Selasa, 10 Januari 2012

NASIHAT PENUTUP TAHUN


Penulis: Dr Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Bismillahir Rahmanir Rahim

Assalmu Allaikum Wr.Wb.

Saudaraku...
Berkata sebagian ahli hikmah, “Bagaimana bisa bergembira seseorang yang harinya membinasakan bulannya dan bulannya membinasakan tahunnya dan tahunnya membinasakan umurnya.

Bagaimana bisa bergembira seseorang yang umurnya
menggiringnya kepada ajalnya dan kehidupannya menggiringnya kepada kematiannya.”

Segala puji bagi Allah yang telah menetapkan sifat fana bagi dunia ini dan mengabarkan bahwa
akhirat adalah negeri abadi, dengan kematian dia membinasakan usia yang panjang.

Saya memuji-Nya atas segenap nikmat-Nya yang tercurah dan saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah semata, Dzat Yang Menundukkan segala sesuatu.

Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Dia telah memperingatkan dari condong kepada negeri ini, shalawat serta salam semoga tercurah kepada beliau dan keluarganya beserta para shahabatnya yang taat dan suci sepanjang siang dan malam.

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan pikirkanlah dunia kalian dan betapa cepat dia berlalu. Bersiap-siaplah menyambut akhirat dan kengeriannya. Setiap bulan yang menghampiri seseorang semakin menyeret dia mendekati ajal dan akhiratnya.

Sebaik-baiknya orang yang berumur panjang ialah yang baik amalannya,
dan sejelek-jeleknya orang ialah yang berumur panjang tapi buruk amalannya.

Tidak ada keberuntungan bagi seseorang selain orang yang diberi pahala atas segala kebaikan amal serta ketaatannya dan tiada yang paling rugi bagi seseorang selain yang diganjar dengan dosa atas kejelekan dan kemaksiatannya,

Alangkah dekatnya antara kehidupan dengan kematian. sedangkan segala apa yang akan datang pasti kan datang.

Dan kalian pasti akan dikembalikan sekarang ataukah nanti yang pasti akan meninggalkan dunia yang jelas dan pasti bahwa setiap manusia tentunya akanmati dan usia kalian pun semakin berkurang dan akan menyambut tahun yang kalian tidak tahu apakah kalian akan menyelesaikannya ataukah tidak?!

Maka hisablah diri-diri kalian apa yang telah kita perbuat pada tahun yang lalu?

Apabila kebaikan, bersyukurlah kepada Allah dan sambunglah kebaikan itu dengan kebaikan.

Sedangkan apabila buruk, bertaubatlah kepada Allah darinya dan isi sisa-sisa usia kita (dengan kebaikan) sebelum luput darinya.

Berkata Maimun bin Mihran, “Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi orang yang bertaubat atau seseorang yang beramal shalih mencari derajat yang tinggi.

” Yakni orang yang bertaubat, kesalahan-kesalahannya gugur disebabkan taubatnya dan orang yang beramal shalih bersungguh- sungguh dalam menggapai derajat yang tinggi dan selain mereka merugi. Sebagaimana
firman Allah Ta’ala,

“Demi masa,
sesungguhnya manusia benar-benar berada di dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling nasihat menasihati di dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati di dalam kesabaran.”

Pada ayat ini
Allah bersumpah dengan waktu yang merupakan zaman dimana manusia tinggal, bahwa setiap
manusia berada di dalam kerugian.

Kecuali mereka yang memiliki empat sifat yang disebutkan;
Iman, amal shalih, saling nasihat-menasihati di dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati di
dalam kesabaran di atas kebenaran.

Surat yang agung ini merupakan tolak ukur amal perbuatan, dengannya seorang mukmin menimbang dirinya sehingga jelaslah baginya apakah dia termasuk golongan yang beruntung atau merugi.

Oleh karena itu Al Imam Asy-Syafi’i berkata, “Seandainya setiap orang mentadabburi surat ini pastilah cukup baginya.”

Dan sebagian ulama berkata, “Dahulu orang-orang yang shiddiq merasa malu kepada Allah apabila
di hari itu (kualitas) amalannya seperti hari-hari kemarin.”

Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak rela hari berganti kecuali amalan kebajikannya bertambah.

Dan mereka malu apabila tidak ada kebajikan yang bertambah dan mereka menganggap hal itu sebagai kerugian.

Maka dengan bertambah usia seorang mukmin bertambah pula kebaikannya.
Barangsiapa kondisinya seperti ini kehidupan lebih baik darinya daripada kematian.

Dan pada do’a
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

“Ya Allah jadikanlah kehidupan sebagai penambah kebaikan bagiku dan (jadikanlah) kematian sebagai penghenti kejelekan dariku”. HR Muslim.

Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Rhadiyallahu 'Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

“Tidaklah seseorang wafat kecuali dia menyesal, apabila dia orang yang baik dia menyesal kenapa tidak lebih baik dan apabila dia orang jahat dia menyesal kenapa dia tidak bertaubat.”

Dan ditampakkan orang-orang yang telah wafat di dalam tidur, ia berkata, “Tidak ada pada kami yang lebih banyak daripada penyesalan dan tidak ada pada kalian yang lebih banyak daripada kelalaian.

” Dan sebagian mereka melihat di dalam tidurnya, ia berkata, “Kami menyesal atas suatu yang besar, kami mengetahui tapi kami tidak berbuat sedangkan kalian berbuat tapi tidak mengetahui.

Sungguh demi Allah sekali tasbih atau dua kali atau satu rakaat atau dua rakaat yang terdapat
di lembaran (amalan kami) lebih kami cintai daripada dunia dan seisinya.”

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya setiap amalan tergantung penutupannya.

Barangsiapa berbuat baik pada sisa umurnya akan diampuni kesalahannya yang telah lalu, dan barangsiapa berbuat buruk pada sisa umurnya akan dihukum atas kesalahan yang telah lalu dan kesalahan di sisa umurnya.

Orang-orang yang telah wafat menyesal atas apa yang telah luput dari berbagai kesenangan dunia yang fana. Apa yang telah berlalu dari dunia walaupun pada masa yang lampau sungguh telah hilang kelezatannya dan tinggal sisa-sisanya dan apabila kematian telah datang seolah-olah itu semua tidak ada.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun- tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya. (QS. Asy-Syuara’:
205-207)

Dan pada Shahih Muslim dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Allah mengangkat
udzur dari hambanya yang Dia panjangkan umurnya sampai enam puluh tahun.”

Dan di dalam Sunan At-Tirmidzi, “Usia ummatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit dari mereka yang melewati itu.”

Wahai yang bergembira dengan bertambahnya usia, sesungguhnya engkau bergembira atas berkurangnya usiamu.

Berkata sebagian ahli hikmah, “Bagaimana bisa bergembira seseorang yang harinya membinasakan bulannya dan bulannya membinasakan tahunnya dan tahunnya membinasakan umurnya.

Bagaimana bisa bergembira seseorang yang umurnya menggiringnya kepada ajalnya dan kehidupannya menggiringnya kepada kematiannya.”

Akan didatangkan di hari kiamat seseorang yang paling panjang umurnya di dunia dari golongan kelas atas yang menelantarkan ketaatan kepada Allah dan melakukan kemaksiatan- kemaksiatan, kemudian dicelup di neraka sekali celup, kemudian dikatakan padanya,

“Apa engkau pernah merasakan kesenangan di dunia sekali saja?
Apa pernah engkau melalui kegembiraan di dunia sebentar saja?
Maka ia berkata,“Sungguh tidak pernah wahai Rabb! Lupa segala macam kenikmatan dunia pada awal dirasakan padanya azab.

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang diberikan pada mereka kesempatan hidup kemudian mereka telantarkan dalam kelalaian dan kesenangan.

Dan diberikan pada mereka harta kemudian mereka hambur-hamburkan di jalan syahwat- syahwat yang haram.

Ketika mereka merasakan balasan mereka yang pertama, mereka lupa setiap apa yang pernah mereka miliki di dunia dari waktu dan harta dan semua apa yang pernah mereka rasakan dari
kelezatan dan syahwat.

Merekalah orang-orang yang memusatkan akal-akalnya dan aktifitasnya serta perhatiannya untuk dunia mereka dan mengikuti syahwat perut dan kemaluan mereka dan meninggalkan kewajiban terhadap Rabb mereka dan melupakan akhirat mereka.

Hingga datang kepada mereka kematian sehingga mereka keluar dari dunia dalam keadaan tercela, merugi dari kebaikan- kebaikan, sehingga bersatulah pada mereka sakratulmaut dan ruginya kematian.

Maka mereka pun menyesal di saat penyesalan tidak lagi bermanfaat, “dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.

Dia mengatakan, "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." Maka, pada hari itu tiada seorangpun menyiksa seperti siksa-Nya, (QS. Al Fajr: 25)

Maka pikirkanlah wahai manusia sekalian! Dengan habisnya tahun habis pula umur seseorang dan
pikirkanlah, dengan berpindahnya tahun perpindahan ke negeri akhirat.

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu.

Dan barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS. Ghafir: 39-40)

Sumber :kiriman dari Sahabatku.

SIFAT ORANG MUKMIN DAN SIFAT IBADURRAHMAN;



Bismillahir Rahmanir Rahim 

Assalamu Allaikum Wr.Wb.

Saudaraku...

Menjadi hamba pilihan adalah dambaan setiap orang.
Disamping beriman dan berilmu, ia juga memiliki akhlak yang baik.

Bila kita memahami dan merenungi firman Allah subhanahu wa Ta’ala, sifat-sifat ‘Ibadurrahman ini telah tercantum di dalam Al Qur’an surat Al Furqan: 63 – 74 yang sering kita baca. Kemudian apa saja dan bagaimana sifat – sifat hamba-hamba Allah yang beriman yang dimaksud pada ayat tersebut? Berikut pembahasannya :

1. Sifat Pertama : Tawadhu’. Sebagaimana firman Allah subahanu wa Ta’ala : “…(ialah) orang -orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati….” (Al-Furqan: 63).

Imam Ibnu Katsir rahimahulllah menafsirkan ayat ini bahwa inilah sifat-sifat hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang beriman, ”Orang-orang yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati (tawadhu’), berjalan di muka bumi dengan ramah dan lemah lembut, tidak berpura-pura dalam gaya berjalannya dan tidak dengan kesombongan, tidak berjalan dengan gaya yang dibuat-buat serta tidak lemah.

Dan yang dimaksud bukanlah mereka berjalan seperti orang yang sakit, dalam keadaan lemah dan dalam rangka riya’ karena Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri apabila berjalan maka seakan -akan beliau adalah air yang mengalir dari tempat yang tinggi dan seolah-olah bumi dilipat untuk beliau.”.

Al haun adalah gaya berjalan seseorang yang sesuai dengan karakter aslinya, tidak berpura-pura dan tidak pula sombong, sedangkan gaya berjalan yang sombong dibenci, kecuali dalam perang di jalan Allah.

Yang dimaksud dengan kata “ rendah hati” disini adalah ketenangan dan kewibawaan Sebagaimana dalam sebuah hadist, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila shalat telah ditegakkan ( iqamat ), maka janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa,

Datangilah dengan berjalan biasa dan wajib bagi kalian untuk tenang sehingga rakaat berapapun yang kalian dapat, langsunglah kalian shalat ( dibelakang imam), dan berapa rakaat pun yang tertinggal dari kalian maka sempurnakanlah…” (Muttafaq’alaih).

Sehingga maksud “orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” yaitu bukanlah mereka yang berjalan dengan menundukkan kepalanya, sempoyongan, sebagaimana yang difahami sebagian orang yang ingin menampakkan ketakwaan dan kebaikannya.

Ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu melihat seorang pemuda yang berjalan dengan lambat, ia bertanya kepadanya: ”Apakah kamu sedang sakit?“ Ia menjawab, “ Tidak.” Beliaupun memerintahkan pemuda itu untuk berjalan dengan cepat dan penuh kekuatan.


2. Sifat Kedua : Membalas Kejelekan dengan Kebaikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, ”….dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata ( yang mengandung ) keselamatan.” (Al Furqan: 63).

Jika orang-orang bodoh mengumpat mereka dengan ucapan yang buruk, mereka tidak membalasnya dengan ucapan yang buruk pula, tetapi memaafkan, membiarkan, dan tidak membalas kecuali dengan perkataan yang baik.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membalas perbuatan bodoh (jahil) mereka melainkan dengan kesabaran dan lemah lembut, “Qaalu Salaaman”: ada beberapa pendapat dalam memaknai kata “salaaman” yaitu : (a).

Tidak bertindak bodoh kepada seorang pun dan jika ada yang bertindak bodoh kepada mereka, mereka akan berlemah lembut kepadanya, (b) Mereka berkata dengan perkataan yang benar tidak menyakiti dan tidak mengandung dosa.

Dan ini merupakan pendapat imam Mujahid, yang menjelaskan tentang makna dari kata “salaaman” yaitu kebenaran, yang dimaksud adalah mereka (‘Ibadurrahman), (c). Ada yang berpendapat,

”Jika orang-orang tolol mengarahkan kepada mereka ucapan yang buruk dan perkataan yang keji, mereka mengatakan kepada orng-orang tersebut, ”Salaaman” yaitu, ”Uacapan keselamatan dari kalian,” itu merupakan ucapan salam perpisahan, bukan penghormatan.”

Maka sifat ‘Ibadurrahman adalah tidak membalas perkataan yang buruk dengan perkataan yang serupa. Dan ketika orang-orang dungu melontarkan kalimat yang rendah, ucapan yang buruk dan ungkapan yang keji lagi jelek, merekapun berpaling dan berkata: semoga keselamatan menimpa kalian, kami tidak mengharapkan orang-orang yang bodoh.

Imam Ahmad meriwayatkan dari An-Nu’man bin Muqrin Al Muzani, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ada seseorang mencaci orang yang ada di dekat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian orang yang dicaci itu berkata: bagimu keselamatan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Sesungguhnya seorang malaikat yang ada diantara kalian berdua, setiap kali orang itu mencacimu, dia akan membelamu, ia berkata kepada pencaci itu, Bahkan kamu dan kamu yang lebih pantas mendapatkan cacian tersebut, dan apabila kamu mengatakan kepadanya, ’Bagimu keselamatan’, malaikat akan berkata, Tidaklah untuknya, tetapi untuk kamu, kamu lebih pantas mendapatkannya.” (HR. Ahmad)


3. Sifat Ketiga : Senantiasa Tahajjud di Keheningan Malam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya, ”Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al Furqan: 64).

Sifat ketiga untuk menjadi hamba yang ‘Ibadurrahman yaitu senantiasa tahajjud dikeheningan malam di saat kebanyakan manusia sedang tidur atau menghabiskan malam untuk waktu istirahat mereka. Pada kondisi inilah disaat hati sedang tenang karena jauh dari berbagai kesibukan urusan dunia.

Mereka adalah orang yang menyedikitkan tidurnya, menjauhkan diri dari hal-hal yang melalaikan jiwa mereka di malam hari. Rasa takut dan harapan mereka terhadap Rabb mereka telah mampu menjadikan mereka sebagai manusia-manusia penghidup malam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rizki yang kami berikan.” (As-Sajdah: 16).

Juga dalam surat Ad Dzaariyat ayat 17-18, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam, mereka memohon ampun.”

Pengkhususan waktu malam dalam ayat di atas dikarenakan ibadah dalam waktu malam lebih bisa menghadirkan kekusyukan dan lebih menjauhkan dari riya’, rasa ingin dilihat, diperhatikan dan sebagainya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

”Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al Muzammil: 6 ). Waktu malam merupakan waktu yang tepat untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu Berfirman: ‘Barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya.’” ( HR. Al Bukhari)

 
4. Sifat Keempat: Ketakutan Mereka dari Adzab Neraka Jahannam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkan adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.’ Sesungguhnya Jahannam itu seburuk – buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (Al Furqan : 65-66).

Sifat hamba yang ‘Ibadurrahman adalah mereka takut terhadap adzab neraka Jahannam. Secara umum makna ayat ini yaitu menjadikan mereka beribadah kepada Rabb mereka, karena  mereka takut terhadap siksa-siksa-Nya,

sesungguhnya tidak ada orang pun yang merasa aman dari adzab Rabb mereka, dari kedatangannya, sehingga mereka senantiasa mengharapkan rahmat dari Allah, disebabkan karena ketakutan, dan kekhawatiran terhadap adzab serta siksaan-Nya.

Begitulah keadaan orang-orang yang beriman kepada Allah , mereka tidak pernah putus asa memohon kepada Allah , dan tidak pernah merasa tenang akan siksa dari-Nya. (Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al- Ausath).

Kedahsyatan adzab neraka Jahannam sudah banyak digambarkan melalui ayat-ayat Al Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam menerangkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dihadapannya ada Jahannam dan dia diberi minuman dengan air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada adzab yang berat.” (Ibrahim: 16-17).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Air itu akan didekatkan ke mulutnya (penghuni neraka), namun ia menolak, maka air itu memanggang wajahnya dan tumpah ke kulit kepadanya.

 Sehingga jika ia meminumnya, maka iapun memotong-motong usus-ususnya lalu keluar dari duburnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Dan mereka diberi minum dengan air hamim, sehingga air tersebut memotong-motong usus-ususnya,’ (Muhammad: 15) (dan berfirman),

 Dan katakanlah, ’…dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.’” (Al Kahfi: 2 )

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Al Muhli berarti air yang kasar seperti endapan minyak.
Air itu hitam, bau, kasar, dan panas. Karena itu Allah berfirman, ”Yang menghanguskan muka” karena demikian panasnya.

 Jika orang kafir akan meminumnya lalu dia mendekatkan ke wajahnya, maka hanguslah mukanya dan berjatuhan kulit wajahnya.

Dan masih banyak kengerian-kengerian siksa neraka Jahannam yang akan diberikan kepada calon penghuninya.


5. Sifat Kelima: Tidak Berlebihan dalam Membelanjakan Harta. Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al Furqan: 67).

Maknanya adalah sesungguhnya diantara sifat mereka bahwa mereka senantiasa bersikap pertengahan dalam infaq mereka sehingga mereka tidak israf dengan melampaui batas yang tidak disyari’atkan Allah dan tidak pula mereka bakhil, lebih-lebih taqtir dan menyempitkan hingga di bawah batasan.

 Sesungguhnya mereka adil dan tengah-tengah dalam melakukannya karena mengetahui bahwa sebaik-baik urusan adalah pertengahannya, sehingga di dalam kehidupan mereka, mereka adalah tauladan yang dapat ditiru di dalam sikap ekonomis dan pertengahan serta seimbang.

Jadi kedua sifat yang harus dihindari yaitu israf dan taqtir. Penyianyiaan harta yang bukan pada tempatnya merupakan bentuk Israf sedangkan taqtir adalah pengumpulan harta untuk dirinya sendiri.

Maka hamba yang ‘Ibadurrahman dia adalah pertengahan dan seimbang dalam menggunakan hartanya. Banyak sekali dalil-dalil yang membahas tentang masalah harta ini, baik itu berupa pahala atau balasan kebaikan ataupun ancaman bagi orang yang menyia-nyiakannya.

Sebagaimana dalam sebuah hadist, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tidak ada satuhari pun yang didalamnya para hamba berpagi hari kecuali akan turun dua malaikat, kemudian satunya berkata:

Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang berinfak, sedangkan yang satunya berdoa, ’Ya Allah berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (kikir).’” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Wahai anak Adam, kamu menginfakan karunia merupakan kebaikan bagimu, dan jika kamu menahannya, maka itu merupakan kejelekan bagimu, tidak ada celaan rizki yang mencukupi, mulailah dari anggota keluarga yang kamu tanggung.

 Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (Dikeluarkan Imam Ahmad dalam Al Musnad dan Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir)

 
6. Sifat Keenam: Tidak Beribadah kepada ilah yang lain beserta Allah. Sebagaimana dalam surat Al Furqan ayat 68, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Dan orang-orang yang tidak beribadah kepada ilah yang lain beserta Allah…” (Al Furqan: 68).

Maknanya adalah yaitu mereka tidak menjadikan sekutu bagi Allah, baik dalam ibadah maupun akidah mereka. Mereka mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah semata. Tidak boleh beribadah atau bersumpah yang ditujukan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala karena ini termasuk perbuatan syirik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Daud, dan dishahihkan oleh Hakim dan Ibnu Hibban)

Syirik (menyekutukan Allah) merupakan dosa yang terbesar. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

 Kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, ”Perhatikanlah, aku akan memberitahu kamu sekalian dosa yang terbesar (beliau mengulanginya tiga kali):

Menyekutukan Allah, berani kepada orangtua, dan kesaksian yang dusta (atau: ucapan dusta),” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semula berdiri sambil bersandar kemudian duduk. Beliau selalu mengulang-ulang sabda itu sehingga kami mengatakan, ”Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari: 2654).

Terkadang seseorang tidak sadar atau tidak merasa bahwa dia melakukan perbuatan syirik ini. Ketika seseorang tidak ikhlas dalam beribadah dan bermu’amalah atau semata-mata untuk mencari keuntungan dirinya sendiri atau untuk hal-hal yang bersifat keduniaan

sehingga ada bagian untuk Allah dari amal dan usahanya, dan ada pula bagian untuk kepentingan hawa nafsunya, maupun kepada selain-Nya maka hal seperti ini yang kebanyakan terjadi pada umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

”Dan syirik yang akan menimpa umat ini lebih tersembunyi (tidak terlihat) dari rayapan semut,” Para shahabat bertanya, ”Lalu bagaimana kami bisa selamat dari syirik tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

 ”Ucapkanlah: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dan aku mengetahuinya, serta aku memohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.” (Riwayat Ibnu Hibban dalam shahihnya)

Perbuatan Riya’ termasuk perbuatan syirik (syirik kecil). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya ilah kamu itu adalah ilah yang Esa,’

 Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya.” (Al Kahfi: 110)

 
7. Sifat Ketujuh: Tidak Membunuh. Firman Allah dalam surat Al Furqan, ” …..dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya kecuali dengan (alasa ) yang benar…” (Al Furqan: 68).

Makna dari ayat di atas adalah bahwa mereka tidak akan membunuh satu jiwapun yang telah diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala karena sebab apapun kecuali dengan sebab kebenaran yang menghilangkan keterlindungannya dan kehormatannya seperti kufur setelah dia beriman, berzina setelah dia menikah, membunuh manusia tanpa dosa yang mengharuskannya dibunuh.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Pada hari kiamat kelak, orang yang dibunuh akan datang dengan orang pembunuhnya, ubun-ubun dan kepala orang yang dibunuh ada di tangan pembunuh dan urat lehernya mengalirkan darah,

kemudian orang yang dibunuh berkata, ‘Wahai Rabbku, tanyakanlah kepada orang ini (pembunuh) kenapa dia membunuhku,’

(Lalu orang-orang menyebutkan tentang taubat kepada Ibnu Abbas), maka beliaupun membaca ayat: ‘Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah neraka Jahannam dan ia kekal didalamnya…’ (An Nisa : 93 ),

kemudian ia berkata, ’Ayat tidak pernah di nasakh (dihapus) dan tidak pula diganti, lalu bagaimana ia akan bertaubat.’” (Dikeluarkan oleh Tirmidzi dan ia berkata : Hadist ini Hasan)

 
8. Sifat Kedelapan: Tidak Berzina. Sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”….dan tidak berzina….” ( Al Furqan: 68 ). Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa ia berkata: “Atsaaman yaitu sebuah telaga di Jahannam.”

 Ikrimah berkata: (يلْÙ‚ أثَامًا) yaitu telaga-telaga di Neraka Jahannam tempat mengadzab para pezina. Demikian yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dan Mujahid.

Imam Ahmad berkata, ”Saya tidak mengetahui dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa kecuali berzina, dan Allah telah menguatkan keharamannya dengan firman-Nya,

 ”Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah ( membunuhnya) kecuali dengan (alasan )yang benar, dan tidak berzina..” (Al Furqan: 68)

Dalam surat Al Isra Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman, ”Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yg buruk.”(QS. Al Isra:32 ).

Abu Bakar bin Abid Dunya meriwayatkan dari Al-Haitsam bin Malik at- Tha’i dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

”Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik dalam pandangan Allah selain meletakkan air mani dalam rahim wanita yang tidak halal untuk digauli.“. Luqman mengatakan kepada anaknya, ”Hai anakku, janganlah kamu berzina. Perzinaan itu mulanya diliputi rasa khawatir dan akhirnya diliputi penyesalan.”

Seperti yang telah terjadi pada zaman sekarang ini dimana tempat-tempat perzinaan sudah merajalela. Tidak mengenal siang maupun malam, hanya digunakan untuk berbuat maksiat. Bahkan perzinaan tidak terjadi pada kalangan dewasa saja tetapi juga di kalangan pelajar. SMP. SMA, Mahasiswa dan sebagai buktinya sudah cukup banyak.

Padahal sudah banyak peringatan-peringatan dan ancaman dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya tentang perbuatan ini. Karena banyak sekali kerusakan atau kerugian-kerugian yang akan ditanggung tidak hanya di dunia saja tetapi juga di akherat kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

 Imam Ar Razi telah menyampaikan kerusakan-kerusakan yang diakibatkan perbuatan zina.
Dan berikut paparan ringkas kerusakan -kerusakan yang diakibatkan perbuatan tersebut :

Pertama, tercampurnya dan kesamaran di dalam keturunan, karena seseorang tidak mengetahui bahwa anak yang dilahirkan perempuan yang berzina apakah itu berasal darinya atau dari orang lain.

Kedua, jika tidak ada sebab syar’i yang karenanya seorang laki-laki memiliki kekhususan atas seorang perempuan, maka tidak ada cara untuk mencapai kekhususan itu kecuali saling mengalahkan atau membunuh

Ketiga, sesungguhnya apabila seorang perempuan sudah melakukan zina, maka setiap tabiat yang masih lurus akan dianggapnya kotor, dan ketika itu ia tidak akan mendapatkan kasih sayang dan kecintaan serta ketenangan dan dualismenya tidak akan sempurna.

Keempat, kapan saja pintu zina dibuka, maka ketika itu tidak aka nada kekhususan seorang laki-laki atas seorang perempuan dan saat itu pula tidak ada lagi perbedaan antara manusia serta binatang dalam persoalan itu.

Kelima, seorang wanita bukan hanya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan syahwat, akan tetapi perempuan merupakan partner bagi laki-laki dalam membina rumah tangga dan menyiapkan segala keperluannya.

Dan kepentingan itu tidak aka sempurna kecuali apabila kepentingan seorang perempuan sudah dibatasi pada seorang laki-laki saja, memutuskan harapan dari semua laki-laki , dan semua itu tidak akan tercapai kecuali dengan diharamkannya zina, maka akal sehat akan mengatakan bahwa zina adalah kejahatan.

 
9. Sifat Kesembilan: Tidak Bersumpah Palsu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Dan orang – orang yang tidak memberikan persaksian palsu…” (Al Furqan: 72). Ini pun termasuk sifat-sifat ‘Ibadurrahman yaitu mereka tidak menyaksikan az-zuur.

Tentang az-zuur ini ada beberapa pendapat : (a) Ada yang mengatakan az-zuur yaitu syirik dan menyembah berhala, (b) Ada yang berpendapat az-zuur adalah dusta, fasik, kufur, permainan dan kebathilan, (c) Pendapat lain yang dimaksud dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala adalah tidak memberikan persaksian palsu, yaitu berdusta secara sengaja kepada orang lain.

Sebagaimana tercantum di dalam ash-Shahihain, bahwa Abu Bakrah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Maukah kuberitahukan kalian tentang dosa besar yang paling besar?” (beliau mengucapkan 3 kali). Kami pun menjawab: ‘Tentu ya Rasulullah.’ Beliau bersabda:

‘Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.’ Beliau ( dalam keadaan) bersandar, lalu duduk tegak, dan bersabda: ’Hati hatilah dengan persaksian palsu, hati-hatilah persaksian palsu. ’Beliau terus mengulang-ulangnya hingga kami berkata: ’Seandainya (semoga) beliau diam (tidak diulang-ulang lagi).’

Imam Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa pendapat yang lebih jelas berdasarkan rangkaian kalimat tersebut adalah bahwa yang dimaksud dengan tidak menyaksikan ¬az-zuur adalah tidak menghadirinya.


10. Sifat Kesepuluh: Tidak melakukan perbuatan yang tidak berguna. Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”…dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat , mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Al Furqan: 72).

Mereka tidak mendatangi tempat-tempat keburukan. Jika mereka melewatinya secara kebetulan tanpa dikotori sedikitpun. Sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Mereka melewati saja dengan menjaga kehormatan dirinya.”

Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibrahim bin Maisarah, ”Ibnu Mas’ud melewati pertunjukan musik, namun dia tidak berhenti. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Pagi-pagi dan petang hari Ibnu Mas’ud menjadi orang yang mulia.’”.

 Kemudian Ibrahim bin Maisarah membaca ayat, ”dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”.

Merupakan bentuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. Sebagaimana hadist, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Diantara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (HR. At Tirmidzi)5

 
11. Sifat Kesebelas: Ketenangan di dalam Keluarga dan Keturunan yang Shaleh. Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”Dan orang-orang yang berkata, ’Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami ), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74).

 Yaitu orang-orang yang meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari tulang sulbi mereka, keturunan mereka yang taat dan hanya beribadah kepada-Nya, yang tidak ada sekutu baginya.

Ibnu ‘Abbas berkata, ”Yaitu orang yang beramal ketaatan kepada Allah hingga menjadi penyejuk mata mereka di dunia dan di akherat.”. Al Hasan al Basri ditanya tentang ayat ini, lalu beliau menjawab:

”Yaitu Allah memperlihatkan hamba-Nya yang Muslim dari isterinya, saudaranya, dan anaknya dalam ketaatan kepada Allah. Tidak, demi Allah, tidak ada sesuatu yang dapat menyejukkan mata seorang Muslim dibandingkan ia melihat anak yang dilahirkannya dan saudara yang mengasihinya sebagai orang yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Imam Qurthubi menjelaskan makna “Qurrata A’yunin”: Sesungguhnya jika manusia diberi berkah dalam harta dan anaknya, maka matanya menunjukkan kebahagiaan karena keluarga dan kerabatnya,

sehingga ketika ia mempunyai seorang istri niscaya berkumpul di dalam dirinya angan-angan kepada istrinya berupa: kecantikan, harga diri, pandangan, serta kewaspadaan,

atau jika ia memilki keturunan yang senantiasa menjaga ketaatan dan membantunya dalam menunaikan tugas-tugas agama dan keduniaan dan tidak berpaling kepada suami /istri yang lain, sehingga mata hatinya menjadi tenang disebabkan tidak berpaling kepada yang lainnya dan itulah kebahagiaan dan ketenangan jiwa.

 
12. Sifat Kedua belas: Menuntut ilmu dan Men gharapkan Taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Firman Allah subhanahu wa ta’ala, ”….dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74).

 Ibnu ‘Abbas, al Hasan, as Suddi, Qatadah dan ar Rabi’ bin Anas berkata: ”Yaitu para imam yang ditauladani dalam kebaikan.” Selain mereka berkata: “Para penunjuk yang mendapatkan petunjuk lagi para penyeru kebaikan.”

Mereka begitu senang bahwa ibadah mereka bersambung kepada beribadahnya anak-anak dan keturunan mereka serta hidayah yang mereka dapatkan bisa bermanfaat kepada yang lainnya hingga banyaklah pahala dan baiklah tempat kembalinya.

Dalam sebuah hadist bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berabda, ”Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: Anak shalih yang mendoakannya, ilmu yang bermanfaat setelahnya, atau shadaqah yang mengalir pahalanya.” (HR. Muslim).

Sehingga merupakan kebahagiaan bagi orang tua yang memiliki anak yang sholeh yang selalu mendoakan kebaikan bagi kedua orang tuanya. Begitu juga sebaliknya doa orangtua kepada anaknya adalah mustajab.

Maka hendaknya orang tua memberikan perhatian dan kasih sayang serta penanaman – penanaman nilai -nilai islam yang cukup kepada anak-anaknya sedini mungkin agar kelak putra putrinya nanti tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang beriman dan berakhlak yang baik.

Balasan Bagi yang Memiliki Sifat-Sifat Tersebut. Alangkah mulianya seseorang apabila sifat -sifat yang telah Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat Al Furqan tersebut selalu tercermin di dalam kehidupannya sehari-hari.

Setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan sifat-sifat Hamba-Nya yang beriman tersebut dengan sifat-sifat yang indah, serta dengan perkataan dan perbuatan yang agung, kemudian dalam surat yang sama Dia berfirman,

“Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi ( dalam surga ) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya.” (QS. 25:75).

Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS.25:76). Katakanlah ( kepada orang-orang musyrik): ”Rabbku tidak mengindahkanmu, melainkan kalau ada ibadahmu.

(Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (adzab) pasti ( menimpamu).” (QS. 25:77).

Mereka adalah orang-orang yang bertakwa yang disifati dengan sifat yang sudah disebutkan sebelumnya (sifat ‘Ibadurrahman),

Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan kepada mereka dengan tempat tertinggi di dalam surganya karena kesabaran mereka dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.

 Mereka mendapatkan tempat yang tertinggi serta penghormatan dan salam dari Rabb mereka, dan dari para malaikat, juga dari sebagian mereka kepada sebagian yang lain.
  
Demikianlah yang dapat aku haturkan dan semoga saja bermanfaat khususnya bagi diriku dan umumnya bagi kita semua Aamiin Wassalam.

 

Sabtu, 07 Januari 2012

Indahnya Menjaga Lisan, Berkatalah yang Baik atau DIAM


Assalamu Allaikum Wr. Wb.

Saudaraku...

“Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasululloh bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam…” (HR Mutafaqun ‘alih).

Lidah tak bertulang, namun ketajamanannya dapat menembus hingga lubuk hati yang paling dalam. Luka yang diakibatkannya pun seringkali sulit untuk bisa dilupakan dalam waktu yang singkat. 

Lidah atau lisan, adalah salah satu nikmat yang diberikan kepada kita oleh Allah swt. Selain sebagai salah satu indera perasa (indera pengecap). Lidah atau lisan juga sebagai salah satu bagian dari ‘alat’ komunikasi kita.

Dibandingkan dengan alat komunikasi yang lain seperti telinga kita cenderung lebih sering menggunakan lidah.

Artinya dibandingkan mendengar kita lebih menyukai berbicara. Dari hadis di atas, Rasululloh mensinyalir bahwasanya lisan dapat membawa ‘kerusakan’ yang besar kalau kita tidak dapat menjaganya. 

Untuk itu Rasululloh mendahulukannya dengan kata-kata, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”. Dengan kata lain menjaga lisan itu adalah hal yang harus benar-benar kita perhatikan. 

Sehingga dimasukan dalam salah satu ciri atau tanda berimannya seseorang. Dalam realitanya pun kita dapat melihat seberapa besar bahaya yang diakibatkan oleh ‘kejahatan lisan’.

Persaudaraaan, kekerabatan, pertemanan, perceraian, bahkan pertumpahan darah pun bisa terjadi karena bahaya yang dihasilkan oleh lisan. Bahaya tersebut antara lain adalah berupa hasud, fitnah, celaan, dan yang lainnya. 

Terlebih bagi kaum wanita yang sangat rentan sekali dengan kebohongan berita atau ‘gosip’. Sudah menjadi rahasia umum ‘ngegosip’ adalah ‘hobi’ para wanita, baik itu ibu-ibu maupun yang masih lajang. 

Seringkali kita tidak pernah sadar akan kemadhorotan yang besar dan merugikan bagi orang lain juga diri kita sebagai akibat dari tidak bisanya menjaga lisan.

Dalam kitab-Nya yang suci Al-Qur’anul Karim Allah swt berfirman, “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) di sisi Allah…” (QS Al-Baqoroh [2]:217). 

Ini memperkuat betapa pentingnya memperhatikan lisan kita agar tidak melukai perasaan orang lain, terlebih sampai menimbulkan kemadhorotan yang lebih besar.


 Kita juga tak asing dengan sebuah pepatah bijak yang mengatakan, 
“Diam itu emas’. Dan itu memang sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Islam.

Pada zaman sekarang menjaga lisan sudah sering tidak kita perhatikan lagi. Bahkan parahnya hal tersebut dijadikan sebagai barang komoditi. 


Seperti infotainment yang menyajikan acara ‘ghibah’ atau gosip. Membicarakan hal pribadi atau kejelakan orang lain, terlepas dari siapa dan apa yang dibicarakannya. 

Dengan tidak melihat kemadhorotannya yang lebih besar sebagai akibat dari tidak menjaga lisan mereka.

Di sisi lain, lagi-lagi Islam menuniukkan kesempurnaannya sebagai agama yang diridhoi di sisi-Nya. Sampai hal yang kecil dan sering dianggap remeh ternyata Islam sangat begitu memperhatikannya. 

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam.

Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Beliau berkata pula di hal. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. 

Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan.

Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.

Beliau menambahkan di hal. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. 

Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. 


Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”. 

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak meninpakan sesuatu musibah kepada sesuatu kaum tampa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu ( QS al- Hujuraat ayat 6)
Maha Benar Allah dengan segala Firman-NYA..

Lidah merupakan salah satu nikmat besar Allah subhanahu wa ta'ala dan Maha Karya-Nya yg menakjubkan. Lidah adalah bagian anggota tubuh manusia yang sulit dikendalikan, karena tak butuh tenaga dan biaya untuk menggunakannya. 

Kekufuran & keimanan, misalnya, hanya dapat tampak dengan kesaksian lidah.

Dan memang bukan hal mudah tuk mengetahui kapan harus menggunakan lidah, & pengamalannyapun tak kalah sulitnya. Kebanyakan manusia meremehkan keharusan mewaspadai bahaya lidah (termasuk saya), karna itu, lidah adalah sarana paling utama bagi setan dalam menyesatkan manusia.

Diantara Beberapa Bahaya Lidah :

1. Alkalaamu fimaa laa ya'nihi.
2. Fudhulul Kalaam.
3. Al khoudh fil baathil.
4. Al Miraa wal jadaal.
5. Al Khushumah a Istifa-ulhaq.
6. Al Mizaah.
7. Bidza'atul lisan wal qoulul faahisy was-sab.
8. Al La'nu.
9. Al Ghina wasy-syi'r.
10. Attaqo'ur fil kalaam.
11. Insyaa'ussirri.
12. Alkadzabu.
13. Al Ghiibah.
14. Al-madzhu.
15. Assukhriyah wal istihza.
16. An-namiimah.
17. Al khotho' fi daqo-iqul kalaam.

Lidah Tak Bertulang
Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
Syariah, Akhlak,

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. 

Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan.

 Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)
 
Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan.

Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah )

Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya.

 Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

Keutamaan Menjaga Lisan

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. 

Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

1. Anas bin Malik : “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”

2. Abu Ad-Darda’ : “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”

3. Al-Fudhail : “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”

4. Sufyan Ats-Tsauri : “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”

5. Al-Ahnaf bin Qais : “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”

6. Abu Hatim : “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara.

Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”

8. Mu’arrifh Al-‘Ijli : “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab:

“Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.” (Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)
Buah Menjaga Lisan

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:
1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: 

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)

2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.
Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

3. Mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk ke surga.
Rasulullah bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d :“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah , Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.
Rasulullah bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah : “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)

Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.
Wallahu 'alam Bisshawab.

Demikianlah Yang dapat aku haturkan dengan harapan semoga ada manfaatnya bagi kita semua juga taklupa akupun mohon maaf jika seandainya ada salah kata sekian Dan wassalam