gamblang tentang tahapan-tahapan itu, yaitu tahapan memilih pasangan, kekompakan visi suami istri dalam membentuk keluarga Qur’ani,

kemudian mencarikan lingkungan untuk anak yang juga dekat dengan Al Qur’an, yang terakhir adalah rajin ke toko buku.

Dengan rajin membawa anak-anak ke toko buku maka akan memperluas wawasan anak. Diharapkan dengan banyaknya mereka berinteraksi dengan dunia ilmu maka akan dapat memotivasi mereka dalam menghafal Qur’an.

Ketika ingin memiliki keluarga Qur’ani maka seyogyanya harus mencari pasangan yang memiliki visi yang sama. Tentunya haruslah seseorang yang bertakwa.

Kekompakan di dalam rumah bisa di mulai dari kedua orang tuanya, misalnya dengan senantiasa memutar murottal di rumah, di dalam rumah tidak ada gambar-gambar yang syubhat.

Makanan pun dijaga dari hal-hal yang haram dan syubhat, jika ingin mendengarkan musik, juga musik-musik yang Islami, yang dapat mendekatkan anak kepada Allah.

Beliau mencontohkan salah satu keluarga di Iran yang anaknya menjadi doktor hafidz Qur’an pada usia 7 tahun. Sebelum menikah mereka menargetkan diri menjadi hafidz dan hafidzah.

Ketika sedang menyusui di barengi dengan membaca Al Qur’an, ketika akan berhubungan atau membaca Qur’an, berwudhu terlebih dahulu, di dalam rumah mereka tidak ada kalimat yang keluar kecuali kalimat Qur’an.

Harus ada waktu-waktu yang tidak boleh diganggu semasa seluruh keluarga sedang berinteraksi dengan Al Qur’an. Harus dibuat sistem semacam itu.
Setelah itu carikan anak-anak lingkungan yang senantiasa dekat dengan Al-Qur’an.

Buat program liburan anak-anak dengan program tahfidz Qur’an. Carikan teman atau kalau bisa sekolah yang dapat menunjang kemampuannya untuk menghafal Qur’an.

Jika merasa bahwa dengan memasukkan anak-anak ke pesantren, justru akan menjauhkan diri dengan anak-anak, maka mengapa tidak dilakukan di rumah. Hal ini justru akan memperbanyak pahala bagi kedua orang tuanya.

Namun beliau menyayangkan bahwa di dalam masyarakat Islam Indonesia, Qur’an belum menjadi bacaan yang sama asyiknya dengan novel. Perbedaannya di sini adalah karena Qur’an merupakan kitab suci maka godaannya menjadi banyak sekali.

Tentang pembagian rasa sayang ternyata juga menjadi pertanyaan sahabat Kharisma dari London. Bagaimana pembicara membagi rasa sayangnya kepada seluruh anak-anak dengan proporsional tanpa memilah-milahnya.

Pertanyaan ini langsung dikomentari oleh ibu 11 anak, bahwa di dunia ini tidak ada yang adil dan proporsional. Keadilan dan proporsionalitas hanya milik Allah.

Beliau menekankan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang sedang dalam proses menjadi mahluk yang ingin dimuliakan oleh Allah di hari kiamat.

Intinya di sini adalah bahwa orang tua seharusnya berada di jalan yang lurus, memiliki sifat istiqomah dan memiliki kesadaran untuk kembali ke jalan yang lurus.

Mengenai fenomena tentang banyaknya ibu rumah tangga di Indonesia yang harus bekerja karena tuntutan keluarga hingga pengasuhan anak kurang mendapat perhatian dengan baik menjadi pekerjaan besar bagi seluruh bangsa Indonesia.

Berbicara masalah kualitas ibu, berarti membicarakan kualitas ibu tidak hanya sebagai suatu individu namun juga sebuah institusi yang tentunya tidak dapat dipisahkan dari kebijakan politik.

Pemberdayaan perempuan secara menyeluruh adalah pekerjaan yang tidak mudah namun tetap harus dimulai dari sekarang. Caranya dengan memberikan contoh keteladanan kepada masyarakat dan lingkungan.

Hal ini termasuk memberikan keteladanan kepada anak-anak. Insya Allah yang lain nantinya akan mengikuti. Kegiatan para aktivis dakwah seharusnya seiring sejalan dengan aktivitasnya di dalam rumah.

Keduanya harus sama berkualitasnya. Kaum ibu harus dapat memanage waktu dengan baik. Hal ini harus dimulai dari diri sendiri. Beliau termasuk yang meyakini bahwa 20-30 tahun ke depan akan ada perubahan.

Meskipun mungkin saja tidak secara langsung mengalaminya namun anak cucu nanti yang akan mengalaminya. Apa yang saat ini dipelajari hendaknya menjadi pemicu, dapat memberikan prestasi. Sehingga ketika kelak mendapatkan amanah, baik di suatu perusahaan ataupun di Eksekutif, atau bahkan di Legislatif.

Kelebihannya adalah jika kaum ibu memiliki amanah dan memiliki kekuatan, maka kaum ibu dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang kelak akan dapat memberdayakan kaum perempuan dan keluarganya. Kaum Feminis memperjuangkan nilai-nilai yang sama dengan kita umat Islam, hanya saja beda tujuan, niat dan caranya saja.

Pembicara baru saja menghadiri acara organisasi feminis sedunia yang usia pergerakannya sudah 120 tahun, yang memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, namun tetap saja tidak terlalu ada perubahan yang signifikan terhadap perlakuan yang di terima perempuan.

Menurut hemat beliau justru kaum perempuan tidak dapat berjuang hanya di depan kaumnya saja, kaum perempuan seharusnya bergandengan tangan dengan kaum laki-laki.

Jika ada seorang laki-laki yang menjadi pejabat diharapkan kelak kebijakan-kabijakan yang keluar darinya akan berpihak pada masalah keluarga dan pemberdayan kaum perempuan.

Mengenai perencanaan keluarga (family planning) pun tak luput menjadi pertanyan peserta dari Inggris. Hal ini harus dipahami oleh semua orang bahwa membatasi jumlah anak bukanlah nilai-nilai Islam.

Prinsipnya dalam Islam adalah mengatur usia anak untuk memberikan pendidikan yang berkualitas. Di dalam Islam pun tidak ada aturan untuk memiliki atau bahkan melarang mempunyai anak banyak.

Hanya saja memiliki anak banyak juga harus disertai rasa tanggung jawab untuk memelihara dan mendidik mereka.

Yang tidak boleh adalah membatasi jumlah anak karena takut akan kemiskinan, takut tidak mampu mendidik, padahal ketakutan-ketakutan itu berasal dari opini publik yang telah berhasil mempengaruhi cara berpikir masyarakat pada umumnya.

Bahwa anak kelak hanya akan menjadi beban bagi orang tuanya. Kemudian visi pasangan suami istri dalam menentukan jumlah anak juga harus sejalan. Hal itu tidak bisa diserahkan begitu saja kepada istrinya. Seolah-olah pendidikan anak adalah beban bagi ibunya saja.

Padahal yang lebih harus bertanggung jawab di hadapan Allah adalah ayahnya. Ke mana keluarga akan ia bawa, dibawa ke neraka atau ke syurga.

Jika menganggap anak adalah suatu beban, maka seterusnya ia akan menjadi beban yang berat bagi kedua orang tuanya. Allah memberikan kecendrungan sesuai dengan kecendrungan kita kepada Allah. Sesungguhnya anak sudah memiliki hak hidupnya sebelum ia lahir.

Orangtua tidak akan tahu anak kelak akan menjadi apa. Karena semua itu adalah titipan dari Allah maka orangtua harus senantiasa memelihara dan mendidik anak-anak sebaik mungkin.

Yang terakhir dari family planning ini adalah bertumpu pada kualitas pendidikan untuk anaknya. Yang harus diingat bagi setiap orang tua adalah Allah tidak pernah menyia-nyiakan titipan-Nya.

Tentang penerapan konsep “perlakukan anak 7 tahun pertama seperti raja” dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bahasan dalam sesi tanya jawab.

Menurut beliau, masa-masa anak usia 0-7 tahun adalah masa-masa di mana anak mudah dibentuk dan juga masa-masa di mana anak menampakkan fitrah aslinya sebagai seorang manusia.

Di sini orang tua melihat sendiri bagaimana seorang manusia itu sesungguhnya. Ia ingin disayang, dihargai, disanjung, diakui dan diperlakukan secara sama.

Perlakuan anak di masa-masa ini adalah cerminan bagaimana orang tuanya memperlakukannya. Kemudian perlakukan anak secara tegas bukan dengan kekerasan. Jangan mudah menyalahkan anak, memvonis mereka tanpa mendengarkan isi hati mereka.

Merujuk dari bagaimana Rasulullah memperlakukan sahabat terkecilnya yaitu Anas bin Malik saat mereka sedang bersama-sama di dalam masjid. Sehabis minum, Rasulullah SAW memberikan bekas minuman beliau kepadanya bukan kepada sahabat-sahabatnya yang lain.

Itu karena beliau tahu betul bagaimana memperlakukan anak dengan cara yang baik. Anas bin Malik ini adalah seseorang yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits beliau.

Juga saat Rasulullah SAW melihat ada seorang ibu yang sedang menggendong bayinya yang berusia di bawah 3 tahun. Beliau pangku bayi itu dan takkala bayi tersebut berada di pangkuannya, kemudian ia pipis.

Serta merta si ibu memarahi bayi tersebut dengan maksud merasa bersalah, karena telah memipisi Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW mengingatkan si ibu agar tidak memarahi bayi itu yang dapat melukai jiwanya seumur hidupnya, karena najis yang ada di pakaian Rasulullah akan dapat dengan mudah dibersihkan dengan air, hanya dalam waktu 1 detik saja najis yang ada di pakaiannya pun hilang.

Intinya perlakukan anak-anak dengan baik dan penuh kasih sayang pada 7 tahun pertama kehidupannya. Agar ia merasa nyaman dulu dengan kedua orangtuanya, sehingga pada 7 tahun kedua, ia sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk baginya.

Misalnya pada saat orang tua tidak berada di rumah, ia sudah mampu mengatur dirinya saat menonton tayangan televisi.

Jika si anak sudah merasa nyaman dengan orang tuanya, perkembangan otaknya pun sudah optimal, maka insya Allah pada 7 tahun ketiganya, kelak ia akan menjadi sahabat terbaik orangtua.

Misalnya saja ia bercerita saat ia mulai senang dengan lawan jenis, tentang mimpi pertamanya pun ia ceritakan kepada ibunya, juga jika ia ada masalah di mana-mana yang pertama dicarinya adalah orang tuanya bukan orang lain.
Dituliskan kembali oleh: Nurassajati Purnama Allam

Demikianlah yang dapat aku haturkan semoga saja Naskah ini menjadikan kemanfaatan bagi kita semua Aamiin Wabillahi Taufiq Walhidayyah Wassalamu Allaikum Warahmatulahi Wabarokatuh.

Bok:* TIJAN=Titian-Jannah.*